
Keesokan harinya saat belajar di kelas, aku benar-benar tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku dipenuhi oleh masalah Sabina. Sampai-sampai semua materi yang diberikan guru, tak ada satupun yang masuk dalam otak ini.
Menjelang jam istirahat rasanya ingin segera mendengar suara bel itu berbunyi. Padahal hanya tinggal 5 menit lagi waktu istirahat tiba, tapi terasa begitu lama saat aku menunggunya.
Waktu bergerak seakan begitu lambat, berulang kali mata ini melirik jam dinding yang terpajang di salah satu sisi, berharap jarum jam bergerak cepat ke arah yang aku tunggu-tunggu.
Aku berniat bicara dengan Arsy. Dia pasti tau sesuatu tentang Sabina. Tak mungkin dia tak tau tentang anak itu. Secara Arsy sudah lama tinggal di asrama ini.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi juga. Semua murid berhamburan keluar setelah guru mata pelajaran keluar lebih dulu dari kelas ini.
Kini di kelas hanya ada aku dan Arsy. Segera aku bangkit dari duduk, menghampiri gadis itu dan menarik lengannya.
"Arsy ayo ikut aku!"
"Tunggu! Kamu mau bawa aku kemana?" Arsy meronta, tapi aku tak peduli dan terus menarik lengannya.
Sampai akhirnya langkahku sampai di kamar.
"Mau apa kamu ajak aku kesini?" Arsy mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, lalu tatapannya berhenti di satu titik.
Ya, dia tampak sedang melihat diary kuning keemasan, wajahnya terlihat kaget, sepertinya Arsy sangat tak asing dengan benda itu, itu yang aku tangkap dari sorot matanya.
__ADS_1
"Kamu tau buku itu milik siapa?" tanyaku penuh selidik.
"Darimana kamu mendapatkan diary itu?" Arsy malah balik bertanya, bukannya dia menjawab pertanyaanku tadi.
"Dari kolong tempat tidur. Aku menemukannya di sana," jawabku sambil terus menelisik mata gadis itu. Aku merasa yakin jika Arsy mengetahui sesuatu tentang Sabina.
"Semalam aku mimpi Sabina, dia duduk di bawah ranjang dan menulis sesuatu pada buku diary tersebut. Dia menuangkan semua kisahnya dalam buku diary itu, lalu dia menyimpan di bawah tempat tidur. Seketika wajah anak itu berubah menjadi terlihat begitu mengerikan, aku takut dan langsung terbangun dari tidur. Kamu tau apa yang terjadi setelah itu? Aku memberanikan diri untuk melihat ke kolong sana sampai akhirnya aku menemukan diary Sabina dan membaca seluruh isinya," jelasku kini meraih buku yang sudah lusuh itu dan menyerahkannya pada Arsy agar dia membaca isinya.
"Baru kali ini mimpiku terasa begitu nyata, aku juga baru tau jika ternyata Sabina memiliki kisah memilukan dengan keluarganya, terutama ayah tirinya," lanjutku.
Arsy tak mau menyentuh sama sekali buku itu, matanya terlihat berkaca-kaca. Kedua telapak tangannya tampak saling bertaut menggambarkan kegelisahan. Memainkan jemari-jemarinya yang lentik.
"Kamu hanya mimpi kan? Jangan terlalu percaya, mimpi hanya bunga tidur dan tak mungkin menjadi nyata. Sabina pulang ke rumahnya, dia pasti baik-baik saja," ucap Arsy seperti sedang menutupi sesuatu dariku.
"Apa mungkin mimpiku itu bisa sangat kebetulan. Menemukan buku ini di bawah ranjang, apa itu suatu kebetulan saja menurutmu, sementara aku melihat Sabina menyimpannya saat aku bermimpi. Bagaimana mungkin?" Melempar diary itu ke atas ranjang.
"Oh ya, satu lagi. Coba lihat di bawah sana!" Aku bersusah payah menggeser tempat tidur bertingkat ini, agar Arsy melihat ada bagian ubin tanpa keramik yang sangat mencurigakan.
"Lihat itu! Aku curiga Sabina meninggal dibunuh oleh seseorang dan dikubur di situ!" Telunjuk mengarah pada ubin hitam yang hanya terlihat sebagian karena aku tak mampu menggeser tempat tidur itu sendiri, terasa begitu berat.
"Kamu jangan ngawur! Sabina gak mungkin dibunuh, jangan mengada-ada. Aku harus pergi, perutku lapar dan mau mencari makanan," ucap Arsy seakan sedang menghindar dariku.
__ADS_1
Jelas-jelas aku menangkap ekspresi tegang dari wajahnya.
"Arsy! Jangan pergi!"
Ah sial, anak itu malah pergi begitu saja.
Aku melangkah keluar kamar, sebelum kembali ke kelas, aku masuk ke toilet sebentar karena kebelet buang air.
Betapa sialnya saat melihat bak mandi yang kosong, hanya ada sedikit air saja di sana.
Menutup pintu lalu mencoba menyalakan kran air pada bak mandi itu, tapi anehnya sama sekali tidak keluar airnya. Sekilas kulihat bagian dalam bak mandi yang hanya menyisakan air kurang dari seperempat bagian dari bak mandi tersebut.
Sesuatu menarik perhatianku. Melihat bagian keramik paling dasar dari bak mandi yang terlihat berbeda warna dari yang lainnya. Sesuatu tiba-tiba keluar mengambang dari retakan keramik itu, seperti gulungan rambut. Perlahan air yang semula jernih tampak berubah warna menjadi cairan merah.
Sontak aku mundur beberapa langkah, nafas mulai memburu dengan pandangan tak pernah lepas dari bak mandi yang tingginya hanya seperti orang dewasa.
Hal yang di luar nalar kembali terjadi. Air dalam bak mandi itu penuh tak seperti sebelumnya yang aku lihat, isinya hanya seperempat dari bagian dasar bak mandi. Aneh! Bahkan kran air itu pun menyala, lantas apa yang kulihat di dasar bak itu juga hanya halusinasi?
Perlahan aku melangkah mendekati bak itu lagi, melihat ke permukaan air yang jernih menampakan beberapa bagian keramik yang memang warnanya berbeda. Aku baru menyadari hal itu karena selama ini tak pernah memperhatikannya sama sekali. Lalu kejadian sebelumnya, apakah tadi itu petunjuk lagi dari Sabina? Apakah masih ada hubungannya semua itu dengan Sabina?
Buru-buru ku selesaikan hajatku, lalu keluar dari kamar mandi dan berniat menemui Mang Yana. Aku rasa pegawai kebun itu tau sesuatu tentang Sabina. Tak mungkin dia tak tau, pikirku. Berharap mendapatkan informasi dari pria itu, meski sebenarnya aku masih ragu dan takut untuk mendekatinya.
__ADS_1