
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Keesokan hari tepat di hari Rabu, Mandala menepati apa yang dipinta oleh Rita. Mandala menjemput Ismalia di kediamannya. Sesampai di depan jalan sempit itu. Mandala memarkirkan mobilnya tidak jauh dari jalan sempit. Mandala keluar dari mobil langsung menuju ke rumah Ismalia.
Ismalia sebelumnya sudah diberitahukan oleh Erika. Kalau hari ini Mandala akan menjemputnya untuk membeli keperluan pernikahan mereka berdua yaitu cincin dan baju pengantin. Tepat berada di depan pintu rumah Ismalia. Mandala mengetuk dan mengucapkan salam.
Tuk tuk tuk
"Assalamualaikum." ucap Mandala.
Tidak ada sahutan, Mandala mencoba kembali. Ucapan salam dan ketukan kedua barulah mendapat sahutan.
"Assalamualaikum." ucap Mandala kedua kali.
"Wa'alaikumussalam. Eh...Pak Mandala silahkan masuk." ucap Mastiara.
"Ahh iya terimakasih." sahut Mandala masuk.
"Mau jemput Is ya, sebentar ya. Saya panggilkan Is dulu." ujar Mastiara.
"Iya baiklah." ucap Mandala duduk di kursi ruang tamu.
Ismalia keluar dengan setelan gamis panjang berwarna kalem. Mandala menengok Ismalia yang malu-malu duduk di hadapan Mandala. Mandala yang masih dengan ekspresi juteknya menatap Ismalia. Ia terperanjat ketika Mastiara datang membawa nampan berisi segelas air teh. Untuk disuguhkan ke Mandala.
"Ohh ya. Bu Rita dan Erika tidak ikut?" tanya Mastiara.
"Tidak. Mereka lagi ada urusan diluar jadi saya yang jemput Ismalia."
"Memang mau kemana?"
"Apa Is tidak bilang sesuatu sebelum?"
"Tidak. Cuma bilang hari beli peralatan pernikahan saja. Saya fikir perginya bersama Erika. Tau-taunya bersama Pak Mandala."
"Panggil Mandala saja, jangan Pak. Baiklah, oh ya Pak Mardian kemana?"
"Bapak seperti biasa lagi di rumah makan kalau jam segini. Sore hari baru lah Bapak pulang. Silahkan minum airnya, jangan sungkan-sungkan."
"Ya... terimakasih." ucap Mandala menghabiskan secangkir tehnya.
"Maaf. Saya tidak bisa berlama-lama lama. Untuk membelinya pasti banyak menguras waktu." ucap Mandala menoleh sebentar ke Ismalia.
Ismalia yang dipandang hanya tertunduk saja.
"Oh iya. Hati-hati ya dijalan."
"Ya. Kalau begitu saya pamit." ucap Mandala berdiri dari duduknya dan bersalaman.
"Assalamualaikum." ucap Mandala keluar rumah terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam."
Ismalia bersalaman ke Mastiara lalu mengikuti langkah Mandala yang sudah jalan dulu.
"Is pamit buk, assalamualaikum." ucap Ismalia.
"Wa'alaikumussalam."
Mandala sudah berada didalam mobil menunggu Ismalia. Ismalia baru sampai membuka pintu mobil dan masuk.
"Kau itu jalan sangat lambat sekali. Apa tidak bisa untuk lebih cepat."
Tanpa ekspresi Mandala langsung menjalankan mobilnya. Ismalia hanya duduk terdiam dan tertunduk saja. Sepi sunyi itulah suasana saat ini berada di dalam mobil. Sesekali dalam perjalanan Mandala menoleh sebentar ke Ismalia. Ismalia menatap ke arah jalan diluar kaca mobil.
Secara bergantian Ismalia pun menoleh sebentar ke arah Mandala. Begitu fokus dan serius disaat sedang menyetir mobil. Mandala menyadari kalau ia telah dipandang sejenak oleh Ismalia. Mandala pun bertanya membuat Ismalia terperanjat dan salah tingkah.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Ti...tidak ada." ucap Ismalia gagap.
"Dasar anak kecil." ucap Mandala dalam hati.
...🌹🌹🌹...
Beberapa menit kemudian, mobil Mandala telah tiba di tempat perbelanjaan mall. Ia memarkirkan mobilnya lalu turun tanpa menunggu Ismalia yang baru saja turun. Ismalia mempercepat langkahnya mengejar Mandala. Mandala hanya masih bersikap acuh dan jutek. Ismalia sedikit kesal dengan sikap Mandala.
Sesampainya di toko perhiasan langganan keluarganya. Mereka berdua disambut ramah oleh para karyawan toko perhiasan. Mandala melihat-lihat terlebih dahulu beberapa perhiasan. Ismalia terkagum melihat perhiasan yang begitu bagus dan megah. Perkiraan Ismalia pasti harganya mahal. Hanya dari kalangan atas saja yang mampu membeli perhiasan yang mewah.
