SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 4 : BERLARI


__ADS_3

Selagi dia berpikir bagaimana mencari pujian selanjutnya. Bau tidak sedap terasa menggelitik pada hidung Arthur. Aroma itu berasal dari badannya sendiri. Sejak kemarin ia tidak mandi. Selain badannya yang bau, bajunya pun terlihat dekil penuh debu. Karena tadi malam tidur di emperan toko.


Ia memandang sekujur tubuhnya. Kemudian mulai menyadari bahwa dirinya nampak seperti seorang gembel. Merasa begitu Arthur segera bangun dan kemudian berdiri.


"Mau kemana lagi aku." Pria yang tak punya tujuan, merasa kebingungan.


"Kayanya aku harus mencari tempat, untuk mandi serta ganti baju." Kemudian diangkatnya tas yang berisi barang-barang, bersiap akan pergi. Ternyata tas ransel yang cukup berat itu membuatnya kesulitan.


"Wah berat banget tas ini, apa sih isinya?" lalu ia membuka ransel itu. Yang ditemukan hanya beberapa berkas dari kantornya yang lama.


"Astaga, aku salah bawa. Tas satunya ketinggalan. Pikunnya aku," kata Arthur sambil menutupi wajahnya.


"Aku tidak mungkin lagi kembali ke kost lama. Ibu kost sudah bilang bahwa akan membawaku ke polisi."


Masalah demi masalah tidak kunjung usai mendera hidupnya. Sekarang ia harus memikirkan mencari baju baru lagi.


Dalam keadaan bingung, tiba-tiba ia menjadi kesal sendiri. Kemudian Arthur mengangkat ransel tadi dan dilemparkannya ke sungai yang ada di sekitar taman.


"Byurrr"


Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara teriakan.


"Woy sialan. Jangan buang sampah sembarangan ke sungai." Seseorang mengumpat sambil menunjuk ke arah Arthur.


"Iya iya benar. Bikin banjir saja, tempat sampah banyak kok di sekitar sini." Suara lain terdengar mendukung pria yang berteriak tadi.


Mendengar ada keributan, beberapa orang yang ada di sekitar taman ikut berkumpul.


"Orang itu harus dikasih pelajaran. Supaya yang lain tidak menirunya," kata satu pria berwajah garang serta brewokan. Dia keluar dari kerumunan dan mulai berjalan cepat mendekat pada Arthur. Sedangkan pria lainnya mengikuti di belakang.


"Eh maaf bapak-bapak semua." Kata Arthur kaget melihat banyaknya manusia mulai menyerbu ke arahnya.


Dilemparkannya tas tadi ke sungai. Lalu Arthur berlari sambil melakukan gerakan tangan seolah minta maaf.


Orang-orang itu tidak peduli dan tetap mengejarnya. Arthur kemudian berlari semakin kencang, sesekali ia menengok ke belakang.


"Waduhhh." Dia kaget, begitu tahu jumlah orang yang mengejarnya terus bertambah.


Beberapa orang yang melihat kejar-kejaran itu, berpikir sedang ada copet. Mereka dengan polosnya juga ikut berlari. Bahkan ada yang mulai berteriak, "Copet.... copet! kejar." Balok kayu dan parang yang diacungkan, menambah panas pengejaran itu.


"Tangkap dan hajar dulu, baru bertanya"


"Ah seru sekali ini!"

__ADS_1


"Gadis sialan, mengapa ia harus menolak ketika kulamar"


"Mumet kepalaku, mana terget bulanan belum tercapai"


"Es campur enak nih, panas-panas begini"


Ini yang dipikirkan oleh beberapa pengejarnya. Andai Arthur mendengar ini, mungkin dirinya akan tertawa. Dari mereka semua, ternyata hanya sedikit yang benar-benar tahu akar masalahnya. Sedangkan yang lain cuma ikut-ikutan.


Sekian menit ia berlari, nafasnya mulai ngos-ngosan. Kakinya yang terus bergerak perlahan mulai terasa lelah. Hingga kemudian ia menemukan simpangan ke kanan dan ke kiri. Lalu Arthur memilih yang kanan. Setelah itu berbelok masuk ke sebuah toko pakaian, untuk bersembunyi. Para pengejar yang tidak melihat itu, berlari melewati toko tersebut.


"Sial sekali hidupku," kata Arthur pelan sambil terengah-engah.


Para pelanggan di toko itu melihatnya. Mereka menatap dengan sinis.


"Untuk apa orang itu masuk sini," pikir mereka. Arthur yang menggunakan baju compang-camping dengan badan yang dekil, memang nampak seperti pengemis.


Tak butuh waktu lama, ia kemudian menyadari tatapan orang-orang itu. Dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa, Arthur melangkah tegak. Lalu ikut memilih pakaian, seperti pengunjung yang lain.


"Karena semuanya tertinggal di kostan. Aku harus membeli pakaian baru. Ini memang kebetulan yang pas sekali." Pikir Arthur sambil memilah-milah pakaian yang ada di sana.


