
"Chris." panggil Thalia.
Chris pun menoleh ke arah Thalia.
"Rumah mu dimana? Aku boleh ke rumah mu?" tanya Thalia.
"Rumah?" tanya Chris balik.
"Iya." jawab Thalia.
Seketika, Mata Chris terlihat penuh dengan kesedihan. Chris menghela napas nya lalu berkata, "Ayo."
Mereka pun memesan go-car menuju rumah Chris. Mereka menuju ke arah jalan tol.
"Aku ada 2 tempat tinggal." ujar Chris.
"Maksudmu?" tanya Thalia.
"Tempat tinggal untuk hari-hari sekolah, dan tempat tinggal untuk hari-hari libur." ujar Chris.
"Lah kok begitu?" tanya Thalia.
"Nanti aku ceritain. Sekarang aku anterin kamu ke tempat tinggal untuk hari-hari libur ku." ujar Chris.
"Oke." ucap Thalia.
5 menit kemudian,
"Pak! Menepi ya." ujar Chris ke sopir.
Sopir mobil mereka pun menepi.
"Ini uang nya." ujar Chris seraya memberikan uang ke sopir.
Lalu mereka keluar dari mobil.
"Eh rumah mu dimana? Ini kan jalan tol." ujar Thalia.
"Tuh." ucap Chris seraya menunjuk ke arah bawah jembatan tol.
Disitu ada karpet yang lumayan besar, dan beberapa makanan. Disamping karpet itu ada pria tua yang tengah makan. Pria tua itu berusia sekitar 40 tahun.
"Kamu tinggal disini?" tanya Thalia.
Chris mengangguk.
"Kamu gak bercanda kan?" tanya Thalia.
"Menurutmu?" tanya Chris.
Wajah Chris benar-benar terlihat serius.
__ADS_1
Mereka pun berjalan ke arah bawah jembatan tol tersebut.
"Pak!" panggil Chris.
"Eh, Chris udah balik? Bukannya ini hari sekolah?" tanya pria tua itu.
"Chris mau mampir sebentar." ujar Chris.
"Eh, ini siapa?" tanya pria tua itu.
"Ini pacar Chris. Namanya Thalia." jawab Chris.
"Waduh Chris udah dewasa ya hahaha. Udah pacaran. Kalian ngapain berdiri? Duduk sini." ujar pria tua itu.
Thalia dan Chris pun duduk di karpet.
"Thalia. Ini Pak Anto." ujar Chris memperkenalkan pria tua itu.
"Salam kenal ya, pak." ujar Thalia.
Pak Anto pun tersenyum lalu berkata, "Saya tidur dulu ya. Kalau ada apa-apa bangunin saya aja."
"Oke, pak." ucap Chris.
Wajah Thalia penuh dengan kebingungan.
"Chris. Tolong jelasin semuanya." ujar Thalia.
"Orang tua ku dan adik ku mengalami kecelakaan pesawat 10 tahun yang lalu. Mereka tercatat penumpang yang hilang selama ini. Sampai sekarang, mereka belum ditemukan. Aku dititipin ke rumah paman ku. Rumah mereka adalah tempat tinggal ku di hari-hari sekolah. Tapi dari dulu, paman ku benci sama aku. Di sana, aku selalu dimarahin, dipukul, diminta untuk mengerjakan semua yang mereka minta. Terkadang aku lebih memilih untuk tinggal di panti asuhan daripada disana." jelas Chris.
"Aku bisa bersekolah di QIS dan sekolah kita sekarang karena aku dapet beasiswa." ujar Chris.
Thalia tetap terdiam mendengarkan penjelasan Chris.
"Di hari keluarga ku menghilang, aku sebenernya memutuskan untuk tinggal di rumah ku dulu. Tetapi aku gak sanggup ngelihat rumah itu lagi, karena semuanya berisi kenangan ku dengan keluarga ku. Terus, aku juga gak bisa bayar semua biaya nya. Jadi aku diusir dari rumah ku sendiri. Aku cuman bisa mengambil beberapa barang dari rumah lama ku, bingkai foto keluarga ku, beberapa pakaian, celengan, dan beberapa cemilan. Sisanya dibuang."
