
Tak nyaman dengan tatapan aneh yang ditujukan padaku, bergegas aku menjauh dari jendela. Dari awal bertemu sampai sekarang pria tua itu selalu saja menatapku seperti itu, membuatku takut dan berpikiran macam-macam.
Jam masuk sebentar lagi. Aku memilih untuk meninggalkan kamar dan menuju kelas, tapi sebelumnya aku mau mengajak Arsy dan Sabina untuk pergi bersama ke kelas kami.
Kebetulan sekali saat aku keluar, nampak Arsy pun keluar dari kamarnya sambil menggendong tas hitam miliknya.
"Arsy!" Aku menyahut dan gadis itu menoleh.
Ku lempar senyum, mengambil langkah besar menghampiri gadis itu. Tapi Arsy tak membalas senyumanku, dia pun tak menunggu aku sampai di depannya, dia malah pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
"Loh, kenapa dia?" gumamku heran sambil terus melangkah menyusul gadis itu.
Nampak Arsy makin cepat berjalan seolah sedang menghindari aku. Tapi aku tak menyerah, aku terus mepet dan menghadang jalan gadis itu.
"Ada apa denganmu? Kenapa seperti sedang menghindar dariku?" Aku merentangkan tangan di koridor hingga jalannya tertutup olehku.
"Tidak apa-apa, aku cuma ingin sendiri. Jadi aku minta kamu minggir dan jangan halangi jalanku," ucapnya dengan mata terus menghindar tak ingin melihat wajahku.
Perlahan aku turunkan rentangan tanganku yang telah menghadang jalannya gadis itu.
Arsy pun berlalu begitu saja, meninggalkan banyak tanya dalam benakku.
Sudahlah, mungkin memang dia sedang punya masalah dan ingin sendiri. Nanti juga dia pasti akan biasa lagi seperti sebelumnya, pikirku. Tak ada Arsy masih ada Sabina yang bisa menemaniku di kelas nanti. Tapi mana dia sekarang?
__ADS_1
Kamar Arsy dan Sabina sudah tertutup rapat dan sepertinya Sabina pun sudah ke kelas.
Ting tong!
Suara bel memanggil seluruh murid untuk masuk ke kelas masing-masing. Aku yang masih berada di lantai dua segera berlari menuju kelas.
Suasana di kelas masih sangat berisik karena guru pengajar belum datang. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil terus berjalan masuk ke dalam. Dari sudut mata aku lihat Lintang dan kedua temannya sedang mengawasi ku. Sengaja aku pura-pura tak melihat mereka, malas jika harus melayani mereka sepagi ini. Hanya bisa membuat mood-ku hancur saja.
Ada yang aku herankan saat melihat bangku yang ku tempati masih kosong. Kemana Sabina? Bukankah seharusnya dia ada disini? Atau dia masih sakit?
Tubuhku hendak beranjak dari kursi, berniat menanyakan Sabina pada Arsy. Tapi kemudian aku urungkan, mengingat Arsy sedang tak ingin diganggu. Selain itu guru mata pelajaran juga sudah masuk ke kelas, aku tak mungkin meninggalkan tempat dudukku.
Guru di depan kelas mulai memberikan materi, lalu memberi tugas mencatat pada kami.
Sambil menulis kedua mataku sesekali terpejam dan berulangkali wajahku terantuk ke meja.
Kali ini aku benar-benar tak bisa menahan rasa kantukku. Sampai-sampai bolpoin ku jatuh ke lantai.
Segera aku membungkukkan badan, mencoba mengambil bolpoin yang jatuh.
Sreet
Aku dikagetkan oleh keberadaan Sabina yang tiba-tiba saja ada duduk di sampingku saat ini. Padahal tadi dia tak ada di sebelahku. Bangku itu kosong!
__ADS_1
"Sejak kapan kamu disini?" tanyaku pada Sabina dengan suara pelan tak ingin guru mendengar kami berbincang-bincang.
"Baru saja, aku terlambat masuk ke kelas," jawabnya menoleh sekilas lalu kembali menulis.
Aku manggut-manggut, hendak kembali mencatat materi di papan tulis. Mungkin karena aku terkantuk-kantuk hingga tak menyadari keberadaan Sabina.
Namun kembali aku dikejutkan oleh kedua tangan yang bertumpu di atas meja di sebelahku. Banyak luka lebam pada tangan putih pucat gadis itu. Luka lebam membiru memenuhi seluruh tangannya. Yang lebih membuatku merinding lagi, saat melihat tangan Sabina menulis dengan ujung jarinya sendiri, menggunakan tinta darah dari telunjuknya.
Mataku membulat sempurna tatkala membaca tulisan tangan dari darah yang keluar dari tubuh gadis itu.
"Tolong aku!" Aku mengeja tulisan itu dalam hati.
Perlahan kulirik wajah Sabina.
"Aaaakkk" aku berteriak histeris manakala melihat wajah hancur tak berbentuk gadis itu, wajah yang dipenuhi dengan darah dan belatung, bahkan sebagian dagingnya mengelupas sudah habis dimakan binatang kecil itu, hingga sampai terlihat tulang rahangnya.
"Mutia! Kamu tidur!" Suara bentakan seseorang yang mengguncang tubuh ini membawaku kembali kesadaranku dari alam mimpi.
Seorang guru yang dikenal killer oleh murid-murid kini berdiri di samping bangku sambil melotot ke arahku.
Aku yang linglung karena baru bangun tidur tampak seperti orang bodoh. Nafasku masih memburu, ternyata aku benar-benar sedang tidur dan bermimpi buruk tadi, mimpi tentang Sabina yang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Suara tawa dari anak-anak lain terdengar sedang menertawakan aku yang ketiduran di kelas.
__ADS_1