
Tas ransel berisi baju dan barang-barang pribadiku disimpan di sudut dekat lemari pakaian.
Aku, bunda dan Bu Ine mulai berjalan keluar meninggalkan kamar asrama yang nantinya akan aku tempati.
Bu Ine mengajak kami berkeliling sebentar, menunjukan kelas-kelas juga ruangan yang ada di asrama.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah kami saat melewati lapangan juga ruang kelas dimana saat itu para siswa sedang belajar. Mungkin karena aku anak baru hingga menjadi pusat perhatian bagi mereka. Sesekali aku melempar senyum pada mereka yang menatap heran ke arahku, ada yang membalas senyumanku ada juga yang acuh tak acuh. Wajar karena mereka belum mengenalku.
Terdengar suara bel berteriak, tanda jam istirahat datang.
"Mutia, bunda tinggal ya! Masih banyak yang harus bunda urus, gak apa-apa kan?" ujarnya sambil merangkul kedua bahuku.
"Iya, gak apa-apa, Bun." Walau hati terasa berat membiarkan bunda pergi, namun aku harus mulai terbiasa dengan hidup mandiri tanpanya.
Apalagi bunda nantinya akan pergi selama bertahun-tahun jika beliau sudah mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Aku harus belajar dari sekarang, hidup tanpa adanya bunda disampingku.
"Bu Ine, titip anak saya. Kalau ada apa-apa hubungi saja nomor yang tertera pada dokumen putri saya, itu nomor salah satu keluarga saya di kota ini. Nanti jika saya sudah berangkat ke luar negeri, saya akan beritahu nomor baru saya di sana," ujarnya pada Bu Ine.
"Baik Bu Winda, anda tak perlu khawatir. Mutia pasti akan baik-baik saja di sini, anda percayakan saja dia pada kami," balas Bu Ine kepala sekolah asrama itu.
Aku memeluk bunda sebentar, lalu menatap nanar kepergiannya hingga tak terjangkau lagi oleh netraku ketika bunda berbelok di salah satu koridor.
Bohong jika aku tak merasa sedih dengan keadaan ini. Tapi mungkin ini jalan yang terbaik yang harus kami berdua jalani, seperti kata bunda semua demi masa depan kami.
"Ayo Mutia!" Bu Ine mengelus pundak membuyarkan lamunanku.
Aku hanya memberi sebuah anggukan ringan lalu mengikuti langkahnya menggiring aku ke sebuah ruangan.
"Bu Susan!" Sahutnya pada seseorang yang tengah berjalan keluar dari salah satu ruangan kelas.
Wanita bertubuh tinggi semampai itu menoleh lalu menghampiri kami berdua.
__ADS_1
"Mutia perkenalkan ini Bu Susan, guru wali kelas kamu di kelas sebelas," ujar Bu Ine memperkenalkan wanita itu padaku.
"Mutia," ucapku menyalami beliau.
"Kamu mau langsung belajar ke kelas atau …," ucapan Bu Susan terpotong oleh Bu Ine.
"Mutia belum membereskan barang-barangnya di kamar, sebaiknya dia bereskan dulu barangnya baru nanti mulai masuk kelas," sela Bu Ine.
"Baiklah, mumpung masih jam istirahat, kamu boleh bereskan dulu barang-barang kamu baru setelah itu kamu masuk ke kelas. Tunggu sebentar!" Bu Susan menengok ke sekeliling dan pandangannya berhenti pada tiga siswi yang kebetulan lewat tak jauh dari kami berdiri.
"Lintang, Echa, Andin. Kalian kemari!" Bu Susan melambaikan tangan kepada mereka.
Ketiga anak itu pun berjalan mendekat dengan wajah bingung mereka menghampiri kami.
"Kenalin teman baru kalian, namanya Mutia," ucap Bu Susan memperkenalkan aku pada ketiga siswi itu.
Kami pun saling menjabat tangan dan berkenalan.
"Kalian tolong bantu Mutia membereskan barang-barangnya di kamar, setelah itu baru masuk ke kelas ya," titah Bu Susan.
