Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 5 Sosok


__ADS_3

Suara gemericik air dari keran seakan menggiring kesadaranku kembali. Selain itu seseorang seakan memercikan sedikit air pada wajahku hingga aku pun terbangun. Perlahan membuka mata, mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu yang tergantung di atas sana.


Astaga! Aku baru tersadar jika saat ini masih berada di kamar mandi. Pori-pori di sekujur tubuh sudah mulai berdiri akibat rasa dingin yang menyergap. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, sepertinya lumayan lama karena darah di kening pun tampak mulai mengering.


Kepala masih terasa sakit, namun aku coba bangkit sembari menahan keseimbangan tubuh pada pintu.


Kesadaranku belum sepenuhnya pulih, namun ada beberapa kejadian yang aku ingat sebelum akhirnya aku berada di sini sendirian. Ada beberapa orang yang mencoba mengurungku di dalam toilet asrama, aku berharap saat ini pintu toilet sudah bisa kubuka.


Segera kuraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Syukurlah, ternyata sekarang pintu itu sudah tak terkunci lagi dari luar. Sepertinya Lintang dan kedua temannya yang lain sudah membuka kunci pintu itu saat aku jatuh pingsan.


Aku berjalan tertatih keluar dari kamar mandi dan melangkah menyusuri lorong panjang menuju kamarku.


Sambil terus berpegangan pada dinding untuk bisa sampai ke tempat tujuan, rasa pusing membuatku berjalan lebih lambat.


Namun akhirnya langkahku pun sampai juga di depan pintu kamar. Bergegas membuka pintu tersebut, dengan berjalan terseok-seok.


Deg!


Baru saja aku membukanya seketika netraku menangkap sesuatu. Seseorang tengah duduk di tepi ranjang tempat tidurku. Siapa dia?


Sosok gadis yang ku taksir masih seumuran denganku, memakai seragam khusus dari sekolah ini. Dia duduk tertunduk dengan wajah tertutup oleh rambutnya yang tergerai panjang, hingga aku tak bisa melihat wajahnya.

__ADS_1


Lampu kamar yang redup tiba-tiba saja mengerjap nyala mati, membuat sekujur tubuh gemetar, tengkuk pun meremang, seiring saat embusan angin dari dalam kamar menerpa wajahku. Hawa dingin yang terasa aneh ketika menyentuh kulit.


Embusan angin itu sempat membuatku menutup mata sebentar lalu kembali membukanya. Lampu kembali menyala meski tak begitu terang, namun aku dikejutkan oleh sosok gadis tadi yang seketika hilang seakan pergi bersama angin tadi.


Aku mengucek mata, memastikan penglihatanku yang sepertinya mulai terganggu. Namun sosok itu benar-benar lenyap dari pandangan, padahal jelas-jelas tadi aku melihatnya.


Kemana dia?


Apa aku salah melihat?


Ya,mungkin aku memang salah lihat. Bisa jadi aku hanya berhalusinasi tadi karena kesadaranku mungkin belum kembali sepenuhnya hingga berbagai ilusi tercipta dan seolah itu nyata.


Tak mau ambil pusing, segera aku masuk dan menutup pintu kamar. Duduk di tepi ranjang sambil meraih cermin kecil di atas nakas yang ada di sebelah ranjang.


Ku geletakan cermin di samping tempatku duduk. Membuka laci nakas dan mengeluarkan tisu basah, berniat untuk membersihkan darah kering dari wajahku.


Setelah mendapatkan tisu basah, kembali ku ambil cermin dengan tangan meraba-raba di atas ranjang.


Seketika aku tersentak kaget saat tak kutemukan cermin yang jelas-jelas tadi kusimpan tak jauh dari tempatku duduk.


Aku menunduk sedikit mencari-cari cermin berbentuk persegi yang ukurannya tak terlalu besar itu.

__ADS_1


Sedikit janggal saat melihat cermin itu bergeser dari tempat yang seharusnya. Kenapa tiba-tiba saja cermin itu berada di ujung ranjang lainnya yang menempel pada tembok kamar?


Ah, sudah lah! Yang penting cermin itu masih ada.


Gegas ku ambil cermin tersebut, lalu mulai membersihkan darah kering dengan menggunakan tissue basah.


Sedikit sulit dan perih, apalagi ketika cairan tisu basah itu tak sengaja mengenai luka di keningku. Besok aku akan meminta kotak p3k untuk meneteskan obat antiseptik pada lukaku ini. Sekarang sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Jadi lebih baik aku tunggu hingga besok, sementara aku bersihkan saja luka di wajahku ini.


Saat sibuk menggosok bagian pelipis tiba-tiba saja aku menangkap sesuatu dari dalam cermin ku.


Ada bayangan hitam berada tepat di belakangku, bisa ku tangkap dari pantulan cermin yang saat ini ku pegang.


Spontan aku menoleh ke belakang. Namun tak ada siapa-siapa disana, selain tembok kamar. Jantungku mulai berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Cermin yang ku pegang kini berada di atas paha, perlahan aku kembali mengangkat cermin itu berniat membersihkan lagi luka di wajah.


Tangan ini sudah gemetaran saat mengangkat cermin persegi itu dan mengarahkan pantulannya ke arah wajahku.


Sedikit lega ketika aku tak melihat lagi sosok bayangan hitam yang ku tangkap sangat menyerupai sosok gadis yang sempat kulihat sebelumnya. Wajahnya tertutup oleh rambut panjang, hingga aku tak bisa melihatnya dengan jelas.


Bersusah payah aku menelan saliva, lalu kembali menetralkan deru napas yang sempat memburu.


Cepat-cepat ku bersihkan lukaku, sengaja cermin aku dekatkan dengan wajah agar tak ada bagian yang kosong yang akan menampakan bagian belakang sana.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, segera kusimpan cermin serta tisu basah di atas nakas. Lalu menaikan kaki ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuh hingga leher.


Entah kenapa keadaan terasa begitu mencekam. Sosok-sosok yang sempat kulihat tadi seakan begitu nyata. Namun tetap aku coba menyangkalnya, aku anggap itu hanya halusinasi saja. Ya, aku yakin ini hanya karena pengaruh dari kesadaranku yang belum sepenuhnya pulih hingga ilusi bisa terjadi. Sebelumnya aku tak pernah melihat kejanggalan-kejanggalan semacam ini, maka aku yakin jika tadi benar-benar ilusiku saja, tak mungkin nyata.


__ADS_2