Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung

Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung
BAB 56


__ADS_3

Happy Reading 🤗


...🌹🌹🌹...


Setelah penangkapan Gio yang dilakukan oleh salah satu anak buah Nazir. Gio dibawa ke suatu tempat sebelum diserahkan ke kantor polisi. Memberikan sedikit pelajaran sudah pasti yang dilakukan oleh Mandala dan Nazir. Melihat wajah Gio, seketika membuat darah Mandala mendidih. Ingat akan perlakuan yang dilakukan Gio terhadap Ismalia.


Amanah Mandala mereda karena ada pihak yang lebih berwenang yaitu polisi. Gio akhirnya diserahkan ke kantor polisi. Menyerahkan beberapa bukti kuat yang dimiliki oleh Mandala dan Nazir. Hanya tinggal laporan selanjutnya dari sidang mahkamah agung tentang keputusan masa penjara Gio.


Perlahan-lahan orang yang mengganggu Ismalia dan keluarganya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah di ringkus dan dimasukkan ke dalam penjara. Kini hanya kebahagiaan yang sebentar lagi menyertai keluarga mereka. Yaitu keputusan penetapan tanggal pernikahan antara Ismalia dan Mandala.


Seperti kesepakatan sebelumnya antara keluarga kedua belah pihak. Pernikahan antara Ismalia dan Mandala akan berlangsung setelah kelulusan Ismalia. Pernikahan mereka akan dilaksanakan dikediaman Mandala sendiri.


Keadaan sudah aman, Ismalia diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Rita pada awalnya melarang Ismalia untuk pulang. Karena terlanjur begitu sayang dengan Ismalia. Namun pada akhirnya, atas bujukan Ismalia. Rita mengizinkan Ismalia pulang kerumahnya.


Tepat di hari Selasa besok, Rita dan Bramantio berkunjung kediaman Ismalia. Untuk penetapan tanggal pernikahan mereka. Mereka disambut ramah oleh keluarga Ismalia. Tampak Mastiara dan Mardian duduk bersama Rita dan Bramantio. Ismalia keluar membawa nampan berisi air minum dan cemilan.


Ismalia menghidangkan ke atas meja dengan duduk bersimpuh. Lalu Ismalia duduk di samping Mastiara mendengarkan keputusan mereka.


"Begini, buk. Dikarenakan Ismalia ini sudah lulus SMA. Seperti kesepakatan sebelumnya, kami datang ke sini ingin menetapkan tanggal pernikahan mereka ke Bu Mastiara dan Pak Mardian." ucap Rita.


"Ya, betul Bu Rita. Seperti biasa, keputusan ini hanya ada di tangan anak kami Ismalia. Kami selaku orangtua hanya menyetujui saja jika itu hal baik." jelas Mastiara.


"Menurut Bu Rita, rencana pernikahan dilaksanakan tanggal berapa ya?" tanya Mastiara lagi.


"Jika Bu dan Bapak setuju, kami berencana mengadakan pernikahan mereka pada hari Jumat ini."


Mastiara, Mardian, dan Ismalia saling pandang memandang.


"Maaf buk, jika ini begitu cepat. Tapi bukankah hal baik sebaiknya dilaksanakan secepatnya. Untuk pakaian mereka biar itu menjadi urusan kami."


Mastiara menengok ke arah Ismalia. Meminta persetujuan sang anak akan keputusan dari Rita.


"Bagaimana, Is?" tanya Mastiara.


"Jika itu yang terbaik, Is menyetujui buk." jawab Ismalia.


"Alhamdulillah." ucap serentak.


"Terima kasih Nak Is. Kalian tenang saja, untuk keperluan kami yang urus. Kalian hanya tinggal mempersiapkan Ismalia saja." jelas Rita.


"Dan untuk make up biar aku yang pilih." tambah Erika.


"Kamu itu." ucap Rita.


