SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 9 : TINJU DIBALAS TINJU


__ADS_3

"Kreekkk..."


Arthur membuka pagar rumah kontrakan yang akan ia tinggali. Halaman rumah itu cukup luas dengan suasana yang nampak segar.


"Ini yang mau menyewa tempat ini ya?" seorang pria yang berumur kira-kira hampir 60 tahun, mendatangi Arthur.


"Iya pak, saya Arthur." Sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman, pria itu menyambutnya.


"Saya pak Teguh, mari mas saya antar"


Lalu mereka berdua berkeliling rumah itu. Pepohonan rindang tumbuh di halamannya. Cat rumah berwarna hijau muda dengan perpaduan putih menambah kesan asri pada rumah itu.


Pada ruang tamu, difasilitasi sofa dan smart tv yang sudah terkoneksi dengan internet. Selain itu terdapat juga dua kamar tidur yang lengkap dengan kasur dan pendingin ruangan.


"Deal pak," kata Arthur setelah menyetujui harga yang ditawarkan oleh pak teguh.


Kalau dihitung-hitung, biaya rumah ini setahun lebih murah daripada tinggal di hotel selama beberapa bulan. Hal ini menyebabkan Arthur langsung menyetujui harganya tanpa menawar.


Ketika pak Teguh pulang, Arthur langsung merebahkan dirinya sambil memikirkan langkah yang ia lakukan untuk menyelesaikan quest.


"Sepertinya aku harus pergi berlatih bela diri, siapa tahu bisa mengalahkan mereka," Gumam Arthur yang menemukan ide baru di kepalanya.


Ia kemudian browsing, mencari tempat berlatih bela diri terdekat. Arthur menemukan sasana tinju tidak jauh dari rumahnya.


"Kayanya ini bisa dicoba," pikir Arthur.


...----------------...


"Hoaammmm"


Arthur menguap serta sedikit menggeliat ketika terbangun dari tidur siang. Badannya yang letih terasa lebih segar. Kemudian ia mandi dan mencari makan siang di sekitar kontrakannya.


Setelah itu, Arthur yang sudah lengkap dengan pakaian olahraga pergi mencari lokasi latihan tinju.


"Sial, aku tersesat," pikirnya setelah mengikuti peta di handphone dan malah menemukan sebuah rumah tua.


Sambil clingak-clinguk ia melihat di sekitar. Tidak ada rumah atau gedung yang terdapat di sekitar tempat itu.


"Mau apa kau?"


Datang seseorang dengan rambut yang cepak dan kumis yang lebat menemuinya.


"A-anu mau latihan tinju di mana ya?" tanya Arthur dengan gugup, begitu melihat pria itu.

__ADS_1


"Di sini tempatnya, ayo masuk daftar dulu," kata orang itu sambil mengarahkan Arthur ke dalam.


Tempat itu dari dalam terlihat sangat kumuh. Dindingnya terbuat dari papan yang lapuk termakan usia. Sedangkan lantainya semen yang sudah pecah di sana sini.


Di tengah ruangan itu terdapat sebuah ring tinju yang menandakan tempat itu memang sasana tinju.


Dengan ragu Arthur mengikuti pria itu menuju ke sebuah ruangan dengan pintu kaca. Begitu masuk ke ruangan itu, keadaan tidak jauh beda dengan yang di luar. Kertas berhamburan di mana-mana, belum lagi sampah yang berserakan.


"Ini silahkan diisi pendaftarannya." Pria itu menyodorkan sebuah buku.


Arthur tidak melakukan apa-apa hanya diam menatap buku itu.


"Kau tidak perlu khawatir, ini benar-benar sasana tinju. Tempat ini sudah tidak terpakai selama 5 tahun. Makanya keadaannya begini," kata orang itu seakan bisa membaca pikiran Arthur.


Mendengar seperti itu, Arthur membuka buku pendaftarannya. Di sana terdapat banyak nama dan foto pria, yang ia kira adalah para petinju di sana. Setelah melihat keterangan biaya pelatihan, Arthur menuliskan nama dan menempelkan fotonya di sana.


"Oke kau sudah isi, sekarang lakukan latihan pemanasan"


"Baik pak," sahut Arthur mantap.


"Jangan panggil aku 'pak', panggil dengan pelatih Mike"


"Siap pak, eh pelatih Mike"


Begitu sadar ia sudah berbaring di pinggir sasana.


