SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 12 : PAHLAWAN TANPA PERANG


__ADS_3

Proses yang rumit dalam pembelian, bisa ia permudah. Arthur sangat senang dengan hasil yang Robin berikan.


Di sisi lain, CEO perusahaan melihat ada seorang investor besar telah membeli 20% saham mereka. Ia mencoba mencari identitas si pembeli, tapi tidak ada informasi apapun tentang pengusaha kaya yang sesuai.


Seharusnya dalam keadaan seperti ini, mudah saja untuk menemukan investor besar yang mau membeli saham perusahaannya. Ini menyebabkan kebingungan pada para pimpinan itu.


Dia berencana mengundang Robin makan malam, agar bisa mengenalnya lebih jauh. Dikirimnya email undangan lengkap dengan alamat rumah makan yang akan dijadikan tempat untuk dinner.


Robin mendapatkan email itu kemudian melaporkan kepada Arthur.


"Kamu pergi aja ke sana, siapa tahu dapat informasi baru."


"Baiklah bos, aku akan pergi."


"Supaya meyakinkan, nanti sewa mobil bagus beserta supirnya."


"Siap bos"


Kemudian malamnya ia pergi menuju pertemuan itu. Sebuah langkah awal menuju pembalasan dendam.


...----------------...


"Jadi apa yang kalian bicarakan," tanya Arthur langsung mengintrograsi Robin ketika ia datang setelah makan malam bersama pimpinan perusahaan lamanya. Tak lupa ia menggunakan kemampuan membaca pikiran, dia ingin mengetahui apakah Robin bisa berbohong kepadanya.


"kami membicarakan beberapa hal terkait prospek perusahaan itu. Saya rasa orang itu banyak berbohong bos, perusahaan itu tidak memiliki masa depan. Manajemen mereka amburadul, lebih baik cabut saja sahamnya sebelum terlambat."


Apa yang disampaikan oleh Robin, memang sesuai dengan apa yang ada di dalam kepalanya.. Arthur puas, karena ternyata Robin tidak mengatakan dusta apapun kepadanya.


"Aku punya rencana sendiri, tetap saja pada jalur. Nanti kita akan kuasai perusahaan itu."


Robin menggaruk kepalanya, rupanya nasehat yang ia berikan tidak digunakan oleh bosnya.


Arthur tersenyum setelah membaca pikiran Robin, "kau tenang saja, nanti ketika perusahaan itu berhasil dikuasai, kau yang akan jadi CEO baru perusahaannya."


"Are you sure boss ? kamu tidak bercanda, kan?"


"Aku tidak bercanda. Tujuanku adalah menguasai perusahaan itu. Tapi, aku tidak punya waktu dan kemampuan untuk mengendalikannya."


"Kalau gitu, serahkan saja padaku. Semua akan beres." Kata Robin sambil tersenyum. Bahkan bermimpi pun ia tak berani untuk memiliki sebuah perusahaan. Kini di depan mata, seseorang akan memberikan pengelolaan sebuah perusahaan padanya. Rasa bangga dan kagumnya langsung muncul pada sang pimpinan.


...----------------...


"Wah kasihan sekali." Arthur yang sedang menonton tv, menyaksikan sebuah berita mengenai bencana alam gempa bumi. Kekuatan gempa yang besar 7.5 skala richter yang terjadi di kota, membuat banyak korban hilang dan terluka. Sedangkan korban nyawa tidak terhitung lagi jumlahnya. Gempa ini merupakan kejadian paling besar dalam 10 tahun terakhir.


Arthur memandang televisi dengan tatapan nanar, seolah bisa merasakan perasaan korban gempa yang ada di sana.


"D******iiiiiittt******"

__ADS_1


Suara quest baru terdengar. Arthur yang penasaran langsung membuka statusnya.


"miaww miaww status"


Terdapat satu quest di balik layar kucing transparan.


..."Quest kemanusiaan, raja tidak pernah meninggalkan rakyatnya yang kesulitan. Jadilah relawan, selamatkan 100 korban gempa. Waktu 72 jam. Hadiah 10 miliar"...


"Ini yang terbesar dari semua quest yang ada!" Arthur kegirangan begitu tahu hadiah dari quest. Melihat batas waktu di sana, nampaknya ia harus bergegas.


Berjalan cepat menuju sebuah hypermarket, Arthur memborong banyak hal. Dari beras, mie, sarden hingga popok bayi. Kemudian menyewa sebuah truk untuk mengangkut semua bantuan. itu.


...----------------...


"Bruummmm"


Niat hati ingin cepat mengantar bantuan, tapi apa daya, truk ternyata tersangkut. Jalanan yang pecah sana-sini, menyebabkan semua transportasi yang berencana menuju ke pusat terdampak paling parah gempa, menjadi kesulitan.


Terlihat Arthur berdiri di luar truk sambil menekan bibir bawahnya, tanda sedang berpikir keras.


"Pak lapar..."


Seorang anak berumur sekitar lima tahun menghampirinya menengadah kedua tangan.


"Mana orang tuamu nak?"


"Ayah dan ibuku, mati terjepit rumah..." dua tangan si anak terlihat menggenggam sambil bergetar.


Mendengar itu, hati Arthur teriris sakit. Anak sekecil dia harus ditinggalkan kedua orang tuanya dan hidup dengan keadaan lapar.


