SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 17 : WANITA SATU MILIAR


__ADS_3

Di dalam sana banyak terdapat hal-hal menarik yang mungkin sebagai orang biasa tidak akan temukan di dunia luar. Arthur menemukan banyak kerangkeng yang berukuran cukup besar yang tertutup dengan kain berwarna hitam. Terdengar suara seperti geraman, auman dan rintihan dari beberapa kerangkeng tersebut. Selain itu juga terdapat banyak sekali senjata seperti pedang dengan bertabur batu mulia di ganggangnya, tombak dengan sisa darah yang masih menempel di ujungnya, serta beberapa permata yang sangat indah.


“Semua ini tidak akan dikeluarkan pada hari ini.”


Lelaki tua tersebut menjelaskan sambil berjalan menyusuri lorong ruangan itu, hingga kemudian mereka sampai ke sebuah pintu yang berukuran tidak terlalu besar. 


“Kau hanya akan ku antar sampai sini, setelah ini dirimu tunjukkan nomor id mu pada orang yang akan menyambutmu di dalam.” Pria itu memberikan kartu dengan nomor 122 pada Arthur.


“Oh iya, jangan lupa gunakan topeng ini, agar sama seperti pengunjung yang lain.”


Pria itu memberikan sebuah topeng kepadanya. Topeng itu berwarna hitam, dengan ukuran yang cukup untuk menutup seluruh wajah Arthur. Orang yang diberi topeng, langsung mengenakan topeng itu. 


Setelah memberi anggukan pria tua tu kemudian mempersilahkan Arthur dengan sopan agar masuk ke dalam pintu tersebut.


“Ceklek…”


Begitu ia buka pintu tersebut, dirinya langsung disambut oleh sebuah ruangan yang sangat besar, berukuran sekitar seperempat lapangan sepak bola.


Ruangan tersebut berisi kursi yang berjejer semakin tinggi ke belakang, seperti pada bioskop. Sedangkan bagian depan terdapat sebuah panggung dengan podium di tengahnya. Di belakang podium itu nampak kain yang sangat lebar berwarna merah, yang Arthur sendiri tidak tahu apa yang ada di balik kain itu.


“Maaf tuan, boleh aku melihat nomor id mu ?”


Seseorang dengan jas hitam menyapa Arthur yang terlihat seperti orang lingling di ruangan itu.


“Oh-eh iya ini…”


Ia kemudian memberikan kartu tersebut kepada orang itu.


“Mari saya antar tuan”

__ADS_1


Orang itu kemudian meminta Arthur untuk mengikutinya dan menuju ke arah kursi yang terdapat pada baris keempat dari depan. Ia kemudian dipersilahkan untuk duduk di sana.


Arthur lalu duduk menunggu, sampai kemudian seseorang perempuan dengan nampan di tangannya datang menghampiri dan berkata, 


“mau minum apa tuan ?”


“cola boleh, kalau ada”


“Ini tuan”


Wanita itu memberikan segelas cola pada Arthur. Kemudian si wanita tersenyum kepadanya lalu pergi menuju ke arah kursi di sebelahnya. Begitu Arthur menengok ke sebelah, di sana sudah ada orang berjas hitam dengan topeng yang sama sepertinya. Dan saat dirinya mendongak sedikit lebih jauh, di sekelilingnya sudah penuh dengan orang yang memakai topeng yang sama. Mereka nampak ngobrol dengan rekan di sebelahnya. Sedangkan Arthur yang datang sendiri, hanya diam saja di tempatnya.


Karena ini adalah pengalaman pertama untuknya, ia agak kikuk menghadapi situasi ini. Dengan keadaan canggung ia duduk dengan gelisah di kursi itu. Tak sengaja tangannya memegang pegangan kursi, terdapat tombol-tombol dengan angka seperti kalkulator. Ia sendiri tidak tahu fungsi dari tombol-tombol itu.


“Selamat datang para pengunjung sekalian di pelelangan pasar gelap…”


“Untuk mereka yang baru pertama kali datang ke tempat ini. Pada kursi bapak atau ibu sudah ada tombol untuk memasang harga untuk barang yang dilelang. Satu tombol mewakili harga satu juta.”