Melihat-lihat perhiasan, pandangan mata Mandala tertuju ke satu cincin. Cincin permata putih kecil, sederhana, terlihat manis jika dipakai. Menoleh ke arah Ismalia masih melihat beberapa cincin. Ismalia masih kebingungan memilih cincin mana yang akan dipilih. Mandala menyuruh karyawan mengambil cincin pilihan Mandala sendiri.
Mandala melihat cincin pilihannya, mengambil pergelangan tangan Ismalia secara tiba-tiba. Ismalia pergelangan tangannya diambil oleh Mandala merasa kaget. Ia memasukkan cincin tersebut ke jari manis Ismalia. Tanpa disangka cincin itu ternyata pas di jari manis Ismalia. Ismalia terpesona akan kecantikan cincin pilihan Mandala. Tidak terlalu mewah tapi tampak manis.
"Wah bagus sekali..." ucap Ismalia dalam hati.
Ismalia terus memandangi cincin yang ada di jari manisnya.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Mandala jutek.
Ismalia hanya menganggukkan kepala saja tanda menyukai cincin tersebut.
"Baiklah, saya ambil ini." ujar Mandala ke karyawan toko perhiasan.
Mandala masih mencari beberapa perhiasan lagi sebagai mahar. Karyawan turut mencari perhiasan yang cocok. Semua yang ditunjukan oleh karyawan tidak cocok ke Mandala. Akhirnya karyawan mencari beberapa perhiasan yang berada di dalam. Menunggu sudah pasti, tapi dalam hitungan menit. Karyawan datang membawa beberapa perhiasan yang sangat cantik.
Mandala memilih satu set perhiasan yang permata merah. Tidak terlalu banyak pertama hanya terdiri tiga atau empat saja. Mandala menyuruh karyawan itu untuk dicocokkan ke Ismalia. Dikarenakan wajah Ismalia yang cantik, dicocokkan dengan perhiasan pilihan Mandala. Ismalia tambah semakin cantik dan manis. Begitu juga Ismalia menyukainya hanya menganggukkan kepala saja.
"Kamu ini bisu atau apa? Menganggukkan kepala saja." ujar Mandala pandangan ke ponsel.
Ismalia masih tetap menundukkan kepala. Tanpa berani menatap wajah Mandala. Mandala tidak lupa juga memotret perhiasan pilihannya tadi. Baik cincin pernikahan dan perhiasan untuk mahar. Lalu dikirim ke WhatsApp Rita. Mendapat respon balasan WhatsApp dari Rita. Rita juga sangat menyukai perhiasan pilihannya itu.
Tanpa menunggu lama perhiasan itu pun dibungkus. Selanjutnya menuju ke toko butik pakaian pengantin. Dimana butik tersebut hanya menjual pakaian pernikahan dan pesta saja. Soal harga tidak bisa diragukan lagi karena sesuai dengan modelnya pakaian yang mewah dan elegan. Karyawan butik pun menyapa mereka berdua.
"Tolong carikan pakaian pengantin yang bagus untuknya." pinta Mandala.
"Khemmm...maaf dia bukan anak saya tapi calon istri saya." ucap Mandala tanpa ekspresi.
Perasaan Ismalia yang dinyatakan sebagai istri bukan anak dari Mandala bercampur aduk.
"Ma...maaf tuan. Saya kira dia anak tuan." ucap karyawan gugup.
"Sudah carikan pakaian untuknya." perintah Mandala.
"Baiklah."
Karyawan mengajak Ismalia mencari-cari pakaian yang cocok untuk Ismalia. Ada sebagian karyawan yang mencibir Ismalia. Tapi Ismalia tidak menghiraukannya.
"Maaf ya mbak, saya tidak tau kalau mbak calon istri tuan Mandala." ucap karyawan tadi.
"Iya...tidak apa-apa. Tapi apa kalian mengenal Om Mandala?" tanya Ismalia bingung.
"Siapa yang tidak mengenal tuan Mandala, mbak. Tuan Mandala kan pemegang saham di butik ini juga."
"Ohhh...begitu."
Karyawan itu memilih pakaian yang cocok. Terdapat 4 pilihan warna dengan model yang berbeda-beda. Ismalia pertama mencoba pakaian berwarna pink. Terlihat tidak cocok di pakai oleh Ismalia. Hingga pilihan kedua dan ketiga tetap sama juga. Dan pilihan keempat barulah Ismalia merasa cocok. Cocok akan warna yang tidak terlalu terang, model yang tidak mencolok, tampak sederhana tapi elegan juga mewah jika dipakai.