Ia kemudian mengambil beberapa pakaian, yang menurutnya paling bagus di toko itu. Lalu masuk ke ruang ganti untuk mencobanya.


Sampai di dalam, Arthur mengeluarkan uang yang ditaruh di dalam baju, dan mulai melepas pakaian lamanya.


Saat ia sedang melepas pakaian, tiba-tiba dua orang pria satu gendut berkumis dan satu lagi kurus agak ganteng. Lewat di depan ruang ganti. Muka dua pria itu tersenyum ramah padanya. Rupa Arthur lupa menutup pintu ruangan itu.


"Ting.... tiing... ting" Suara notifikasi terdengar di telinganya.


"Hah pemberitahuan apa ini." Arthur kemudian memeriksa statusnya.


...Quest mencari 3 pujian dari pria selesai....


...Uang 10.000.000 dan kemampuan membaca pikiran didapat....


...(Kemampuan membaca pikiran dalam radius 5 meter selama 10 detik. Jika ingin menggunakannya, silahkan sebut miaww miaww membaca pikiran)....


"Yuhuuu, akhirnya misi selesai. Cuan...cuan" gumam Arthur riang. Kemudian ia meraup semua uang 10.000.000 yang berhasil ia dapatkan.


"Eh tunggu dulu, dari mana aku dapat pujian itu" pikir Arthur keheranan. Lalu ia keluar ruangan dan hanya menemukan dua ibu-ibu serta para pria yang tadi, semuanya terlihat sibuk mencari pakaian.


Merasa tidak menemukan siapapun, ia mencoba mengaktifkan kemampuannya. Untuk mencari tahu siapa yang memujinya.


"Lama sekali orang itu di dalam sana. Aku mau mencoba baju cantik ini."

__ADS_1


"Semoga anakku suka pakaian ini."


Suara dua ibu-ibu bergema di kepalanya. Rupanya bukan mereka yang memuji. Tapi, kemudian Arthur mendengar suara pria dewasa.


"Hemmmm, begitu membuka bajunya, ternyata pemuda tadi ganteng banget. Otot perutnya itu lo, cihuyyy."


"Akika begindang malukuu (aku begitu malu) ketemu cowo tampan"


Arthur shock, mengetahui bahwa si pemberi pujian adalah dua om-om yang tadi tersenyum kepadanya.


Kakinya langsung lemas dan perutnya terasa mual ingin muntah. Ternyata ia mendapat pujian dari dua om-om penyuka lelaki. Karena ketakutan, langsung saja Arthur memasang pakaian lamanya dan berlari keluar ruangan. Kemudian ia pergi ke kasir untuk membayar semua baju yang ia pilih.


Selesai membayar, Arthur keluar dari toko itu. Dia berlari menjauhi wilayah itu sambil melihat ke belakang. Ia khawatir jika masih ada orang-orang yang mengejarnya serta ancaman baru yang lebih menakutkan. Dua om-om yang tadi.


...----------------...


Siang itu, terlihat Arthur sedang berlari mencari sebuah penginapan sementara yang terdekat, untuk bisa ia tinggali. Arthur ingin segera mandi. Badannya terasa bau, gatal dan berdebu.


Yang paling dekat dengan posisinya saat ini adalah GRAND VICTORIA HOTEL. Sebuah hotel yang terkenal cukup mahal. Tapi Arthur tidak peduli, kakinya tetap melangkah masuk ke sana. Dalam pikirannya, dia harus segera mandi.


Begitu sampai dalam hotel, dua resepsionis menyambutnya. Meski terkejut, mereka tetap berusaha tersenyum memberikan pelayanan terbaik.


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?"


"Aku mau pesan kamar"


"Kamar yang mana pak?" kata salah satu resepsionis sambil menyodorkan buku, berisi jenis-jenis kamar beserta harganya. Ia berharap dengan memperlihatkan itu, orang seperti Arthur segera pergi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"kalau yang ini boleh"


kata Arthur sambil menunjuk gambar yang ada di buku. Resepsionis itu kaget, tapi mereka tetap berusaha tersenyum.


"Itu kamar Deluxe pak. Untuk pemesanan kami perlu DP 50%." Melihat tampilan Arthur mereka yakin dia tidak akan mampu membayarnya.


Arthur yang tidak tahu tentang perbedaan kamar hotel di sana, mengeluarkan uangnya dengan segera.


"Ah, ternyata dia punya uang. Kami tak mungkin mengusirnya" pikir mereka kecewa.


"Ini pak saya bayar DP dulu" kata Arthur sambil memberikan uang. Ia berencana berhemat, agar bisa cepat membayar hutangnya.


Mau tidak mau dua resepsionis kemudian menerimanya. Mereka memanggil petugas untuk mengantarkannya ke kamar. Arthur kemudian berjalan mengikuti orang itu menuju lift.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2