Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung

Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung
BAB 10


__ADS_3

Happy Reading🤗


...🌹🌹🌹...


Kejadian di depan cafe sebelumnya yang mengakibatkan Mandala hampir saja terserempet mobil. Ismalia yang menolong lalu mendorong Mandala hingga terjatuh sedikit cedera di bagian kening kepala akibat terbentur pembatas hingga mengeluarkan darah dan pingsan.


Mandala kemudian di bawa ke rumah sakit di masukkan ke ruangan IGD untuk melakukan pemeriksaan. Kemudian di pindahkan ke ruang rawat inap. Cukup lama Mandala pingsan akhirnya tersadar juga.


Saat mandala tiba-tiba meringis kesakitan dibagian kening lalu tanpa sengaja secara bersamaan tangan Mandala bersentuhan tangan dengan Ismalia. Ketika Ismalia ingin memegang kening Mandala. Saling bertatapan pun terjadi cukup lama.


Tiba-tiba pintu terbuka sangat kencang mengkagetkan Ismalia dan Mandala dari saling bertatapan.


Brakkk


Tampak Erika yang dengan panik melihat sang ayah terbaring di ranjang lalu berlari mendekati dan memeluk sang ayah. Tanpa ia sadari bahwa disebelahnya ada sahabatnya Ismalia. Ismalia menggeser posisi biar leluasa Erika mendekati sang ayah dan memperhatikan Erika yang menangis sesugukan.


"Ayahhh... ayah gak papa kan. Apa lukanya parah?" Tanya Erika dengan panik sambil mengecek luka yang lain.


Mandala tersenyum "Ayak gak papa sayang. Ini hanya luka ringan. " ujar Mandala menenangkan Erika.


Tidak lama disusul sang nenek masuk ke ruangan tampak melihat sang anak Mandala dan sang cucu Erika berpelukan kemudian menghampiri ranjang.


"Assalamualaikum, Mandala." mendekati Mandala dengan panik "Kamu tidak papa nak? Kenapa bisa begini nak?" Tanya nenek Rita.


"Aku gak papa kok buk. Cuma luka kecil doang ntar juga sembuh." ucap Mandala menenang sang ibu yang terlihat khawatir dan panik.


Saat pandangan mengarah ke lain, sang nenek kaget melihat Ismalia berada dalam ruangan.


"Ismalia. Kamu ada di sini nak?" Tanya nenek Rita merasa heran.


Saat nenek Rita menyebutkan nama Ismalia, Erika menengok ke sampingnya dengan kaget dan juga heran.


"Lohh, Is. Kamu ada disini?" tanya Erika heran.


"Eh... iya Rik Nek. Tadi membawa pak Mandala karna kecelakaan tadi dan dibantu oleh rekan kerja om Mandala." jawab Ismalia yang sedikit sopan.


"Iya buk, rika. Dia udah nolongin aku yang hampir kesempet mobil di depan cafe tadi." menjelaskan ke Erika dan nenek Rita.


"Makasih ya nak Ismalia. Kamu udah nolongin anak nenek." ujarnya mengucapkan terima kasih.


"Ya Is. Makasih ya udah nolongin bokap gue kalau gak ada lo gak tau deh apa jadinya bokap gue." ucap Erika memegang tangan Ismalia.


"Iya sama-sama Erika...Nenek. " jawab Ismalia menunduk sopan.


"Ohh ya nek, Erika. Berhubungan Erika dan nenek udah ada di sini. Ismalia pamit ya pulang karna mau bantuin ayah di rumah makan." ucapnya izin pulang.


Mendekati Ismalia "Ohh ya nak. Sekali lagi makasih ya nak Ismalia." sambil memeluk Ismalia.


"Ya sama-sama nek. Kalau gitu Is pulang dulu ya nek, rik, om. Assalamualaikum" ucapnya sambil mencium tangan nenek Rika dan Mandala.


"Wa'alaikumussalam." jawab serentak nenek Rita, Mandala, dan Erika.


Ketika Ismalia berjalan keluar mendekati pintu Mandala terus memandangi punggung Ismalia ketika menyentuh ganggang pintu. Pandangan terhenti ketika nenek Rita memanggil kembali Ismalia.


"Oh ya nak Is. Kamu pulangnya pake apa?" Tanya nenek Rita.


"Naik ojek, nek. Soalnya sepeda Is tertinggal di depan toko buku tadi jadi Is harus kesana dulu buat ambil sepeda." jawab Ismalia.


"Kalau gitu gimana kalau diantar aja nak Is. Nanti sepedanya biar pak sopir yang antar sepeda kamu ke rumah."


"Ehh...gak usah nek. Biar Is naik ojek aja."


"Kalau gitu ke toko bukunya diantar sopir aja ya. Gak ada penolakan?" ujar nenek menegaskan.


