
"Kamu kenapa?" tanya Arsy mengulangi pertanyaannya saat melihatku hanya bengong mengamati seisi kamar yang tiba-tiba saja kembali rapi dalam sekejap.
"Aku … tadi melihat sosok mengerikan." Aku membisik ke telinga Arsy. Seketika raut wajah Arsy berubah menjadi tegang, matanya terlihat menelisik ke berbagai arah.
"Lebih baik kamu cepat mandi, kalau sudah aku tunggu di kamarku," ucapnya berlalu begitu saja dari hadapanku.
Aku hanya menatap punggung Arsy yang kemudian menghilang di belokan pintu kamar. Dia seperti sedang menutupi sesuatu yang mungkin dia ketahui tentang sosok yang kulihat tadi. Terkesan menghindari pembahasan tentang sosok mengerikan itu.
Ah, sudahlah! Mungkin aku kecapekan hingga kembali berhalusinasi tentang hal yang aneh-aneh. Bukankah selama ini aku tak pernah mengalami hal-hal semacam itu? Lalu kenapa sekarang aku harus memusingkannya?
Sepertinya akhir-akhir ini aku banyak pikiran dan tertekan oleh sikap beberapa teman yang kerap kali melakukan perbuatan-perbuatan buruk padaku. Ujungnya aku jadi banyak melamun dan banyak menghalu.
Tak ingin membuat Arsy menunggu terlalu lama, segera aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari sudah mulai gelap sementara aku belum mandi. Sekujur tubuh terasa sangat lengket oleh keringat. Guyuran air dingin membuat tubuh terasa lebih segar dari sebelumnya.
Selesai mandi dan berpakaian kembali, aku pun keluar dari kamar mandi berniat menyimpan peralatan mandi dan pakaian kotor ke kamar, baru setelahnya menemui Arsy yang mungkin sedang menungguku di kamarnya.
Saat berjalan di lorong menuju kamar, aku lihat pintu kamar Arsy terbuka sedikit. Langkahku mendekati pintu kamar itu dan mengintip ke dalam sana saat mendengar ada suara-suara dari dalam sana.
Nampak Lintang, Echa dan Andin sedang mengukung Arsy yang kini berada di sudut kamar, bisa aku lihat lewat celah pintu yang terbuka sedikit.
Sepertinya mereka sedang berlaku kasar pada Arsy. Aku tak bisa membiarkan mereka mengganggu temanku. Segera ku dorong pintu kamar itu dengan sekuat tenaga, hingga menimbulkan bunyi pintu yang dibanting keras dan mereka semua yang ada di dalam menoleh ke arahku.
"Apa yang kalian lakukan pada Arsy?" bentak ku lantang.
Lintang memiringkan bibir, dia berjalan mendekat bersama kedua temannya yang lain.
"Sini kamu ikut aku!" Lintang mencengkram pergelangan tangan dan menyeretku keluar dari kamar itu.
"Lepaskan!" Aku meronta namun cekalan tangan gadis itu malah makin kuat hingga aku meringis kesakitan.
Beberapa alat mandiku terjatuh di lantai. Lintang menyeretku masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhku di atas ranjang. Lalu mereka bertiga segera keluar namun sebelum itu Lintang mengambil kunci kamarku, menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Melihat hal itu, segera aku bangun. Dengan setengah berlari aku melangkah menuju pintu yang kini tertutup rapat dan dikunci oleh mereka.
"Lintang! Jangan kurung aku, kumohon buka pintunya!" Aku memukul daun pintu kamar, namun hanya tawa mereka yang terdengar kian menjauh.
Sepertinya mereka mulai pergi dan membiarkan aku terkurung di kamar sendirian. Padahal sebentar lagi jam makan malam tiba, aku harus keluar untuk makan malam. Namun sepertinya aku akan melewatkan makan malamku karena tak bisa keluar dari kamar ini.
Pergelangan tanganku terlihat memerah akibat cengkraman kuat yang dilakukan Lintang barusan.
Berjalan gontai menuju ranjang dan menghempaskan tubuh disana. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamar yang plafonnya sudah mulai menghitam di beberapa bagian, bahkan sarang laba-laba nampak menggantung di setiap pojok atap sana.
Lama melamun membuat mata ini terasa berat, menggiringku ke alam mimpi dan terlelap pada akhirnya.
Dug dug dug
Mataku seketika terbuka lebar membelalak saat merasakan getaran pada ranjang. Semula aku pikir ada gempa hingga membuat tempat tidurku bergetar.
