
Pagi sekali aku bangun meski mata ini masih terasa lengket karena semalam hanya tidur sebentar saja.
Di saat orang-orang masih terlelap tidur, tapi aku sudah bangun demi bisa menggunakan kamar mandi tanpa menunggu antrian panjang. Karena sepertinya beberapa menit lagi disaat semua siswa yang kamarnya berada di lorong ini bangun maka akan menggunakan kamar mandi tersebut.
Meski tak hanya satu kamar mandi yang tersedia di lantai dua ini, tetap saja kami harus menunggu giliran mengingat banyaknya siswa yang ada di tempat ini.
Keadaan masih sangat sepi ketika aku keluar dari kamar sambil menenteng alat mandi juga pakaian ganti. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju kamar mandi yang ada di ujung, dimana semalam aku sempat terjebak dan terkurung disana.
Kejadian malam tadi akan aku laporkan pada Kepala sekolah asrama ini. Lintang, Echa dan Andin benar-benar sudah keterlaluan karena berani mengerjaiku dengan mengurungku di kamar mandi saat malam hari.
Aku harap mereka mendapatkan hukuman dari Bu Ine, kepala sekolah asrama ini.
Langkahku sampai di depan kamar mandi, segera ku tekan gagang pintu kayu jati itu dan masuk ke dalam. Tak lupa untuk menguncinya dari dalam dan menggantungkan handuk pada kastop yang berada di balik daun pintu itu.
Lima belas menit waktu yang kuhabiskan untuk ritual mandi. Sudah terdengar suara ramai di luar sana yang mungkin orang-orang sudah mulai bangun dan menunggu giliran untuk menggunakan kamar mandi ini. Selesai memakai pakaian, akupun keluar.
Nampak tiga wajah yang begitu aku kenali berada didepan pintu.
"Kalian!" Aku menatap satu persatu tiga orang yang semalam mengurungku di kamar mandi.
"Minggir!" sahut Lintang mendorongku ke pinggir hingga aku menubruk sudut tembok, lalu dia menerobos masuk ke kamar mandi.
"Bisa gak sih gak usah kasar!" tegurku memberanikan diri melawan Lintang yang sepertinya adalah leader dari Andin dan Echa.
Gadis itu membalik badan. Menatap nyalang ke arahku. Mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi.
"Kamu bilang apa?"
"Aku bilang kamu gak usah main kasar. Bisa kan ngomong baik-baik atau sekedar bilang permisi, toh aku juga udah selesai mandinya dan bakal pergi. Jadi gak perlu pake acara dorong-dorong segala." Aku balas menatapnya dengan nyalang.
"Dan satu lagi … aku akan melaporkan tindakan kalian semalam yang sudah berani mengurungku di sini. Sekarang juga aku akan lapor pada Kepala sekolah, agar kalian dihukum!" ancamku seraya hendak beranjak dari sana.
Banyak mata siswi lain yang sepertinya kaget saat aku melawan Lintang. Mungkin mereka begitu takut pada anak itu. Bisa jadi mereka juga adalah korban perundingan Lintang dan kedua temannya,seperti apa yang aku alami.
Saat aku hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja Lintang menjambak rambutku yang masih sedikit basah hingga kepalaku tertarik ke belakang.
"Sekali saja kamu berani lapor pada Bu Ine, maka aku pastikan kamu tak akan betah berada di asrama ini. Mengerti!" Dia balik mengancam, pegangannya semakin kuat pada rambutku hingga aku meringis kesakitan.
"Katakan kalau kamu tak akan melaporkan apa yang kami lakukan semalam, cepat!" bentak Andin menjepit pipiku dengan kedua telunjuknya.
"I-iya, aku tak akan bilang soal itu pada Bu Ine, tapi tolong lepaskan. Kepalaku sakit," ringisku.
Dengan kasar Lintang menghempaskan jambakan pada rambutku, hingga tubuhku hampir saja menabrak beberapa teman yang berdiri tak jauh dari hadapanku. Mereka hanya bisa diam tak bisa membantu atau membelaku. Sepertinya mereka benar-benar takut pada geng Lintang ini.
__ADS_1
Tak mau menoleh lagi, segera aku berlalu dari sana dengan setengah berlari.
Terdengar suara tawa Lintang dan kedua temannya yang mungkin tengah menertawakan kebodohanku yang takut pada mereka. Di sini aku hanya sendiri, tak bisa melawan mereka yang jumlahnya ada tiga orang. Andai ada satu atau dua orang siswi saja yang tadi membelaku, mungkin aku masih punya tenaga untuk melawan mereka.
Sayangnya itu tidak terjadi. Hingga mereka bisa dengan semena-mena memperlakukan orang-orang yang lemah sepertiku.
Sudut mataku mulai berair, ku usap menggunakan punggung tangan agar butiran bening itu tak sampai jatuh. Diperlakukan kasar seperti ini membuatku teringat pada Bunda. Biar bagaimanapun aku harus kuat berada di tempat ini, karena sangat tak mungkin untuk aku pulang. Apalagi saat ini bunda sudah berada di yayasan penampungan para TKW, sementara aku pun tak mungkin tinggal di rumah nenek, tak pula kembali bersama ayah. Itu lebih menakutkan lagi menurutku.
