
Jawaban dari dokter itu membuat Thalia jatuh terduduk. Lantas menangis.
"Saya turut berduka cita." ujar dokter.
Thalia hanya bisa mematung dengan posisi terduduk di lantai.
"Hmm... kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya." ujar dokter seraya memberi kartu nama nya kepada Thalia.
Thalia pun menerima kartu nama dokter tersebut dan bertanya, "Apa aku boleh lihat dia?"
Dokter pun mengangguk mengizinkan. Lantas, Thalia beranjak berdiri dari posisi nya dan berlari menuju ruangan Chris.
Saat ia memasuki ruangan rawat nya, ia melihat Chris tengah berbaring tak bernyawa di atas tempat tidur nya.
Thalia pun duduk di kursi yang berada tepat di samping tempat tidur Chris dengan lesu.
Perlahan, air mata menetes dari mata Thalia. Hati nya terasa sangat sesak. Ia melihat ke arah meja kecil di sebelah kursi nya. Di atas meja itu, ada kertas yang berisi tulisan Chris tadi untuk berkomunikasi dengan Thalia. Ia memandang kertas itu. Ada kalimat yang belum Chris selesai tulis.
Tidak. Orang yang meninggal di dunia mimpi, akan
Tepat setelah Chris menulis kalimat tersebut, ia meninggal.
'Apa yang Chris hendak tulis?' batin Thalia.
__ADS_1
Ia pun tetap tidak bisa menahan tangisan nya di depan tubuh Chris yang sudah tidak bernyawa.
MIMPI SELESAI ☆
Seperti biasa, tangisan Thalia terbawa sampai ke dunia nyata. Kali ini, tidak ada yang membangunkan dia, Thalia terbangun sendiri. Sekarang, sudah pukul 3 siang.
Ia mencoba untuk bangun dari tempat tidur nya. Di genggaman tangan nya, terdapat kertas yang Chris tulis tadi.
Ia pun beranjak berdiri, lalu menaruh kertas yang Chris tulis di meja belajar nya. Kemudian, dengan hati yang masih sesak, ia menulis mimpi nya tadi di buku nya.
Ia bahkan tidak ingin keluar dari kamar nya, karena ia memikirkan Chris. Tetapi ia tau kalau orang tua nya sudah pulang dari pasar. Sekarang, orang tua nya sedang tidur siang.
Ia melewatkan makan siang. Karena ia tidak ingin keluar kamar, ia hanya memakan makanan ringan yang ia taruh di kamar nya. Setelah memakan makanan ringan itu, ia memainkan HP nya. Mencoba untuk melupakan Chris.
Ia berjalan menuju meja makan dengan sangat lesu. Hal itu membuat dua orang tua nya kebingungan. Thalia pun duduk di samping Papa nya.
"Thalia, kamu kenapa?" tanya Mama pelan.
Thalia tidak menjawab.
"Kamu ada masalah?" tanya Papa pelan.
Thalia tetap tidak menjawab.
__ADS_1
Papa dan Mama saling menatap. Menurut mereka, Thalia butuh waktu sendiri. Sehingga, Papa dan Mama mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Setelah selesai menyantap makan malam mereka, Thalia kembali masuk ke dalam kamar nya. Ia merebahkan diri nya di atas kasur, memeluk guling nya dengan erat, sambil memainkan ponsel nya.
Tidak lama, Thalia tertidur.
Tetapi berbeda dengan biasanya, Ia tidak memimpikan apa-apa. Ia tidak memimpikan Chris sama sekali. Thalia pun kebingungan.
Ia terbangun pukul 5 pagi, lalu ia mulai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Thalia tampak lesu dan tidak bersemangat. Hal itu juga membuat Nadine dan Nancy bingung.
"Thalia. Kok kamu jadi lesu begini?" tanya Nadine.
"Ih ada apa sih, Thalia?" tanya Nancy.
"Aku gapapa kok." ujar Thalia.
"Gapapa apaan? Lo gak pernah lesu banget kayak gini. Biasanya lo semangat banget." kata Nancy.
Nadine pun mengangguk setuju atas perkataan Nancy.
"Aku beneran gapapa kok." ujar Thalia seraya berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1