Some Reasons

Some Reasons
9


__ADS_3

"Eh aku ke toilet dulu ya. Kebelet nih." ujar Thalia.


"Yaudah sana. Jangan ngompol loh!" seru Nadine.


Thalia pun segera meminta izin kepada Mister Ezra untuk pergi ke toilet. Setelah mendapatkan izin, ia langsung pergi ke kelas. Sebenarnya dia tidak ingin ke toilet, dia ingin mencari Chris.


Ia pun mengintip kelas mereka lewat kaca. Seperti dugaan nya, Chris sedang duduk di dalam kelas sambil menggambar.


Thalia pun masuk ke dalam kelas, membuat Chris menoleh lalu kembali menggambar. Thalia pun duduk di bangku nya. Mata nya kembali terkunci pada Chris. Lalu Thalia duduk di bangku yang berada tepat di sebelah bangku Chris.


"Hai!" sapa Thalia ramah.


Sapaan itu membuat Chris menoleh, lalu kembali menggambar.


"Eh, Kamu gak bisa ngomong?" tanya Thalia.


Pertanyaan Thalia pun tidak dihiraukan oleh Chris yang tengah fokus menggambar. Thalia pun mengintip ke arah gambaran nya. Ternyata, Chris sedang menggambar taman. Tetapi yang membuat Thalia terkejut adalah gambaran dia benar-benar bagus. Bahkan di atas level seorang pelukis.


"Wah, gambaran mu bagus banget!" puji Thalia.


"Makasih." ucap Chris pelan.


"Kamu baru aja ngomong?" tanya Thalia kaget.


"Iya." jawab Chris pelan.


"Oh berarti kamu harus dipuji dulu ya, baru mau ngomong." kata Thalia.


Thalia pun melihat-lihat barang-barang yang ada di atas meja Chris. Di atas meja nya, ada buku, kotak pensil, botol minum, inhaler untuk asma nya, dan beberapa obat-obatan.


"Aku denger kamu kena asma ya?" tanya Thalia.


"Iya." jawab Chris pelan.


"Kamu mau jadi teman ku?" tanya Thalia.


Teman? Itu adalah pertanyaan yang sangat Chris rindukan.


"Kamu mau?" tanya Chris.


"Kenapa gak mau?" tanya Thalia.


"Kalo kamu mau temenan sama aku, aku terima aja. Kalo kamu gak mau, ya gak usah." kata Chris.


"Aku mau." kata Thalia.


Seketika, muncul lekukan di bibir Chris. Dia tersenyum.


"Aku temenin kamu deh disini. Gak enak kalo sendirian." kata Thalia.

__ADS_1


"Makasih." kata Chris.


Thalia pun tersenyum.


Chris pun kembali sibuk dengan gambaran nya. Thalia hanya melihat nya menggambar. Tiba-tiba,


Huh huh huh


Suara itu membuat Thalia panik. Penyakit asma nya Chris kambuh. Secara refleks, tangan kiri Chris memegang dada nya dan tangan kanan Chris mengambil inhaler nya.


"Chris!" seru Thalia panik.


Chris pun mulai menghirup inhaler nya. Setelah itu, ia merasa mendingan.


"Kalo kamu mau jadi teman ku, kamu harus terbiasa dengan keadaan ini." kata Chris.


"Dokter bilang waktu ku tidak banyak. Aku tidak tau kapan aku akan meninggal, dan dokter tidak bisa memastikan karena asma ku sudah benar-benar parah." kata Chris.


Perkataan Chris pun membuat air mata Thalia menetes.


MIMPI SELESAI ☆


Tangisan Thalia terbawa hingga ke dunia asli. Thalia terbangun karena suara dobrakan pintu oleh Mama.


"Thalia bangun!!!" teriak Mama.


"Aduh apaan sih, Ma." keluh Thalia setengah sadar.


"Ah masih ngantuk." keluh Thalia.


"Yaudah kamu gak usah ke sekolah. Biarin aja telat, dihukum." kata Mama.


"Ah, Chris." kata Thalia pelan.