"Ini nak makanan, kau bisa memasak ini?" kata Arthur sembari memberi satu kotak makanan kemasan.


"Tidak bisa pak." katanya menerima makanan itu.


Arthur melihat di sekitar, tidak ada dapur umum di sana. Kemudian ia mengajak anak itu untuk berjalan mengikutinya.


Setelah beberapa kilometer berjalan, ia menemukan dapur umum yang disediakan oleh tentara. Pria itu menyampaikan bahwa truknya yang berisi makanan tidak bisa masuk. Dengan sigap para tentara, berbondong-bondong pergi dan kembali dengan membawa seluruh bantuan dari Arthur.


"Serahkan ini pada kami. Biar kami yang membagi, pada penduduk sini," ujar komandan tentara bicara pada Arthur.


"Baiklah pak... emmm... anu, bolehkah saya nitip satu anak ini. Kasihan, orang tuanya sudah meninggal"


"Baiklah pak, nanti kami yang akan mengurus anak ini."


Si anak terlihat mengucapkan terimakasih pada Arthur. Dengan pelan pria itu menyisipkan beberapa lembar uang ke kantung celananya. Anak tersebut pergi tanpa menyadarinya.


"Semoga uang yang sedikit itu bermanfaat, nak." Dengan pelan Arthur bergumam, melihatnya pergi mengikuti para tentara.

__ADS_1


Selesai mengantar bantuan, Arthur tidak langsung pulang. Ia berjalan lebih jauh, untuk melihat dampak dari gempa.


Mengerikan, sebuah kata yang bahkan tidak cukup untuk menggambarkan kondisi wilayah saat itu. Jalanan hancur terbelah, banyak gedung yang rubuh dan rumah yang porak-poranda. Terdengar suara tangisan bersahutan di sana, menambah pilu keadaan yang ditemui Arthur.


Bantuan tidak kunjung tiba, akses menuju ke sana yang sulit, menyebabkan semuanya terhambat.


Ia berpikir sejenak kemudian berlari kembali ke truk. Minta supirnya menelpon seseorang, untuk. menyewakan sesuatu yang sangat ia perlukan.


...----------------...


Dua jam kemudian, datang dua buah excavator. Dengan alat itu, Arthur bersama para relawan di sana membantu mengangkat orang-orang yang masih tertimbun.


Setelah terangkat, ternyata jumlah mereka sangat banyak. Mereka tertumpuk di sana karena para relawan belum mampu memindahkan tumpukan beton.


Banyak orang menangis melihat ratusan manusia. yang tidak bernafas lagi berhasil diangkat, kota itu langsung penuh dengan air mata.


Sementara satu excavator tetap mengangkat gedung-gedung yang rubuh. Excavator yang satunya diminta Arthur berhenti sejenak, untuk membuka jalan yang tersendat karena reruntuhan gedung dan pohon-pohon yang roboh.


Setelah beberapa jam melakukan itu, ambulan dan pihak kesehatan akhirnya bisa masuk ke wilayah tersebut.


Hebatnya mukjizat juga terjadi di sana. Di saat excavator dan para relawan sibuk mengevakuasi. Mereka menemukan masih ada puluhan orang yang berhasil hidup diantara gedung yang roboh. Para korban yang masih hidup itu, nampak lemas. Dengan segera mereka diselamatkan dan diberikan perawatan. Orang-orang yang keluarganya masih hidup, histeris menangis.


Sebait kegembiraan terlihat diantara banyaknya kesedihan di tempat itu, seseorang terlihat berjalan berkeliling dan berteriak menggunakan pengeras suara.


"Untuk anak-anak, harap segera mendekat ke sumber suara."


Pria itu adalah Arthur. Dia berjalan menggunakan toa pinjaman dari pihak militer. Terlihat orang itu tidak mengenal lelah, mengumpulkan anak-anak yang orang tuanya menjadi korban gempa.


Setelah mengumpulkan cukup banyak anak-anak, ia kemudian mengantarkannya menuju aparat.


"ting.... ting.... ting"


Suara itu membuatnya sadar dengan keberhasilan misinya, tapi Arthur tidak berhenti sampai sana. Ia kemudian membeli dan menyewa bantuan lebih banyak, dengan jumlah mencapai dua miliar.


Media sosial menjadi ramai karena seorang anak muda kaya benar-benar serius membantu korban gempa. Banyak pengusaha dan pejabat yang turut membantu, terinspirasi oleh Arthur.


Sore itu suasana sudah lebih tenang. Pria itu berdiri di atas excavator mencari korban lain yang belum diselamatkan. Dia tidak mengetahui bahwa dirinya telah menjadi viral. Keringat dan usahanya telah sukses menyelamatkan serta menggerakkan hati banyak orang.


"prok... prok... prok"


"wooooo....."


Secara perlahan hingga kemudian menjadi ramai, suara tepuk tangan serta seruan dari korban dan relawan lain, terlihat diberikan ke Arthur. Beberapa bahkan mengacungi jempol padanya. Pria yang diberikan penghargaan seperti itu, hanya melongo.


Sambil menatap ratusan orang yang mengerubunginya di bawah excavator, tak terasa air matanya mengucur deras.


Dalam tangis, hanya satu pertanyaan yang bisa ia gumamkan.

__ADS_1


"Oh Tuhan... ini semua untukku?"


__ADS_2