"Kenapa? Hari bahagia itu harus milih MUA makeup yang profesional, nek. Biar cantik, kan Is?" tanya Erika.


"Sudah kamu jangan jawab pertanyaan Erika ya." ujar Rita.


"Ihh...nenek." ujar Erika merajuk.


Semua yang berada diruang kediaman Ismalia ketawa atas gurauan mereka. Rita dan lainnya menjamu hidangan yang sediakan tadi. Sampai masanya jam siang, keluarga Ismalia mempersilahkan untuk makan siang bersama. Hanya lauk sederhana dan seadanya. Seperti ayam semur, sayur capcai, oseng kangkung, sambal goreng telur, dan lalap.


Rita dan lainnya tidak mempermasalahkan hidangan yang disediakan. Justru bagi keluarga Rita masakan seperti inilah yang menggugah selera makan. Apalagi ia sangat jarang memakan masakan kampung. Mereka makan dengan begitu sangat lahap sekali. Selesai makan siang, Erika membantu Ismalia mengemas piring bekas mereka makan.


"Akhirnya kamu akan menjadi Ibu Sambung aku, Is. Aku senang sekali, seumuran lagi, berasa seperti teman." ucap Erika.


"Bukannya kita memang teman ya?" tanya Ismalia.


"Memang. Cuma status teman jadi ibu sambung. Teman yang selalu stay selamanya dirumah." jelas Erika.


"Kamu ada-ada saja. Setelah lulus ini apa rencana kamu?" tanya Ismalia.


"Rencana apa?" tanya balik Erika.


"Rencana untuk kuliah lah."


"Ohh...itu. Aku maunya kuliah dekat sini saja. Tidak perlu jauh-jauh, soalnya aku tidak mau jauh dari kamu. Calon ibuku yang cantik." goda Erika.


"Erika...kamu itu." ucap Ismalia merajuk.


"Ya...maaf. Tapi kamu memang akan jadi calon ibu aku kan?"


"Iya...Tapi...?" ucap Ismalia terjeda.


"Kenapa? Kamu tidak suka?"

__ADS_1


"Tidak hanya saja, mikir bagaimana dengan masa depan saya nanti."


"Hal itu kamu tenang saja, kamu satu kampus kok sama aku. Seperti kesepakatan sebelumnya, ayah juga akan membiayai kuliah kamu nanti. Jadi soal pendidikan tidak akan terganggu." jelas Erika.


"Hmmm....baiklah." ujar Ismalia senyum.


"Nak gitu dong, senyum."


Mereka secepatnya menyelesaikan mencuci piring hingga tidak ada lagi piring kotor. Selesai mereka segera menghampiri Rita, Bramantio, Mastiara, dan Mardian yang sedang mengobrol asyik. Hingga terdengar suara ketawa mereka ke dapur. Entah apa yang mereka bicarakan.


Tidak terasa waktu hampir sore. Rita, Bramantio, dan Erika pamit untuk pulang. Mereka saling bersalaman satu sama lainnya. Meninggalkan kediaman Ismalia melewati jalan kecil untuk menuju mobil yang terparkir. Ismalia menemani sampai didepan jalan. Sampai mereka sudah berangkat pulang.


...🌹🌹🌹...


Sekitar 1 jam kemudian, mobil Bramantio sudah berada di halaman. Rita, Erika dan Bramantio melihat mobil Mandala terparkir. Menandakan Mandala sudah pulang dari kerjanya. Yang lainnya memasuki rumah menuju ke kamarnya masing-masing kecuali Rita. Rita menuju ke kamar Mandala dan mengetuk pintu.


Mandala membuka pintu kamar, mempersilahkan Rita sang ibu masuk ke kamar. Mandala sepertinya sudah selesai mandi dan berpakaian santai. Rita duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan Mandala yang bersisir didepan cermin.


"Man, apa kamu sibuk?" tanya Rita.


