Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 10 Penjaga asrama


__ADS_3

Udara dingin yang menggigit membuat mataku terbuka, terbangun dari tidur. Melirik jam dinding yang jarumnya menunjukkan pukul 3 dini hari.


Masih cukup pagi jika aku harus pergi ke kamar mandi saat ini. Mungkin setengah jam kedepan baru aku akan bangkit dari ranjang dan membersihkan diri sebelum anak-anak yang lain bangun dan mengantri di kamar mandi.


Mataku masih terasa berat, tapi sulit untuk tertidur kembali. Tubuhku kedinginan karena tak memakai selimut.


Aku memilih berdiam diri bermalas-malasan di tempat tidur sambil menunggu waktu bergulir. Sepertinya Sabina masih tidur di bawah sana, aku tak berani turun karena takut mengganggu tidurnya.


Jam setengah empat nanti, aku akan mengajaknya ke kamar mandi. Biar nanti kami bergilir mandi.


Hawa dingin seakan kian menusuk kulit, menembus ke dalam tulang hingga aku mengeratkan pelukan pada tubuhku sendiri.


Jarum jam seakan enggan bergerak, dari tadi hanya berdiam di situ-situ saja, padahal suara detik terdengar nyaring dalam keadaan yang hening ini.


Krieeet


Tubuhku tersentak saat merasakan sedikit gerakan pada ranjang bertingkat ini. Merasa takut adanya gempa, aku memutuskan untuk turun. Khawatir ranjang ini ambruk dan aku bisa jatuh dari tempat yang cukup tinggi.


Perlahan kaki ini mulai menapaki tangga kayu yang menghubungkan ranjang atas dengan bawah. Aku berjalan dengan hati-hati agar tak mengeluarkan suara. Aku rasa Sabina masih tidur dan tak merasakan pergerakan pada tempat tidur ini saking lelap tidurnya.

__ADS_1


Kelopak mata melebar karena kaget saat tak mendapati Sabina di ranjang bawah. Kemana dia?


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berakhir kembali menatap ranjang kosong di hadapanku yang masih tampak rapi. Apa Sabina tidak tidur di sini?


"Mungkin dia sudah kembali ke kamar Arsy, sudahlah." Aku menghempaskan bobot tubuh di tepi ranjang.


Suasana sunyi masih menemani, membuatku merasa tak tenang, apalagi perasaan takut tiba-tiba saja menyelinap dalam dada. Memompa jantung bergerak lebih cepat.


Krieeet


Perlahan ranjang ini bergerak terseret dengan sendirinya. Kedua tangan menggenggam erat tepian ranjang kayu dimana aku duduk saat ini, aku tak berani bergerak sedikitpun. Hanya bola mata yang melirik kesana kemari menyapu setiap sisi yang diselimuti atmosfer sunyi mencekam.


Sesuatu memegang kakiku dibawah sana. Mataku meringis terpejam karena takut, tapi rasa penasaran mendorong leherku untuk menoleh ke bawah sana. Pikiran dan leher ini benar-benar tidak singkron, saat pikiran meminta untuk tetap diam tapi leher ini malah reflek menunduk melihat sesuatu yang kini mencengkram pergelangan kaki.


Tekstur kulit yang kasar menyentuh bagian kakiku, bahkan terasa dingin membeku seperti es.


Tangan itu tiba-tiba hilang begitu saja, saat aku menunduk ke bawah. Tak ada apapun disana, tapi aku yakin jika tadi ada tangan yang menyentuh pergelangan kaki ini.


Napas mulai memburu, jantung kian berdebar kencang, wajah ini terasa kesemutan seiring tengkuk yang meremang. Kedua tangan yang bertumpu pada sisi ranjang perlahan bergeser mundur, sambil pelan-pelan ku angkat kaki ini menjauh dari lantai.

__ADS_1


Setelah berhasil menaikan kaki ke atas ranjang, rasanya mulai sedikit lega. Aku menghempaskan napas yang sedari tadi tertahan. Namun punggungku terasa membentur sesuatu. Seperti ada tubuh seseorang yang tengah berbaring dibelakangku. Apakah itu Sabina?


Tidak! Aku rasa tak mungkin Sabina ada dibelakang, karena jelas-jelas tadi aku lihat dia tak ada di sini. Ranjang ini kosong dan hanya aku yang duduk di atasnya. Lantas siapa sekarang yang ada dibelakangku?


Wajahku mulai tegang, baru saja aku merasa lega, sekarang sudah kembali dihadapkan dengan hal janggal lagi.


Sebelah tanganku terasa menyentuh sesuatu. Seperti helaian rambut panjang dari seseorang yang sedang berbaring dibelakangku.


Dengan sedikit keberanian aku coba menoleh pelan-pelan kebelakang. Dan apa yang aku lihat selanjutnya di belakang sana? Kosong … tak ada siapapun di sana selain guling berwarna putih.


"Huft!" Kembali aku menghela napas panjang. Aku merutuk diri, bisa-bisanya parno seperti ini, hingga guling pun aku kira hantu.


Setengah jam berlalu dengan penuh ketegangan dan ketakutan. Aku memutuskan untuk segera mandi. Berharap setelah mandi nanti pikiranku mulai segar kembali dan tak memusingkan keanehan-keanehan yang akhir-akhir ini aku alami di asrama ini. Aku rasa kamar yang aku tempati ini ada penghuninya. Ya, karena semenjak tinggal disini aku mengalami berbagai peristiwa aneh yang diluar nalar, padahal sebelumnya aku tak pernah mengalami hal-hal aneh semacam ini.


Udara pagi terasa sejuk ditambah hangatnya sinar matahari saat aku membuka jendela kamar. Aku rasa begini lebih nyaman dari pada sebelumnya. Jendela ini seperti jarang sekali dibuka hingga udara di kamar terasa pengap.


Sebelum berangkat ke kelas, aku memilih berdiam diri sejenak melihat pemandangan di luar sana lewat jendela kamar yang baru kali ini aku buka. Slot kuncinya sudah berkarat hingga cukup sukar saat membukanya. Tapi sekarang aku berhasil membuka jendela ini, hingga udara segar masuk dan mengganti udara kotor yang ada di ruangan ini.


Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi karena berharap melihat pemandangan indah halaman asrama di luar sana. Jendela yang menghadap langsung ke halaman utama asrama, nyatanya hanya menyuguhkan pemandangan yang terkesan angker. Rimbun pepohonan mempersempit jarak pandang ku.

__ADS_1


Tapi tunggu! Seseorang nampak memperhatikan aku dari bawah sana. Pria tua itu, si penjaga asrama. Kenapa dia menatapku seperti itu?


__ADS_2