Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 2 Asrama


__ADS_3

"Bunda mau jadi TKW ke luar negeri?" aku membulatkan mata tak percaya saat mendengar pernyataan mengejutkan dari mulut bunda.


Wanita itu mengelus helaian rambutku, nampak bulir bening tertahan di sudut matanya, ia tetap mengulas senyum demi membuatku tenang.


"Iya, nak. Bunda terpaksa harus pergi demi memperbaiki nasib kita, sepertinya keputusan Bunda sudah bulat untuk bercerai dari ayahmu. Maka dari itu, Bunda harus punya pekerjaan yang menghasilkan cukup uang agar bisa menyekolahkan kamu setinggi mungkin, Bunda lakukan semua ini buat kamu. Nanti Bunda pasti akan kembali, kamu gak usah khawatir," ucapnya kini mengelus pipiku yang sudah mulai basah.


Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat sambil menyentuh telapak tangan bunda di pipiku. Menciumnya berulang kali, seakan tak rela mendengar jika dirinya akan pergi jauh meninggalkan aku.


"Lalu Mutia dengan siapa? Mutia gak mau sama Ayah," ucapku lirih.


"Tidak, Nak. Bunda tak akan menitipkan kamu pada Ayah. Bunda akan masukan kamu ke sekolah asrama di daerah tempat tinggal Nenek. Bunda harap kamu mau, demi kebaikan kamu, demi masa depan kita!" ujarnya.


Aku berpikir sejenak, ada keraguan dalam hati untuk tinggal di sebuah asrama. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin itu adalah jalan terbaik untukku dibanding harus ikut dengan ayah.


***


Sebelum Bunda berangkat ke yayasan tempat penampungan TKW, terlebih dahulu beliau mengantarkan aku ke sebuah sekolah asrama di salah satu daerah.


Beliau tidak menitipkan aku pada nenek karena di rumah nenek sudah ada anak dari Om Fahri yang juga dititipkan di sana. Bunda tak mau merepotkan nenek dengan menitipkan aku juga di sana, meski nenek tidak keberatan namun bunda lebih memilih menitipkan aku di asrama. Dengan alasan akan lebih aman karena dengan begitu ayah tak bisa menemui aku di asrama itu.


Kata Bunda asrama yang akan aku tempati nanti sangatlah ketat, tidak ada yang bisa keluar masuk kecuali atas izin orang tua yang mendaftarkan anak itu ke asrama tersebut. Meskipun itu ayah kandungku sendiri, Bunda sepertinya sudah mewanti-wanti pihak asrama agar tidak mempertemukan aku dengan ayah jika suatu saat ayah berkunjung ke sana.


Menginap semalam di rumah nenek, lalu pagi sekali aku dan bunda langsung datang ke asrama yang dimaksud.


Tampaknya asrama itu jauh dari perkotaan bahkan berada di tempat yang sedikit terpencil. Aku dan bunda menggunakan jasa ojek untuk bisa sampai ke sana.


Singkat waktu, aku sampai di depan sebuah asrama. Segera aku dan bunda turun dan membayar ongkos ojek yang kami sewa.


Pandanganku mengedar ke sekeliling saat berada di muka gerbang asrama. Di siang hari asrama itu terlihat sangat sepi dan bangunannya pun terlihat tua. Sebuah gerbang besi yang berkarat dan halaman luas dengan berbagai pohon tinggi di dalamnya.


"Ayo!" ajak bunda membuyarkan lamunanku yang sedang mengamati sekitar.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan, lantas mengikuti langkah bunda. Suara gesekan besi terdengar berisik tatkala bunda membuka gerbang tua yang tingginya sekitar dua meter itu.


Keadaan masih terasa sepi dan lengang, belum ada tanda-tanda kehidupan yang aku tangkap dari luar asrama. Bukankah seharusnya tempat ini ramai oleh para siswa dan siswi yang tinggal di sini? Tapi kenapa keadaannya begitu sunyi seperti tak berpenghuni?


Seketika muncul Kakek tua berjenggot putih tak begitu panjang menghampiri kami berdua.


"Selamat siang Bu," sapa pria tua itu ramah.


Di lihat dari penampilannya seperti penjaga kebun atau mungkin penjaga sekolah di sini, pikirku.


"Siang. Saya mau bertemu dengan kepala sekolah di sini, anak saya kebetulan baru mau masuk di sekolah ini," ucap Bunda to the point.


Pria tua itu melirik sekilas ke arahku, tatapannya sedikit aneh dan membuatku tak nyaman. Segera ku genggam tangan wanita di sampingku kuat-kuat, tanda jika aku merasa takut melihat orang asing dihadapan kami.


Tampaknya Bunda mengerti maksudku. Bahkan pria itupun seperti tau jika saat ini aku ketakutan karenanya. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya pada bunda sambil tersenyum.


