
Sedikit risih dengan cara mereka menatapku, apalagi saat ini mereka saling berbisik. Bahkan tak hanya mereka yang baru melihat keberadaan aku sebagai murid baru di sekolah ini. Lintang dan kedua temannya pun tampak membisik pada teman yang lain. Sesekali mereka menoleh ke arahku dengan tatapan aneh, membuatku makin merasa tak nyaman.
Untungnya Bu Susan datang masuk ke kelas. Guru wali kelasku itu memintaku untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri pada teman-teman di kelas.
"Mutia, ayo sini maju ke depan dan perkenalkan diri. Nah anak-anak kita kedatangan teman baru nih," ujarnya.
Sampai di depan kelas, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil memberikan senyuman pada semua teman baruku yang ada dikelas ini.
"Perkenalkan namaku Mutia Wardhana. Kalian bisa memanggilku Mutia atau Tia juga boleh," ucapku lantang.
"Oke, kamu bisa kembali ke tempat dudukmu semula," ujar wali kelasku menjulurkan tangannya.
Aku pun kembali duduk dan mulai mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Bu Susan. Ternyata Bu Susan adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran yang cukup aku gemari hingga waktu berjalan terasa begitu cepat sampai tak sadar saat waktu belajar sudah berakhir saja.
Hari menjemput malam, ini merupakan malam pertama aku tidur di asrama.
Keadaan begitu hening ketika aku membaringkan tubuh di atas ranjang kayu bertingkat, dan hanya aku sendiri yang tidur di sini. Ku biarkan kasur di atasku kosong dan memilih tidur di bawah agar tak susah payah naik turun saat aku bangun nanti.
Keadaan kian sunyi dan mencekam, hanya suara detik dari jarum jam dinding yang bergerak. Suaranya terdengar jelas saat dalam keadaan sunyi seperti ini.
Mata ini begitu sulit untuk terpejam, rasa ngantuk seakan tak kunjung datang. Padahal biasanya jam-jam segini aku sudah terlelap tidur, entah kenapa sekarang begitu sulit. Mungkin karena ini pertama kalinya aku tidur di tempat baru, belum terbiasa dengan keadaan yang hening. Atau mungkin juga karena aku teringat Bunda. Sedang apa dia sekarang?
__ADS_1
Ah, aku sangat merindukannya! Lama melamunkan bunda hingga aku terhanyut dalam kenangan saat kebersamaan kami. Mungkin dengan cara mengingat-ingat sesuatu maka rasa kantuk akan muncul. Buktinya aku mulai menguap lebar, dan ku tutup dengan telapak tangan.
Dug! Dug! Dug!
Mataku yang belum terpejam semakin melebarkan kelopak tatkala merasa ada sesuatu di bawah sana yang memukul-mukul papan kasur dimana aku terbaring. Hingga tubuhku ikut bergetar dibuatnya.
Jantungku seketika berdetak cepat, ketakutan mulai hinggap. Rasa kantuk yang semula hampir datang kini kembali menguap, menghilang begitu saja. Mataku kembali segar.
Cahaya temaram dari lampu gantung yang redup menambah keadaan kian mencekam saja. Aku belum berani turun dari tempatku berbaring untuk melihat ke kolong ranjang. Suara sesuatu dari bawah sana hanya sebentar saja, tak lagi terdengar setelah aku menajamkan telinga.
Hingga aku putuskan untuk tetap diam di tempat. Ku tarik selimut yang tak begitu tebal agar menutupi seluruh tubuh hingga leher, mataku bergerak kesana kemari seakan tengah mencari-cari sesuatu.
Hawa dingin membuatku ingin beranjak ke kamar mandi. Cairan urine seakan berdesakan ingin segera dimuntahkan. Aku merutuk diri, bisa-bisanya di saat ketakutan seperti ini malah ingin buang air kecil. Sungguh tidak tau waktu!
Melangkah menuju pintu kamar dan keluar dengan ragu-ragu. Keadaan yang sangat tak enak dilihat saat aku membuka pintu kamar. Lorong panjang dan gelap dihiasi kesunyian yang mencekam membuat nyaliku menciut, tapi rasa ingin buang air mendesakku untuk terus berjalan melewati lorong panjang itu.
Glek!
Susah payah menelan saliva lalu mulai melangkah maju dengan langkah besar agar bisa secepatnya sampai ke toilet dan kembali lagi ke kamar.
Sampai di pintu toilet, aku segera masuk dan menutup pintu. Segera ku tunaikan hajatku disana, hingga aku merasa lega setelahnya.
__ADS_1
Selesai buang air kecil, aku berniat keluar dari toilet ini. Membuka pintu kamar mandi berukuran kecil itu, namun saat ku buka pintunya nampak seseorang mengejutkan aku dari balik pintu itu.
Seorang menggunakan kain putih yang menutup seluruh tubuhnya mengejutkan aku yang baru saja ingin keluar dari toilet.
Sosok itu mendorong kembali pintu yang hendak ku buka, membuat kepalaku terbentur pada pintu toilet. Terdengar suara tawa cekikikan di luar sana. Sementara aku sendiri memegangi kepalaku yang terasa pusing akibat terbentur pintu. Pandanganku kabur dan berkunang-kunang saking kerasnya dahi ini terantuk pada pintu kayu.
Sambil meringis kesakitan dan menahan tubuh agar tak sampai jatuh karena pandanganku yang semakin buram, aku mencoba memegang gagang pintu dan berniat membukanya kembali. Sialnya pintu itu seperti terkunci dari luar, hingga aku terkurung di toilet.
"Hei siapa yang ada di luar! Tolong buka pintunya!" Aku berteriak pada orang yang ada di luar sana yang kudengar masih tertawa kecil seakan sedang menertawakan aku.
Sosok yang tertutup kain putih tadi, aku yakin dia bukan hantu. Dia pasti salah satu siswa di sekolah ini yang sengaja menakut-nakuti aku. Dari suaranya yang terdengar di luar sana sepertinya dia tidak sendirian.
Aku pukul daun pintu dengan keras, dan kembali berteriak, "buka pintunya!"
"Lintang, cepat buka pintunya, kasihan dia pasti ketakutan."
'Lintang?' Seketika aku tersadar jika yang berada di luar sana adalah Lintang dan yang berbicara tadi adalah Echa. Bisa ku kenali suaranya.
"Lintang, Echa, Andin! Cepat buka pintunya! Kepalaku sakit!" Kembali aku menggedor pintu tapi kali ini tidak begitu kencang karena tenagaku seakan makin melemah.
Bahkan aku baru menyadari ada darah mengalir dari pelipis, sepertinya aku terbentur keras pada ujung pintu.
__ADS_1
Tubuhku mulai merosot dan terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, namun mereka tak kunjung juga membukakan pintu, malah suara tawa mereka pun tak kudengar lagi. Hanya suara langkah yang makin menjauh yang terdengar. Sementara aku sudah tak kuat lagi bangun, bahkan untuk sekedar membuka mata saja rasanya aku tak mampu. Sesuatu seakan menggiringku ke alam bawah sadar hingga aku tak ingat apa-apa lagi dan tak sadarkan diri.