
"Nanti kamu akan tau, kenapa aku tidak pernah masuk ke kelas."
Kata-kata itu yang aku dengar dari mulut Sabina. Ada kejanggalan yang aku temukan.
Rasa penasaran mendorongku untuk mencari tau tentang siapa sebenarnya Sabina.
Tunggu!
Bukankah Lintang, Echa dan Andin pernah melihat Sabina saat mereka memintaku menemui Bu Ine? Apa semua ini ada hubungannya dengan mereka? Hilangnya Sabina dengan para pembuly itu.
Jam makan siang kulihat Arsy duduk sendiri. Setelah menunggu antrian panjang dan mendapatkan jatah makanan, segera aku hampiri Arsy, duduk di sebelahnya yang kebetulan kosong.
Arsy menoleh sekilas, lalu ia memalingkan wajah, kembali fokus menyantap makanannya.
"Ehm … kamu pasti tau tentang Sabina kan?" Aku memulai percakapan.
Arsy masih diam tak menggubris pertanyaanku.
"Kamu sekamar dengannya bukan? Pasti kamu tau dia masih berada di asrama ini tapi dia sengaja tak pernah masuk ke kelas. Orang-orang mengira dia kabur dan hilang, tapi nyatanya dia masih ada di asrama ini. Kamu pasti tau itu," ucapku lagi.
"Sabina sudah pergi dari sini, pergi untuk selamanya. Dia tidak pernah sekamar denganku. Kamar yang kamu tempati adalah kamar bekas Sabina," ujar Arsy membuatku makin tak mengerti dengan kalimat yang terdengar ambigu di telinga.
Pergi untuk selamanya? Maksudnya apa?
Aku menggelengkan kepala, lalu tertawa kecil merasa Arsy sengaja menutupi keberadaan Sabina. Mereka pasti teman baik dan tak mungkin Arsy tidak tau jika sebenarnya Sabina masih ada di asrama ini.
"Kamu pasti sedang menutupinya kan?"
"Menutupi apa? Aku bicara seadanya. Jika kamu ingin tau lebih tentang Sabina, kamu bisa cari data-data tentang anak itu di ruangan kesiswaan. Semua data anak yang sudah tak ada di asrama, tertera di ruangan itu," ujar Arsy lantas bangkit dari duduk, meninggalkan makanan yang masih tersisa di atas meja. Dia melenggang pergi begitu saja.
Aku memainkan sendok sambil mencerna setiap perkataan Arsy barusan yang terasa janggal.
Segera melahap makan siang dan bergegas menuju ruang kesiswaan.
__ADS_1
Ruangan itu tampak kosong, tak ada guru atau siapapun di sana. Kaki ini mulai melangkah masuk ke dalam, mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu berhenti di satu titik. Sebuah foto beberapa anak terpajang di sana. Salah satunya adalah Sabina. Foto beserta data dirinya ada di kertas karton itu. Keterangan yang aku dapat pada tulisan itu cukup mencengangkan.
Dia dinyatakan hilang sampai saat ini. Bahkan gadis itu tak pulang ke rumah keluarganya. Lalu kemana dia? Apakah ada yang menculiknya saat kabur dari asrama?
Tidak! Itu sangat tidak mungkin. Dia masih ada di asrama ini. Buktinya beberapa kali aku bertemu dengannya, bahkan dia sempat tidur di kamarku.
Ada apa sebenarnya ini? Aku mulai bingung.
Kuputuskan untuk bertanya pada Lintang dan teman-temannya. Meski sebenarnya aku sangat malas berkomunikasi dengan mereka.
Saat hendak menuju kamar, aku berpapasan dengan Lintang, Echa juga Andin.
Segera ku hampiri mereka. "Kalian lihat Sabina tadi pagi bersamaku kan?"
Ketiga orang itu saling lirik satu sama lain, dengan wajah heran dan bingung.
"Sabina yang hilang itu? Aku gak lihat, iya kan?" ucap Lintang pada kedua temannya.
"Tapi gak panas," celotehnya kemudian menurunkan kembali tangannya.
"Dia sakit! Sakit jiwa!" Ejek Lintang, tawa mereka pecah memenuhi koridor sempit ini.
