
"Eh ada apa?" tanya Chris bingung.
Thalia tidak menjawab pertanyaan Chris. Lantas mengambil tas nya, lalu pergi.
Chris lantas berdiri, dan langsung berlari menghampiri Thalia.
"Thalia!" panggil Chris seraya menahan lengan Thalia.
Thalia terlihat tertunduk.
"Ayo pulang." ujar Chris.
Thalia pun mengangguk.
Chris memegang tangan Thalia, lantas berjalan menuju lobby mall.
"Thalia!" seru seseorang dari belakang.
Thalia tidak menoleh, lantas terus berjalan.
"Chris!!" seru seseorang dari belakang.
Bisa dipastikan itu adalah Louis.
"Kenapa sih?" tanya Chris kesal.
"Chris, gak usah ditanggepin." bisik Thalia.
"Lo gak usah bawa-bawa pacar orang!" seru Louis.
"Kamu juga gak usah bohong ke dia." ujar Chris dengan tangan nya yang masih menggenggam tangan Thalia.
"Thalia. Ayo pulang. Aku anterin." ujar Louis. Lantas menarik tangan kanan Thalia.
"Louis. Aku udah bilang kalau aku gak mau lihat kamu. Tolong dimengerti." ujar Thalia pelan seraya melepaskan tangan Louis.
"Jadi kamu lebih milih cowo brengsek itu daripada pacar mu sendiri?" tanya Louis.
"Iya. Kenapa?!" tanya Thalia kesal. Lantas berjalan pergi meninggalkan Louis.
...***...
Chris mengantar Thalia pulang dengan taksi. Sesampainya di depan rumah Thalia,
"Kamu istirahat di dalem ya. Kalau dia telepon, gak usah diangkat." ujar Chris.
Thalia pun mengangguk. Lalu tersenyum.
"Makasih." ucap Thalia.
"Kalau ada apa-apa, telepon aku ya." ujar Chris.
Thalia kembali mengangguk.
"Titip salam sama orang tua mu ya. Terus juga-" ujar Chris tetapi kalimat nya terhentikan karena Thalia menempelkan jari telunjuk nya di bibir Chris.
"Iya, Chris. Chris yang bawel comeback." ujar Thalia seraya melepaskan jari nya.
"Udah, cepetan masuk." ujar Chris.
"Oke. Hati-hati ya di jalan." ujar Thalia.
__ADS_1
Chris pun mengangguk. Lantas melambaikan tangan nya ke arah Thalia.
...***...
Keesokan hari nya di sekolah,
"Thalia!" sapa Nadine.
"Hai Nadine." sapa Thalia pelan.
"Kok kamu jadi murung?" tanya Nadine.
Thalia tidak menjawab pertanyaan Nadine.
"Louis kenapa?" tanya Nadine.
"Ya biasa berantem." jawab Sarah menggantikan Thalia.
"Kalian beneran berantem?" tanya Nancy.
"Dari muka nya, emang kelihatan kalau mereka berantem. Ditambah Louis tumben kan belum datang jam segini." ujar David.
Thalia pun menghela napas nya.
"Udah Thalia. Wajar kok berantem. Aku sama David juga sering." ujar Sarah.
Tidak lama, bel berdering menandakan jam masuk sekolah. Miss Dewi masuk ke dalam ruangan kelas.
"Pagi semua!" sapa Miss Dewi.
"Pagi miss!" sapa satu kelas dengan serempak.
"Itu kursi nya Louis miss." ujar James, salah satu anak murid. Yang kebetulan teman baik Louis.
"Kok tumben Louis belum datang? Biasanya dia yang paling rajin." ujar Miss Dewi.
"Gak tau miss." ujar James.
Tok tok tok
Ada seseorang yang masuk ke dalam kelas. Itu adalah Louis. Keadaan Louis saat ini sangat buruk. Ia tidak bisa berjalan dengan baik, ia terpincang-pincang. Muka tampan Louis juga dipenuhi dengan memar.
"Eh Louis?" tanya Miss Dewi.
"Maaf Miss. Aku telat." ujar Louis dengan suara yang sangat lemas.
"Eh kamu kenapa, Louis?" tanya Miss Dewi.
"Gapapa miss." jawab Louis. Lantas dengan perlahan berjalan menuju bangku nya.
"Kalau sakit, gak usah dipaksain, Louis." ujar Miss Dewi.
"Aku gak sakit kok, miss." ujar Louis.
"Kalau kamu gak tahan lagi, kamu bisa minta pulang ya. Nanti cari miss." ujar Miss Dewi. Lantas berjalan keluar dari ruangan kelas.
...***...
Setelah berjam-jam mereka belajar di sekolah, akhirnya bel kembali berdering menandakan jam pulang.
"Thalia. Aku yang anterin. Naik mobil ya." ujar Louis.
__ADS_1
Thalia tidak menjawab perkataan Louis.
"Eh, sana naik mobil nya." ujar Nancy.
"Gak ah, gak mau." ujar Thalia.
"Ih padahal lumayan lho dapet tumpangan." ujar Nancy.
Nadine pun terkekeh.
"Yaudah aku duluan ya." ujar Thalia. Lantas berjalan menuju ke parkiran sepeda.
Ia pun mengendarai sepeda nya menuju ke rumah nya.
Dari kaca spion mobil, Louis menatap Thalia dan mulai merasa menyesal. Ia mendesis kesal, dan mengacak-ngacak rambutnya.
Sesampainya di rumah, Thalia mengganti baju nya, membaringkan tubuhnya ke kasur, lantas menangis.
"Thalia!!" teriak Mama.
"Iya? Kenapa?" tanya Thalia seraya mengelap air mata dengan baju nya.
"Itu ada pacar mu di bawah!" seru Mama.
"Suruh dia pergi! Aku gak mau ketemu dia!" seru Thalia.
"Ih kok begitu sih!" seru Mama seraya masuk ke dalam kamar Thalia.
Thalia tidak menjawab perkataan Mama.
"Kalian berantem?" tanya Mama.
Thalia terdiam.
"Kasihan lho dia udah sempet-sempetin kesini. Mending kamu bicara dikit sama dia." ujar Mama.
Thalia menghela napas nya. Lantas berjalan menuju ke ruang tamu.
"Thalia!" seru Louis.
"Kenapa?" tanya Thalia lesu.
"Maaf." ucap Louis.
"Mau berapa kali kamu minta maaf?" tanya Thalia kesal.
"Maaf kalau selama ini, aku begini sama kamu. Aku punya masalah lain." ujar Louis.
"Masalah apa lagi?" tanya Thalia.
"Dari aku masih kecil, Papa ku sering mukul Mama ku dan juga aku. Sampai sekarang, Papa ku masih melakukan itu. Paksa kita berdua. Papa ku gak cinta sama Mama ku. Pikiran Papa ku penuh dengan obsesi. Bahkan Papa ku berpacaran dengan perempuan lain." jelas Louis.
Thalia pun terdiam, menyimak penjelasan Louis.
"Lihat ini. Tadi, Papa ku pukul bagian ini." ujar Louis seraya menggulung lengan jaket nya untuk menunjukkan luka yang selama ini ia sembunyikan.
Mata Thalia membelalak, ia kaget. Ia tidak pernah berpikir bahwa hidup Louis seperti ini.
"Makanya, aku selalu bertindak tanpa berpikir. Kata-kata ku juga selalu menyakiti orang lain. Maaf." ujar Louis.
Thalia langsung memeluknya sambil menepuk-nepuk pundak nya. Thalia bisa mengerti keadaan Louis.
__ADS_1