"Baiklah nek. Makasih. Kalau gitu Is pamit."


"Iya. Hati-hati. Erika kamu antar temanmu sampe depan." suroh sang nenek ke Erika.

__ADS_1


"Baik nek." diantar Erika.


Sesampai di depan sudah terlihat sopir keluarga Mandala menunggu. Sopir membukakan pintu.


"Aku pulang dulu ya Erika." pamit Ismalia.


"Oke. Lo hati-hati ya." jawab Erika.


Hanya diangguki oleh Ismalia.


...🌹🌹🌹...


Di dalam ruang rawat inap. Sang nenek Rita tengah berbicara dengan Mandala membahas teman Erika yaitu Ismalia.


"Nak Ismalia baik ya anaknya. Sopan, lembut, cantik, manis. Beruntung Erika berteman dengannya. Gak seperti temannya yang sebelumnya." ucap sang nenek Rita.


Mandala hanya mendengar percakapan sang ibu yang memuji Ismalia sambil memainkan ponsel karena sebelumnya ia tidak sempat memberitahu sekretarisnya tentang kecelakaan yang dialaminya.


Sang nenek Rita menjadi sedikit kesal karena ia bicara tanpa di respon dan didengar oleh Mandala.


"Kamu kenapa sih diam terus dari tadi. Ibu ngomong bukannya didengerin." ujar nenek Rita kesal.


Mandala kembali beralih menatap sang ibu yang terlihat kesal.


"Aku dengerin kok buk. Walaupun mata aku ke ponsel." jawab dingin.


"Iya deh iya." jawab ketus.


Terdengar bunyi ganggang kunci diputar tampak Erika memasuki ruang dengan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum. " masuk ke dalam menghampiri sang ayah dan nenek.


"Wa'alaikumussalam, bagaimana? Nak Is udah pulang? " Tanya sang nenek Rita.


"Udah kok aman terkendali."


Beralih melihat sang ayah lalu bertanya


"Udah kok sayang. Ayah udah merasa sedikit baikan. Kemungkinan besok sudah boleh pulang." ujar sang ayah Mandala.


Menghembus nafas sedikit lega "Alhamdulillah."


"Alhamdulillah." sahut sang nenek lega.


Pada pagi hari sang nenek mengemas pakaian Mandala di rumah sakit. Karena pagi ini Mandala sudah diperbolehkan untuk pulang. Erika tidak ikut mengantar Mandala pulang sebab ia harus pergi ke sekolah.


Erika sebenarnya memaksa tidak ingin pergi ke sekolah. Ketika sang nenek menegaskan Erika harus pergi ke sekolah. Akhirnya Erika menuruti semua percakapan sang nenek.


Setiba di rumah memasuki halaman kediaman Mandala yang sangat besar terlihat sisi kanan terdapat susunan berbagai macam jenis bunga dengan di tengahnya sebuah pondok mini untuk bersantai.


Selain itu terdapat beberapa pohon buah-buahan seperti mangga dan strawberry. Berlantaikan rumput yang pendek bak seperti karpet menampakkan keindahan taman depan di kediaman Mandala.


Mereka dibukakan oleh sopir turunlah Mandala dan sang ibu. Mandala di papah oleh sang sopir menuju ke dalam rumah menaiki tangga kemudian ke kamarnya untuk beristirahat.


Tak lupa juga sang pembantu mengambil tas yang dibawa oleh sang nenek. Sedangkan pembantu yang menyiapkan air untuk sang nenek yang sedang duduk di meja makan dan Mandala yang sedang berada di kamarnya.


Di sekolah tampak Erika sedikit cemberut dari datang ke sekolah sampai masuk bahkan dalam proses belajar. Terdengar suara bel berbunyi siswa-siswi untuk beristirahat.


Ismalia, Tania, Erika, Rio, dan Rehan sudah berada di kantin sekolah. Ismalia dan Tania merasa heran dengan sikap Erika. Sedangkan Rio dan Rehan memilih fokus ke makanan mereka.


"Erika. Lo kenapa kok tu muka gak enakan banget. Gak ekspresi langsung." Tanya si Tania sambil menyeruput kuah bakso.


"Iya kamu kenapa, Erika. Apa kondisi ayah kamu cukup parah? timpal Ismalia.


"Ha. Ayah lo kenapa, Rika? Tanya Tania merasa kaget.


"Ayahnya hampir terserempet mobil." jawab Ismalia.

__ADS_1


Erika tidak bergeming masih menunduk raut muka cemberut memainkan baksonya dengan sendok.


"What! trus trus trus." ujar panasaran Tania.


"Terus ya masuk rumah sakit." jawab Ismalia.


Timpal Ismalia "Kamu kenapa sih, Rik?"


Tania mengalihkan pandangan ke Erika menatap heran.


