Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 13


__ADS_3

Aku masih belum keluar dari tempat persembunyian. Masih ragu untuk keluar, khawatir Ayah kembali menerobos masuk ke asrama ini.


Baru sadar jika ternyata aku berada di laboratorium IPA. Beberapa tabung reaksi nampak tersimpan rapi di meja yang bersandar di tepian tembok. Netraku menelisik ke setiap sisi, di sudut ruangan nampak tengkorak rangka manusia tentunya bukan yang asli, yang itu hanya imitasi untuk alat praktikum, bergeser ke sudut lainnya dimana ada lemari jangkung dengan full kaca yang memperlihatkan benda di dalamnya. Beberapa mikroskop tersimpan rapi di lemari itu.


Aku memutuskan untuk bangkit, mengintip lewat jendela laboratorium, memastikan jika Ayah sudah tak ada di asrama ini.


Jendela kaca berderet di salah satu sisi tembok ruangan. Aku berdiri di situ sambil menatap ke luar sana. Dari jendela itu aku bisa melihat ke area halaman asrama. Sepertinya ayah sudah pergi, aku lihat Mang Yana tengah mengunci pintu gerbang.


Merasa lega karena ayah sudah pergi dari sini. Tak sengaja Mang Yana menoleh ke arahku hingga tatapan kami bertemu.


Aku mengulas senyum meski ragu-ragu, namun tak ada balasan dari pria tua itu. Malah kini wajahnya seperti melihat sesuatu yang menakutkan. Tegang dan terburu-buru memalingkan wajah, lantas pergi ke tempat yang tak terjangkau lagi oleh netraku.


Aku berniat keluar dari ruangan ini. Ketika membalik badan tiba-tiba saja Sabina berdiri tepat di sampingku. Untuk kesekian kalinya dia membuatku jantungan.


"Kamu lagi, dari mana saja tadi, huh? Kamu itu selalu saja menghilang gak jelas dan datang secara tiba-tiba, udah mirip hantu!" ledekku sambil melangkah menuju pintu.


Sabina tampak tak sakit hati dengan candaanku, buktinya dia kini mengikuti dari belakang.


"Mutia!" Suara Bu Ine memanggilku, segera aku menoleh pada wanita yang kini berdiri di ambang pintu ruangan kepala sekolah.


Aku mendekati wanita itu.


"Apa kamu punya masalah dengan ayahmu?" tahya Bu Ine.


Aku hanya diam. Apa pantas aku bicara soal masalah pribadi pada Bu Ine, meski dia itu kepala sekolah di sini.

__ADS_1


"Kalau memang punya masalah serius kamu bisa cerita sama Ibu, jangan di pendam sendiri, gak baik. Lagipula Ibu akan menjaga privasi kamu, selain itu ibu juga bisa jaga-jaga dan melindungi kamu dari ayahmu itu. Asalkan Ibu tau dulu alasannya," tutur Bu Ine.


"Aku memang punya hubungan kurang baik dengan ayah. Dia suka main kasar sama Ibu, makanya kedua orang tuaku bercerai. Ibu menitipkan aku disini agar tak menjadi sasaran kemarahan ayah," jelasku.


"Jadi begitu?'' Tatapan Bu Ine tampak mengawang, entah apa yang sedang beliau pikirkan.


"Tapi, dia ayah kandungmu kan?" tanya Bu Ine membuatku heran.


"Iya, dia ayah kandungku tapi aku tak merasakan kasih sayang yang selayaknya aku dapatkan darinya. Maaf, Bu, sepertinya aku sudah terlalu banyak bercerita tentang masalah pribadi, boleh aku pergi ke kelas?" ucapku mengakhiri perbincangan kami.


"Oh, iya silahkan. Kamu kembali ke kelas. Belajar yang rajin dan kalau ada apa-apa, cerita saja sama Ibu." Bu Ine tampak serius, aku hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.


**


Seorang pria yang merupakan guru penjas tampak berjalan masuk ke kelas. Sebuah peluit tergantung pada tali yang melingkar di lehernya. Kacamata minus berwarna putih sedikit gelap membingkai matanya. Aku lihat usianya sudah tak muda lagi, namun tubuhnya masih terlihat bugar. Wajar karena beliau adalah guru penjas yang pastinya menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.


Beliau mulai mengabsen satu persatu nama muridnya. Sesuai dengan alphabet inisial nama kami, beliau mengabsen.


"Andin …."


"Hadir." Andin menyahut dan mengacungkan tangan ke atas.


Satu persatu beliau mengabsen hingga tiba giliranku.


"Mutia!" 

__ADS_1


"Saya, Pak!" 


"Oh, baru ya kamu di sini," ujar pria itu sambil melempar senyum.


Aku hanya mengangguk sambil membalas senyumannya.


Dari A sampai Z beliau mengabsen tapi anehnya tak menyebut nama Sabina. Apa beliau kelupaan, atau terlewat? Ah, aku harus bilang kalau tadi beliau belum mengabsen Sabina, sekalipun anak itu tidak ada dan tak tau kemana, aku tak mau sampai absen Sabina jelek.


"Baik kita mulai pelajaran, buka LKS …"


"Pak …!" Sahutku sambil mengangkat tangan.


Pria itu menoleh.


"Iya, Mutia, ada apa?" tanyanya sambil membetulkan posisi kacamata.


"Bapak belum mengabsen Sabina," ucapku yang entah kenapa membuat semua orang yang ada di kelas menatapku dengan tatapan kaget.


Tak hanya murid-murid yang menatapku seperti itu, tetapi juga kulihat guru penjas itu mengernyitkan kening hingga terlihat lipatan-lipatan pada keningnya yang sudah keriput.


"Sabina bukannya udah hilang beberapa bulan lalu, dia kabur. Kamu kenal sama dia?" 


Deg!


Sabina hilang? Kabur? Berbagai pertanyaan memenuhi benakku, seakan tak percaya mendengar perkataan guru penjas tadi. 

__ADS_1


__ADS_2