
Naya tiba di kota xxx saat sore hari. Ia dan ibunya memutuskan untuk langsung ke yayasan tempat ibunya mendaftar. Setelah dari yayasan Naya dan Ibunya memilih tinggal di rumah sederhana yang asri, lokasinya tidak begitu jauh dari pusat kota sehingga Naya bisa dengan mudah beradaptasi.
Rumah itu merupakan rumah kerabat jauh dari Saras. Rumah itu tidak dihuni karena kerabat Saras yang menempati rumah itu harus pindah keluar kota mengikuti suaminya yang bisnisnya sedang lancar jaya. Daripada dibiarkan kosong lebih baik diberikan pada yang membutuhkan dan kebetulan Saras beserta anaknya sangat membutuhkannya.
Tentu saja Naya sangat senang, selain gratis didalamnya juga sudah ada fasilitas yang tidak kalah bagus dari rumahnya yang disita.
"Rumahnya ini Bu? " tanya Arvin.
"Iya, jangan dilihat dari luarnya, dalamnya juga tidak kalah menarik dari rumah kita sebelumnya" ucap Saras.
"Yasudah ayo kita masuk, ini sudah malam. Sejak turun dari pesawat aku belum istirahat" Keluh Naya.
Saras membuka rumah itu dan mereka bertiga memutuskan untuk istirahat setelah membersihkan ruangan yang akan ditempati itu.
.
Keesokan paginya.
"pagi Bu, Ibu hari ini udah mulai kerja? " tanya Naya.
"Hmm, iyaa. Kemarin saat di yayasan kebetulan langsung ada panggilan jadi langsung disuruh kerja hari ini" jelas Naya sembari mengambilkan sarapan untuk Arvin.
"Sekolah kita gimana ibu? " tanya Arvin.
"Gimana kalau besok ibu temani kalian mendaftar disekolah terdekat sekitar sini? " tawar Saras.
"Boleh juga Bu, tapi gimana? Masa iya ibu baru kerja sehari langsung tidak masuk" balas Naya.
"Nah iya tu Bu, mending kita sendiri aja" jawab Arvin.
"Tidak apa apa, ibu bisa ijin satu hari saja. Pendidikan kalian jauh lebih penting dari ini" ucap Saras sambil tersenyum.
"Baiklah Bu, asal ibu tidak keberatan kami akan mengikuti apa mau mu" ucap Naya.
Hari itu Naya dan Arvin memiliki agenda bersih bersih rumah sebelum kembali menginjak bangku pelajar. Saras pergi bekerja menjadi asisten rumah tangga yang lokasinya tidak begitu jauh bila naik kendaraan.
__ADS_1
Tempat Kerja Saras.
.
"Assalamualaikum" ucap Saras sambil mengetok pintu.
"Wa'alaikumssam" jawab pemilik rumah yang ada disana.
"Saya Saras, asistan yang dikirim yayasan kesini nyonya" ucap Saras.
"Oh baiklah silakan masuk dulu" jawab Pemilik rumah hangat.
Pemilik rumah itu merupakan seorang wanita paruh baya. Ia berada dirumah mewah dan megah itu seorang diri karena kedua anaknya berada diluar negeri. Satu mengikuti suaminya dan yang satunya sedang menjalankan bisnis keluarga setelah menyelesaikan pendidikannya.
Tentu saja ia sangat kesepian. Kebetulan asisten yang sebelumnya mengidap penyakit berbahaya yang mengharuskan dirinya untuk beristirahat dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga ia memilih asisten yang baru untuk menggantikannya.
Wanita itu menyambut asisten barunya dengan ramah.
Saras mendudukan dirinya di sofa setelah menerima titah dari pemilik rumah.
"Saya dari kota yyy" jawab Saras.
"Oh begitu, Kamu mulai kerja disini hari ini. Tugas kamu membersihkan rumah, memasak dan menyiapkan kebutuhan saya" jelas wanita itu.
"Baiklah nyonya" jawab Saras menunduk hormat.
Dilihat dari pandangannya sepertinya wanita itu menyukai sikap Saras yang begitu lembut ,hangat, dan elegan. Wajar saja Saras dapat mudah mengambil hati Nyonya karena ia sendiri pernah menjadi jebolan Nyonya muda dalam waktu yang lumayan lama, namun sekarang ia harus kembali membuka lembaran baru dimulai dari halaman nol.
"Panggil saja saya Ibu, kamu seperti anak saya pasti usiamu tidak jauh beda dari usia anak saya yang pertama. Nama saya Rina Larasati" ucap wanita itu.
"Baiklah Bu Rina" jawab Saras.
"Kalau boleh tahu kamu disini sendiri atau membawa anak? " tanya Rina
"Saya membawa anak Bu, saya memiliki 2 anak" jawab Saras.
__ADS_1
"Ohya, anak kamu kelas berapa? " tanya Rina.
"yang sulung kelas 2 SMA dan yang bungsu kelas 3 SMP" jawab Saras.
"Hari ini apakah mereka sekolah? " tanya Rina.
"Belum Bu, rencananya saya besok mau menemani mereka mencari sekolah yang dekat dengan rumah" jawab Saras.
"Kalau begitu biarkan kedua anakmu bersekolah di sekolah terbaik disini " tawar Rina.
"Terimakasih atas tawarannya Bu, sepertinya saya akan memasukkan mereka kesekolah negeri biasa" jawab Saras.
"Tidak, jangan begitu. Pendidikan anak itu penting. Kamu harus memasukkan anakmu ke sekolah itu " ucap Rina.
"Maaf Bu, tapi sepertinya saya tidak bisa. Masa hidup saya disini juga masih lama" ucap Saras lembut mengingat keuangan mereka.
"Oohh, begitu. Jangan khawatir, biaya sekolah anakmu biar saya tanggung. Ini hanya masalah kecil saja kamu tidak perlu sungkan untuk mengatakannya" Ucap Rina seakan mengerti maksud ucapan Saras.
"Bagaimana mungkin saya harus menerima bantuan ibu yang cukup besar ini? Bahkan bila dibayar dengan gaji saya pun tidak akan cukup. Saya baru mulai bekerja hari ini dan saya langsung dibantu hal ini" ucap Saras tak enak hati.
"Bukan jadi masalah, saya lihat kamu berasal dari keluarga yang baik baik" ucap Rina sedikit menyindir ingin tahu.
"Benar Bu" Ucap Saras sambil tersenyum.
"Maka dari itu kamu tidak perlu khawatir apalagi sungkan. Saya ikhlas membantunya dan anggap saja saya seperti keluarga baru karena disini saya seorang diri. Kedua anak saya tinggal di luar negeri" ucap Rina.
"Kalau begitu sekarang ibu tidak akan sendiri karena saya akan disini membantu pekerjaan Ibu" jawab Saras.
"Kamu benar. Bagaimana dengan tawaran saya tadi? Saya tidak mengharap imbalan apapun. " Ucap Rina tegas sedikit memaksa.
Entah kenapa Rina begitu ngotot ingin memasukkan kedua anak Saras dalam sekolah terbaik dikota xxx. Rina seperti sudah terlalu dekat dengan keluarga Saras padahal kenyataannya ia baru pertama kali bertemu dan itu hanya dengan Saras saja.
"Tapi Bu......" ucap Saras terpotong.
.
__ADS_1
.