
"Kita kembali ke kelas sekarang," ajak Arsy berdiri dari duduknya.
"Ayo. Oh ya, masalah Lintang tadi tolong jangan sampai bocor pada yang lainnya apalagi sampai terdengar di telinga Bu Ine atau guru-guru lain. Mereka sudah memperingatkan aku agar tidak bicara pada siapapun," ucapku.
"Mereka memang selalu mengancam siapapun yang jadi korban bullying-nya," ujar Arsy dan aku hanya manggut-manggut.
Sampai di kelas, nampak Lintang dan kedua temannya menoleh ke arah aku dan Arsy yang baru datang. Wajah mereka terlihat curiga, mungkin mereka berpikir jika aku menceritakan kejadian semalam pada Arsy. Dugaan mereka memang betul, tapi aku tak peduli. Toh, mereka hanya mengancamku agar tak melapor pada guru. Dan Arsy hanya murid sama seperti mereka.
Semenjak itu, aku jadi merasa punya teman. Arsy anak yang baik namun dia sangat pendiam, bahkan dia tak punya teman di kelas ini. Saat jam istirahat, aku lihat dia hanya diam di kelas sendirian.
Aku putuskan untuk menghampirinya. Tak ada siapapun di kelas ini, hampir semuanya pergi ke kantin kecuali aku dan Arsy.
"Boleh aku duduk?"
Arsy terlihat terkejut saat aku tiba-tiba datang menghampiri. Sesuatu yang ada dalam genggaman tangannya ia sembunyikan. Entah apa itu, seperti foto tapi aku tak yakin karena hanya melihatnya sekilas saja.
Arsy mendongakkan wajah, tanpa menunggu jawaban darinya aku duduk di kursi kosong di sebelahnya.
Arsy segera memasukan benda yang dia sembunyikan dalam genggaman tangannya ke dalam tas.
"Kamu gak ke kantin?" tanya Arsy setelahnya.
"Enggak. Nanti saja jam makan siang baru aku makan," jawabku.
"Sama kalau begitu." Arsy mengulas senyum.
"Kamu gak ada teman di asrama ini? Aku lihat dari tadi kamu sendirian saja," tanyaku.
"Aku orangnya tak mudah bergaul jadi gak ada yang mau berteman denganku. Tapi meskipun begitu, aku nyaman sendiri," jawabnya.
"Gimana kalau mulai saat ini kita berteman." Aku menjulurkan tangan mengajaknya bersalaman.
Arsy menoleh menatapku lekat-lekat, seperti sedang menyelami pikiranku. Dengan ragu dia membalas uluran tanganku lalu senyuman terbit di wajahnya yang manis.
"Aku senang berteman denganmu. Sepertinya kita banyak kesamaan, sama-sama tak mudah bergaul."
"Tapi kamu lebih pandai, kamu pemberani," pujinya.
__ADS_1
"Kenapa bisa berkata begitu? Siapa bilang aku pemberani?"
"Kamu bisa melawan Lintang dan dua temannya. Aku lihat tadi pagi kamu berani berontak saat mereka mengolok-olok, kamu hebat!"
"Jangan berlebihan. Buktinya tetap saja aku kalah dari mereka." Aku tertawa kecil.
"Tapi setidaknya kamu sudah berani melawan, tak seperti yang lain yang selalu tunduk dan selalu bungkam tak berani melawan. Justru orang seperti kamu akan ditakuti oleh mereka, hanya perlu sedikit saja mengasah lagi keberanian kamu, pasti mereka akan kalah," ucap Arsy.
"Masa sih? Tapi ucapan kamu patut dipertimbangkan. Aku akan coba lawan mereka kalau sampai berani menggangguku lagi. Tapi aku tak mungkin melawan mereka sendirian, aku butuh teman. Dengan adanya kamu, maka kita berdua bisa melawan mereka." Aku mengajaknya tos dan dia pun langsung menepuk telapak tanganku.
***
Makan siang tiba, aku dan Arsy segera menuju satu ruangan tempat semua siswa makan siang. Antrian sudah cukup panjang, aku harus bersabar menunggu meski cacing dalam perutku sepertinya sudah tak sabar hingga menimbulkan bunyi krauk-krauk.
Arsy berada di depanku saat ini, aku memang sengaja menyuruhnya mengantri lebih dulu. Dan kini sudah giliran Arsy mendapat jatah makan siang. Nampan yang dia tenteng pun sudah mulai terisi oleh makanan. Setelah Arsy, baru giliranku. Rasanya sudah tak sabar lagi, rasa lapar seakan membuat makanan sederhana itu menjadi terlihat lezat.
Aku lihat ada sayur bening, ayam fillet, tahu, kerupuk udang dan nasi. Semua makanan itu aku lihat dari nampan milik Arsy yang sudah terisi.
