
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Sore hari Bramantio sudah pulang dari kantor. Suasana rumah terlihat sepi, hanya terlihat tatakan hantaran yang tersusun di ruang tengah. Ia langsung menuju ke kamarnya tanpa bertanya keberadaan Rita dan Erika ke sang pembantu Bik Ijah. Hanya pembantu lain yang lain sedang lalu lalang mengemas barang hantaran.
Tidak lama disusul kedatangan Mandala. Masuk mengucap salam tanpa ada yang menyahut. Ia pun langsung ke menuju kamar untuk berganti pakaian. Barulah ia akan turun ke bawah mencari keberadaan Rita dan Erika. Bik Ijah yang sedang memasak sudah selesai. Pembantu lain juga turut menyajikan makanan di atas meja makan.
Rita keluar dari taman belakang rumah. Melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 siang. Terlihat makanan sudah tersaji diatas meja.
"Bik, tuan dan Mandala apa sudah pulang?" tanya Rita.
"Sudah, Nya. Baru beberapa menit lalu tuan sudah pulang."
"Ya sudah panggil mereka untuk makan siang bersama. Saya panggil Erika dan Ismalia sebentar."
"Baik, Nya."
Rita memanggil Erika dan Ismalia yang masih bersantai di taman belakang rumah.
"Rik, Is. Ayo makan bersama, ayah dan kakekmu sudah pulang. Makanan sudah tersaji juga."
"Ok, nek. Ayo makan siang dulu."
Tanpa berkata Erika dan Ismalia beranjak dari duduknya. Mengikuti dari belakang langkah Rita menuju meja makan. Sesampai di meja makan, mereka duduk di masing-masing kursi. Bik Inah membantu menyajikan makanan di piring. Tidak lama Bramantio dan Mandala menyusul turun ke bawah.
Mandala melihat Ismalia juga hadir makan siang bersama. Ismalia menoleh sebentar ke Mandala lalu kembali tertunduk.
"Oh ya...besok akan ada orang yang mendekor ruangan. Mungkin akan makan seharian." ujar Rita.
"Kalau begitu, Ismalia besok harus ke sini lagi untuk bantu." ucap Erika.
"Bagaimana, Is? Apa kamu bisa besok ke sini lagi?" tanya Rita.
"In Syaa Allah, nek." jawab Ismalia.
Setelah percakapan singkat, mereka diam menikmati makan siangnya. Disaat yang masih nambah makanan. Mandala sudah menyudahi makannya. Langsung menuju ke ruang tengah. Duduk santai dan menghidupkan televisi. Bik Inah menghampiri menyuguhkan segelas teh ke Mandala.
Bramantio datang mengejutkan Mandala yang sedang menonton televisi.
"Tumben nonton televisi, biasanya nonton tapi mata ke ponsel." ucap Bramantio.
"Ohh... itu. Kalau lagi sibuk sekedar menghibur." jawab Mandala.
"Menghibur konon. Besok kamu ke kantor?" tanya Bramantio.
"Ya, besok Man ke kantor ada berkas-berkas baru yang Mas harus periksa dan tanda tangani."
"Apa ada klien baru?"
"Ada, dua Minggu yang lalu. Ada klien dari Singapura datang berminat bekerja sama dengan perusahaan Man. Tapi baru sekarang berkas tiba."
"Wahh...semakin sukses kamu Man. Semoga apa yang mimpikan bisa tercapai."
"Aamiin. Semua ini berkat ayah, sehingga bisa membangun perusahaan sendiri."
"Itu lah, orangtua. Nanti kalau ayah sudah tidak mampu untuk mengurus perusahaan. Ayah pasti serahkan ke kamu juga."
"Tapi apa aku sanggup, yah? Menjalankan dua perusahaan sekaligus."
"Ya pasti bisa. Buktinya kamu membangun perusahaan kamu dari kecil hingga sesukses ini. Bahkan CEO terkenal lagi, kalau Erika sudah dewasa nanti berikan saja itu ke dirinya. Biar dia yang memimpin perusahaan milik ayah nanti."
"Ya, ayah."
Rita menghampiri Bramantio dan Mandala yang tengah asyik mengobrol. Duduk ikut bergabung menonton televisi. Sedangkan Erika dan Ismalia sudah kembali ke kamarnya untuk istirahat sejenak.
"Mana Erika dan Ismalia?" tanya Bramantio.
"Mereka naik ke atas, mau istirahat katanya." jawab Rita.
"Oh ya Man, besok kan kamu ke kantor. Habis pulang tolong mampir sebentar ke toko butik kawan ibu. Tolong ambilkan baju keluarga kita."
"Waktu itu bukannya ibu sudah beli?" tanya Bramantio.