Pria itu menjelaskan tentang bagaimana cara main di pelelangan pasar gelap. Arthur menatap dengan seksama, takut terjadi kesalahan ketika ia nanti mencoba mengajukan harga.


“Langsung saja kita mulai, barang yang pertama pada hari ini adalah, sebuah tombak yang digunakan oleh panglima perang salib. Masih terdapat sisa darah yang belum dicuci. Bukti keaslian barang ini”


Kain yang terdapat di belakang juru lelang terbuka, lalu muncul sebuah meja dengan kotak kaca yang berisi sebuah tombak yang sudah dijelaskan.


Arthur yang tidak mengerti arti sebuah senjata, tidak memberikan tawaran apapun. Ia merasa tidak memerlukan benda tersebut. Sehingga ketika barang itu diambil oleh satu pelanggan di sana dengan harga dua ratus juta, ia cukup kaget. Dirinya tidak menyangka bahwa tombak yang nampak rusak itu berharga cukup mahal di pelelangan itu.


Satu persatu barang dikeluarkan di tempat itu, dari pedang, baju artis yang sudah tiada, lukisan yang sebelumnya dinyatakan hilang di sebuah museum di luar negeri, sampai permata. Tak ada satupun yang membuatnya tertarik, karena memang bukan benda-benda itu tadi yang diminta oleh quest.


Arthur mulai terlihat bersemangat ketika lima buah kerangkeng muncul di depannya. Kerangkeng-kerangkeng itu berisi dua ekor singa berwarna putih, satu ekor burung berwarna sangat indah yang ia tak tahu namanya, serta dua orang pria dan wanita.

__ADS_1


Pria dan wanita itu nampak tak berbusana sama sekali, tangan dan kaki mereka terikat menggunakan rantai. Sedangkan wajah mereka menunduk menahan malu. Si pria terlihat berotot dengan badan yang sangat tinggi besar, sedang si wanita nampak sangat cantik dengan kulit berwarna putih dan rambut panjang pirang lurus.


Proses lelang dilakukan, penawaran cukup alot terjadi pada tiga kerangkeng pertama. Arthur hanya tertarik pada dua buah kerangkeng terakhir. Hingga kemudian proses lelang dilakukan pada wanita yang terdapat di sana. Arthur menekan tombol satu dan nol tiga kali. Ia lupa bahwa angka pada tombol itu bernilai satu juta, sehingga jumlah yang ia ajukan adalah satu miliar.


“.......”


Ruangan itu hening seketika, belum pernah ada orang yang menawar budak perempuan dengan harga satu miliar. Secantik apapun budak yang ada di sana, maksimal harganya adalah tiga ratus juta. Beda hal dengan budak pria yang dianggap kuat, harganya bisa mencapai lima ratus juta.


“Dasar lelaki cabul dan bodoh. Memberi harga pada budak wanita segitu mahalnya.”


“Ia sudah gila”


“Mungkin dia terlalu kaya”


“Cih… Pria sombong”


Banyak suara yang berbisik mencemooh apa yang Arthur lakukan. Sedangkan ia sendiri bingung kenapa tidak ada satu orang pun yang menawar setelahnya. 


“Satu miliar sekali…satu miliar dua kali…satu miliar tiga kali…terjual pada bapak dengan nomor 122”


Arthur kaget, ia akhirnya sadar alasan kenapa banyak orang yang berbisik serta tidak ada yang menawar setelahnya. Hal ini terjadi karena ia terlalu mahal membuka harga. Setelah itu, hingga proses lelang selesai ia hanya diam, sambil mengutuk kebodohannya sendiri.


Lalu saat ia akan pulang seseorang menghampirinya.


“Mari pak ikuti saya…”


Ia membawanya untuk menjemput budak satu miliar miliknya. Akhirnya Arthur menemui wanita itu. Setelah wajah mereka saling bertemu, Arthur menggunakan kemampuannya membaca pikiran. Hingga ia yakin wanita itu aman, dirinya melepaskan rantai yang mengikat, serta memasangkan jaket yang ia kenakan padanya.


 

__ADS_1


__ADS_2