
"Baiklah bos, mulai besok aku akan ke perusahaan untuk mengenalkan diri dan melakukan evaluasi secara keseluruhan"
"Oke, aku percaya padamu"
Akhirnya dua orang itu berpisah dan Arthur kembali ke rumahnya. Di sana ia banyak berpikir tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang. perlu ia lakukan selanjutnya.
Dia mulai mencari profil orang yang bernama Jhon Blake, tapi ternyata informasi mengenai orang itu sangat sulit untuk ditemukan. Hingga ia menyerah untuk menemukannya.
"ting"
Pesan baru dari masuk ke whatsappnya. Biasanya ia malas membuka pesan dari kontak yang tidak dikenalnya. Tapi, kali ini ia penasaran karena foto profilnya berupa logo stasiun tv yang sering ia tonton.
Begitu ia membuka pesan, ternyata isinya undangan untuk hadir ke sebuah acara talkshow pada prime time. Ia yang sebenarnya tidak mau dikenali, awalnya memilih untuk mengabaikan undangan itu.
Tapi sebuah misi kekayaan baru, muncul.
"Quest untukmu : Seorang raja perlu dikenal oleh orang banyak. Jadilah sosok yang menginspirasi 1000 orang. Hadiah 30 miliar"
"Wow jumlah uangnya semakin banyak saja, sesuai dengan level kesulitannya !" pikir Arthur.
Begitu mengetahui quest tersebut, setelah berpikir beberapa waktu ia memutuskan untuk menerima undangan dari televisi tersebut.
...----------------...
"Aduh kemana lagi ya jalannya."
Sebagai orang yang tidak pernah masuk ke stasiun televisi, ia kebingungan mencari letak studio di mana acara talkshow nya akan diselenggarakan.
Stasiun televisi itu sangat luas. Hal ini cukup wajar, karena televisi swasta itu merupakan favorit orang-orang yang masih menonton televisi.
Gedungnya terdiri dari lima lantai, dengan banyak ruang studio di sana. Beberapa orang yang menggunakan id card berpapasan dengan Arthur, sebagiannya berjalan sambil menggotong kamera. Mereka semua terlihat terburu-buru seolah sudah kehabisan waktu.
"Jadi begini ya suasana di stasiun tv." gumam Arthur pelan.
Dari balik kaca ia juga melihat pewarta berita yang sedang melakukan rekaman. Beberapa menit ia mengamati dari luar, hingga kemudian datang seorang security bertanya padanya.
"Maaf pak, ini bukan untuk orang luar. Mau apa anda kemari?" tanyanya dengan nada agak tegas.
"Saya diundang oleh talkshow ini," ujar Arthur sembari menunjukkan undangan di Whatsapp nya.
__ADS_1
"Ohhh... Bapak salah studio. Untuk acara tersebut berada di gedung sebelah."
"Hahaha... maaf pak saya tidak tahu." Arthur menggaruk kepalanya pelan agak malu.
"Mari saya antarkan pak."
Security tersebut menunjukkan lokasi tempat Arthur akan melakukan syuting. Sambil di jalan Arthur mengamati sekitarnya.
Ternyata selain luas, gedung itu juga sangat modern. Desainnya mencerminkan konsep kreatif, corak warna dindingnya yang berbeda-beda dilengkapi dengan lukisan hasil kreasi tangan, membuat suasana kantor itu semakin semarak, seolah memberikan suntikan ide baru bagi mereka yang memandangnya
Di beberapa sudut ruangan terdapat galeri foto-foto acara yang diisi oleh artis serta pejabat yang pernah mereka undang.
"Apa nanti fotoku juga ada di sana ya?" pikir Arthur.
Mereka berdua terus berjalan sampai pada sebuah gedung dengan pintu berwarna coklat dan terdapat tulisan 'STUDIO DUA' di atasnya.
"kita sudah sampai pak."
Orang itu membukakan pintu pada Arthur. Setelah mengucap terimakasih, Arthur masuk sendirian ke dalamnya.
"Wusshhhhh"
Angin berhembus dari dalam begitu Arthur membuka pintu studio.
Acara yang awalnya direncanakan di dalam ruangan, berubah konsep menjadi menggunakan panggung terbuka.
"Hah... apa-apaan ini?" kaki Arthur lemas begitu melihat lebih jauh, jumlah kursinya hampir mendekati jumlah tempat duduk di stadion sepakbola.