Selesai Arsy, aku pun melangkah maju. Tapi tiba-tiba saja Echa yang semula berada di belakang menyerobot antrian ku.
"Hei! Sekarang giliranku!" Aku membentaknya.
Arsy hanya diam berdiri tak jauh dari antrian, dia memang tak berani berbuat apapun untuk membelaku. Aku coba bersabar untuk kali ini saja, tapi jika sekali lagi Echa atau dua temannya yang lain berani menyerobot antrian makan lagi, maka aku tak akan tinggal diam seperti sekarang.
Setelah mendapat jatah makan, aku dan Arsy mencari bangku yang kosong untuk menyantap makan siang kami.
Mengedarkan pandangan ke sekeliling, semua bangku tampak penuh karena sepertinya mereka yang sudah selesai makan pun masih tetap duduk di bangku dan enggan beranjak. Sementara asrama ini cukup ketat, tak membiarkan kami makan selain di ruangan ini, terkecuali bagi siswa yang sakit. Mereka akan makan di kamar asrama.
Ada dua orang siswa yang beranjak dari tempat duduk, segera aku ajak Arsy untuk berjalan ke tempat bekas mereka duduk.
Perutku benar-benar sudah tak bisa diajak kompromi lagi, rasa lapar tak tertahankan sementara aku harus menunggu bangku setelah berlama-lama mengantri panjang.
Saat aku berjalan melewati bangku-bangku lainnya tiba-tiba saja ada kaki yang menjegal langkahku hingga semua makanan yang ada di atas nampan tumpah berserakan di lantai. Untung saja aku tak sampai jatuh, tapi makananku … sudah tidak bisa diselamatkan!
Dengan kesal aku menoleh pada seseorang yang kuduga telah menjegal kakiku tadi.
"Lintang!" Aku membentak saat kulihat ternyata dialah orangnya.
__ADS_1
Gadis itu hanya tersenyum menghina, kedua temannya pun malah menertawakan aku.
Di saat lapar seperti ini emosiku cepat naik. Kepalaku rasanya panas dan amarahku seakan ingin meledak.
Aku ambil gelas minuman di mejanya dan ku siramkan air itu pada wajah Lintang.
"Awwwhh!" Dia menjerit dan berdiri saat wajahnya terkena tumpahan air yang sengaja aku siramkan.
Wajahnya yang cantik jadi basah kuyup, dan aku sangat puas melihatnya. Kedua temannya yang lain tampak ikut bangkit dari duduk mereka.
"Berani sekali kamu!" Lintang melayangkan tangan sepertinya dia berniat mendaratkan telapak tangannya pada pipiku.
Sreeett
Aku berhasil menangkisnya, bahkan saat ini aku pilintir tangannya hingga ia menjerit kesakitan. Beberapa orang disana nampak memperhatikan aksiku melawan preman asrama ini.
"Sudah cukup, Tia. Ayo kita pergi." Arsy menarik satu lenganku membawaku pergi dari sana.
Sebelum pergi, aku melihat tatapan tajam dari ketiga sekawan itu. Aku tak takut! Entah kenapa seakan-akan aku punya keberanian lebih untuk terus melawan mereka. Padahal aku paling tidak suka kekerasan, tapi sekarang justru aku bisa melakukannya pada orang lain, sebagai bentuk pembelaan diri.
Ku lihat dari sudut mata Lintang, Echa dan Andin pergi dari ruangan ini. Syukurlah, tanpa adanya mereka rasanya asrama ini aman.
"Makanan kamu jatuh, kita makan berdua saja." Arsy menggeser nampan miliknya ke hadapanku. Kami duduk bersebrangan di salah satu bangku.
"Tapi nanti kamu gak kenyang dong," ucapku sungkan.
"Makanan ini cukup buat kita berdua, setidaknya kita bisa mengganjal perut sampai nanti jam makan malam."
"Sepertinya kamu tau kalau aku tak punya uang untuk beli makanan di kantin." aku meraih garpu dan mulai menyantap makanan itu bersama Arsy.
"Aku tau karena aku juga merasakan hal yang sama. Sebenarnya kita bukan gak punya uang, hanya saja uang kita sedikit," ucapnya sambil tertawa renyah.
Senang sekali memiliki teman yang sefrekuensi seperti Arsy. Aku jadi mulai betah tinggal di asrama meskipun harus menghadapi tiga bidadari dari neraka itu.
Setelah semua kegiatan sekolah selesai, aku kembali ke kamarku. Arsy sudah lebih dulu masuk ke kamarnya, mengingat kamar Arsy berada di deretan paling tengah, tak seperti aku yang kamarnya ada di ujung.
Ceklek!
__ADS_1
Aku membulatkan mata saat mendapati kamarku berantakan. Ini pasti kerjaan Lintang dan teman-temannya!