
"Abang kok udah balik. Pasti cabut lagi ya? " tanya anak perempuan yang terlihat terkejut saat pintu kamar nya terbuka. Ia lantas mengusap kasar pipinya sambil mengalihkan kegiatannya dengan menyisir rambut panjangnya.
"Ini bukan cabut dek, tapi pulang duluan" jawab Pemuda tadi sambil mengacak rambut adiknya dengan gemas.
"iiiiihhhhh abang, Rara tu udah nyisirin rambut ini dua puluh tujuh menit, lima puluh enam detik tauk. Main diacak aja, kann lecek lagi " Ujar Aeera jengkel sambil merapikan rambutnya yang lecek.
"Iyaya yang jago ngitung. Sama kakaknya aja perhitungan" cibir Pemuda itu sambil melirik adiknya.
"Ya gak gitu" jawab Aeera sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pasti abis nangis yaa?" tanya Pemuda itu mengalihkan kekesalan Adiknya.
"Hmm iya" jawab Aeera sambil menunduk lesu.
"Berarti Papa tadi pulang dong? " tanya pemuda tadi.
"Iyaa " balas Aeera singkat.
"Emang ada yang turun lagi? " tanya Pemuda itu menyelidik.
"Iyaa ada, aku nya yang kurang rajin bang" balas Aeera lemah.
"Udah gausah sedih. Mau makan keluar bareng abang gak? " ajak pemuda itu.
"Yang bener Bang? mauuuu dong" jawab Aeera dengan mata berbinar.
"ini tuh gunanya pulang duluan" ujar Arsen sambil melonggarkan ikatan dasi dilehernya.
__ADS_1
"Alah ngomong aja ogah diajar, yakan?! Kok abang bisa sih masuk sma terbaik itu" cibir Aeera.
"Abang itu dulu pernah pinter pada masanya dek" balas Arsen penuh percaya diri.
"Padahal disana gurunya masih muda muda loh, mana cakep semua juga" ujar Aeera.
"Jangan menilai orang dari tampangnya doang dek, guru muda itu justru yang ruwet, ngasih tugas tahun lalu tahun sekarang aja masih inget" balas Pemuda tadi jengah.
"Alah abang ini, giliran dapet yang tua banyak ngeluh, dapet yang muda kurang bersyukur , pantes dulu guru private abang melarikan diri, abangnya aja kayak gini" ujar Aeera sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak meledak.
"Wahh berani ngatain abang, sini abang gelitikinn sinii" balas Arsen sambil menggelitiki perut Aeera.
"Aaaaa Abanggg geliiii banggg geliiiiii" teriak Aeera sambil tertawa.
"Minta ampun dulu sama abang" balas Arsen yang masih setia menggelitiki Aeera.
"Nah bagus" ujar Arsen melepas gelitiknya pada sang adik.
Sekian lama Arsen dan Aeera saling pandang, beberapa detik kemudian Arsen dan Aeera tertawa lepas. Hal kecil saja bisa membuat keduanya melupakan segala kesedihan dengan tertawa. Bahkan rasa tertekan dari diri keduanya akan lenyap ketika mereka bahagia bersama.
Aeera Leinze Nicholas merupakan adik dari Arsendy Damar Nicholas. Aeera merupakan putri bungsu keluarga Nicholas. Ia merupakan anak rajin yang tertekan karena ayahnya.
Ayah dan Ibu Arsen sudah sejak lama berpisah. Mereka berpisah ketika Arsen masih berusia 7 tahun dan Aeera berusia 5 tahun. Sejak saat itulah Ayah mereka mendidik kedua anaknya dengan keras.
Terutama untuk mendidik Aeera, ayah mereka tidak ingin Aeera menjadi perempuan yang seperti ibunya. Sehingga Aeera selalu di didik untuk menjadi perempuan dewasa yang berpendidikan serta memiliki kecakapan.
Hal itulah yang membuat Aeera merasa sedih karena dirinya yang selalu diatur oleh ayahnya itu. Ayahnya yang selalu mementingkan nilai baik nilai perhitungan ataupun nilai kehidupan. Hal itu selalu dikedepankan karena semua orang akan memandang orang lain berdasarkan nilai bukan dari proses.
__ADS_1
Kehidupan yang diinginkan Aeera bukanlah kehidupan yang mewah tanpa perhatian dan kasih sayang orangtuanya, yang ia inginkan adalah kehidupan seperti gadis belia umumnya. Ia ingin bermain, bersosialisasi, dan belajar dengan baik. Nampaknya hal itu sulit diwujudkan untuk Aeera mengingat kehidupannya yang berada ditangan ayahnya itu.
Aeera selalu berfikir mengapa dimasa lalu ,ibunya melakukan hal itu sehingga membuat trauma di fikirannya. Ia bahkan membenci ibunya karena disaat Aeera membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya ia malah dihadapkan dengan perpisahan ayah ibunya didepan matanya.
Aeera yang masih kecil selalu menangis setiap hari didepan pintu melihat kedua orangtuanya bertengkar dan selalu berakhir dengan ayahnya menampar ibunya lalu ingin berpisah dari ibunya.
Aeera yang masih lugu memohon sambil menangis terisak bahkan tergeleset di halaman rumahnya meminta agar ibunya tidak pergi meninggalkannya.
Aeera yang masih polos selalu menangis setiap harinya karena ingin memeluk ibunya.
Aeera tak bisa menyalahkan ayah ataupun ibunya. Yang ia tahu ibunya tidak akan pernah kembali lagi meskipun ia pergi dari dunia ini sekalipun.
Ia juga tak bisa terlihat menyedihkan didepan ayahnya, karena ia tahu ayahnya merawat keduanya dari kecil hingga saat ini dengan status orang tua tunggal.
Ia hanya ingin melihat ayahnya bahagia namun ia sendiri justru tidak bahagia.
Dibalik semua kesedihan Aeera di masa lalu selalu ada Arsen sebagai seorang kakak yang selalu menghibur dan menemaninya. Ia bahkan selalu menghabiskan malam bersama kakanya menatap bintang di balkon rumahnya berharap ibunya kembali dengan membawa senyumannya.
Kehidupan dari masa kecil Aeera membuat dirinya menjadi tertekan di masa kini. Ia bahkan sangat membenci ibunya karena tak kunjung kembali padahal bintang dilangit sudah hampir diselingi kabut malam. Ia menjadi gadis yang benci akan menunggu.
Menghabiskan waktu dengan sendirinya untuk mengharap sesuatu yang tidak mungkin datang atau bahkan kembali.
Aeera benci itu dan ia tidak ingin mengulangi untuk yang kedua kalinya.
Karena Menunggu Itu Sakit.
.
__ADS_1
.