
Raisa dan Arvin kembali ke rs untuk menemani Naya dan Bu Saras setelah membersihkan dirinya. Bryan yang baru saja datang langsung menghambur bersama Raisa dan Arvin. Mereka bertiga menuju ruangan dimana Naya dirawat.
"Assalamualaikum tante" Salam Bryan.
"Wa'alaikumsalam sini masuk nak" Balas Saras.
"Naya belum bangun tan? " tanya Raisa.
"Belum nak, tante juga khawatir sudah dari kemarin Juga belum sadar, tapi kata dokter tadi dia hanya perlu waktu yang cukup untuk mengembalikan kestabilan tubuhnya" Jelas Saras.
"Oh gitu ya, ini tante makan dulu saya bawain ini tadi" pinta Bryan.
"terimakasih nak, kalian sudah makan kan? " tanya Saras.
"tentu saja sudah" jawab Bryan.
.
Hari itu berlalu, kini malam menyelinap dalam heningnya puncak dingin itu. Kini hujan menyelimuti getirnya kekhawatiran orang orang terdekat Naya.
Ketika malam itu semakin larut Naya seakan bermimpi buruk, tangannya tanpa ia sadari meremas selimut yang ia kenakan, dahinya bercucuran keringat dingin, dan kepalanya menoleh kekanan dan kekiri mengikuti irama tetesan gerimis.
Ia seakan tak bisa meminta bantuan bahkan untuk membuka matanya sekalipun ia harus menunggu mimpi itu usai , ia membuka matanya kasar setelah mimpinya berakhir, ia mengamati keadaan sekitar yang begitu dingin, ia mendengarkan tetesan air hujan diluar.
Tiris tiris gerimis merintis bahkan menangis mengetahui situasi yang dialami Naya. Ibu Naya bangun dari tidurnya setelah Naya melakukan berbagai tarikan di selimutnya.
"Naayyy, kamu tidak apa apa? " tanya Saras panik.
Naya diam, ia mengingat kejadian yang dialaminya, mulai dari ia diculik, dibius, dibawa kerumah paman, lalu dibawa kerumah pria, dijambak, disayat, hingga ia melihat berakhirnya kehidupan pria itu serta ia tak sadarkan diri ketika ada mobil yang hampir menabraknya.
__ADS_1
Naya menjerit histeris mengingat semuanya. Semua yang ada diruangan itu terkejud dengan jeritan Naya ,bahkan Arvin yang kebo tidur pun terbangun mendengar jeritan kakaknya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" jerit Naya sambil menutupi telinganya.
"Naayyy kamu kamu kenapa? " tanya Saras panik
"Naya, kamu ada apa?!" tanya Raisa histeris. Pasalnya Naya tak pernah terlihat semenyedihkan itu.
Naya tak bergeming, beberapa detik berlalu. Naya masih setia menutupi telinganya. Lalu ia memberanikan diri untuk berbicara, sepertinya ia trauma besar.
"Buk, a...apakah a..ada pen...jahat diluar? " tanya Naya terbata bata dengan badan yang bergetar hebat.
"tidak ada sayang, kamu aman disini bersama kami" ucap Saras sembari mengambil gelas berisi air.
"minum dulu, tenangkan dirimu, atur nafasmu" titah Saras sambil membelai hangat rambut Naya.
Naya meminum air itu, beberapa menit berlalu. hening! Tak ada yang berani memperkeruh keadaan. Bryan? ia bahkan mati kutu melihat keadaan sahabatnya.
"Naya tidak apa apa, Naya ingin cepat pulang. Kalau Naya disini, Naya tidak akan bisa tidur dengan baik, pasti selalu saja ada mimpi buruk yang menghampiri tidur Naya" ucap Naya dengan badan yang masih bergetar.
Saras memeluk Naya, ia tak kuasa menahan air matanya hingga air matanya jatuh mengikuti lurusnya rambut Naya.
"Besok pasti kita pulang, kamu istirahat yang baik ya, kamu tidak apa apa kok" ucap Saras menenangkan Naya.
Naya diam tak bersuara ia ingin sekali memutar waktu agar secepatnya menjadi pagi hari. Saras melepaskan pelukannya, ia membenarkan posisi Naya hingga Naya kembali tidur lagi, sepertinya Naya sangat takut. Ia jadi tak banyak bicara.
"Tante yang sabar ya, Naya pasti sembuh kok" Ucap Bryan menenangkan padahal hatinya tak kalah hancurnya.
Saras tersenyum kecut, ia lalu menyuruh anak anak remaja itu tidur kembali menenangkan jiwa dan raganya setelah diberi hadiah kecil dari Naya.
__ADS_1
.
Pagi tiba, dokter yang menangani Naya membolehkan Naya pulang kerumah karena Naya merengek bahkan hampir menangis dengan keadaannya yang memilukan.
ia tak menghiraukan rasa sakit yang ada dalam tubuhnya, yang ia takutkan ialah ketika ia bermimpi malam malam dengan tangisan dan darah lalu suara decitan rem mobil , itu yang ia takutkan.
Apalagi kemarin malam saat ia tersadar ia disambut tiris tiris gerimis yang mampu menggores hati Naya menambah kenangan malam buruknya saat itu .Semua itu seakan menjadi momo mengerikan bagi Naya.
Setelah diperbolehkan pulang Naya menuju kediaman Raisa dengan mobil yang sengaja disiapkan Bryan saat itu. Saat perjalanan pulang, Naya tak berbicara sedikitpun bahkan ia yang sangat takut dengan luka seakan tak peduli sedikitpun lukanya yang diperban itu.
Naya seperti kehilangan jiwanya, ia seperti sangat takut dan trauma akan kejadian saat itu. Raisa bahkan menitikkan air matanya mengetahui keadaan Naya, ia ingin Naya yang dulu, yang ceria, periang, banyak bicara, banyak tingkah.
Semua seakan hilang begitu saja. Ingin rasanya Raisa memukul bahkan memasukkan ke neraka pria yang dengan tega menjadikan Naya menjadi sedemikian rupa.
"Kakak sabar aja, pasti kak Naya bakal kembali kayak dulu lagi" ucap Arvin menenangkan. Arvin yang terlihat bodoamat itu sebenarnya juga sangat sedih dengan keadaan Naya.
"hmm gimana lagi, beda banget, engga kayak biasanya juga" ucap Raisa pasrah sambil memandang pintu kamar yang ditutup Ibu Naya.
"bodoh banget sih gue waktu itu ninggalin dia, kalo engga kan gue bisa bantuin dia kabur waktu itu" ucap Raisa sambil mengusap keningnya yang mulai berdenyut.
"Udah Sa tenang aja, pas abis kejadian itu gue nyuruh orang buat nyelidikin masalah Naya, dan gue udah tahu semua" ucap Bryan mendudukan dirinya kasar di sofa.
"beneran bang? ini pasti ada sangkut pautnya sama pria sialan itu " ucap Arvin sambil mengepalkan tangan
"Hmm bener seratus persen dan orang yang coba perkosa Naya udah mati" ucap Bryan tegas.
"haaaaah! Mati??????? " ucap Raisa dan Arvin bersamaan.
.
__ADS_1
.