
Malam menjelma menemani hangatnya kebersamaan keluarga kecil Saras. Nampak Naya yang baru bergabung dengan senyum hangat menyapa ibunya.
"Ibu baru pulang? " Tanya Naya sambil menarik kursi dekat ibunya.
"Iya, makan malam dulu gih. Ibu baru siapin tadi" balas Saras sambil menyiapkan makanan.
"Pulangnya tiap hari malem gini Bu? " tanya Naya.
"Enggaa juga, hari ini asistan yang lain belum bisa masuk" jawab Saras.
"Ohh" balas Naya singkat.
"Besok jadi nemenin Bu? " Tanya Arvin.
"Oh iya, tadi Ibu ditawarin sama Nyonya tempat Ibu kerja. Nyonya itu mau kalian berdua sekolah di sekolah terbaik disini" Ucap Saras.
"Ibu setuju? " Tanya Arvin.
"Awalnya engga sih, tapi maksa. Mau gimana lagi yaudah ibu setuju" jawab Saras
"Oohh, terus biayanya? Kita masih lama disini loh Bu" Tanya Naya.
"Nah itu, Bu Rina itu mau ngebiayain kalian. Ibu jadi gak enak sama beliau. Ibu baru masuk kerja hari ini langsung diberi bantuan" jawab Saras.
"Yaa kalo Ibu gak setuju kan bisa nolak" ucap Arvin santai.
"Ibu udah nolak, orangnya kekeh maksa. Yaudah ibu setuju" balas Saras gemas.
"Ibu keberatan? " Tanya Naya.
"Yang namanya dibantu itu ya gak keberatanlah, gimana sih kak" cibir Arvin.
"Yaa gak gitu adek" balas Naya malas.
"Ibu sih gak keberatan, ibu agak sungkan aja" balas Saras.
"Orangnya baik banget ya Buk? kayak apa sih? " Tanya Naya beruntun.
"Orangnya baik banget, ramah juga." Jawab Saras sambil berfikir.
__ADS_1
"Orangnya kayak kenal kita banget ya Bu? Kok langsung mau gitu bantu orang asing" Ucap Arvin.
"Nah itu Bu, jangan jangan minta imbalan lagi" duga duga Naya.
"Hishh kalau ngomong yang baik baik " ucap Saras.
"Tunggu. Berarti beliau tau kalau ibu ada anak gadis? Nah jangan jangan nanti Naya dijodohin sama anaknya lagi. Nggak nggak Naya gak mauu" Gumam Naya, namun terdengar oleh Saras dan Arvin.
"Ngawur ya ngomongnya" sahut Saras sambil mencubit kecil lengan Naya.
"Aduhhh Bu, yaa sakit dong" ucap Naya mengaduh.
"Makanya ngomong yang baik. Kita itu sudah tidak seperti dulu, mengaca itu penting sayang " ucap Saras membelai halus rambut Naya.
"Orang cantik kalau ngaca tetep cantik kok Bu" balas Naya sambil nyengir kuda.
"Pokoknya kalian harus sekolah baik baik disana. Kalian sekolah disana gratiss. Tanpa bayar sedikitpun. Bersaing yang sehat ya" Peringat Saras.
"Sekolahnya punya Ibu itu? " tanya Arvin.
"Engga kayaknya. Tapi kalian harus berprestasi, jangan mengecewakan Bu Rina. Bu Rina sudah mau membantu kalian jadi tolong jangan buat keributan yaa" ucap Saras.
"Haa? eh.. Yoi kak" balas Arvin gelagapan.
"Inget. Jangan bilang siapa aja kalo Ibu Rina yang bantu kalian masuk sekaligus yang biayain, kecuali ada perintah dari Bu Rina langsung. Paham kan apa maksud Ibu? " ucap Saras.
"Paham kok. Jadi kita masuk sekolahnya kapan? " Tanya Arvin.
"Kata Bu Rina, lusa bisa masuk. Jadi besok kalian bisa bersiap dulu" balas Saras.
"Sekolahnya yang mana Bu? " tanya Naya.
"Oh itu. Kalian dihari pertama dianter sama sopirnya Bu Rina" jawab Saras.
"Yaampun baik banget sih Bu Rina itu, udah bantu dianter pula" puji Naya.
"Sampein makasih ya Bu buat Bu Rina" ucap Arvin.
"Iyaa, yaudah buruan dimakan. Nanti keburu dingin" Ucap Saras.
__ADS_1
.
Pagi harinya , setelah membantu ibunya membersihkan rumah Naya meminta izin pada ibunya untuk berkeliling sebentar mengenal daerah itu.
Arvin? Dia tidur nyenyak setelah shubuh. Baginya tidur adalah prioritas.
"Bu, Naya minta izin keliling daerah sini ya? " pinta Naya.
"Iya, kamu hati hati, pulangnya jangan siang siang. Kasihan adek kalau bangun nyariin nanti" balas Saras.
"Oke, makasih Bu, hati hati ya" ucap Naya.
.
Naya terlihat damai melihat punggung ibunya. Ia segera menutup pintu rumahnya. Ia bergegas menuju kamar adiknya. Niatnya ia ingin mengajak Arvin berjalan jalan keliling daerah itu namun kali ini sepertinya usahanya tak berhasil.
"Dekkk bangunnn!! Ikut kakak yukkk" ajak Naya sambil menarik narik selimut Arvin.
"Hmmm" balas Arvin singkat.
"Ayookkkk buruan bangun. Temenin kakak jalan jalan yukkkk" ajak Naya yang masih setia menarik selimut Arvin.
"Ogah" balas Arvin dengan mata yang masih terpejam.
"iiiihhhhh ayokkk bangun temenin kakak" ucap Naya yang semakin menjadi jadi menarik selimut Arvin.
"Jalan sendiri, udah besar kan? " balas Arvin dengan suara serak yang matanya masih saja tertutup.
"iiihh, nyebelin. Yaudah jangan cari cari kakak nanti" ucap Naya sambil meninggalkan Arvin.
Saat Naya berada diambang pintu ia nampak memutar badan mengambil ancang ancang. Naya berlari kearah Arvin dan menabok bokong Arvin dengan sangat kencang.
"Aaaaaaawwwwwwwww. Kak. Sakit" teriak Arvin mengaduh.
"Rasain. Wleeeee" balas Naya sambil menjulurkan lidahnya.
Naya segera berlari menutup pintu kamar Arvin agar ia tak mendapat serangan bantal ataupun guling yang ada disana.
.
__ADS_1