
"terus jadi mahalll coyyy!
kita balik aja deh, bisa nabrak kalo terus terus mulu" jawab Bryan sambil menghela nafasnya.
'bangkit dari duduknya' " gua duluan, ngabisin waktu gue tau nggasih" ucap Raisa
Raisa meninggalkan Bryan dan berjalan menuju rumahnya, kebetulan rumah nya tidak begitu jauh dari area masjid tadi.
"Ampun itu Raisa! demi apa dia bisa gabung sama gue sama Naya. Untung banget elu cewek Sa, kalo enggak nih ya udah gue lempar lu ke tebing" gumam Bryan.
Raisa menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah menuju Bryan.
" Nah kan ****** gue!! Warning!!! dia balik duh ntar gue di tonjok sayang dong muka gue " gumam Bryan panik.
"Bry! Gua denger, gua gabakal tonjok elu kok.
Elu kalo mau bantuin Naya, Yaudah bantuin aja sendiri pake usaha lu, itu kalo lu niat minta maaf sih! " Sindir Raisa
Bryan diam tak bersuara
"Gua balik dulu. Usaha sendiri. Gua punya cara lain buat bantu dia. Bye minimum! " Ucap Raisa
"Minimum apanya Sa?!! sembarangan lu" teriak Bryan.
kali ini Bryan sudah hampir saja menemukan cara setelah mendengar ejekan Raisa yang terlalu frontal.
.
Disisi lain Naya sedang menyapu teras rumah Raisa ,ia melihat kedatangan Raisa jadi menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
"Bentar banget Sa? " tanya Naya
"Hmm.. mau seharian disana juga engga enak sama petugasnya dong" jawab Raisa
"jangan dikasih tau yaa yang tadi" pinta Naya
"rahasia apapun kalo ada digue udah pasti gue kunci aman rapat no timbul kabar hangat kok tenang yee" jawab Raisa.
.
Disisi lain Bryan memikirkan cara untuk mendapatkan rekaman cctv yang lain. Ia sangat ingin meminta maaf dengan Naya meskipun dia secara tidak langsung juga mencampuri urusan pribadi Naya, namun dengan ini dia dapat membuktikan bahwa ia tulus membantu sebagai sahabat.
Sebenarnya ia bisa saja memberikan Naya uang untuk menebus itu namun Bryan lebih menghargai harga persahabatan mereka. Apalah arti uang bagi Bryan. Uang bisa dicari namun harga diri merupakan hal yang berarti.
Ia menginginkan rekaman itu secepatnya, ia tahu siapa orang yang dapat membantunya. Pastinya orang dalam dong,mana bisa orang luar bantu ginian.
Keesokan paginya Bryan sengaja berangkat telat. ia menemui satpam sekolah untuk meminta beberapa bantuan lebih utamanya bantuan mendapatkan rekaman cctv lain selain ruangan itu.
Satpam itu memperlihatkan rekaman cctv di bagian lain. Ia kecewa tidak menemukan bukti apapun dari situ. Ia lantas kembali ke kantin untuk makan pastinya, karena berfikir itu membuat lapar.
.
.
.
hari hari sudah dilalui Naya, saat ini ia tidak memiliki bukti bahwa ia tak bersalah, dan dia harus mengembalikan uang yang diinginkan Pak Candra itu.
Jika saja tidak ada tabungan Raisa maka Naya sudah pasti dikeluarkan dari sekolah tercintanya itu.
__ADS_1
Saat ia ingin memasuki ruangan Pak Candra datanglah Bryan dengan seorang perempuan.
"Naa aaaayyyy waaiiittttt!! " teriak Bryan dari kejauhan.
Naya dan Raisa menoleh lalu ia menghentikan tangannya untuk mendorong pintu.
"Nayy, wait! jangan dikasih dulu itu! " ucap Bryan dengan nafas terengah engah.
"Nafas yang Bener, mau gua panggilin ambulance kaga? lu kejang disini kaga ada yang nolongin tauk! " Ucap Raisa ketus.
"Sa. ini serius bukan waktunya bercanda! " jawab Bryan tegas
"Nay! Lu liat cewek ini" suruh Bryan.
Naya memperhatikan gadis yang dibawa Bryan, dilihat dari penampilannya gadis itu merupakan adek kelas Naya.
"Kenapa bawa adek kelas? Dia engga salah! " Ucap Naya sinis.
"Jadi gini Nay, $%&\*¢@\#%........" Jelas Bryan panjang lebar tinggi.
Naya menatap sinis adek kelas itu, Adek kelas itu bernama Fani. Fani tak berani menatap Naya, ia menunduk.
"Yaudah bawa aja kedalem. Ngomong sebenernya " Jawab Naya santai sembari mendorong pintu.
'demi buah naga betina warna pink merah muda! Naya! kok cuek banget sih, ini gue Bryan udah bawa bukti terbaikk Nay, segitu kecewanya elu sama gue Nay, ampun dek. abang sedih inii ' gumam Bryan dalam hati
Mereka berempat masuk kedalam ruang Pak Candra dan membicarakan hal yang sebenarnya terjadi. Awalnya Pak Candra tidak percaya namun setelah bukti rekaman dari Bryan dan pengakuan sejujurnya dari Fani membuat Pak Candra percaya bahwa Naya memang bukan gadis seperti yang dituduhkan.
Setelah masalah selesai mereka keluar dari ruangan Pak Candra. Naya dan Raisa menatap tajam pada Fani.
__ADS_1
.