"Ibu ada beli dua pasang untuk kita semua. Satu untuk acara akad dan satunya untuk acara resepsi."
"Dan jangan lupa besok pergi jemput keluarga Ismalia dirumahnya. Sekalian menemani ibu dirumah." tambah Rita.
"Kenapa tidak suruh Pak Ahmad saja?" tanya Bramantio.
__ADS_1
"Pak Ahmad besok ibu suruh menjemput koki dan bawa ibu ke sana sini."
"Iya, nanti Man mampir sekalian jemput mereka."
"Nak gitu dong."
"Dasar ibu." ucap Bramantio menggelengkan kepala.
...🌹🌹🌹...
Dalam kamar Erika dan Ismalia tengah berbaring memainkan ponsel. Erika seketika teringat akan baju yang ia beli kemarin pagi. Ia bergegas menuju lemari pakaian mengambil totebag. Juga terdapat pakaian Ismalia yang Erika belikan. Erika menyuruh Ismalia membuka totebag juga.
"Bagaimana apa ini bagus ke kamu? Aku yang pilih loh." ucap Erika.
"Bagus, tapi kenapa kamu belikan kan kemarin dengan Om juga sudah beli."
"Ini untuk ada acara-acara penting. Biasanya ayah sering pergi ke acara penting kawan bisnisnya. Secara otomatis kamu akan ikut mendampingi ayah."
"Tapi saya tidak merasa percaya diri. Dan gaun ini juga terlihat mahal. Nanti rusak bagaimana? Sebaiknya jangan ya, untuk kamu saja."
"Aku sudah banyak baju, ini memang untuk kamu. Ingat rejeki tidak boleh ditolak."
"Hmm...baiklah. Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka membongkar beberapa totebag yang dampar di atas ranjang tempat tidur. Ismalia saat membuka totebag berwarna hitam. Ia mengeluarkan isinya, mengejutkan Ismalia membuka baju dalam totebag ternyata baju dinas haram. Baju dinas malam berwarna merah, permukaan kain yang transparan, dan begitu seksi.
"Rik. Apa kamu memakai pakaian seperti ini?" tanya Ismalia.
Erika menoleh ke arah Ismalia. Ia kaget langsung menyambar baju haram itu dari tangan Ismalia. Segera memasukkan kembali ke dalam totebag hitam tadi. Ismalia masih bengong melihatnya.
"Jangan....jangan buka yang ini?" ujar Erika.
"Apa itu baju kamu, Rik?" tanya Ismalia.
"I...iya eh bu...bukan. Kenapa memangnya?" tanya Erika gagap.
"Tidak, aneh saja. Kok ada ya baju yang kurang bahan seperti itu. Saya melihatnya saja keringat dingin jadi merinding, seram." jawab Ismalia.
"Tapi oh ya itu baju untuk siapa? Kalau bukan kamu yang pakai?" tanya Ismalia lagi.
"Ohhh...i..ini baju untuk kawan sesekolah dasar aku dulu. Aku mau kasih dia hadiah pernikahan." jawab Erika berbohong.
"Ya...ya...memang orangnya minta request. Jadi ya aku belikan saja."
"Ada ya orang request baju seperti itu?" ucap Ismalia polos.
Erika tidak lagi menjawab pertanyaan Ismalia. Ia lupa menyisihkan totebag yang berisi baju haram itu. Baju haram itu akan ia hadiah untuk Ismalia di acara pernikahannya. Erika sengaja membeli baju itu supaya Ismalia kaget. Dan satu hal lagi supaya sang ayah Mandala terpesona dengan Ismalia saat malam pertama.
Erika yang tersenyum-senyum ditatap lekat oleh Ismalia. Ismalia merasa heran dengan Erika. Sampai-sampai ia mengejutkan Erika.
"Hey...kenapa kamu senyum sendiri?" tanya Ismalia.
"Mana ada. Hanya terbayang betapa sukanya ia dengan hadiah yang aku kasih."
"Ehm...aneh. Baju seperti itu kok suka. Kalau saya itu langsung saya jadikan kain lap."
"Eh....jangan. Kalau kamu tau harganya ini cukup mahal."
"Memang berapa?"
"tiga ratus lebih."
"Apa? Baju kurang bahan itu tiga ratus lebih. Kalau dibelikan jilbab sudah berapa helai itu mah."
"Tu kan apa kamu masih mau buat kain lap setelah tau harganya."
Ismalia hanya terdiam sedangkan Erika ketawa geli melihat ekspresi Ismalia. Mereka secepatnya mengemas barang-barang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lemari. Setelah selesai, Erika mengambil laptop untuk menonton bersama drama Malaysia.