Sebelum jam masuk berbunyi, aku sudah sampai di kelas dan duduk di bangku kosong yang kemarin aku tempati.
Sudut mataku menangkap mereka yang sedang melihat ke arahku. Beberapa diantaranya adalah orang yang tadi menyaksikan kekerasan yang Lintang cs lakukan terhadap aku di depan kamar mandi.
Entah pandangan iba atau malah justru puas melihatku menjadi korban bullying. Aku tak peduli, yang penting saat ini aku harus belajar dengan baik agar bisa membanggakan orang tuaku terutama bunda.
Suara bel berteriak kencang tanda pelajaran akan dimulai. Semua siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing.
Terlihat Lintang cs masuk dan menoleh padaku sambil menyunggingkan senyum menghina. Aku pura-pura tidak melihat, karena jika aku lihat pasti mereka akan berulah lagi.
"Pagi anak-anak!" Seru Bu Susan masuk ke dalam kelas.
"Pagi, Bu!" Semua menjawab serempak.
Bu Susan tersenyum. Suara ketukan pantofel terdengar jelas di depan kelas. Lalu berhenti saat langkah itu sampai di meja guru yang ada di sudut depan ruangan.
Beliau mulai mengabsen satu persatu dari kami. Dan absen terakhir beliau menyebutkan namaku.
"Mutia Wardhana."
"Ada, Bu!" Aku mengangkat tangan.
Wanita itu menautkan kedua alisnya dan berjalan mendekat ke tempatku duduk.
"Kenapa dengan keningmu?" Tanya Bu Susan.
Aku terdiam, mataku mulai melirik ke arah dimana Lintang cs duduk. Nampak mereka melotot, memberi kode agar aku tak berterus terang akan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku kejedot, Bu. Tapi nanti juga sembuh," ucapku.
"Sudah diobati?" Tanyanya lagi.
Aku menggeleng pelan.
"Luka kamu cukup dalam, seharusnya di kasih obat antiseptik. Lain kali kalau ada apa-apa langsung cari bantuan teman dan minta antar ke UKS untuk membawa kotak p3k." Bu Susan mengusap dahiku yang terluka lalu melihat lukaku yang memang lumayan dalam.
__ADS_1
"Arsy! Tolong antar Mutia ke UKS, bantu obati lukanya," titah Bu Susan pada salah satu anak yang duduk di depan dekat meja guru.
Anak yang diketahui bernama Arsy itu mendekat dan mengajakku pergi ke UKS.
Tanpa banyak protes aku pun mengikuti langkah Arsy, meninggalkan kelas ini.
Ruangan UKS berada di dekat lapang, cukup jauh dari kelasku sehingga aku dan Arsy harus berjalan melewati beberapa koridor sekolah.
Tak ada bahasan apapun antara kami. Tapi seingatku Arsy ini adalah salah satu saksi mata atas kekerasan yang dilakukan oleh Lintang tadi pagi di depan kamar mandi.
"Ehm … apa Lintang memang selalu melakukan perundungan pada setiap anak di sekolah ini?" Aku mulai membuka percakapan.
"Iya. Setiap kali ada anak baru maka akan menjadi incaran mereka."
"Jika tidak ada anak baru?"
"Maka kami yang menjadi sasaran," jawabnya menghentikan langkah sebentar menoleh ke arahku dan kembali melangkah.
"Lalu kalian juga tak bisa melawannya?"
"Apa kamu bisa melawan mereka? Tidak kan?" Arsy malah membalikan perkataan ku.
"Haah … " aku menghela napas berat.
Sampai di ruang UKS , Arsy mengeluarkan kunci ruangan tersebut.
"Kamu punya kuncinya?" Aku sedikit heran.
"Kebetulan aku ketua PMR disini," jawabnya tanpa menoleh dan bergegas membuka pintu UKS.
Kami melangkah masuk dan Arsy mempersilahkan aku duduk di bangku di ruangan itu. Nampak Arsy sibuk membawa kotak obat yang ada di dalam lemari. Mencari obat tetes antiseptik.
Setelah di dapat, segera dia mendekat.
"Aku bantu mengoleskannya ya, maaf!" ucapnya meminta izin menyentuh keningku dan mengoleskan obat antiseptik itu hingga terasa nyeri dan ngilu saat cairan berwarna merah berbau khas itu merembes ke dalam luka yang hampir setengah kering dari luar, namun sepertinya masih basah di bagian dalam.
"Kalau gak diobati, bisa infeksi," ucapnya menutup lukaku dengan perban dan plester.
Aku akui, Arsy cukup cekatan mengobati lukaku. Pantas kalau dia jadi ketua PMR, dia telaten dan cepat tanggap.
"Memangnya kejedot dimana?" Tanya Arsy mengembalikan kotak p3k ke tempat semula.
"Di kamar mandi, malam tadi. Lintang dan kedua temannya mengurungku di kamar mandi. Saat aku hendak keluar mereka mendorong pintunya hingga aku terantuk pada daun pintu itu, lalu mengurungku. Bahkan mereka juga sempat menakut-nakuti aku dengan berpura-pura jadi hantu, mereka pikir aku takut," ucapku mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Arsy hanya diam mendengarkan dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dia pikirkan.