Menghela nafas dengan raut muka kesal "Gue lagi kesel sama nenek. Masa gak ngebolehin jemput ayah di rumah sakit."


Sedikit kaget Tania juga menghela nafas. "Lahh... gue kira apaan." lanjut memakan bakso.


"Yang buat kamu kesal tu apa, Rik? Trus ayah kamu pulangnya kapan" Tanya Ismalia.


"Pulangnya pagi tadi, gak dibolehin sebab kita masuk sekolah." ujar Erika dengan raut wajah cemberut.


Menggelengkan kepala dan menghela nafas merasa heran dengan sahabatnya satu ini.


"Tentu saja nenek gak bolehin karna sebentar lagi kita ujian nasional. Jadi, nenek gak mau nilai kamu jelek karena gak masuk sekolah cuma sehari." Ismalia menasehati dan sambil menggelengkan kepala.


Setelah menghabiskan semua makanan. Mereka semua kembali ke ruang kelas karena tinggal 1 menit lagi akan berbunyi bel masuk kelas. Untuk jam terakhir gurunya tidak bisa hadir akhirnya mereka hanya di beri tugas.


Apabila sudah selesai sudah diperbolehkan untuk pulang dan tugasnya di kumpulkan lalu di letakkan di ruang guru tepatnya di meja guru mata pelajaran bersangkutan.


Erika saat tiba di rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamar karena dilihatnya seisi rumah tampak sepi bahkan sang pembantu tidak berada di dapur. Setelah meletakkan tas nya di meja belajar. Ia menghempaskan diri di ranjang empuknya posisi telentang lalu memejamkan mata sejenak.


Sejenak memejamkan mata. Ia melirik jam di nakas menunjukkan pukul 4 sore. Ia pun turun langsung masuk ke kamar mandi karena ia sudah melewatkan waktu Ashar.


Krekk


Pintu terbuka tampak Erika sudah dengan pakaian santainya menuju gantungan mukena untuk menunaikan kewajiban shalat Ashar.


Setelah menunaikan shalat Ashar. Erika turun ke bawah dilihatnya sang nenek sedang menonton tv acara Drama Malaysia yang berjudul Andai Itu Takdirnya. Sedangkan sang pembantu sedang bergulat di dapur.


Ia menghampiri sang nenek duduk di sampingnya. Sang nenek yang tampak serius menonton sedikit terlonjak kaget dengan kehadiran Erika yang duduk di dekat. Erika pun ikut menonton sambil memakan cemilan tanpa ada yang berbicara.


Mandala untuk hari ini tidak pergi ke kantor karena ia harus ekstra istirahat. Ia akan ke kantor pada besok pagi hari. Sekretarisnya sempat mengirimkan pesan.


Bahwa besok akan ada jadwal melakukan survei lapangan di perusahaan yang akan di bangunnya. Serta memeriksa berkas untuk persiapan besok pagi yang dikirim melalui emailnya.


Setelah selesai dengan aktivitasnya. Ia langsung turun ke bawah melihat waktu menunjukkan makan malam. Dilihatnya sang pembantu masih memasak dan hanya sebagian makanan yang terhidangkan. Ia melihat sang ibu dan Erika sedang menonton televisi sangat khusuk. Tanpa menyadari Mandala telah berada di sebelahnya.


"Serius banget nonton." menatap keduanya.


Hanya melirik sebentar lalu kembali pandangannya ke layar televisi tanpa menjawab perkataan Mandala. Mandala merasa tidak mendapat jawaban akhirnya memainkan ponselnya saja.


10 Menit kemudian sang pembantu menghampiri mereka yang tengah asik menonton dan memainkan ponsel untuk makan malam. Mereka pun akhirnya beranjak menuju meja makan. Tanpa bicara apapun hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu.


Cukup lama terdiam, Erika mulai bertanya dengan sang ayah.


"Yah. boleh nanya gak?"


Menatap sang anak sambil menyendokkan nasi ke mulut "Mau nanya apa, sayang?"


"Ayah emang bener ya gak mau nikah lagi." Tanya tiba-tiba Erika.


Membuat Mandala menghentikan sedikit aktivitas makannya menatap lekat ke sang anak Erika. Sedangkan sang nenek hanya menyimak pembicaraan mereka masih melanjutkan makannya.


Bersambung.....


Apakah jawaban dari Mandala? Terus baca di bab berikut.


Sebelumnya silahkan dukung like, komen, vote, dan subscribe ya😊biar semangat update-nya🤗


Mohon maaf kalimatnya banyak ke typo😅

__ADS_1


Catatan:


Sekitar 5 hari lagi cerita saya selanjutnya akan rilis berjudul 8 Tahun Cinta Dalam Diam yang meceritakan kisah nyata dari saya sendiri memendam selama 8 tahun.🙂


__ADS_2