"Mari saya antar!" Pria itu menjulurkan tangan, mempersilahkan kami agar lebih dulu melangkah menuju pintu utama asrama.


Kami berjalan menuju salah satu ruangan bertuliskan ruang kepala sekolah di depan pintunya. Pria tua itu mengetuk pintu dan tak lama muncul seseorang dari dalam sana. Menatap kami satu persatu secara bergantian.


Seorang wanita berpakaian dinas dengan mata dibingkai oleh lensa tebal menatap heran kami terutama aku dan bunda.


"Bu, ada yang mau bertemu dengan Ibu. Katanya anak ini mau sekolah di sini," jelas pria tua itu pada Wanita yang di duga adalah Kepala sekolah di asrama ini.


"Mari masuk! Mang Yana, makasih ya udah antar mereka kesini," ucap wanita itu pada pria tua tadi.


Ternyata nama pria itu Mang Yana, sepertinya memang benar dia adalah penjaga sekolah di sini, batinku.


Aku dan Bunda pun masuk ke ruangan bergaya klasik yang di dalamnya terdapat beberapa kursi yang disediakan untuk menerima tamu, satu meja dan kursi kerja di sisi lain, sebuah lemari yang dipenuhi buku-buku tebal, dua buah foto terpajang di salah satu dinding yakni foto Presiden beserta wakilnya, gambar burung Garuda di antara dua foto tadi, dan sebuah bendera merah putih di pojok kursi kerja.


Mataku berkelana ke setiap sisi, tanpa ada satupun yang luput dari sapuan mataku. Kami dipersilahkan duduk di kursi kayu dengan jok hitam yang terdiri dari satu kursi single dan satu lagi ukurannya lebih besar, dan aku duduk di sana bersama Bunda. Sementara Kepala sekolah duduk di kursi single yang berseberangan dengan aku dan bunda. Sebuah meja menjadi pembatas antara kami.

__ADS_1


Bunda mengutarakan maksud dan tujuannya datang kemari, yang tak lain adalah untuk mendaftarkan aku ke sekolah ini.


Sebelumnya bunda sempat berkomunikasi lewat telepon dengan kepala sekolah itu, setelah menemukan alamat sekolah ini dari internet dan mendaftar secara online.


Nampaknya aku langsung diterima di sana dan akan langsung diberi ruangan. Hari ini juga aku akan mulai tinggal di asrama ini


"Mutia Wardhana, nama yang cantik seperti anaknya. Semoga kamu betah di sini ya!" Wanita itu mengembangkan senyuman setelah membaca dokumen yang aku bawa dari sekolah lama ke sekolah baruku ini.


"Iya, Bu ... "


"Bu Ine, panggil saja Bu Ine. Anak-anak disini memanggilku demikian," ucapnya masih tersenyum.


"Iya, Bu Ine," ucapku.


"Kalau begitu mari saya antar ke kamar kamu," kata Bu Ine bangkit dari duduk.


Kami pun berjalan melewati beberapa koridor. Ternyata asrama ini tak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya. Dari kejauhan aku melihat banyak anak yang sedang berolahraga di lapangan yang berada di tengah-tengah bangunan ini. Pantas saja aku tak menemukan ada anak di halaman, karena memang penjagaan di tempat ini sangat ketat hingga tak ada satu siswa pun yang boleh keluar tanpa seizin guru.


Langkah kami berhenti di sebuah pintu kamar di lantai dua bangunan asrama. Tepatnya kamar paling ujung di koridor.


Mataku masih jelalatan melihat banyaknya pintu-pintu kamar yang berjejer di sepanjang koridor.


Bu Ine membuka pintu kamar yang akan aku tempati nantinya.


Krieeet


Suara derit pintu kamar terdengar sedikit menyeramkan. Namun aku mencoba menepis perasaan aneh itu, apalagi saat kaki ini mulai melangkah masuk ke ruangan tersebut. Sebuah ranjang bertingkat berada di pojok kamar, lemari tua berdiri di seberangnya dan sebuah nakas di samping ranjang tersebut. Tak begitu luas namun cukup untuk ditempati dua orang murid.


Hawa dingin seketika menyapa, membuat tengkuk merinding begitu saja, terasa aneh karena hal seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Berulang kali aku mencoba menepisnya tapi perasaan itu seakan enggan pergi.


"Aku sekamar sama siapa, Bu?" tanyaku mengalihkan perasaan yang aneh ini.

__ADS_1


"Sendirian. Tapi tenang saja, di sebelah kamar kamu ada banyak teman yang tidur di sana. Hanya kamar ini saja yang kosong dan masih layak di tempati. Yang lainnya sudah mulai lapuk dan masih dalam tahap renovasi," jelas wanita itu membuat aku ragu juga terkejut.


__ADS_2