"Untuk saat ini tidak. Memang ada apa, Bu?" tanya balik Mandala.


"Ibu mau bilang, tadi ibu, ayah, dan Erika habis dari rumah Ismalia."


"Lalu?" tanya Mandala masih sibuk merapikan rambutnya.


"Ibu habis membahas masalah sebelumnya ke mereka."


"Masalah apa?" tanya Mandala lagi.


"Masalah tentang pernikahan kalian. Dikarenakan Ismalia sudah lulus sekolah. Jadi Ibu secepatnya membahas masalah ini ke keluarga Ismalia. Dan Alhamdulillah, mereka menyetujuinya. Untuk pelaksanaannya tepat di hari Sabtu ini dikediaman kita." jelas Rita.


"Apa itu tidak terlalu cepat, buk?" tanya Mandala duduk di samping Rita.


"Apanya yang cepat? Kan sesuai kesepakatan sebelumnya. Hal baik tidak boleh diperlambat, nanti juga apa kata orang." jelas Rita.


"Jadi bagaimana?" tanya Rita lagi.


"Terserah ibu saja." jawab singkat Mandala.


"Lakukan saja apa yang terbaik untuk Man. Man ikut saja, yang penting kalian senang."


"Yang benar ni?"


"Ya."


"Alhamdulillah kalau begitu. Persiapan semua biar Ibu dan Erika yang urus. Besok kamu jemput Ismalia untuk membeli cincin nikah dan baju pengantin kalian."


"Kenapa harus Man, buk?"


"Ya harus kamu lah. Untuk memilih cincin dan baju pengantin memang harus orangnya yang turun tangan. Biar sesuai dengan selera kalian." jelas Rita.


"Tapi Man besok ke kantor, buk."


"Libur dulu sehari, lusa terserah kamu kalau mau ke kantor. Yang penting jangan besok dan hari Sabtu."


"Baiklah. Besok Man pergi jemput dia di rumahnya."


"Begitu dong. Ya sudah Ibu keluar dulu. Selamat malam."


"Selamat malam juga."


Rita keluar dari kamar Mandala lalu menuju ke kamarnya sendiri. Mandala yang masih stay di atas tempat tidur. Mengubah posisinya menjadi bersandar ke tempat tidur. Memikirkan ucapan dari sang ibu mengenai pernikahan kedua kalinya. Mandala sebenarnya masih ragu mengenai ini. Demi kebahagiaan mereka Mandala siap menjalaninya.


...🌹🌹🌹...


Keesokan harinya, semua anggota keluarga Bramantio berada di meja makan untuk sarapan pagi. Terkecuali Mandala yang belum ikut turun. Wajah mereka semua nampak bergembira lain seperti biasanya. Karena hari bahagia itu hanya tinggal menghitung hari saja tepatnya di hari Sabtu Minggu ini.


"Rik, ayah kamu mana? Tumben sekali belum turun." tanya Rika.


"Mungkin sudah pergi ke kantor lebih awal kali." jawab Erika pandangan ke piring makanannya.


"Ya tidak mungkin, semalam ibu sudah melarang ayah kamu untuk pergi ke kantor hanya hari ini saja."


"Melarang? Memangnya ada apa?" tanya Bramantio yang sedang membaca koran.

__ADS_1


"Ya...pergi membawa Ismalia untuk membeli cincin dan baju pernikahan untuk mereka. Kalau saya yang beli kan tidak sesuai dengan selera mereka. Jadi lebih baik mereka berdua saja yang beli."


"Sangat bagus, nenek. Lalu kita hari ini juga mau kemana, nek?" tanya Erika.


"Kemana ya? Kita ke butik saja, sekalian milih pakaian untuk hari Sabtu nanti." ujar Rita.


"Ya nih, Rika juga mau beli hadiah buat Ismalia untuk hari Sabtu nanti."


"Hadiah apa?" tanya Rita.


"Ada deh, rahasia." bisik Erika ke Rita.


