Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 8 Sosok mengerikan


__ADS_3

Barang-barang di kamar semuanya berserakan di lantai. Aku yakin jika ini pasti kerjaan Lintang dan kedua temannya. Mereka yang sudah membuat semuanya berantakan.


Dan sekarang terpaksa aku harus membereskan semuanya. Nanti aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Mengingat hari sudah menjemput sang malam, keadaan akan semakin gelap jika aku tak segera membereskannya.


Buku milikku beberapa ada yang terlempar ke kolong ranjang, hingga aku cukup kesulitan mengambilnya. Kolong ranjang yang begitu gelap, aku butuh senter untuk mencari barang-barang yang mungkin terlempar kesana. Sayangnya aku tak punya benda itu untuk membantu penglihatanku melihat ke bawah sana.


Beberapa buku yang tergeletak di sana sudah aku simpan kembali ke tempat semula. Aku berjongkok meraba-raba kolong ranjang, mana tau masih ada barang yang tersisa di bawah sana. Entah itu bolpoin, penghapus atau benda kecil lainnya.


Tap tap tap


Tanganku meraba di lantai dingin kolong tempat tidur. Seketika aku mengernyitkan dahi saat tanganku menyentuh cairan yang lengket. Segera ku jauhkan tanganku dari sana, mengira jika yang kusentuh tadi adalah kotoran cicak atau tikus. 


Namun betapa terkejutnya aku saat melihat jemariku yang dipenuhi cairan kental berwarna merah dan berbau amis anyir. Kedua bola mataku membulat sempurna, seakan ingin keluar dari tempatnya, jantung mulai memompa lebih cepat, deru napas pun tak beraturan.

__ADS_1


Tak sampai disitu, rungu ini mendengar suara jemari yang tengah menggaruk-garuk lantai. Terdengar ngilu tapi mendorongku untuk menengok ke bawah sana.


Rasa takut menyergap dan juga rasa penasaran yang datang secara bersamaan. Keberanian yang hanya tinggal secuil menggiringku untuk memiringkan kepala mengintip suara apa yang ada di bawah kolong ranjang kayu itu.


Seketika aku melihat sosok mengerikan muncul dari balik lantai hitam itu. Sosok itu berjalan merangkak ke arahku, hingga aku segera beringsut mundur. Peluh mulai membanjiri pelipis, rasanya ingin berteriak saja tapi sesuatu seakan menghalangi tenggorokan hingga tercekat, bahkan untuk sekedar menelan saliva pun terasa sulit. 


Aku terus beringsut mundur namun pemilik jemari panjang dan berkuku runcing itu terus merangkak maju sambil mencakar lantai hitam dan bergerak kaku. Mungkin aku tak bisa melihat jelas wajah sosok itu karena tertutup oleh rambutnya yang bertekstur seperti ijuk, tapi aku bisa membayangkan betapa mengerikannya wajah dibalik rambut itu.


Naas. Kini tubuhku terpentok ke dinding, aku tak bisa pergi kemana-mana lagi. Sementara makhluk itu kian dekat.


"Pergi! Pergi dari hadapanku!" Aku mengibaskan tangan berniat mengusir makhluk mengerikan itu.


Tap!

__ADS_1


Tubuh ini tersentak ketika mendapati satu tepukan di bahu.


"Mutia! Kamu kenapa duduk di sini?" Suara seseorang yang sangat tak asing terdengar di telinga. 


Perlahan aku mendongakkan wajah, meyakinkan jika yang bicara barusan adalah Arsy.


"Arsy!" Napasku tersengal-sengal, kemudian mataku melihat ke depan dimana sosok mengerikan tadi berada.


Sosok itu hilang begitu saja, sepertinya dia pergi saat Arsy datang. Perasaanku mulai lega, bersusah payah aku menelan saliva yang sempat tertahan sedari tadi.


"Kamu kenapa?" tanya Arsy membuyarkan lamunanku.


"Tidak apa-apa." Segera aku bangkit dari duduk, menepuk-nepuk pakaianku yang mungkin kotor terkena debu lantai.

__ADS_1


Kulihat jemariku, tak ada cairan merah itu lagi. Tanganku pun bersih, bahkan yang paling mengejutkan lagi. Keadaan kamar ini tertata rapi, padahal tadi jelas-jelas berantakan dan aku belum sempat membereskan semuanya. Tapi kenapa semua barang-barang itu berada di tempat masing-masing dan masih sangat rapi? Tak mungkin jika benda mati itu bergerak dan tersimpan dengan sendirinya. Benar-benar aneh! Tak mungkin jika aku mimpi, bukan?


__ADS_2