SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 16 : PASAR GELAP


__ADS_3

Arthur yang memutuskan pindah ke rumah baru, punya beberapa rencana. Dengan uang yang ia miliki proses rehab dan pembangunan ulang di lokasi tersebut ia lakukan. Dari luar nampak pembangunan besar dilakukan di sana.


Beberapa minggu berlalu hingga proses pembangunan selesai. Rumah yang ia rencanakan telah jadi, lengkap dengan kantor satu lantai untuk bekerja.


Informasi positif dari Robin tentang perombakan besar-besaran di perusahaannya juga terus membahagiakannya.


Dari penyampaian Robin, banyak karyawan lama yang kinerjanya tidak terlalu bagus diputus kontraknya. Kemudian dilakukan proses rekrutmen ulang, sehingga rencana yang sudah disusun bersama Arthur bisa terlaksana.


Branding baru pada perusahaan tersebut dilakukan. Banyak para influencer yang mereka libatkan, sehingga dalam waktu singkat nasabah baru mulai bertambah. Perusahaan keuangan itu yang awalnya hanya bergerak pada simpan pinjam, kini merambah ke bidang asuransi. Kondisi perusahaan yang awalnya memburuk karena dampak resesi kini mulai bisa pulih.


Arthur kini bisa lebih bersantai, sesekali ia datang ke sasana tinju untuk berolahraga. Hingga pada suatu hari Quest baru muncul.


..."Quest untukmu : Seorang raja adalah pembebas, beli satu orang budak dari pasar gelap. Hadiah 5 miliar dan satu item istimewa"...


"Hadiah uangnya tidak terlalu besar, tapi item istimewa itu yang paling murah di shop bisa berharga 10 miliar lebih. Misi ini patut dicoba," gumam Arthur.


Keinginannya untuk menyelesaikan quest terhalang satu masalah. Dia tidak memiliki informasi apapun tentang pasar gelap. Di internet pun ia tidak punya cara untuk mengaksesnya.


Hingga ia putuskan ia mengundang Robin untuk dimintai pendapat, sekalian makan siang.


...----------------...


"Wah bos, rumah barumu keren sekali."


Robin berdecak kagum melihat keindahan dari rumah baru Arthur. Sesekali ia menggelengkan kepalanya ketika menatap beberapa ornamen yang ada pada rumah itu.


Arthur memang tidak main-main dalam proses membangun rumah itu. Ia bahkan menggunakan jasa konsultan khusus dalam membuat desai untuk rumahnya. Selain itu ia mengimpor barang dari eropa dan timur tengah untuk mengisi rumah barunya.


"Kau juga bisa punya semua ini kalau bekerja keras."


Arthur memberikan semangat pada Robin.


"Kalau dilihat dari gaji sekarang, mungkin sekitar dua ratus tahun aku bekerja padamu, baru bisa punya rumah seperti ini hahaha."


Arthur tertawa mendengar perkataan Robin. Ia kemudian mengajaknya menuju ruang makan.

__ADS_1


...----------------...


"Bagaimana enak tidak masakannya?" usai makan Arthur membuka pertanyaan pada Robin


"Ini gila bos! belum pernah aku makan masakan seenak ini"


Robin berbicara sambil memegang perutnya yang kekenyangan. Memang sebelumnya ia menambah nasi hingga dua piring. Makanan enak membuat manusia kalap.


"Ini spesial ku pesan untukmu. Hadiah untuk usahamu selama ini," kata Arthur dengan sungguh-sungguh.


"Terimakasih bos, tak perlu repot. Selama kau menggajiku, aku akan berkerja dengan serius untukmu."


Robin nampak bangga dengan ucapan pimpinannya itu. Tak pernah dia merasa dihargai seperti itu.


"Asalkan kau bekerja lebih keras, jangan khawatir dengan gajimu. Eh aku ada pertanyaan untukmu...."


Arthur menyampaikan pertanyaannya mengenai pasar gelap. Karena heran, langsung saja Robin mendesak ingin tahu alasan mengapa si bos bertanya tentang pasar gelap. Arthur sengaja tidak menyampaikan tentang quest, ia hanya bilang ada sesuatu yang ia ingin beli di sana.