...🌹🌹🌹...
Mandala yang sudah berada di kamarnya hanya duduk santai di balkon. Ia melamun akan dirinya yang sebentar lagi akan melepas masa dudanya. Yang tidak habis pikir, ia akan kepala rumah tangga dari seorang gadis yang masih bocah. Menikahi gadis yang baru saja lulus sekolah. Membuatnya merasa aneh tapi dilihat Ismalia gadis yang cantik dan cerdas.
Dalam lamunannya, ia juga tersenyum sendiri. Mengingat gelagat Ismalia semasa bersamanya. Melihat wajahnya jika sedang di marahi. Begitu cantik dan menggemaskan pikir Mandala. Lamunannya terhenti ketika ponselnya berdering. Mandala mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan. Panggilan itu tertera nama Nazir yang ingin datang ke rumah Mandala.
"Hello. Assalamualaikum, ya ada apa Nazir?" tanya Mandala.
"Wa'alaikumussalam. Apa kamu ada dirumah?" tanya Nazir diseberang telepon.
__ADS_1
"Ada, lalu ada apa?"
"Ya, sekedar mampir. Sekalian lewat saja karena tidak pernah main jadi ya mampir sekalian."
"Oh ya sudah, mampir saja."
"Ok, sebentar lagi saya ke sana. Apa yang lain ada dirumah?"
"Ada. Teman Erika juga ada."
"Apa Ismalia?"
"Ya. Siapa lagi?"
"Jangan seperti itu, dia itu calon istri kamu."
"Iya...iya...cepat ke sini."
"Baiklah, saya berangkat. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Dua puluh menit, terdengar suara mobil terparkir di halaman kediaman Mandala. Nazir mengetuk dan mengucapkan salam. Bik Inah menghampiri membuka pintu dan mempersilahkan masuk ke dalam. Nazir yang membawa sesuatu diserahkan ke Bik Inah untuk disajikan dipiring.
"Assalamualaikum." ucap Nazir.
"Wa'alaikumussalam. Eh, Tuan Nazir, mari masuk silahkan."
"Kok sepi, bik. Pada kemana?"
"Ada kok. Tuan Bramantio dan Nyonya Rita ada di halaman belakang lagi santai. Kalau Mandala ada di kamarnya."
"Ohh...kalau Erika?"
"Non Erika ada di kamarnya lagi istirahat bersama Non Ismalia."
"Mandala katanya ada dikamarnya kan?"
"Iya."
" Kalau begitu, saya langsung ke atas saja. Oh ya ini tolong sajikan di atas piring ya. Tadi saya mampir sebentar ke toko kue."
"Wahh...terima kasih."
"Sama-sama. Saya ke atas dulu ya bik."
"Ya."
Nazir pun ke atas menuju ke kamar Mandala. Nazir sangat sering datang kediaman Mandala. Tanpa mengetuk pintu, Nazir langsung masuk saja. Tidak ada Mandala ditempat tidurnya. Namun pintu balkon terbuka. Sudah pasti ia berada di balkon duduk santai.
"Sudah diduga. Pasti kamu lagi disini." ucap Nazir.
"Sejak kapan kamu tiba?"
"Baru saja. Kenapa kamu duduk sendiri disini?"
"Ingin duduk sendiri saja. Kamu habis darimana?"
"Oh, saya tadi dari ketemu klien sebentar. Lewat sini pulangnya ya sekalian saja mampir. Sudah lama juga kan tidak ke sini."
"Lalu bagaimana?"
"Alhamdulillah, kliennya mau diajak kerjasama."
"Syukurlah. Semoga semakin sukses bro."
"Terima kasih kawan. Bagaimana perasaan kamu sekarang? Hanya tinggal dua hari lagi kamu akan melepas masa duda kamu."
"Biasa saja. Hanya saja, saya akan menjadi kepala rumah tangga dari seorang gadis bocah."
"Hahaha....walaupun gadis bocah. Dari sikapnya dewasa, baik, pengertian, dan cantik lagi. Jika dipandang Ismalia agak mirip dengan alm. Istrimu."
"Entahlah. Saya rasa itu memang perasaan kamu saja."
"Tapi saran saya ya, ketika kalian sudah menikah nanti coba lah untuk menerima Ismalia. Perlakukan ia dengan baik ya maksudnya jangan terlalu dingin dan jutek." jelas Nazir.
Mandala hanya terdiam mendengarkan ucapan Nazir.
"Dan juga belajar untuk mencintai Ismalia seperti kamu mencintai alm. istrimu dulu. Saya sangat yakin kamu pasti bisa."
__ADS_1
...Bersambung......
Jangan lupa like, vote, komentar, follow dan subscribe ya readers 🤗