Namun suara ketukan dari kolong tempat tidur kembali terdengar memberikan getaran lagi pada kasur tipis yang menjadi satu-satunya alas tidurku.
Aku masih bergeming belum berani beranjak dari kasur, mendengarkan suara ketukan yang kian kencang. Seakan ada tangan yang terus memukul papan tempat tidur di bawah sana.
__ADS_1
Dengan napas tertahan dan keringat dingin bercucuran, aku tetap dalam posisi diam. Bayangan sosok mengerikan tadi melintas dalam benakku. Hanya bola mataku saja yang bergerak melirik jam dinding yang menempel pada sisi tembok sebelah kiri. Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, artinya saat ini sudah tengah malam dan aku menghabiskan waktuku dengan tertidur sejak sore tadi.
Berhenti suara ketukan kini berganti dengan suara tangis yang memilukan. Aku yakin jika saat ini tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi. Ini nyata, benar-benar nyata. Meski berulang kali aku anggap kejadian janggal itu hanyalah ilusi saja, tetapi ternyata semuanya benar-benar terjadi.
Apakah kamar yang aku tempati ini angker hingga di kosongkan? Atau kamar ini sudah lama kosong hingga membuat makhluk lain menghuninya? Semua kemungkinan bisa terjadi, dan berbagai asumsi berseliweran dalam pikiranku.
Keadaan sepi mencekam, hanya suara degup jantungku sendiri yang terdengar, dan deru napas yang kian memburu tak beraturan. Diiringi suara tangis yang kian terdengar lirih bergetar dan memilukan.
Siapa sebenarnya sosok yang ada di kolong tempat tidurku? Apakah itu hantu wanita yang kulihat tadi sore? Siapa dia?
Aku memegang perut yang terasa melilit perih, akibat melewatkan makan malam akhirnya aku merasa begitu lapar. Tapi rasa takut membuatku tak ingin beranjak dari ranjang.
Belum lagi pintu kamarku kemungkinan masih terkunci dari luar. Entah kapan Lintang akan membukanya. Mungkin dia marah padaku karena siang tadi sempat kusiram wajahnya oleh air minum.
Krek
Bola mataku kini bergerak ke arah pintu, dimana aku mendengar suara kunci diputar di luar sana, artinya ada seseorang yang membuka kunci pintu itu dari luar.
Sebelum turun, aku pastikan terlebih dahulu jika tak ada suara tangisan lagi di kolong tempat tidur. Aku menajamkan indera pendengaran, suara tangis menyayat hati sudah tak terdengar lagi.
Perlahan aku bangun lalu menurunkan kaki ke bawah meski dengan sedikit ragu dan takut.
Dengan sedikit keberanian, aku berdiri melangkah menuju pintu kamar. Tangan ini gemetar saat hendak meraih knop pintu berbentuk bulat yang terbuat dari besi itu.
Ku putar knop bulat itu dan membuka pintu secara perlahan.
Selanjutnya aku melihat seseorang di depan pintu, tengah berdiri membelakangi. Koridor dengan cahaya temaram dari lampu yang cahayanya tak cukup menyentuh bagian ujung koridor dimana letak kamarku berada, hingga keadaanya samar.
"Si-siapa kamu?" Aku menyapa sosok gadis seumuranku yang kini berdiri membelakangi aku.
Perlahan sosok itu memutar badan, nampak wajahnya yang pucat tak tersentuh cahaya lampu membuatnya terlihat sedikit menyeramkan, sampai bulu kudukku saja meremang dibuatnya.
Dia mengulas senyum tipis, menjulurkan tangan.
"Aku Sabina." Suara lirih bergetar mampu membuat pori-pori kulit ini berdiri seperti duri, embusan angin yang meniup lembut namun dinginnya mampu menusuk kulit juga meremangkan tengkuk.
Ragu-ragu aku menjabat tangan yang terjulur ke arahku itu.
Sedikit aneh ketika kulitku bersentuhan dengannya. Terasa dingin membeku kulit gadis itu ketika saling bersentuhan berjabat tangan.
Mungkin karena udara dingin hingga membuatnya kedinginan seperti itu.
Masih wajar dan dapat aku terima dengan akal.
Tapi yang aku herankan, kenapa baru sekarang aku melihat gadis ini? Sabina, rasanya di kelasku tak ada nama itu, aku mencoba mengingat-ingat.
"Arsy memintaku untuk menemani kamu disini dan membantu membukakan pintu kamar yang terkunci oleh Lintang dan teman-temannya," ucap Sabina.
"Oh ya? Arsy yang menyuruhmu menolongku? Makasih ya!" Aku cukup senang mendengarnya.