"Jangan kurang ajar ya!" Aku tak terima mereka mengejekku sakit jiwa.
"Habisnya kamu dari tadi ngelantur mulu, udah di kasih tau Sabina hilang dari asrama ini, tapi masih saja ngeyel. Malah beberapa kali kami memergokimu ngomong sendiri di lorong ini, apa bukan gila namanya?" hina Lintang membuatku naik pitam.
"Kamu ngomong apa sih!" Aku dorong tubuh anak itu hingga tubuhnya mundur beberapa langkah. Beruntung kedua temannya menahan tubuh Lintang, jika tidak, mungkin anak itu sudah jatuh karena ulahku.
"Berani sekali kamu!" Lintang hendak mendorongku balik namun tiba-tiba saja wajah ketiga anak itu terlihat tegang sambil menatap ke belakang tempat aku berdiri.
Raut wajah ketiga anak itu tampak terkejut dan tegang.
"Sabina?" gumam Lintang matanya melotot melihat seseorang yang mungkin ada di belakangku.
__ADS_1
"Hah, Sabina?" Aku memutar leher menoleh ke belakang, namun tak ada siapapun di sana.
"Lari!" Lintang memberi aba-aba pada kedua temannya untuk pergi dari hadapanku.
Mereka bertiga lari terbirit-birit, membuatku makin heran.
Sebenarnya ada apa dengan Sabina? Tadi mereka bilang kalau aku sering berbicara sendiri. Dan … barusan mereka melihat Sabina tapi aku tak melihatnya. Apa mungkin Sabina sudah meninggal dan menjadi arwah gentayangan di asrama ini?
"Astaga! Mikir apa aku ini? Gak, gak mungkin itu terjadi." Aku melangkah menuju kamar.
Keadaan sepi dan sunyi menyapa kedatanganku. Aku melangkah masuk dengan perasaan ragu dan entah apa alasannya rasa takut seketika hinggap begitu saja tatkala tubuh ini tiba-tiba merinding.
Banyak keanehan yang kulihat di asrama ini. Bukan hanya tempatnya tapi juga orang-orang yang menghuni tempat ini. Semua memiliki keunikan dan misteri masing-masing.
Kuhempaskan bobot tubuh di atas ranjang dengan cukup kasar. Hingga menimbulkan suara bunyi berderit.
Merasa lelah, aku pun berbaring, meluapkan segala kepenatan setelah seharian belajar. Keadaan di luar sudah tampak gelap. Sebentar lagi waktu surup tiba namun aku terasa malas untuk mandi.
Mataku begitu lengket dan berat. Rasa kantuk seakan tak tertahankan.
Perlahan aku mulai memasuki alam mimpi. Dalam mimpiku itupun aku masih berada di kamar. Tapi tak sendirian, ada Sabina yang tengah terduduk di atas lantai sambil bersandar ke ranjang bertingkat.
Kulihat dia menulis sesuatu pada sebuah buku diary berwarna kuning keemasan. Buku diary berukuran tak begitu besar, dia menulis sesuatu di sana yang entah apa.
Aku berjalan mendekat, tampaknya Sabina seperti tak melihat keberadaanku. Seakan aku berada pada dimensi yang lain dengannya.
Bulir bening menganak sungai di wajah gadis itu sembari terus menulis pada buku diary. Sudah bisa kutebak apa yang sedang dia coretkan pada buku diary-nya. Pasti tentang kesedihan-kesedihan yang sengaja dia tumpahkan pada setiap lembaran kertas dari buku itu.
Tampaknya dia sudah selesai menulis, dia menutup buku diary itu lalu menyimpannya di bawah kolong ranjang.
Setelah selesai, dia menoleh ke arahku lalu tersenyum menyeringai. Perlahan wajah cantik gadis itu berubah menjadi pucat pasi dan dipenuhi lebam membiru, di tambah lagi darah yang merembes di pakaian gadis itu, kemudian menggenang di sekitar tempatnya duduk saat ini.
Sabina terlihat menakutkan, membuatku bergerak mundur ke belakang. Tiba-tiba aku terpeleset dan … aku terbangun dari mimpi!
__ADS_1