"Kalian itu, cerita sendiri saja tidak mau berbagi. Ya sudah kakek berangkat dulu."


"Bilang saja kamu iri, ini cerita perempuan. Laki-laki mana paham." ucap Rita.


"Iya...iya. Saya berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucap Bramantio pamitan.


"Wa'alaikumussalam." jawab serentak sambil mengalami tangan Bramantio.


Rita masih menatap ke atas arah kamar Mandala. Mandala masih saja belum turun untuk sarapan. Hingga Rita menyuruh Mak Ijah untuk memanggil Mandala yang masih berada di kamarnya. Mak Ijah menuruti memanggil Mandala. Mak Ijah hendak menaiki tangga, Mandala keluar dengan pakaian santai.


Menambah ketampanannya hanya dengan pakaian santai. Mak Ijah kembali menuju ke dapur. Mandala langsung mengambil posisi duduk untuk sarapan pagi. Erika mendelik ke Rita akan penampilan Mandala yang sudah rapi. Mandala yang merasa di perhatikan sedari tadi mulai heran dengan mereka.


"Ada apa? Seperti melihat hal yang aneh. Ada apa?" tanya Mandala sambil menyantap nasi goreng ke mulutnya.


"Ayah rapi begini, mau kemana?" tanya Erika berpura-pura.


"Tidak kemana-mana. Hanya bersantai di rumah. Kenapa?" jawab Mandala santai.


"Lalu yang ibu bicarakan semalam, bagaimana? Membeli keperluan kalian berdua." ucap Rita.


"Itu nanti saja, nanti siang juga bisa. Man mau istirahat dulu sebentar." ujar santai.


"Kamu sakit?"


"Tidak, kenapa?"


"Syukur deh. Ibu kira kamu sedang sakit."


"Tidak..Man sehat kok."


Rita, Erika, dan Mandala segera menyelesaikan sarapan paginya. Setelahnya ia pun mulai bersantai sebentar di ruang tengah. Erika dan Rita menjadi kesal dengan Mandala. Tidak sesuai dengan yang dibicarakan semalam. Dimana ia akan menjemput Ismalia dirumahnya untuk membeli keperluan pernikahan mereka.


Erika menghampiri Mandala yang sedang duduk bersantai menikmati siaran TV. Erika masang wajah kesal ke Mandala. Mandala heran akan perubahan wajah Erika.


"Ada apa? Kenapa wajah kamu seperti itu?" tanya Mandala.


"Yah...Ayah kapan mau belanja bersama Ismalia."


"Kenapa?"


"Ya...tidak apa-apa. Cuma sekedar tanya saja."


Erika menatap lekat wajah sang ayah Mandala. Ingat akan masa kecilnya dari keinginan yang terkecil sampai ke terbesar Mandala siap mengabulkan. Bahkan permintaan ini juga Mandala kabulkan. Mandala menoleh ke Erika yang mata berkaca-kaca hendak menangis.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis."


"Mana Rika menangis, tidak ada."


"Sudah jangan menipu diri kamu dan ayah. Ayah tau kamu sedih, katakan ada apa?"


"Ayah...ayah tau tidak perasaan Rika sekarang sangat-sangat senang sekali. Sekali lagi keinginan Rika, ayah mau mengabulkannya. Terima kasih ayah." ucap Erika sambil memeluk Mandala.


"Ya sama-sama. Tidak ada kata tidak untuk putri ayah." ucap Mandala mencium puncak kepala Erika.


Erika menoleh ke atas melihat wajah sang ayah.


"Lalu kapan ayah akan berangkat belanjanya?" tanya Erika ke arah lain.


"Sebentar. Ayah mau santai dulu, mumpung libur sehari."


"Ayah mah begitu." ucap kesal Erika langsung meninggalkan Mandala yang sedang menonton televisi.


...Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow, dan subscribe ya readers 🤗🙏


__ADS_2