"Terima kasih," ucap Bu Susan.
Aku di temani ketiga siswi tadi berjalan menuju kamar asrama yang berada di lantai dua.
"Kamu tinggal di kamar mana?" tanya Lintang yang terlihat paling menonjol di antara mereka ketiga.
"Di ujung sana." Tanganku menunjuk ke kamar paling ujung.
Tanpa sengaja aku lihat ketiga teman baruku itu saling melirik satu sama lain, ekspresi mereka seperti terheran-heran. Entah hanya perasaanku saja, aku pun tak mau memusingkan hal itu.
Ku buka pintu kamar lalu melangkah masuk, namun anehnya mereka malah berdiri mematung di ambang pintu dengan pandangan menelisik ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa kalian berdiri di sana? Ayo masuk!" pintaku.
Mereka kembali saling lirik satu dengan yang lainnya, kemudian masuk dengan wajah ragu-ragu. Entah apa yang membuat mereka terlihat aneh seperti itu.
Segera ku pindahkan baju-baju dari ransel ke dalam lemari. Mereka yang diperintahkan Bu Susan membantuku beberes malah diam mematung sambil terus mengamati ruangan ini. Aneh bukan?
Tapi aku pun tak berani memerintah mereka. Toh barang-barang bawaanku juga hanya sedikit, sebentar saja langsung beres semuanya.
Aku membawa beberapa buku pelajaran dan memasukkannya ke dalam tas khusus sekolah.
"Kalian mau tetap berdiri di sini atau ikut aku ke kelas?" tanyaku.
"Ke kelas dong. Kamu sudah beres memangnya?" Lintang sedikit ketus nada suaranya. Mungkin memang karakternya seperti itu, tak aku ambil hati.
Aku harus banyak beradaptasi dengan orang-orang baru yang pasti memiliki karakteristik masing-masing.
"Sudah, makasih sudah menemani aku di sini," ucapku lalu kami keluar dan menutup pintu kamar.
"Kamu tau gak kalau kamar itu udah kosong lama?" celetuk Andin yang tiba-tiba saja disikut oleh Echa.
Membuatku semakin heran saja dengan sikap mereka bertiga yang seakan tau sesuatu tetapi sedang menutupinya dariku.
"Kosong?" aku menyipitkan mata.
"Sudah jangan dengerin dia, suka aneh-aneh emang. Bentar lagi bel bunyi, kita ke kelas gih," ajak Lintang berjalan lebih dulu, di susul kedua temannya dan aku paling belakang.
Baru beberapa langkah aku merasa ada seseorang yang berjalan di belakang sana, sekilas aku menoleh tapi tak melihat ada siapapun selain tembok paling ujung yang bersebelahan dengan pintu kamar asramaku.
Mencoba menepis perasaan aneh itu dan kembali berjalan mengikuti ketiga teman baruku yang kini berjalan beriringan di antara koridor sempit yang hanya muat untuk mereka bertiga, hingga terpaksa aku berjalan di belakang mereka.
Suara bel kembali terdengar begitu nyaring, tanda kami harus segera masuk ke dalam kelas. Lintang, Echa dan Andin mempercepat langkah. Begitupun aku mengambil langkah besar agar segera sampai ke kelas yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
Sampai disana ku edarkan pandangan, mencari tempat kosong untuk aku duduk, hingga pandanganku berhenti di salah satu bangku yang ada di paling tengah. Bangku tersebut kosong, cukup aneh kenapa tak ada yang mengisi bangku tersebut padahal posisinya berada di tengah-tengah kelas.
Kalaupun ada yang dikosongkan biasanya di paling ujung, tapi ini malah ditengah-tengah. Tak mau memikirkan hal yang tak penting, segera ku langkahkan kaki menuju bangku tersebut. Beberapa pasang mata memperhatikan aku, mungkin karena aku masih asing bagi mereka. Terlebih ketika aku duduk di bangku kosong itu, mereka saling berbisik lalu menatap ke arahku dengan tatapan aneh.