Robin ternyata tidak memiliki informasi apapun tentang itu. Tapi, sesuai dengan karakternya yang ulet, dia langsung menjelajah forum-forum untuk menemukan tentang hal itu.


"Bos aku pulang dulu ya. Tapi jangan khawatir, secepatnya informasi yang kau cari mengenai pasar gelap akan kutemukan."


Pria tersebut meninggalkan rumah itu. Arthur yang ditinggalkan sendiri sore itu memilih untuk pergi ke sasana tinju untuk berlatih seperti biasanya.


...----------------...


Besok paginya, Arthur terbangun dikejutkan suara handphone nya yang berdering.


"Halo, kenapa? wah serius... cepat kirim alamatnya...terimakasih."


Rupanya telepon itu dari Robin. Ia mengabarkan bahwa sudah mendapatkan informasi mengenai pasar gelap lengkap dengan alamat dan tata cara masuknya dari darkweb yang diakses oleh salah satu tim IT kantornya.


Arthur mendapatkan informasi bahwa besok akan diadakan lelang pasar gelap di kota tersebut. Untuk bisa mengikuti lelang, ia harus mendaftar. Orang itu kemudian menyerahkan proses pendaftaran pada Robin dan karyawannya.


Dengan sigap Robin meminta anak buahnya tersebut melalui komputer yang terdapat di kantor, melakukan proses pendaftaran. Undangan resmi dari rumah lelang sebagai jawaban dari pendaftaran kemudian didapatkan.

__ADS_1


Si bos yang menunggu di rumah pribadinya, kemudian mendapatkan email dari Robin mengenai undangan lelang itu, didalamnya tertera nomer pendaftaran, alamat rumah pelelangan itu dan beberapa catatan lainnya.


"Rupanya aku harus membawa uang cash minimal lima miliar sebagai jaminan."


Ia lalu berpikir, bagaimana mungkin menyerahkan uang lima miliar kepada mereka sebagai jaminan semudah itu. Tapi jika dia tidak melakukan itu, maka sudah pasti pihak rumah lelang di pasar gelap akan menolaknya ikut. Mau tidak mau akhirnya ia menuruti kehendak mereka.


...----------------...


Arthur disambut oleh sebuah toko kelontong yang nampak sangat tua. Jika bukan karena pentunjuk dari undangan lelang, sudah pasti ia tak akan mampir di sana.


"Ada yang mau kau beli...?"


Sosok seorang kakek tua menyambut kedatangan Arthur. Mata si kakek itu sipit dengan badan yabg bungkuk, tapi masih dapat berbicara dengan lancar.


"Hujan batu di sini sangat berarti."


Arthur membacakan kata sandi yang tertera dalam undangan.


"Kau orang baru ya? sini ikuti aku," ujar si kakek sambil berbalik membelakangi Arthur dan memberikan isyarat agar pria itu mengikutinya.


Arthur yang tidak tahu apa-apa hanya mengekor si kakek dari belakang.


Hal yang ia temui membuatnya kaget. Di dalam toko yang rapuh, ternyata begitu masuk ke dalam. Terdapat terowongan setinggi orang dewasa. Dengan lampu listrik bercahaya remang-remang di dindingnya dan karpet lembut seperti di bioskop. Menemani langkahnya beberapa meter perjalanan ke dalam.


"Kau cukup sampai sini. Untuk bisa masuk, harap serahkan uang jaminannya," ujar si kakek.


Dengan ragu Arthur menyerahkan koper berisi uang lima miliar kepada pria tua itu. Kemudian dengan cekatan dihitung uang itu. Arthur hanya memperhatikan, ternyata kakek itu sangat lincah dalam menghitung uang jaminan dari Arthur. Entah karena ia suka dengan uang atau karena memang sudah profesional bertahun-tahun menjaga tempat ini.


"Kau jangan khawatir, setelah proses lelang selesai. Uang ini akan dipotong sesuai jumlah yang kau keluarkan dalam proses lelang," kata si kakek pelan.


Pria tua itu juga menjelaskan bahwa jika nantinya uang itu kurang atau habis, maka ia harus melakukan pembayaran sisanya dengan menambah kekurangannya.


"Oke kau bisa masuk..."


Begitu masuk matanya terbelalak, dengan apa yang dilihatnya di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2