Sosok Di Kolong Tempat Tidurku

Sosok Di Kolong Tempat Tidurku
Bab 15


__ADS_3

Terbangun dari mimpi yang terasa begitu nyata, membuat napas menderu dan jantung ini memompa cepat. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang tak begitu terang.


Kulirik jam dinding, jarumnya menunjukkan tepat pukul 12 malam. Keringat membasahi kening dan rambutku. Padahal suhu udara begitu dingin tapi tubuhku dibanjiri keringat.


Sesaat aku mengingat mimpi buruk yang baru saja hadir menjadi bunga tidurku. Bergegas aku bangkit, merubah posisi dari yang semula berbaring menjadi duduk.


Terbesit dalam hati untuk melihat ke kolong ranjang, dimana dalam mimpi aku melihat Sabina menyimpan buku diary-nya di bawah sana. Bohong jika aku tak merasa takut untuk turun dan melihat ke bawah tempat tidur. Namun rasa penasaran yang besar mengalahkan rasa takut itu. Perasaan yang datang secara bersamaan.


Perlahan menurunkan kaki menginjak lantai keramik yang dingin. Keadaan sunyi yang mencekam membuat jantungku enggan bergerak lambat. Memacu cepat mengalirkan darah yang seakan dapat aku rasakan. Suara detaknya seperti mengiringi setiap gerak yang aku lakukan di tengah kesunyian malam.


Kini aku sudah duduk di lantai di depan kolong ranjang. Meraih senter kecil yang tersimpan di dalam laci nakas, kemudian perlahan mulai mencondongkan badan, menempelkan wajah di atas keramik yang dingin sambil menyalakan senter dan kuarahkan ke kolong ranjang.


Aku memicingkan mata saat melihat sesuatu di ujung dekat dinding. Seperti buku diary yang di pegang Sabina dalam mimpiku tadi. 


Aku butuh sesuatu untuk bisa menjangkau buku diary itu. Jaraknya agak jauh, dan tangan ini tak sampai untuk meraihnya.

__ADS_1


Bangkit berdiri mengambil sapu di pojok dekat pintu, lalu kembali pada posisi kepala menempel di atas lantai dan ****4* terangkat. Dengan ujung sapu aku mencoba meraih buku di ujung kolong tempat tidur.


Tak hanya buku diary itu yang menarik perhatian. Lantai di bawah kolong tempat tidurku nampak tak memakai keramik, hanya lantai pelur berwarna hitam seperti baru diperbaiki. Tapi anehnya hanya bagian kolong itu saja. Cukup mencurigakan!


Akhirnya diary berwarna kuning keemasan sudah berada di tanganku. Perlahan aku duduk kembali di atas ranjang, dengan kaki tetap berada di bawah. Membuka jilid buku diary yang sudah usang dan berdebu. Menggunakan cahaya senter aku membaca isi halaman pertama diary itu.


Tertera nama Sabina pada halaman pertama. Biodata gadis itu tertulis jelas di halaman awal. Tak ada yang aneh, semua masih terlihat normal. Sampai akhirnya aku membaca halaman berikutnya. Tulisan rapi itu tertuang dari curahan hati Sabina. Tentang bagaimana kehidupannya. Hal yang mengejutkan yang aku baca dari cerita yang Sabina tulis dalam buku diary-nya.


Aku baru tau kalau gadis itu memiliki nasib yang hampir sama denganku. Hidup dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis. Bedanya, aku tinggal bersama kedua orang tua kandung. Sedang Sabina tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya. 


Bahkan tak sampai di situ. Sabina pun dibiarkan tinggal di asrama demi menutupi kesalahan ayahnya, dan ayah tirinya itu bisa dengan bebas menggauli Sabina dengan berpura-pura berkunjung ke asrama ini. Tentu tak akan ada yang curiga saat ayahnya mengunjungi Sabina ke asrama, karena mungkin mereka berpikir itu adalah hal yang wajar.


Tak terasa sudut mataku mengeluarkan butiran bening setelah membaca dan mengetahui isi dari curahan hati Sabina yang begitu memilukan.


Tak kuasa meneruskan membaca buku diary itu. Aku menutupnya kembali mengusap wajah yang mulai basah dengan air mata.

__ADS_1


Saat hendak menyimpan buku diary itu di atas nakas, tiba-tiba saja sesuatu terjatuh dari dalam lembaran kertas diary.


Sebuah foto tergeletak jatuh di atas lantai. Tanganku gemetar saat berniat mengambil foto berukuran 2R itu. Kertas yang sudah mulai usang bahkan sebagian tinta sudah terkelupas. Nampak foto tiga orang yang kutebak merupakan satu keluarga. Ayah, Ibu, dan Sabina.


Gambar di foto itu sudah tak begitu jelas, hingga aku tak bisa mengenali satu persatu orang yang ada di sana.


Foto itu kusimpan kembali di atas meja bersama diary tadi.


Sejenak pikiran mulai melayang. Mencerna maksud dari semua ini. Apa sebenarnya yang Sabina inginkan dariku? Dan kemana dia sekarang? Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku hal yang buruk mungkin menimpa gadis itu.


Aku menggelengkan kepala cepat saat berpikir jika Sabina mungkin sudah meninggal. Wajahku seketika berubah tegang kembali. Sesuatu seakan meniup tengkuk hingga meremang. 


Dug! Dug!


Aku terperanjat ketika mendengar kembali suara ketukan yang cukup keras dari kolong tempat tidur. Peluran tembok itu … apakah Sabina ada di sana? Mataku membulat sempurna, tenggorokan seakan tercekat bahkan begitu sulit untuk sekedar menelan saliva. 

__ADS_1


__ADS_2