"Tapi mana dia?" Aku melongok ke arah lorong panjang, melihat semua pintu kamar sudah tertutup rapat dan begitu hening keadaan di sana.
__ADS_1
Pandangan gadis itu mengikuti arah pandanganku ke lorong panjang itu, kemudian dia menoleh padaku.
"Boleh aku masuk? Nanti aku ceritakan di dalam," ucapnya meminta izin.
"Tentu saja, ayo masuk!" Ajakku, mengambil kunci yang tergantung di luar dan menutup pintu setelahnya.
Tanpa aku persilahkan, Sabina sudah duduk di tepi ranjang dengan pandangan mengedar ke sekeliling kamar dengan tatapan yang tak biasa, terlihat seperti penuh kesedihan.
"Apa ada yang aneh?" Tanya ku menyeret kursi dan duduk di hadapannya.
Dia menggelengkan kepala. "Arsy minta agar aku tidur disini."
"Oh ya? Apa kamu teman sekamarnya Arsy? Tapi kok aku gak pernah lihat kamu?" Aku menautkan alis.
Jika Sabina ini tinggal di kamar Arsy, itu artinya dia juga teman sekelasku. Karena yang ada di koridor lantai dua ini merupakan anak satu kelas yaitu teman-teman sekelasku. Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya di kelas? Bahkan baru kali ini aku melihatnya. Dan setiap absen tak pernah mendengar nama Sabina disebut-sebut oleh guru.
"Ngomong-ngomong kok aku gak pernah lihat kamu di kelas, apa aku yang gak ngeh kali ya? Kamu duduk di bangku sebelah mana?" Tanyaku masih berpikir positif.
"Semenjak kamu masuk ke sekolah ini kebetulan aku belum masuk kelas karena sakit. Aku duduk di bangku paling tengah, Arsy bilang kamu duduk di sana," jawabnya membuatku lega dan tak berpikiran aneh-aneh lagi.
"Oh pantesan kalau gitu. Jadi selama ini kamu dikamar saja ya? Atau pulang?" tanyaku membuatnya tiba-tiba saja menatapku tajam.
Ditatap seperti itu membuat aku lagi-lagi merinding dibuatnya.
"Aku belum bisa pulang."
"Oh … maaf." Aku rasa sudah salah bicara hingga membuatnya tertunduk dan bersedih seperti itu.
Entah ucapan apa yang membuatnya sedih, aku tak tau. Bisa jadi dia tak pernah di kunjungi orang tuanya atau dia sudah hidup sebatang kara dan hanya bisa tinggal di panti ini? Astaga, aku merasa bersalah membicarakan masalah pulang padanya.
"Kalau begitu kamu tidur disini saja, aku senang jadi ada temannya. Kamu tidur di atas ya!"
"Tidak, aku tidur disini saja. Kamu saja yang di atas, gak apa-apa kan?" ucap Sabina.
Aku sedikit keberatan sih, karena bagaimanapun ini kamarku. Tapi karena Sabina sudah berbaik hati mau menemaniku di sini, maka aku tak mungkin menolaknya.
"Ya sudah, aku naik ya! Selamat malam!" Ucapku gegas naik ke atas ranjang bertingkat itu.
Kubiarkan selimut dipakai oleh Sabina, aku ingin dia nyaman disini agar dia mau menemaniku.
Aku berbaring di ranjang atas, menatap langit-langit yang semakin dekat. Mataku enggan terpejam, aku merubah posisi menyamping membelakangi tembok.
Aku mengernyitkan kening saat melihat Sabina tengah duduk menghadap cermin sambil menyisir rambut. Bukannya tengah malam begini pantang untuk menyisir rambut? Lagipula mau tidur untuk apa dia harus repot-repot menyisir rambutnya yang panjang?
"Kamu belum ngantuk?" tanyaku.
Dia hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku, terus sibuk menyisir dan menatap ke arah cermin. Aku yang berada di samping tak mampu melihat wajahnya dari pantulan cermin kecil yang sengaja aku gantungkan di paku tembok tersebut.
"Ngapain nyisir malam-malam?" Tanyaku lagi.
"Suka saja. Biar rapi," jawabnya singkat dan memang masuk akal. Rambut sepanjang itu pasti akan mudah kusut jika tidak sering disisir. Tapi gak malam-malam gini juga kali, batinku.
__ADS_1
"Kamu tidur saja, biar aku temani sampai kamu tidur," ucapnya.
"Ehm …" aku manggut-manggut lalu merubah posisi menyamping menghadap tembok.