Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung

Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung
BAB 36


__ADS_3

Happy Reading ๐Ÿค—


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Disaat keluarga Mandala menanti jawaban dari Ismalia mengenai persetujuan mempercepat pernikahannya yang akan dilaksanakan 4 hari lagi dari sekarang. Ismalia masih dibuat bingung ingin memberikan jawaban. Akhirnya Ismalia meminta waktu untuk berpikir satu hari.


"Bagaimana, Nak Is? Apa jawaban dari kamu?" tanya Rita sembari memperhatikan Ismalia yang masih berpikir.


"Berikan Is waktu, Nek. Untuk pertunangan mungkin Is mudah mengiyakan tetapi soal pernikahan Is harus berpikir dulu." jawab Ismalia.


"Iya, Buk. Tolong beri Is sedikit waktu untuk berpikir. Biar kami membicarakannya sesama keluarga kami mengenai hal ini." timpal Mastiara.


"Baiklah. Tapi saya mohon jangan terlalu lama memberi jawaban. Saya merasa takut dan khawatir." ucap Rita.


"Baiklah. Beri kami waktu satu hari saja, In Syaa Allah lusa sore akan kami kasi tau secepatnya kepada Bu Rita dan keluarga." Ucap Mardian.


"Baiklah kalau begitu. Semoga kamu memikirkannya dengan matang Nak Is." ucap Rita tertuju ke Ismalia yang berharap.


Ismalia melihat wajah sendu Rita yang begitu berharap sedikit merasa kasihan. Begitu juga Erika yang juga terlihat sedih. Tapi ia masih punya waktu berpikir dan berbincang dengan kedua orangtuanya. Ditengah perbincangan, semua menikmati minuman teh dan beberapa cemilan.


Sehingga perbincangan tersebut tanpa terasa memasuki jam siang waktunya makan siang. Keluarga Ismalia memasak makanan siang mereka dengan seadanya. Hanya beberapa makanan kampung dan sederhana. Tapi Rita, Erika, sang sopir malah menyukainya bahkan begitu lahap menyantapnya.


Setelah selesai menyantap makan siang. Rita, Erika, dan sang sopir pamit pulang ke keluarga Ismalia yang diakhiri saling berpelukan satu sama lainnya. Berjalan kembali menelusuri jalan sempit menuju mobil. Rita menoleh ke samping menatap Erika yang sedang memandang jalanan dari kaca mobil.


"Kamu tenang saja, Is pasti menyetujuinya. Kita berdoa saja, hem." ucap Rita sembari memegang tangan Erika.


Erika hanya menganggukkan kepala lalu kembali menatap jalanan. Perasaan Erika saat ini sedikit sedih karena Ismalia masih belum memberikan jawaban. Ia khawatir Ismalia menolak untuk mempercepat pernikahan dengan alasan masih ingin kerja sambil kuliah. Karena sebelumnya Ismalia pernah bercerita kalau habis lulus ia akan bekerja sambil kuliah agar tidak terlalu membebani orangtua.


28 menit kemudian, mobil Rita yang dikendarai oleh Pak Rahmad memasuki halaman rumah besar mereka. Erika dan Rita keluar berjalan menuju pintu utama. Erika langsung menaiki tangga ke kamarnya mandi dan beristirahat sejenak. Istirahat sejenaknya ini akhirnya membawa matanya jadi terpejam dan terlelap.


Sedangkan Rita memilih duduk di ruang keluarga. Membuka ponsel mengirim pesan singkat ke seseorang yang tidak lain adalah Mandala. Setelah mengirim pesan ke sang anak, ia akhirnya memasuki kamarnya yang berada di atas. Hendak melangkah tiba-tiba Bramantio suami Rita baru datang dari kantor. Mendekati Rita menuju ke kamar bersama.


"Assalamualaikum." ucap Bramantio baru pulang dari kantor.


"Wa'alaikumussalam, cepat sekali pulangnya?" tanya Rita sembari mencium tangan sang suami.


