
"Maaf, Bu. Semalam aku kurang tidur."
"Pergi sana ke toilet dan cuci muka!" Titahnya sambil menunjuk ke pintu kelas.
Aku hanya mengangguk lalu bangkit dari duduk, melangkah pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuju toilet.
Sepanjang koridor menuju toilet, pikiran ini masih setengah tak percaya dengan kejadian yang barusan aku alami.
Seakan-akan semuanya terasa nyata, tapi rupanya aku tertidur dan bermimpi buruk tentang Sabina. Mungkin ini efek kurang tidur yang membuat tubuh dan jiwaku lelah hingga bermimpi yang aneh-aneh.
Sampai di pintu toilet, aku melangkah masuk. Keadaan terasa sepi di dalam sana. Menatap pantulan diri di cermin yang menampakan wajah kusut dengan mata dihiasi lingkaran hitam mirip panda.
Memutar kran dan membasuh wajah ini agar lebih segaran. Betapa terkejutnya aku saat kembali menatap cermin dan melihat ada Sabina berdiri tepat disampingku.
"Astaga! Kamu bikin aku jantungan saja!" Mengelus dada yang rasanya ingin meloncatkan jantung dari tempatnya.
Gadis itu malah tersenyum kecil melihat aku kaget karena ulahnya yang datang tiba-tiba.
"Kamu ngapain di sini?" Tanyaku.
"Aku lihat kamu masuk ke toilet jadi aku ikutin," jawabnya.
"Kamu gak masuk kelas?" Tanyaku lagi karena tadi tak melihat dia masuk ke kelas, malah dia masuk ke dalam mimpiku.
"Nanti juga kamu tau, kenapa aku gak masuk ke kelas. Jam istirahat aku tunggu kamu di kamar," jawabnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapanku.
"Loh, Sabina! Tunggu!" Aku memutar kran air lalu mengikuti langkah gadis itu.
Sampai di depan pintu toilet, aku tak melihat Sabina lagi. Cepat sekali perginya anak itu. Kemana dia? Aku celingukan mencari-cari Sabina yang begitu cepat menghilang dalam sekejap. Padahal seharusnya dia masih ada di sekitar sini. Aneh!
Tak mau kena marah lagi oleh guru di kelas, terpaksa aku harus melupakan Sabina dan kembali ke kelas.
Tampak banyak mata yang menatap ke arahku saat sampai di kelas. Sudut mata menangkap Lintang dan teman-temannya saling berbisik kemudian mereka cekikikan seperti tengah menertawakanku. Berusaha tetap tak peduli meski sebenarnya hati ini kesal pada mereka.
Guru mata pelajaran sudah memberi tugas latihan di papan tulis. Segera aku mengerjakan semua soal yang dia berikan, melupakan kejadian yang sempat membuatku malu di kelas ini dan kembali bersikap wajar seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Jam istirahat aku bergegas menuju kamar. Sabina sepertinya sedang menungguku di sana. Saat anak-anak lain pergi ke kantin mengisi perut mereka, aku malah ke kamar asrama karena penasaran pada Sabina yang tak masuk kelas hampir setiap hari semenjak aku sekolah disini.
Krieeet
Pintu kamar terbuka, sebelum memutuskan untuk masuk, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada Sabina di sana, kemana anak itu? Bukankah tadi dia mengajakku bertemu di sini?
Seketika hawa dingin menyapa kulit, membangunkan bulu-bulu di tubuh hingga aku merinding.
"Mutia!" Satu tepukan di bahu membuatku terlonjak kaget.
"Sabina! Suka sekali mengagetkan aku!" Kesalku saat tau dialah yang menepuk pundak.
"Maaf. Tadi aku habis dari toilet sebentar," ucapnya.
Tak jauh dari tempatku berdiri bersama Sabina, aku melihat Lintang dan kedua temannya menatap aneh ke arah kami.
"Mau apalagi mereka?" gumamku saat melihat Lintang berjalan mendekat bersama konco-konconya.
Benar-benar malas sekali jika harus meladeni mereka lagi.
Sedikit lega karena ternyata Lintang hanya ingin menyampaikan perintah Bu Ine Kepala sekolah di sini. Padahal aku sudah berburuk sangka, kupikir dia dan kedua temannya mau bikin onar lagi.
"Sabina, kamu ikut sama aku ke ruangan Bu Ine." Aku menarik lengan yang terasa dingin membeku. Heran kenapa tangan Sabina begitu dingin seperti es. Ah, mungkin karena dia barusan dari kamar mandi, air di sini kan dingin jadi wajar kalau kulit Sabina terasa anyep seperti ini.