"Kau ini sangat lemah, baru segitu sudah pingsan. Mending kau menyerah saja. Besok tidak usah datang lagi" Pria itu mengusir Arthur pergi dari sasana.


Arthur kemudian pergi dari tempat itu dan pulang ke rumah. Sampai ke rumah ia langsung tiduran, tidak mampu menggerakkan badannya, karena seluruh tubuh terasa nyeri.


"Belum latihan tinju yang sebenarnya aku sudah KO. Bagaimana ini?"


Setelah merenung seperti itu, ia tertidur hingga pagi besoknya.


"Aku tak boleh menyerah !" pikir Arthur sembari melihat cermin. Tubuhnya sudah agak pulih karena tidur dan sarapan.


Ia memutuskan kembali ke tempat latihan tinju. Dirinya tak peduli meski diusir kembali oleh pelatih mike. Quest yang harus diselesaikan tinggal 48 jam, ia tak punya waktu lagi.


"Kau datang lagi, sudah sana pergi !" Pria itu muncul dari pintu sasana dan mengusirnya, bahkan sebelum ia sempat masuk ke dalam sasana.


"Beri aku kesempatan, kali ini pasti bisa," sahut Arthur meyakinkan dengan nada optimis.


"Pria lemah sepertimu tidak cocok dengan tinju!"

__ADS_1


"Wajar kan baru pertama kali latihan, nanti juga terbiasa"


Setelah berdebat, akhirnya pelatih mike setuju. Ia disuruh melakukan pemanasan yang sama. Dengan kekuatan tekad, kali ini Arthur berhasil bertahan hingga pemanasan selesai.


"Coba pakai ini. Aku ingin mengukur kemampuanmu sebelum mengajarkan teknik tinju." Pelatih Mike memberinya sebuah sarung tinju. Lalu mengajak Arthur ke ring.


Sampai di atas, Arthur memasang posisi seolah siap bertinju.


"Akh....."


Arthur kesakitan, dia terkena dua pukulan beruntun. Satu mendarat di wajah, satu lagi pada perutnya. Arthur yang tidak sempat menangkis, langsung terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Kepalanya terasa berkunang-kunang dan hidung mengucurkan darah.


Dalam keadaan yang hampir pingsan terdengar suara teriakan.


"Woyy....Mike, kami datang!" Suara seseorang berteriak.


"Mana hadiah kemenangan kami." Suara lain terdengar menyahut.


"Sabar... belum sebulan sasana ini dibuka lagi. Aku perlu waktu"


"Kesabaran kami sudah habis. Lima tahun bukan waktu sebentar."


Mendengar suara itu, dalam keadaan kesakitan Arthur mencoba memaksa dirinya agar tetap sadar. Ia ingin menguping pembicaraan mereka.


Dari pembicaraan mereka, dia bisa menyimpulkan bahwa orang yang datang berjumlah 3 orang. Mereka adalah juara tinju 5 tahun yang lalu. Tempat ini berantakan karena sebelumnya mereka mengamuk, mencari Mike.


Pria itu lari membawa dua puluh juta, uang hadiah kejuaraan. Semuanya ia gunakan untuk membayar biaya operasi anaknya yang terkena kanker.


"Bagaimana ini, kau mau dihajar dan kemudian kami bawa ke kantor polisi"


"Aku masih tidak bisa mengganti uang itu. Tapi jika kalian mau menghajarku, aku tidak takut!" Mike menantang mereka.


"Ayo kawan-kawan kita serbu. Dia tak mungkin menang jika kita bertiga maju," kata seseorang memulai menyerang dan kawan-kawannya kemudian mengikuti.


"Buk...buk... aduh... "


Hal yang terjadi justru di luar dugaan. Tiga mantan juara itu, dihajar pelatih Mike sendirian. Mereka terbantai jatuh di tangannya.


"Wow luar biasa." Arthur mengintip dari ring, sambil memegangi perutnya yang kesakitan.


"Jika kalian masih ada kekuatan, silahkan berdiri. Aku menantinya!" kata Mike dengan tenang.


Tiga petinju itu berdiri lagi. Mereka yang terlihat kepayahan siap menyerang lagi. Begitu mereka maju, terdengar suara berteriak.

__ADS_1


"Hentikan! jangan bertarung lagi!"


__ADS_2