"Hei Arthur...selamat datang!" seseorang menyeru kepadanya. Dia adalah seorang wanita berwajah imut dengan hidung mancung yang terlihat sangat enerjik. Rambutnya pirangnya dicepol ke belakang, dengan buku catatan yang dibawa kemana-mana.
"Aku adalah Sylvina, koordinator talkshow ini. Aku yang sebelumnya mengundangmu," kata si perempuan begitu Arthur melihatnya sambil kebingungan. Sembari menyodorkan tangannya pada pria itu.
"A-apa lagi yang harus kulakukan?" katanya terbata, gugup karena dua hal : pertama melihat kondisi panggung yang akan ia hadiri, kedua karena diajak wanita cantik itu berbicara.
"Acara kita akan mulai sekitar 60 menit lagi. Kamu ke ruang wardrobe, kemudian nanti ikut arahan selanjutnya."
Sylvina menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Arthur sambil mengajaknya menuju ruangan dimaksud. Dia didandani dan diberi baju yang bagus oleh para profesional.
Usai itu dia menunggu sebentar, hingga kemudian ia dipanggil. Begitu kakinya menginjakkan panggung terdengar teriakan memanggil namanya.
__ADS_1
"Arthur... Arthur... Arthur...!!!"
Dia kaget dengan sambutan semua orang, ini adalah sesuatu yang bahkan ia tidak berani memimpikannya. Dia disambut seperti seorang rockstar yang tampil di konser.
"Mari kita sambut Arthur, seorang kaya raya muda yang memiliki hati sangat baik, membantu korban gempa."
Pembawa acara talkshow itu menghampirinya. Sosok yang biasa ia lihat di televisi, kini ada di hadapannya. Pria keren dengan jas yang mahal serta pembawaan yang menyenangkan itu menggenggam tangannya.
Pembawa acara tersebut langsung memberikan pertanyaan padanya seputar pengalaman Arthur membantu korban gempa. Beberapa menit awal dia terlihat gugup. Hingga kemudian ia nampak enjoy menjawab pertanyaan dari orang itu.
Sesekali penonton nampak bertepuk tangan, hingga bersorak. Bahkan ketika Arthur menceritakan betapa pilunya keadaan di sana, beberapa penonton tersorot kamera sedang menangis.
"Jadi kamu pergi ke sana hanya untuk membantu korban gempa?" kata si pembawa acara
"iya, kita bicara tentang kemanusiaan. Harta yang kumiliki tiada artinya jika sesamaku masih ada yang kesulitan. Yang kita perlu hanya kepedulian, cukup itu saja mampu menggerakkan hati untuk membantu."
Para penonton nampak sangat kagum dengan jawaban Arthur.
"Kau punya jiwa sosial yang sangat tinggi. Jarang aku bertemu orang sepertimu," puji si pembawa acara.
"Apa kau sudah berkeluarga?" tanyanya lagi menambahkan.
Sambil tersenyum canggung Arthur menjawab," belum pak"
Penonton langsung berteriak riuh mendengar jawaban Arthur. Beberapa gadis terlihat mulai berbisik-bisik, mereka menganggap Arthur suamiable banget.
"Ayo para wanita di negeri ini. Di depan kalian ada pria kaya, tampan dan berhati baik sedang single." kata orang berjas di depan Arthur sambil berseloroh.
"Hahahaha..."
Semua orang tertawa mendengar ucapan tersebut. Sedangkan yang di roasting hanya senyum-senyum malu.
Beberapa pertanyaan penutup diajukan. Arthur dapat menjawabnya dengan kalimat yang sudah dia susun sedemikian mungkin.
Waktu satu jam berlalu tanpa terasa bagi siapapun yang menyaksikan talkshow itu. Jawaban Arthur memberikan kesan mendalam bagi siapapun yang menyaksikannya.
"Terima kasih Arthur atas kesediaannya datang ke acara kami."
Perkataan itu sebagai penutup acara malam itu. Arthur menyempatkan melambaikan tangannya ke seluruh penonton yang ada di sana, sebelum berjalan turun dari panggung.
__ADS_1
Begitu sampai bawah, dia melihat banyak mata menatapnya dengan bangga. Hatinya juga terasa lebih lega, segala kegugupan dan beban sebelumnya telah hilang.
"Ting... ting... ting... "