
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Ketika Ismalia berhasil keluar dari tempat penyekapan menuju ditengah-tengah hutan. Namun kejadian naas menimpa Ismalia kembali. Ismalia berlari dan bersembunyi dari kejaran 3 pria para penculik membuatnya ia terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam tanpa diketahui oleh ketiga pria tersebut. Ketiga pria tersebut terus mencari kesana-sini tapi tidak kunjung ketemu.
Di sisi jurang Ismalia yang terdapat dibawah sana. Namun syukurnya jurang tersebut ternyata tidak terlalu dalam. Ismalia tidak lama kembali tersadar dan tubuhnya sedikit luka dibagian pergelangan tangan dan kaki. Ismalia tetap mencoba untuk berdiri melanjutkan perjalanan menemukan jalan keluar sebelum menjelang malam.
Cukup lama Ismalia yang berjalan hampir berada di tepi hutan dan melewati sedikit perbukitan. Pergerakan Ismalia membuatnya sedikit kesulitan karena pakaian ia guna masih memakai kebaya dan sebagian tubuhnya ada yang terluka. Ia sering berhenti untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Lapar dan dahaga ia tahan karena baginya ia bisa keluar dari hutan dan menemukan jalan raya.
Serasa letihnya sudah hilang, Ismalia melanjutkan kembali perjalanan. Tanpa disangka-sangka akan usaha dan doa. Ismalia akhirnya berhasil melewati perbukitan menemukan jalan raya. Ismalia menitikkan air mata karena akhirnya bisa keluar dari hutan. Tinggal hanya mencari tumpangan mobil yang lalu lalang untuk bisa sampai di kediaman Mandala.
Ismalia kembali menelusuri jalan raya dengan tertatih dan nafas yang sudah ngos-ngosan. Dari arah belakang, terdapat mobil truk membawa angkutan sawit menuju kota. Senyum di bibir Ismalia terbit melihat mobil truk. Ismalia mencoba menghentikan mobil truk tersebut. Atas keberuntungannya, mobil tersebut berhenti tepat di depan Ismalia. Sang sopir yang sudah berusia cukup tua tersebut pun bertanya ke Ismalia.
"Ya, dek. Ada apa?" tanya sang sopir.
"Pak, bolehkah saya menumpang menuju kota. Saya habis diculik seseorang dan melarikan diri. Jadi tolong saya, pak?" jawab Ismalia.
"Bagaimana adek bisa diculik?" tanya sang sopir lagi.
"Panjang kalau diceritakan, pak. Jadi apa saya boleh minta tolong untuk menumpang ke kota, pak."
"Boleh, dek. Mari dek, kebetulan sekali bapak menuju kota. Nanti kasi tau aja ke bapak alamat adek dimana. Nanti bapak antar sampai rumah."
"Alhamdulillah...terima kasih, pak."
"Iya, dek."
Ismalia pun menaiki truk tersebut sampai menuju kediaman Mandala. Sang supir yang Ismalia tumpangi bernama Bapak Sutiono. Ia seorang buruh sawit bertugas mengangkut sawit dari perkebunan menuju kota. Memiliki dua orang putri yang tinggal di kota bersama sang istri. Bapak Sutiono menjadi buruh sudah belasan tahun lamanya. Untuk pendapatannya agak lumayan untuk menghidupi anak dan istri hingga kebutuhan sang putri.
"Adek habis nikah ya, kok pakai pakaian pengantin?" tanya Bapak Sutiono.
"Iya, pak. Saya diculik disaat saya hendak menuju kerumah calon suami saya."
"Kok bisa, dek. Dan bagaimana kamu bisa bebas?"
"Saya juga tidak tahu, pak. Ketika saya mau masuk ke dalam mobil jembutan dari pihak calon suami saya. Tiba-tiba seorang pria berjaket hitam membuka pintu lalu membekap mulut saya. Setelah itu saya tidak ingat apapun. Setelah sadar saya sudah berada di suatu tempat dan posisinya ditengah hutan. Saya akhirnya mencoba melepaskan diri dan mencari celah untuk melarikan diri. Tapi Alhamdulillah, saya bisa lolos menelusuri jalan hingga menemukan jalan raya, pak." jelas Ismalia.
"Oh begitu. Untuk penculiknya apa adek mengenalnya?" tanya Bapak Sutiono.
"Seperti tidak, pak. Saya tidak mengenalinya."
"Saran bapak, setelah ini secepatnya adek melapor ke pihak polisi jelas semua sampai tempat penyekapan adek. Biar para penculik tersebut cepat tertangkap."