Selintas kulihat Lintang, Echa dan Andin yang seperti orang bingung melihat aku menarik lengan Sabina. Mungkin mereka tak suka jika aku punya teman di asrama ini. Malah kini aku mulai berpikir kalau sikap Arsy berubah juga karena ulah mereka. Bisa saja kan Lintang menyuruh Arsy untuk menjauhi aku?
Sampai di depan ruangan Bu Ine, tiba-tiba tangan Sabina terlepas begitu saja bagai angin. Padahal aku memegangnya dengan kuat, kenapa dia bisa melepaskan diri begitu saja? Anak yang satu ini memang misterius dan sedikit aneh menurutku.
Aku menoleh sambil mengangkat alis sebagai tanda aku bertanya kenapa dia melepaskan tangannya.
"Aku tunggu disini saja," ucap Sabina.
"Gak mau masuk sama aku?"
"Enggak kamu saja yang masuk, Bu Ine kan manggil kamu," jawabnya.
__ADS_1
"Ya sudah, tunggu disini dan jangan kemana-mana!" Aku mengetuk pintu ruangan lalu masuk setelah mendengar sahutan Bu Ine di dalam sana.
Saat pintu terbuka, ada tiga orang di dalam ruangan tersebut. Yang satu Bu Ine sedang duduk di kursi singgasananya, lalu ada Mang Yana berdiri tak jauh dari meja kerja Bu Ine, dan satu orang lagi yang begitu tak asing di mataku. Ya, pria yang kini duduk berseberangan dengan Bu Ine tampak menoleh ke arahku sambil melempar senyum.
"Ayah ….'' lirih tertahan suaraku dengan tatapan kaget sekaligus tegang melihat sosok yang begitu aku takuti di dunia ini. Sosok yang memiliki sikap tempramen, yang kerap kali melakukan KDRT pada Bunda, dan tak segan mempertontonkannya di hadapanku.
Tak sadar aku mundur selangkah demi selangkah, apalagi saat kulihat pria bergelar ayah itu bangkit dari duduknya dan mungkin dia berniat melangkah ke tempatku saat ini.
"Mutia, masuk dulu. Ada ayahmu ingin bertemu," sahut Bu Ine menatap heran karena aku menghindari ayah.
Begitupun dengan Mang Yana, kulihat pria itu menatap aneh ke arahku sesekali tatapannya tertuju pada ayah.
"Aku gak mau ketemu Ayah! Pergi dari sini!" Aku memekik dan hendak berlari dari sana.
Namun tangan kekar dan kuat sudah lebih dulu menangkapku.
"Lepasin aku, Ayah!" pintaku meronta.
Bu Ine dan Mang Yana menghampiri kami yang kini berada di depan ruangan.
Tak kulihat Sabina di dekatku, padahal tadi dia ada di sampingku tapi kenapa sekarang anak itu menghilang lagi?
"Maaf, Pak. Sebaiknya jangan paksa Mutia," pinta Bu Ine pada ayah.
"Dia anakku dan harus ikut denganku. Kalian tak bisa menghalangi aku bertemu dengannya! Aku akan membawanya pergi dari sekolah ini," ucap ayah sambil terus menggenggam kuat tanganku hingga aku meringis kesakitan.
"Mutia gak mau ikut sama Ayah! Lepasin!" Aku menginjak kaki ayah hingga cengraman pria itupun lepas dari tanganku.
Bergegas aku berlari dan bersembunyi di salah satu ruangan tak jauh dari sana. Berharap Bu Ine dan Mang Yana bisa mengusir ayah dari tempat ini.
"Maaf, Pak. Kedatangan anda tidak diinginkan oleh Mutia, meski anda ayahnya tapi saya bertanggung jawab atas anak itu karena dia ada dalam lingkungan saya. Mohon maaf, sebaiknya anda pulang. Saya akan bicara dengan Mutia, jika sewaktu-waktu Mutia mau bertemu dengan anda, maka saya akan mengabari anda, Pak."
Terdengar suara Bu Ine bicara pada ayah. Aku bisa mendengarkan percakapan mereka karena aku bersembunyi tak jauh dari tempat mereka berada. Bahkan aku pun mengintip dari celah pintu di ruangan tempatku bersembunyi. Aku lihat Mang Yana membantu Bu Ine mengusir ayahku yang bersikeras tak ingin pergi sebelum bertemu denganku.
Aku pikir Mang Yana itu pria tua yang misterius dan menakutkan tapi setelah melihat pemandangan sekarang ini, ternyata aku salah menilai. Pria itu berusaha menjauhkan aku dari seseorang yang sangat aku takuti, yaitu ayahku. Ya, Mang Yana sepertinya tau jika aku tak ingin bertemu dengan ayah. Begitupun Bu Ine, tampaknya ayah bisa masuk kesini karena dia memaksa masuk. Tapi, dari mana ayah tau kalau aku berada di asrama ini?
__ADS_1