
Semua berubah menjadi gelap. Naya kemudian diangkat oleh lelaki lebih tua dari usianya. Lelaki itu memasukan Naya dalam mobil nya.
"Siap om, lancar" Ucap lelaki itu
"Pak, Kita ke rumah utama" ucap Om itu.
siapa lagi kalau bukan Andre. Entah apa yang dia inginkan. Sebenarnya Naya tidak pingsan seutuhnya ia diam diam mencubit dirinya sendiri agar matanya tidak terpejam, begitulah kira kira usaha Naya karena sebelumnya ia pernah dibius dan ia tahu cara menanganinya.
sesampainya di rumah utama, Naya diangkat oleh lelaki tadi dan dimasukkan dalam kamar.
Lelaki itu keluar dari kamar dan bernegosiasi dengan Andre.
"Bagaimana nak, apakah kamu puas? " Ucap Andre
"Tentu saja om, dia sangat manis" ucap lelaki itu.
Lelaki itu berusia kepala 2, ia pengusaha yang cukup licik dalam berbisnis di kota yyy ,ia datang bersekutu dengan Andre untuk memperoleh keuntungan dengan mempertaruhkan masa depan Naya.
"Serahkan semua kontraknya dan jangan lupakan perjanjian investasimu pada kami serta berikan beberapa persen sebagai barter kita" Ucap Andre
"Tentu saja, sekarang giliran aku membawa gadis itu. Pastikan keluarganya tidak mengetahui jejak ku" ucap lelaki itu
"Aman!" Ucap Andre penuh penekanan
didalam kamar, Naya mendengar semua yang dibicarakan Andre dan lelaki itu, ingin rasanya ia memohon tolong pada siapapun namun dia tak membawa ponsel. Ia tak menyangka bahwa Andre akan menjualnya, sungguh menjijikkan!
Lelaki itu menuju kamar. Naya segera berakting agar bisa mengulur waktu untuk kabur.
Lelaki itu mengangkat Naya dan membawa Naya kedalam mobilnya untuk dibawa ke sebuah rumah besar.
Saat sampai di rumah, situasi sudah hening karena malam telah tiba. lelaki itu membawa Naya dalam kamar pribadinya.
"Gadis kecil, kau sungguhh manis sekali" ucap lelaki itu
'ah kau pria *******, ******** kau! berani menyentuhku kau harus bayar mahal harganya' ucap Naya dalam hati menyauti ucapan lelaki itu.
lelaki itu membuka pakaiannya, ia meminum bir yang sudah ia siapkan.
Naya membuka matanya
'Naya! Fight! Masa Depan elo masih panjang! ' batin Naya.
"Ah kau gadis kecil sudah bangun, sini kakak temani" ucap lelaki itu
__ADS_1
"Siapa kau? kenapa aku bisa disini" ucap Naya menahan dirinya agar tidak tertawa karena ia tidak terbiasa akting.
Dasar Naya teman Raisa. Dalam situasi seperti ini masih bisa tertawa, sehatkah keduanya? hanya Mereka berdua yang tahu.
Disisi lain Raisa menyewa Bryan dan pengawalnya untuk mengikuti Naya, Raisa tahu bahwa Naya diculik dan dibawa kerumah pamannya lalu dibawa ke rumah lelaki itu. Raisa tidak benar benar meninggalkan Naya, ia hanya bersembunyi di pohon dekat Naya.
"Bry! Cepetan! kalo sampek ada sesuatu pada Naya, gue gabakal tinggal diem sama elo! " ucap Raisa memburu.
"depan itu rumahnya! Diem. Kita susun cara nglepasin Naya" ucap Bryan
.
"Aku? Kenalkan, Aku Rifki. Kau gadis paling beruntung yang bertemu padaku malam ini" ucap Rifki santai.
'Cih, lelaki brengsek, ******** kau! ' ucap Naya dalam hati
"Ada apa kakak membawaku kemari? " tanya Naya dengan memasang wajah polos polos *******.
"tentu saja untuk menemaniku" jawab Rifki sembari mendekati Naya
Rifki mulai meraba wajah Naya. Naya? dia sungguh lugu, dia tak tahu harus bagaimana.
Saat Rifki mulai membuka kancing baju Naya, Naya menampar wajah Rifki. Rifki marah dan bertindak semakin bahaya. Ia mendekat pada Naya. Naya sangat ketakutan, ia tidak ingin kehilangan masa depan. Naya sangat gemetar,
Naya sangat takut. Ia mencoba melarikan diri namun tenaganya tak cukup kuat dengan Rifki, berkali kali ia berontak namun tertahankan oleh Rifki, ia sangat takut sekarang, badannya bergetar hebat sampai kakinya tak mampu berdiri tegak.
