Some Reasons

Some Reasons
34


__ADS_3

"Hei! Kalian udah selesai ngobrol belum?" tanya Thalia dari luar kamar.


"Udah! Sini masuk!" seru Louis.


Thalia pun masuk ke dalam kamar kembali.


"Eh kalian ngomongin apa?" tanya Thalia penasaran.


"Ada deh." ujar Chris.


"Ih," ucap Thalia.


"Thalia." panggil Louis.


"Iya?" tanya Thalia.


"Walaupun kita putus, kita bisa jadi teman seperti biasa kan?" tanya Louis.


Thalia pun tersenyum, lalu mengangguk.


Setelah berjam-jam mereka berbincang-bincang, akhirnya Thalia dan Chris memutuskan untuk pulang karena hari semakin gelap.


...***...


Keesokan harinya di sekolah,


"Thalia. Dari kemarin kok Louis gak masuk?" tanya Nadine.


"Kamu gak tau? Dia kan lagi pergi keluar negeri." jawab Thalia.


Thalia dan Chris memutuskan untuk tidak memberitahukan kejadian kemarin ke siapa pun.


"Widih. Keluar negeri terus dia mah." ujar Nancy.


"Kita dikasih oleh-oleh gak ya?" tanya Nadine.


"Ngarep banget lo." ujar Nancy.


"Ya kan bisa aja." ujar Nadine.


...***...


Di kamar rawat Louis, ia hanya bisa berbaring sambil memainkan ponsel nya.


BRAK!!!


Tiba-tiba ada orang yang mendobrak pintu kamar. Itu adalah Papa Louis disusul oleh Mama nya yang terlihat mencegah Papa Louis untuk masuk. Tetapi, Papa nya mendorong Mama nya hingga terjatuh.


"Ma!!" seru Louis.


BAK!!


Tamparan keras melesat mengenai pipi Louis.


"Kamu kenapa sih?!! Sampai ngerusakin mobil semahal itu hah?!! Emang kira ada hujan uang hah?!!" seru Papa.


"Pa. Louis gak sengaja." ujar Mama seraya memegang kaki suami nya untuk memohon agar anak nya tidak dipukul. Tetapi Papa menendang Mama.


"Mama!!" seru Louis.


Lantas mencoba untuk bangun dari kasur nya. Tetapi ia terjatuh karena kedua kaki nya masih belum pulih. Louis langsung mencoba merangkak ke arah Mama nya, lalu memeluk nya dengan erat untuk melindungi nya dari Papa.

__ADS_1


"Dasar anak gak tau diri!!" seru Papa.


"Gak usah pukul Mama!! Pukul Louis aja!!" seru Louis yang masih memeluk Mama nya dengan erat.


BAK!!


Tamparan keras kembali melesat mengenai pipi Louis.


"Ma. Mama tetap disini. Jangan ikut Papa." ujar Louis lemas seraya kembali memeluk Mama.


"Yaampun Louis." ujar Mama seraya mengelus wajah Louis.


Papa kembali menendang Mama. Membuat Mama terlepas dari pelukan Louis.


"Mama!!" seru Louis.


"Sejak kapan kamu berubah jadi begini hah?!!" seru Papa ke Louis.


Louis terdiam.


"Kamu gak usah harap bisa pulang ke rumah lagi!!" seru Papa.


BUK


Papa terus memukul Louis dengan kencang. Membuat Mama menangis.


"Kamu gak usah macem-macem sama Papa ya!! Gak usah sok-sok ngelindungin perempuan itu!!" seru Papa.


Louis tengah terkulai lemah di atas ubin lantai.


"Kamu juga! Cepet berdiri!!" seru Papa ke Mama.


Mama pun langsung berdiri mengikuti perintah Papa. Lantas mereka pergi keluar kamar.


...***...


Chris dan Thalia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman.


"Kamu udah mendingan?" tanya Chris.


"Maksudmu?" tanya Thalia balik.


"Tentang Louis." jawab Chris.


"Aku gak terlalu pikirin. Yang penting sekarang kita temenan." ujar Thalia.


"Baguslah." ujar Chris.


"Sebenernya kemarin kalian ngomongin apa sih?" tanya Thalia.


"Ada deh." ujar Chris.


"Ayolah kasih tau." ujar Thalia.


"Gak mau." ujar Chris.


"Ayo cepetan!" seru Thalia seraya mencubit tangan Chris.


"Auch sakit!" seru Chris meringis kesakitan.


"Cepetan jawab ihh." ujar Thalia.

__ADS_1


"Iya deh iya. Aku jawab. Lepasin dulu." ujar Chris.


Thalia pun melepaskan cubitan nya.


"Cepet jawab." ujar Thalia.


"Gak mau." ujar Chris. Lantas berlari kabur dari Thalia.


"Woi Chris!! Sini kamu!!" seru Thalia seraya berlari mengejar Chris.


Pada saat Chris ingin menyeberang jalan, tiba-tiba lampu merah untuk pejalan menyala menandakan tidak boleh menyeberang.


"Sini kamu!" seru Thalia seraya menjewer telinga Chris, lalu menarik nya kembali ke taman.


"Eh ampun! ampun!" seru Chris meringis kesakitan.


"Duduk!" seru Thalia.


Chris mengikuti perintah Thalia, lantas duduk di salah satu kursi taman dengan telinga nya yang masih dijewer oleh Thalia.


Keadaan sekarang seperti anak yang sedang dimarahi oleh Mama nya.


"Ih cepet jawab!" seru Thalia.


"Jadi," ucap Chris.


"Apa?" tanya Thalia.


"Ini aku mau cerita, lepasin dulu." ujar Chris.


"Gak mau! Cerita dulu!" seru Thalia seraya menjewer telinga Chris lebih kencang.


"Auch auch, iya deh iya. Kemarin dia cuman ngomong ke aku kalau dia pengen jadi temen mu." ujar Chris.


"Itu aja?" tanya Thalia.


Chris pun mengangguk. Lantas, Thalia melepaskan jeweran nya.


"Auch sakit tau!" seru Chris seraya memegang telinga nya yang menjadi merah.


"Salah sendiri." ujar Thalia tidak merasa bersalah.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras, membuat orang-orang sekitar langsung berlarian mencari tempat teduh.


"Aduh malah hujan. Ayo cepet pulang." ujar Thalia.


"Ayo." ujar Chris.


"Apa kita beli payung dulu?" tanya Thalia.


"Kamu bawa uang?" tanya Chris balik.


"Enggak. Kamu?" tanya Thalia.


"Aku gak bawa." jawab Chris.


"Aduh gimana nih." ujar Thalia.


Lantas, Chris melepaskan jaket hoodie milik nya, dan memakaikan nya ke kepala Thalia agar Thalia tidak terlalu basah kuyup.


"Eh tapi kamu gimana?" tanya Thalia.

__ADS_1


"Gapapa. Ayo pulang." ucap Chris.


Tanpa disadari, Thalia merasa ada sesuatu yang aneh terhadap perasaannya kepada Chris. Apakah ini artinya ia mencintai Chris?


__ADS_2