"Ya, itu sudah pasti pak. Dan saya rasa juga pihak keluarga saya juga sudah melapor ke pihak polisi."
"Ya, dek. Oh ya nama adek siapa?" tanya kbali Bapak Sutiono.
"Nama saya Ismalia, pak."
"Oh iya. Dan bapak, Bapak Sutiono. Bapak sebenarnya juga tinggal di kota bersama istri dan anak bapak. Cuma bapak kerja sebagai buruh angkutan sawit."
"Oh begitu."
Diantara kedua tidak ada percakapan kembali. Bapak Sutiono tetap fokus menyetir mobil. Sedangkan Ismalia sudah terlelap karena letih akibat perjalanannya tadi. Bapak Sutiono merasa iba dan kasihan melihat keadaan Ismalia. Ismalia dan anak Bapak Sutiono agak seumuran. Itulah yang membuat Bapak Sutiono merasakan seperti itu.
...🌹🌹🌹...
Di lokasi penyekapan, Sofia tiba di tempat sedang menampar dan memarahi anak buahnya. Sofia tampak marah besar hingga menghempaskan semua benda yang berada di dalam kamar penyekapan Ismalia rumah tua tersebut.
__ADS_1
"Akhhh....Tugas kalian apa saja. Menjaga gadis ingusan saja kalian tidak becus." tanya Sofia marah.
"Ma..maaf, Nya. Kami sudah menjaga ketat dan kami tidak tahu bagaimana bisa ia bisa lolos."
"Kalian semua memang tidak becus, saya akan bilang ke Gino biar upah kalian dipotong."
"Ma..maaf, Nya. Jangan, kami akan berusaha mencari gadis itu lagi sampai ketemu."
"Sudah terlambat, ia pasti sudah berada di jalan raya menuju kota. Kalau sudah begini semakin berbahaya." ucap Sofia.
"Kalau begitu kalian ke kota sekarang. Saya mau kalian cari dia sampai dapat. Jika sudah dapat siksa dia lebih lagi hingga ia tidak bisa kabur lagi. Paham kalian!" sambung Sofia lagi.
"Baik, Nya." jawab 3 pria berjaket hitam tersebut yang masih stay ditempat.
"Ya sudah, kalian tunggu apa lagi. Cari sana." perintah Sofia.
"Ba...baik, Nya."
Ketiga pria tersebut kembali mencari keberadaan Ismalia yang lolos. Sofia juga ikutan kembali menuju ke kantor. Siapa tau fikirnya ia bisa mendapat beberapa informasi atas kembalinya Ismalia. Secara bosnya merupakan rekan kerja Mandala.
Mobil yang ditumpangi Ismalia kini telah tiba di kota. Bapak Sutiono berhenti sebentar untuk membeli makanan dan minuman untuk Ismalia yang tertidur. Ismalia yang begitu pulas tidur, menjadi terbangun karena mobil berhenti dan suara pintu tertutup. Dilihatnya disekeliling, mereka sudah tiba di kota sebuah warung makan.
Sekitar 5 menit, Bapak Sutiono kembali membawa dua buah kantong berisi makanan dan minuman. Satu kantong ia berikan ke Ismalia. Ia tahu bahwa Ismalia pasti sangat kelaparan akibat perjalanannya tadi di hutan.
"Ini makanlah, tadi bapak beli makanan dan minuman untukmu. Bapak tahu kamu pasti lapar." ujar Bapak Sutiono.
"Kenapa bapak repot-repot, kita kan sebentar lagi tiba. Biar saya makan dirumah saja."
"Tidak...tidak repot. Untuk sampai ke rumahmu memerlukan beberapa jam lagi. Dan makanlah, tidak baik menolak rejeki. Kamu pasti belum makan selama kamu menelusuri hutan tadi dan kamu bisa sakit nanti."
"Baiklah, pak. Terima kasih banyak karena sudah menolong saya sampai-sampai bapak membelikan makanan untuk saya."
"Sama-sama, dek. Tapi jangan seperti itu kamu sudah seperti anak bapak."
...🌹🌹🌹...
Di kediaman Mandala, Mandala yang sedang duduk di ruang tamu mengotak-atik laptop di pangkuannya. Sesekali pandangannya tertuju ke ponselnya berharap sebuah panggilan masuk berupa informasi mengenai Ismalia. Namun ternyata benar, tidak lama ponselnya berdering menampilkan nama Vino. Mandala segera mengangkat penggilan Vino meletakkan laptopnya diatas meja.
"Hello, Assalamualaikum. Bagaimana Vino apa sudah ada informasi mengenai nomor ponsel tersebut?" tanya Mandala.