'siapapun disana, tolong selamatkan aku dari pria brengsek ini,Tuhannn selamatkan aku! Ayahhh tolong akuu!' batin Naya menjerit
Rifki mulai meraba raba Naya, ia mencoba mencium Naya namun Naya menendang titik kelemahan lelaki itu. Lelaki itu jatuh kelantai, ia sepertinya kesakitan.
Lelaki itu bangkit dan semakin marah, ia merobek baju bagian samping tubuh Naya, tubuh Naya tereskpose. Lelaki itu menatap Naya dengan penuh nafsu. Ia mencoba mencium Naya, Ia semakin menjadi-jadi.
Naya tak tahu harus berbuat apa, ia melihat beberapa tumpukan koran dan kertas hvs dimeja, ia mencoba mengambil tumpukan kertas itu untuk menimpuk wajah pria sialan itu.
Malangnya Naya, Rifki menyadari pergerakan Naya ia menghentikan tangan Naya, ia malah mengambil beberapa lembar kertas itu. Entah apa yang dilakukan Rifki, namun ia berjalan mendekati Naya dengan senyum setannya.
"Kauuu!! mau apa kau kak" ucap Naya sambil mundur beberapa langkah.
"tentu saja memberimu pelajaran , Ayolah! tulis pesan terakhirmu pada kertas ini dan berikan aku hadiah sebagai imbalannya. Ini hanya kertas biasa"balas Rifki.
'apa maksudnya? itu hanya kertas, iya aku tau itu kertas tapi jelas bukan tidak ada apa apa, pasti ini ada sesuatu' gumam Naya dalam hati
Naya diam tak berkutik, ia bingung harus melakukan apa, rasa gugup, takut menyelinap begitu saja dalam sanubarinya.
__ADS_1
"Jika kau tidak ingin memberi pesan, maka aku akan membuatmu bahagia malam ini" Ucap Rifki sembari menjambak rambut panjang Naya.
"aaaaaaaa brengsek kau! enyahlah kau dari sini! " ucap Naya menahan denyutan pada kepalanya
Rifki mengambil beberapa kertas tadi lalu menggoreskannya pelan namun menyiksa, ia menyayat tangan Naya berulang kali hingga darah segar mengalir dari tangan Naya, ia merintih kesakitan karena goresan tajam ujung kertas. Memang benar, ternyata kertas jauh lebih tajam daripada pisau.
Naya tak kuasa menahan air matanya, ia menangis, ia ingin sekali melepas tangannya yang digenggam Rifki, ia tak ingin disiksa seperti itu.
"Sudah cukup, sepertinya darahmu cukup banyak yang keluar" Ucap Rifki menghentikan aktivitasnya.
"Kau! Brengsek! Apa yang kau inginkan? Kau ingin membunuhku? Bunuh aku sekarang!" Ucap Naya sambil terisak yang memegangi tangannya yang terkena goresan.
"Tentu saja aku ingin menyenangkanmu gadis manis" balas Rifki
Tanpa banyak bicara Rifki memegang erat bahu Naya. Lelaki itu mencoba membuat Naya tergugah namun Naya sangat takut dan kesakitan, tanpa menghiraukan rasa sakitnya, tangan Naya memegang botol bir yang sudah Rifki persiapkan.
Ia hampir melayangkan botol bir tersebut namun tak disangka Rifki ambruk begitu saja setelah pergerakan ganasnya, ia jatuh kelantai sebelum Naya memukul kepala Rifki .
Beberapa menit berlalu, hening! Rifki tak bergerak sama sekali.
Tubuh Naya gemetar, ia mencoba memeriksa keadaan Rifki. Ia mendekatkan tangannya pada hidung Rifki, tak disangka Rifki tidak bernapas bahkan detak jantungnya juga tidak terdengar.
Naya semakin takut, ia bahkan sulit menegakkan posisi berdirinya. Ia mencoba melarikan diri, namun langkahnya gontai. Ia mengambil kunci di nakas meja dan berlari keluar dari rumah itu dengan pakaian yang robek dipenuhi darah karena darah ditangannya belum juga berhenti mengalir.
Ia keluar dari rumah pria brengsek itu dengan mudah karena sama sekali tidak ada satpam ataupun orang yang berjaga.
Naya berlari menuju jalan tanpa melihat kondisinya.
bajunya robek, tidak mengenakan alas kaki, rambutnya berantakan, matanya dipenuhi air mata yang tergenang, tangannya dipenuhi darah yang mengalir, dan jiwanya hilang entah kemana perginya.
Ia menyeberang jalanan ,tanpa ia sadari ada mobil dari arah kanannya yang melaju begitu cepat.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt
.
Bruuggggggghhhhhh!!!!!!!
.
.
Hallo Readers, mohon dukungannya ya. Mohon maaf apabila ada typo. Selamat membacaaaa 😊
__ADS_1