"Eh, muka mu kenapa? kamu abis nangis?" tanya Mama sambil melihat ke arah wajah Thalia.


"Huhuhuuu Chris!!" seru Thalia.


"Chris kenapa? Chris siapa? Temen baru mu? Mama cuman tau Louis doang." kata Mama.


Thalia tidak menjawab pertanyaan Mama, dan langsung pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, ia pergi ke meja makan untuk sarapan, berpamitan, lalu berangkat ke sekolah dengan sepeda nya.


Sesampainya di sekolah, ia berjalan di koridor sekolah menuju ke kelas nya. Ia tampak lesu karena memikirkan Chris. Pertanyaan-pertanyaan tentang Chris benar-benar menghantui nya malam itu. Bahkan yang biasanya ia terlihat sangat heboh ketika melihat Louis, hari ini ia hanya terdiam.


Ia duduk di bangku nya, lalu melamun. Perubahan sikap Thalia yang sangat drastis membuat Nadine dan Nancy kebingungan. Biasanya Thalia terlihat sangat ceria, tetapi sekarang ia hanya melamun di bangku nya.


"Woi Thalia!" panggil Nancy seraya menepuk pundak Thalia, membuat lamunan nya menghilang seketika.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Thalia seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


"Lo kok jadi diem?" tanya Nancy.


"Ah aku gapapa kok." kata Thalia.


"Kamu yakin?" tanya Nadine.


Thalia menjawab nya dengan mengangguk.


Tiba-tiba Thalia teringat sesuatu. Ia segera mengambil buku harian nya, dan menulis mimpi yang baru saja ia alamin.


Nadine dan Nancy pun masih kebingungan saat membaca nya.


"Ini apaan, Thalia?" tanya Nadine bingung.


Thalia tidak menjawab pertanyaan Nadine. Hal itu membuat Nadine berhenti bertanya.


Bel sekolah pun berdering. Kemudian Miss Dewi datang memasuki ruangan kelas.


Seperti biasa, kita memulai pelajaran. Seperti biasa juga, Thalia mengejar Louis bagaimana pun cara nya. Tak terasa, bel sekolah kembali berdering menandakan jam pulang, membuat murid-murid langsung berlarian menuju ke pintu gerbang.


Sesampainya di rumah, Mama sedang sibuk memasak di dapur. Thalia pun menghampirinya.


"Mama lagi masak apa?" tanya Thalia.


"Lagi masak perkedel nih. Kesukaan mu." kata Mama seraya menaruh adonan perkedel ke dalam minyak.


"Yay!" seru Thalia senang.


Lalu ia pergi ke kamar nya, dan merebahkan diri sambil memainkan ponsel nya hingga jam 6. Setelah itu, ia makan malam dengan mama nya. Lalu ia kembali ke kamar. Ia mengerjakan PR nya, lalu tiba-tiba ia merasa sangat ngantuk, padahal ini masih jam 7 malam. Membuat nya tertidur pulas.


MIMPI ☆


Ia terbangun di lapangan olahraga.


"Woi Sherly, ayo!" seru Nadine.


"Ayo? Ayo kemana?" tanya Thalia bingung.


"Main voli lah mau apa lagi." jawab Nadine.


'Jangan-jangan selama aku terbangun di dunia asli, jiwa ku tetap ada di sini? Aku ngapain aja?' batin Thalia.


"Ayo sekarang giliran tim Sherly Clarissa melawan tim Jennifer Daniella!" seru Mister Ezra.


Thalia dan Nadine pun bersiap-siap. Mereka diberi kesempatan untuk memukul bola duluan. Nadine pun memukul bola itu, dibalas oleh salah satu murid di tim lawan. Karena Thalia sedang tidak konsen pada saat itu,


BUK!

__ADS_1


Bola voli dari lawan terkena kepala Thalia. Membuat Thalia terjatuh. Tetapi, ada yang menahan tubuh Thalia agar tidak jatuh. Siapa dia? Disini kan tidak ada Louis atau mungkin ada Louis tetapi dia berada di kelas lain?


__ADS_2