
"Tidak apa apa, ini amal saya jika kamu menolaknya kamu berdosa karena melarang seseorang untuk beramal" potong Rina sambil membenarkan posisi duduknya menjadi nyonya elegan yang ramah.
"Jika itu keinginan Ibu, baiklah. Nanti akan saya bicarakan dengan anak anak saya" ucap Saras.
"Apakah suamimu juga ikut kemari? " tanya Rina menelesik.
"Tidak, suami saya sudah meninggal sebulan yang lalu" ucap Saras.
"Oh, maaf jika saya menyinggungnya. Jadi kamu kemari hanya dengan anakmu? " tanya Rina.
"Benar, saya kemari dengan anak saya" Jawab Saras.
"Kalau boleh tahu keluargamu saat ini berasal dari mana?" Tanya Rina.
"Tentu saja boleh tahu, saya pembantu anda ibu, jadi Ibu wajar tahu mengenai identitas saya" jawab Saras.
"Baiklah saya rasa kamu mengetahui tata beretika dengan benar. Saya tidak memaksa kamu bercerita " ucap Rina sambil melipatkan tangannya diatas paha.
.
"Dulu kami memang pernah berada dalam keadaan yang baik, namun sebulan yang lalu suami saya meninggal karena serangan jantung dadakan. Setelah itu semua aset kekayaan keluarga dan milik suami saya diambil alih oleh adik suami saya dan disita oleh bank"
__ADS_1
jelas Saras setelah berpikir cukup lama.
Rina diam ia ingin tahu lebih mengenai kehidupan asistannya yang sempat jadi nyonya rumah itu.
"Setelah itu saya dan anak saya tinggal di rumah teman anak saya selama sebulan dan tiba pada hari itu anak pertama saya diculik dan bahkan hampir di lecehkan oleh orang yang bekerjasama dengan adik suami saya. Semenjak kejadian itu kami memutuskan untuk pindah ke kota ini. Selain pesan terakhir dari suami saya, saya juga harus membuka kehidupan yang baru disini" ucap Saras.
"Pasti banyak sekali perubahan dalam hidupmu nak. Ibu sangat terharu mendengar kisah hidupmu dalam waktu singkat ini" ucap Rina bersimpati.
"Bukan jadi masalah menjadi orang baru Bu, kami akan beradaptasi dengan mudah disini" Jawab Saras.
"Ohya, dari mana keluarga suamimu itu berasal? " tanya Rina menelesik.
"Suami saya putra pertama Keluarga Pram" jawab Saras.
Apakah ini permainan takdir?! Setelah menanti sekian lama mengapa malah datang sendiri dalam kandangnya. Seolah isi dunia ini telah moksa menjadi yang lain.
Rina terkejud mendengar pernyataan itu, pasalnya keluarga Pram merupakan keluarga yang telah berjasa dalam hidupnya . Bila tidak ada keluarga Pram maka tidak akan ada dirinya hingga menjadi nyonya besar saat ini.
Rina ingin sekali menginjakkan dirinya di kota yyy untuk menemui keluarga Pram dan menebus segala hutangnya. Namun ia memiliki keteguhan prinsip akan janji yang ia ucapkan dengan neneknya Arvin.
"Apakah mertua mu masih ada? " tanya Rina.
__ADS_1
"Keduanya masih ada namun mereka harus menikmati masa tuanya. Semoga saja mereka baik baik saja" ucap Saras mengingat betapa miris nasib mertuanya setelah kehadiran Andre.
"Apakah terjadi sesuatu pada keduanya? " tanya Rina cemas.
"Semoga saja tidak. Tempramen adik ipar saya cukup buruk, jadi semoga ia tak melakukan hal diluar batas" jawab Saras jujur.
Saras belum mengetahui kondisi mertuanya semenjak Andre mengambil alih seluruh aset kekayaan dari suaminya. Bahkan ia tak berpamitan dengan mertuanya. Bila ia berpamitan sama saja dengan memakan keju dalam perangkap tikus.
"Baiklah , sepertinya sudah cukup saya mengetahui alasan kamu kemari" ucap Rina.
"Terimakasih Ibu" jawab Saras.
"Saya percaya padamu , lagipula kamu memang orang baik. Saya yakin kamu tidak akan melakukan tindakan tercela disini" Ucap Rina percaya.
"Terimakasih telah mempercayai saya, Bolehkah saya memulai pekerjaan saya saat ini? " Tanya Saras sopan.
"Tentu saja, kamu bersihkan semua dan masak makanan makan siang tepat waktu" Ucap Rina.
"Baik Bu, kalau begitu saya akan memulainya" jawab Saras seraya bangkit dari posisi duduknya.
"Ohya, gaji kamu saya bayar awal bulan dan sama sesuai yang tertulis di kontrak perjanjiannya" ucap Rina.
__ADS_1
"Baik bu" jawab Saras.
.