"Iya, tadi habis meeting diluar sekalian makan siang, selesai langsung pulang." jawab Bramantio berjalan meniti tangga.


"Oh ya mana Erika dan Mandala?" tanya Bramantio gantian.


"Erika dah masuk kamar mungkin sedang istirahat. Mandala masih belum pulang." jawab Rita.


Tidak ada percakapan, mereka pun memasuki kamar. Rita memberitahu Bik Inah dan sang pembantu lainnya untuk siang ini tidak perlu menyiapkan makan siang. Karena baik Erika, Rita dan Bramantio sudah makan siang di luar. Ketika makan malam baru lah memasak untuk mereka.


Di dalam kamar Erika yang selesai mandi langsung merebahkan diri keatas ranjang. Pandangan menatap langit-langit memikirkan persoalan tadi siang. Khawatir juga ada dalam pikirannya karena Ismalia kembali belum memberikan keputusan.


Sesekali menoleh ke ponselnya yang berada di atas nakas. Mengambilnya membuka aplikasi hijau mencari sesuatu untuk dihubungi namun tidak berani. Erika melepaskan ponsel miliknya di sebelahnya. Secara pelan memejamkan mata, kelamaan akhirnya Erika terbawa ke alam mimpi.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Pada besok pagi matahari sudah menunjukkan cahaya kuningnya. Embun mulai memancarkan kilau diatas dedaunan. Burung mengalunkan nada indahnya sebagai alarm dipagi hari. Kini Erika sudah bersiap pergi ke sekolah dengan semua peralatan sudah masuk ke dalam tas.


Menuruni tangga satu persatu juga bersamaan dengan suara pintu terbuka dari arah kamar Mandala. Tampak Mandala sudah siap dan rapi dengan pakaian kantor. Erika berhenti menunggu Mandala untuk turun bersamaan menuju ke meja makan.


Bik Inah tengah merapikan meja dan menata makanan. Dilihatnya tuan rumah hendak turun, dengan gerakan cepat yang dibantu pembantu yang lain menyiapkan hidangan. Sampai akhirnya sudah selesai, hanya tinggal melayani tuan rumah mengambil sarapan pagi.


Seperti biasa menu sarapan pagi tidak terlalu banyak. Ada nasi goreng, mie goreng, buah dan roti saja serta minumannya hanya kopi, susu, dan teh. Disusul oleh Rita dan Bramantio yang secara bersamaan menuruni tangga satu persatu.


"Selamat pagi, Nek Kek." ucap Erika.

__ADS_1


"Pagi sayang." jawab serentak Rita dan Bramantio.


"Pagi, Man." ucap Bramantio.


"Pagi, yah." jawab Mandala.


"Bagaimana dengan proyek kamu di Semarang. Apa ada kendala atau lancar saja?" tanya Bramantio sambil menyeruput teh yang dituang Bik Inah.


"Alhamdulillah, lancar dan hampir 85% menuju tahap keberhasilan. Kalau perusahaan ayah bagaimana?" tanya balik Mandala.


"Ya...seperti sebelumnya. Alhamdulillah oke cuman ada sedikit kendala. Tapi itu sedang diperbaiki." ujar Bramantio sambil menyuap mie goreng.


"Apa itu, yah?" tanya Mandala.


"Anggaran perusahaan akhir-akhir bulan ini agak sedikit tidak sesuai dengan laporan dengan dua bulan kemarin. Bahkan penjualan produk sedikit menurun dari biasanya. Tapi kamu gak usah khawatir, hal itu sedang ayah selidiki. Dengan membayar mata-mata untuk memantau pabrik kita." ujar santai Bramantio.


"Baiklah. Mudahan saja cepat terselesaikan. Kalau ayah memerlukan bantuan, aku siap turun membantu."


"Untuk saat ini, In Syaa Allah ayah bisa mengatasinya. Kamu tenang saja, kalau apa-apa ayah akan langsung hubungi kamu."


