
Praaaang!
Tubuhku tersentak saat mendengar suara pecahan beling dari luar sana. Merapatkan kedua lututku didepan dada serta menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.
Air mata bercampur keringat dingin membasahi wajah. Tangisku tak bersuara, sengaja menahan isak tangis agar tak sampai terdengar oleh kedua orang tuaku yang kini sedang bertengkar hebat di luar sana.
Suara benda-benda yang di lempar dengan sembarang, diiringi suara adu mulut saling bersahutan antara Bunda dan Ayah di luar sana.
Hal yang kerap kali terjadi di dalam rumah sederhana ini. Pertengkaran kedua orang tua itu hampir setiap hari terjadi dan aku saksikan.
Aku selalu mengurung diri di kamar dan menangis saat terjadi perkelahian antara mereka.
Entah apa yang mereka perdebatkan hingga memicu emosi dan berakhir dengan pertengkaran. Seakan sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku mendengarkan kekerasan seperti itu. Trauma mendalam yang aku rasakan, hingga setiap kali ada suara kencang yang datang secara tiba-tiba, maka sudah pasti aku akan tersentak kaget. Jantungku langsung saja berdebar kencang.
Pertengkaran Ayah dan Bunda memang selalu berakhir dengan merusak perabot yang ada di rumah. Entah itu benda-benda kecil hingga besar sekalipun. Dapat dipastikan keadaan rumah saat ini akan seperti kapal pecah setelah terjadi pertengkaran. Bahkan tak jarang berujung pada kekerasan fisik yang dilakukan oleh Ayah terhadap Bunda.
"Menikah dengan kamu adalah sebuah kesalahan besar yang aku lakukan. Aku nyesel!" Terdengar teriakan Bunda di luar sana.
"Kamu pikir cuma kamu yang menyesal? Aku juga menyesal menikah dengan kamu. Kalau saja tak ada Mutia, aku tak akan bertahan dalam rumah tangga ini, mengerti?" teriak Ayah tak kalah kencang suaranya.
"Selalu Mutia yang jadi alasan. Kalau memang kamu menyayangi anak kita, kamu tak akan menjadi pria pengecut yang kerjanya hanya mabuk-mabukan saja dan mencari nafkah dengan benar!" geram Bunda.
Plaaak !
__ADS_1
"Aaawww!" Terdengar suara Bunda memekik kesakitan.
Aku tak tinggal diam saat mendengar Bunda, wanita yang telah melahirkan aku ke dunia di aniaya. Aku sudah cukup muak mendengar pertengkaran hebat antara kedua orang tuaku itu. Apalagi jika ayah sudah mulai berani bermain tangan terhadap bunda. Hal itu membuatku tak kuasa mendengar rintih kesakitan dari wanita yang selama sembilan bulan mengandung lalu melahirkan aku ke dunia ini.
"Cukup! Berhenti!" jeritku yang langsung di iringi isak tangis. Air mata seakan tumpah seluruhnya dan menangis sejadi-jadinya, meraung seperti orang kesetanan. Aku tidak peduli.
Kini aku tak lagi menahan suara tangisan yang semula tak ingin sampai terdengar oleh mereka. Emosi yang sudah lama terpendam seakan sudah naik ke ubun-ubun, kekesalan yang semula aku tutup rapat-rapat seakan membludak saat itu juga.
Aku sudah tak bisa lagi menahan kepedihan dan luka batin yang selama ini begitu menyiksa.
Seperti bom waktu yang terus berputar dan menunggu saatnya tiba baru akan meledak sekencang-kencangnya. Seperti itulah yang aku rasakan saat ini.
Kedua orang tua yang semula saling adu mulut kini terdiam tak terdengar lagi, keadaan tiba-tiba saja hening di luar sana dan hanya suara tangisanku yang mulai mendominasi memenuhi seisi kamar.
"Tolong hentikan dan jangan lagi bertengkar! Aku sudah tidak tahan dengan pertengkaran kalian!" pekikku.