"Paman ku bilang aku bisa tinggal disana kalau aku mau mengerjakan semua hal yang mereka suruh. Paman ku juga hanya memperbolehkan ku tinggal disana sampai hari Jumat. Hari senin, aku harus balik ke sana. Jadi di hari sabtu dan minggu, aku selalu tinggal disini bareng Pak Anto."
"Kenapa setiap hari kamu gak disini aja?" tanya Thalia.
"Keluarga paman ku gaji aku setiap minggu. Kan lumayan." ujar Chris.
"Berapa?" tanya Thalia.
"5 ribu setiap minggu." jawab Chris.
"Hahh?!!" tanya Thalia kaget.
"Ih lumayan lho. Sebulan dapet 20 ribu." ujar Chris.
"Kamu rela disiksa disana demi dapet 5 ribu setiap minggu?!" tanya Thalia.
__ADS_1
Chris mengangguk.
"Sekarang kok kamu bisa ketemu Pak Anto?" tanya Thalia.
"Seminggu setelah aku tinggal di rumah paman ku. Aku masih sangat kecil pada saat itu, jadi aku gak ngerti apa-apa. Paman ku menyuruh ku untuk memasak. Aku pun mencoba memasak untuk pertama kali. Karena aku gak ngerti apa-apa, makanan nya gosong. Paman ku marah besar dan melempar piring berisi masakan ku, ia menyuruh ku menghabiskan nya. Setelah itu, ia memukul ku dengan sangat keras, hingga aku terkulai lemas. Bahkan ia mengancam akan memotong tangan ku jika aku melakukan kesalahan yang sama."
"Lalu, paman ku menyeret ku keluar rumah, dan mengunci semua pintu rumah sehingga aku gak bisa masuk. Aku hanya bisa terkulai lemah di depan pintu rumah. Tiba-tiba Pak Anto datang dan membawa ku kesini, ia mengobati ku, mengurus ku, dan membantu ku."
Thalia pun langsung memeluk Chris dengan sangat erat, sambil menangis.
"Maaf, Chris." ujar Thalia.
"Gapapa. Asalkan kamu ada disini, aku gapapa kok." ujar Chris.
"Kamu mau tinggal di rumah ku?" tanya Thalia.
"Gak usah. Aku gak mau ngerepotin keluarga mu." ujar Chris.
"Kamu gak bakal ngerepotin kok. Mama bakal seneng banget kalau kamu tinggal di rumah ku." ujar Thalia.
"Maaf, Thalia. Aku gak bisa. Terkadang, Pak Anto saja dimarahi oleh paman ku karena mau membantu ku. Paman ku bakal mencari ku kemana-mana. Aku gak mau kamu kenapa-napa." ujar Chris.
DIN DIN DIN,
Suara klakson mobil terdengar di dekat mereka. Lalu ada sosok pria yang berjalan mendekati mereka.
"Chris! Kenapa kamu gak pulang hahh?!!" tanya pria tersebut.
Bisa ditebak kalau pria tersebut adalah Paman Chris.
"Iya, om. Chris pulang sekarang." ujar Chris.
Chris pun berdiri, mengambil tas nya. Lalu berjalan menuju mobil. Tetapi Thalia menahan tangan Chris.
"Jangan masuk, Chris." ujar Thalia.
"Chris cepetan masuk!!" seru Paman Chris.
"Aku gapapa kok. Besok kita bakal ketemu lagi di sekolah." ujar Chris.
Tetapi Thalia menggeleng.
"Maaf. Ini siapa ya?" tanya Paman Chris.
"Aku pacar dia. Gak usah suruh dia!" seru Thalia.
Chris pun langsung terlihat panik saat Thalia berkata kalimat itu.
"Oalah, Besok nanti kalian bakal ketemu lagi juga kok. Sekarang, pulang dulu ya." ujar Paman Chris.
Lantas Chris masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Gapapa Thalia." bisik Chris sambil tersenyum.
Lalu mereka pergi meninggalkan Thalia dan Pak Anto.