"Oh ya bagaimana tentang pernikahan kalian apa sudah ada keputusannya?" tanya Bramantio lagi.


Mandala menoleh ke sang Ibu yaitu Rita yang sedang memakan mie goreng. Merasa mata terarah kepadanya, Rita pun menjawab pertanyaan dari sang suami Bramantio.


"Untuk itu, masih belum ada keputusan dari pihak keluarga Ismalia. Tapi mereka meminta waktu satu hari memikirkannya. Kemungkinan keputusannya nanti sore."


"Semoga saja mereka setuju, jikalau mereka setuju langsung saja kalian membeli keperluan pernikahan seperti kebaya, jas pengantin dan cincin pernikahan." ujar Bramantio.


"Aamiin, semoga saja. Keperluan lain-lainnya Alhamdulillah sudah selesai semua. Hanya tinggal menunggu keputusan Ismalia." ujar Rita.


"Tapi, Nek. Apa Is akan setuju?" tanya Erika khawatir ke sang Nenek.


"Aamiin, mudahan." ucap Erika sambil menadahkan tangan mengusap ke wajah.


"Ujian Kelulusan tinggal beberapa hari, nak." tanya Bramantio.


"In Syaa Allah Senin depan, kek."


"Berarti gak lama lagi dong. Selesai kelulusan persiapan resepsi kalian biar ayah dan ibu yang urus sekaligus tiket bulan madunya. Biar nanti kami cepat memiliki cucu lagi." ujar Bramantio goda Mandala.


Mandala yang tengah makan hendak menyeruput teh tiba-tiba tersedak dengan ucapan sang ayah Bramantio yang menggodanya. Erika dan Rita ikut ketawa mesem melihat tingkah Mandala yang tersedak. Begitu juga Bramantio ikut ketawa tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Ayah apa-apaan sih. Kalian kan sudah memiliki cucu." ucap Mandala menyudahi makan dan minumnya serta mengelap mulut.


"Iya memang. Tapi kami pengen nambah cucu lagi biar rumah ini rame dengan tangisan bayi. Dan sudah lama juga rumah ini tidak berisik oleh tangisan bayi." ujar Rita.


Tanpa menjawab ucapan dari sang Ibu, Mandala langsung berpamitan dengan Rita dan Bramantio.


"Ekhem...Aku berangkat dulu Ibu Ayah. Assalamualaikum." ucap Mandala sembari mencium tangan mereka.


"Wa'alaikumussalam, ya hati-hati." jawab serentak Erika, Rita, dan Bramantio menahan senyum.


Setelah kepergian Mandala, Erika pun menyusul berangkat ke sekolah. Dikarenakan hari ini Hari Kamis tidak ada pembelajaran sekolah yang sedikit menyibukkan hanya saja sedikit pembekalan ketika akan menghadapi ujian kelulusan saja oleh wali kelas mereka. Jadi rencananya ia akan ke rumah Ismalia bersama sang Nenek yaitu Rita sepulang sekolah.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Tepat pukul 11.45 wib, Rita sudah menunggu Erika diparkiran sekolah. Tak lama lonceng pun berbunyi menandakan seluruh siswa-siswi pulang sekolah. Tampak Erika dan Ismalia secara bersamaan. Rita keluar menghampiri mereka. Ismalia mendekat dan menyalami tangan Rita.


"Assalamualaikum, Nek." ucap Ismalia menyalami tangan Rita.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam. Mau langsung pulang?" tanya Rita.


"Iya, Nek."


"Ya sudah, bareng kita aja. Kami juga mau pergi ke rumah kamu" ajak Rita.


"Eh...tidak usah Nek. Is bawa sepeda soalnya. Kalau begitu Is duluan aja." tolak Ismalia.


"Tapi beneran nih, Is. Lo gak bareng kita."


"Gak usah,Rik. Ya udah aku duluan ya Rik Nek. Assalamualaikum." ucap Ismalia.


"Ya udah. Hati-hati, Wa'alaikumussalam."