"Sudah, pemilik nomor misterius yang menghubungi calon istrimu. Sekarang dilihat dari titik sebelumnya pemilik nomor ponsel ini sepertinya berada jauh dari kota ini. Sepertinya didaerah jauh dari daerah pemukiman." jelas Vino.
"Maksud kamu. Jauh dari kota ini dan pemukiman seperti hutan seperti itu?" tanya Mandala.
"Ya bisa jadi seperti itu."
"Kalau untuk lokasi sekarang bagaiman?" tanya Mandala lagi.
Vino kembali mengecek laptopnya melihat posisi sekarang pemilik nomor tersebut.
"Sekarang...sebentar. Yah... Sekarang berada di kota ini."
Mandala menjadi penasaran siapa yang mencoba menculik Ismalia.
"Kalau untuk data pemilik nomor ponsel itu, apakah sudah ketemu?" tanya Mandala dengan rasa penasarannya.
"Sebentar...tunggu sebentar. Saya mencoba mengeceknya mudahan bisa."
Vino kembali mengecek nomor ponsel tersebut untuk mencari data pemiliknya. Untuk prosesnya memang tidak sebentar, namun tanpa disangka. Pencariannya telah berhasil menampilkan data pribadi pemilik nomor ponsel tersebut.
__ADS_1
"Alhamdulillah, dapat."
"Alhamdulillah. Jadi bagiamana?"
"Pemilik nomor tersebut bernama Sofia. Ia bekerja sebagai sekretaris pribadi dari CEO Perusahaan RG yang bernama Rico."
"Apa...." jawab Mandala kaget tidak percaya.
"Apa kamu mengenalnya?"
"Ya...saya mengenalnya. Saya tidak tahu akibat terobsesinya hingga berani berbuat seperti ini." ucap Mandala marah.
"Jika kamu mengenalnya sebaiknya kamu cari dia."
"Kalau begitu saya hubungi Nazir dulu dan untuk informasi tadi boleh kirim saja ke saya. Dan sekali lagi terima kasih."
"Baiklah, sama-sama. Perlu apa-apa hubungi saja saya."
"Baiklah."
Mandala mengakhiri panggilan dan menghubungi Nazir untuk menemaninya mencari keberadaan Sofia. Mandala langsung menjangkau kunci mobil yang terletak diatas meja menuju kerumah Nazir. Dengan bekal petunjuk dan bukti yang ia miliki memudahkan menemukan keberadaan Ismalia.
Berangkatnya mobil Mandala tanpa ia sadari sebuah truk berhenti didepan rumah Mandala. Tumpangan Ismalia telah sampai, Ismalia merasakan senang karen ia bisa lolos dan tiba dikediaman Mandala. Secepatnya menceritakan semuanya ke Mandala mengenai penculikan tersebut yang dilakukan oleh Sofia.
Sebelum memasuki rumah Mandala. Tidak lupa Ismalia mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sutiono karena mau memberikan tumpangan dan mengantarnya.
"Terima kasih karena bapak sudah memberikan saya tumpangan sampai mengantarkan saya kesini."
"Iya, sama-sama. Ingat pesan bapak tadi segera ceritakan dan melapor ke pihak polisi biar penculiknya jera."
"Ya, pak. Saya akan segera membuat laporan. Apa bapak tidak masuk dulu?"
"Ehh...tidak perlu. Bapak harus segera mengantarkan angkutan dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 7 malam. Takutnya nanti saya pulangnya agak kemalaman."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih bapak."
"Ya, dek. Kapan-kapan datanglah ke rumah bapak ya?"
"In Syaa Allah, pak. Saya akan datang ke rumah bapak."
"Kalau begitu bapak pamit dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati pak."
Waktu memang menunjukkan pukul 19.45 wib. Begitu lama perjalanan ia tempuh dan berakhir dengan tiba di kediaman Mandala. Ismalia segera memasuki rumah mulai mengetuk pintu tidak lupa memberi salam.
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
Terdengar seseorang membuka kunci pintu dan membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam..."
Sang pembantu Bik Inah menjadi kaget dengan kedatangan Ismalia. Memeluk Ismalia dengan tangis haru, melihat penampilan Ismalia dari atas hingga bawah begitu lusuh. Terdapat luka sana sini. Bik Inah membawa Ismalia masuk dan memanggil semua orang. Mendengar teriakan Bik Inah dari bawah, membuat semua terbangun memantau. Tiba-tiba semuanya terkejut tanpa berkata termasuk orangtua Ismalia.
__ADS_1
...Bersambung.......
Jangan lupa like, vote, komen, follow dan subscribe ya readers 🤗 Maaf atas keterlambatan update-nya.