Menghampiri aku yang tengah meringkuk di bawah lantai di pojok kamar sambil menangis sesenggukan.
"Mutia!" Wanita itu berhambur memeluk tubuh ini.
Tangisku makin menjadi saat bersandar pada dada bunda, menenggelamkan wajah di sana sambil terus menangis sejadinya.
Mentalku seakan dihajar habis-habisan oleh perselisihan kedua orang tua yang hampir tiap hari terjadi.
__ADS_1
Kesalahan ada pada ayahku. Ayah yang kerjanya serabutan namun masih saja suka berjudi dan mabuk-mabukan. Sementara bunda harus menanggung sendiri kebutuhan rumah tangga dengan menjadi kuli cuci setrika para tetangga di sekitar komplek.
Hal itu membuat bunda marah dan muak dengan kehidupan yang terus menerus berada dalam garis kemiskinan.
Nampak ayahku berdiri di depan pintu dengan jalan sempoyongan dan wajahnya yang merah masih dalam pengaruh alkohol.
Biasanya jika sudah begitu keadaannya, mereka pasti saja bertengkar. Setiap kali ayah pulang malam setelah berjudi dan mabuk berat, sudah dapat dipastikan akan terjadi perang antara mereka berdua.
Bunda sudah cukup banyak bersabar menghadapi kebiasaan buruk suaminya, dari sejak aku masih kecil hingga sekarang. Tabiat ayah masih belum juga berubah.
Sebagai anak aku tak peduli jika mereka memang harus berpisah. Jika kata orang perceraian akan melukai hati seorang anak maka bagiku itu tidak berlaku. Justru dengan mereka bercerai, mental aku dan ibuku akan terselamatkan.
Untuk apa bersama jika hanya saling menyakiti satu sama lain? Maka jalan satu-satunya adalah berpisah, itu akan lebih baik menurutku.
Mungkin aku baru berusia 15 tahun dan belum paham tentang masalah orang dewasa terutama masalah orang tua. Tapi aku sudah cukup mengerti dan tau betapa menderitanya bunda selama ini. Bisa aku lihat dari sorot matanya, setiap hari terpancar kesedihan, lelah dan tak bersemangat menjalani hari-harinya.
Belum lagi bulir bening yang kerap kali keluar dari matanya yang sudah sembab. Membuat hatiku teriris tak sanggup melihatnya. Sebagai seorang anak, hatiku sakit saat melihat sosok wanita hebat yang telah membesarkan aku sedang hancur hatinya.
Jika memang benar ayah menyayangiku, tentu dia tak akan melakukan perbuatan judi dan mabuk-mabukan. Omong kosong! Semua hanya alasannya saja agar membuat bunda berpikir ulang untuk meminta cerai darinya.
Aku dijadikan alasan untuk mencegah perceraian itu terjadi. Alih-alih ingin menjaga mentalku agar tak menjadi anak korban broken home, nyatanya dia sendiri yang menghancurkan kewarasanku sebagai anak. Aku memang hidup di tengah keluarga yang lengkap tapi aku tidak merasakan kasih sayang yang lengkap juga, hanya bunda yang tulus menyayangiku.
Entahlah, mungkin aku durhaka karena telah membenci sosok ayahku. Jika bagi sebagian orang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, namun bagiku ayah layaknya monster pertama yang hadir dalam hidupku, dan berhasil membuatku membenci makhluk yang bernama laki-laki. Berdosakah aku atas perasaan ini?
__ADS_1
Ku pejamkan mata ini setelah berbaring di atas ranjang dengan ditemani pelukan hangat bunda. Aku tak peduli dengan ayah yang sepertinya masih ada di luar sana. Biasanya dia akan tidur di atas sofa ruang tengah di antara barang-barang yang bercecer di lantai karena ulahnya tadi.
Entah apa yang akan terjadi esok hari ... juga hari-hari berikutnya. Apakah akan tetap sama hidupku diselimuti penderitaan dan kekerasan? Atau semua akan berakhir setelah kejadian malam ini?