Sepeda Ismalia kini telah menjauh pergi. Erika dan Rita masuk ke dalam mobil yang kendarai oleh Pak Rahmad menuju kediaman Ismalia. Ikut mengekori sepeda Ismalia dari belakang dengan perlahan. Tidak butuh lama sepeda Ismalia telah tiba di depan rumah begitu juga dari belakang mobil Rita dan Erika.


Ismalia mempersilahkan kita dan Erika untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa juga mengucap salam kepada Ibu dan Ayahnya. hari ini Ayahnya pulang lebih awal dari rukonya karena merasa kurang enak badan. Ibu Mastiara yang sedang berada di dapur melihat kedatangan Rita dan Erika langsung mempersilahkannya masuk dan duduk.


"Eh...Bu Rita dan Erika mari silakan masuk." ucap Mastiara mempersilahkan.


"Maaf ya penampilan saya agak berantakan soalnya saya lagi masak di dapur." timpal Mastiara.


"Nggak apa-apa kok. Oh ya Pak Mardian ke mana ya?" tanya Rita.


"Ada kok sebentar ya."


Mastiara yang hendak masuk memanggil sang suami tiba-tiba sang Mardian keluar menyalami Erika, Rita dan sang sopir. Lalu duduk di samping sang istrinya yaitu Mastiara. Sedangkan Ismalia berpamitan langsung masuk menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian lebih dahulu sekaligus mempersiapkan air minum dan cemilan.


Tidak butuh waktu lama, Ismalia datang dengan pakaian dasternya dengan membawa nampan yang berisi air dan cemilan. lalu mendudukkan diri di samping sang Ibu yaitu Mastiara.


"Mari silakan minum Erika dan Nek." ucap Ismalia mempersilahkan.


"Terima kasih, nak Is."


Ismalia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Oh ya kedatangan kami ke sini hanya ingin mengetahui keputusan dari nak Is dan sekeluarga mengenai pernikahan antara Mandala dan Ismalia yang akan dilaksanakan tiga hari lagi dari sekarang." ujar Rita.


Mastiara, Mardian, dan Ismalia hanya saling pandang kemudian beralih menatap lekat ke Ismalia.


"Untuk keputusan mengenai itu kami berdua hanya menyerahkan kepada anak kami Ismalia. Kami selaku kedua orang tua tidak berani memberikan keputusan semuanya hanya Ismalia yang berhak."


"Bagaimana, nak Is. Apa keputusan kamu, Nak?" tanya Rita menatap Ismalia yang tertunduk.


"Iya Is apa keputusan lo." timpal Erika.


Ismalia menarik nafas panjang sambil mengucap Bismillah memberikan jawaban dengan sedikit gagap.


"Bismillahirohmanirohim. In-In Syaa Allah, Sa-saya bersedia." jawab Ismalia dengan wajah tertunduk.


Semua yang berada di ruang tamu mengucap syukur secara serentak atas jawaban dari Ismalia mengenai keputusannya menyetujui pernikahan antara Mandala dan Ismalia yang akan dilaksanakan tiga hari lagi yaitu tepatnya pada hari Minggu.


Dengan rasa bahagia yang telah menyelimuti hati dua keluarga tersebut, maka obrolan mereka berakhir dengan candaan. Begitu juga Erika dan Ismalia yang sedang berada di dalam kamar. Dimana Erika menunjukkan sesuatu yang berada di handphonenya yaitu kebaya pengantin untuk Ismalia yang sudah dipesan sebelumnya.


Tengah asyik memperhatikan kebaya pengantin yang dipilih oleh Rita dan Erika. Tidak lupa juga Erika memberitahu sang ayah yaitu Mandala mengenai keputusan Ismalia yang telah setuju dengan pernikahan tersebut.


...Bersambung..........


Maaf ya baru update sekarang soalnya lagi sibuk melakukan persiapan untuk ujian kelulusan hari ini๐Ÿ™๐Ÿ˜

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe, follow ya readers๐Ÿค—โค๏ธ


__ADS_2