Karyawan itu memuji pakaian yang dicoba oleh Ismalia yang terakhir. Tanpa pikir panjang Ismalia menunjukkan ke Mandala untuk meminta pendapatnya. Ismalia keluar menemui Mandala memperlihatkannya. Mandala yang sibuk dengan ponselnya menoleh ke Ismalia. Mandala menghentikan memainkan ponsel melihat kecantikan Ismalia memakai pakaian tersebut.
"Bagaimana tuan. Apa ini cocok dan cantik?" tanya karyawan ke Mandala.
Mandala terus memandang Ismalia dari atas sampai ke bawah. Memandang lekat tanpa berkedip. Sampai disadarkan oleh karyawan tersebut.
"Pak...Pak Mandala." tegur karyawan.
"Bagaimana apa ini sangat cantik ke nona Ismalia."
"Khem...cantik. Ambil saja kalau itu cocok buat dirinya." ujar Mandala.
__ADS_1
"Baik, tuan. Akan saya bungkus."
Ismalia masuk kembali ke dalam membuka pakaian yang ia coba tadi. Karyawan membungkus pakaian pilihan itu. Sebelum pulang, Mandala singgah sebentar ke sebuah restoran untuk makan siang. Mandala masih bersikap dingin dan jutek. Ismalia mengikuti langkah Mandala yang begitu laju.
Sesampainya di restoran, Mandala menuju ke meja yang kosong. Mandala memanggil pelayan untuk memesan makanan. Ismalia menoleh sana sini tidak begitu ramai pelanggan di restoran itu. Tanpa ada percakapan antara mereka berdua. Hanya terdiam, Mandala sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Ismalia pula menoleh ke sana sini.
Tidak lama makanan pesanan mereka telah datang. Begitu banyak makanan yang dipesan Mandala. Ismalia sampai melongok melihat makanan tersebut. Mandala yang sibuk dengan ponselnya beralih menyantap makanan. Ismalia masih menatap kesal sebanyak ini siapa yang akan menghabiskannya pikir Ismalia.
"Apa dengan melamun kamu akan kenyang?" ucap Mandala dingin.
"Ach... I...iya Om."
Ismalia menyantap makanan dengan sedikit malu-malu. Mandala terlihat begitu tenang menyantap makanan. Ponsel Mandala pun berbunyi. Ismalia menatap Mandala yang sedang berbicara di telepon. Mandala mengakhiri obrolan lalu dengan secepatnya beranjak mengajak untuk pulang. Setelah membayar semua makanan yang ia pesan.
"Kita pulang." ujar Mandala tergesa-gesa.
"Sekarang?" tanya Ismalia baru menyelesaikan makannya.
"Ya sekarang, kamu mau tinggal disini."
"Ba...baiklah."
Mandala dan Ismalia keluar dari mall menuju ke parkiran mobil. Mereka masuk langsung menjalankan mobilnya. Panggilan tadi sebenarnya dari Nazir yang memberitahu hasil persidangan Gio. Karena ingin mengetahui lebih detail. Nazir mengajaknya pertemuan di cafe biasa tempat mereka nongkrong.
Sebelum itu, Mandala mengantar Ismalia pulang ke rumahnya sendiri. Barulah ia akan pergi menemui Nazir. Tiba di depan jalan rumah Ismalia. Ia mengucapkan terima kasih membawa totebag berisi pakaian pengantin. Masih bersikap seperti tadi, Mandala tetap bersikap dingin dan jutek.
"Terima kasih, Om. Apa tidak mampir terlebih dahulu?" tanya Ismalia.
"Tidak...terima kasih. Saya harus secepatnya kembali."
"Baiklah. Assalamualaikum, hati-hati Om."
"Hmm..."
Mandala langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menemui Nazir. Mobil Mandala menjauh, Ismalia barulah memasuki jalan yang sempit ke rumahnya. Sedangkan di dalam mobil Mandala menoleh ke kaca spion mobil lalu tersenyum.
"Dasar anak kecil." ujar Mandala sambil tersenyum.
...🌹🌹🌹...
Sekitar satu jam lebih dalam perjalanan, Mandala telah tiba di Cafe tempat biasa. Sudah tampak Nazir menunggunya. Dua cangkir kopi juga sudah dipesan oleh Nazir. Mereka membahas tentang hasil persidangan Gio dan Sofia.
"Bagaimana mengenai hasilnya?" tanya Mandala.
"Untuk hasilnya mereka diberatkan hukumannya selama 20 tahun penjara. Karena ikutan bukti yang ada dan cukup memberatkan mereka." jelas Nazir.
"Tidak apa. Yang penting mereka mendapatkan hukuman atas perbuatannya."
"Ya. Oh ya saya dengar kamu akan segera menikah. Kenapa tidak memberitahu tentang ini ke saya?"
"Darimana kamu tau?" tanya Mandala balik.
"Ya tau lah. Kamu kan bukan sekedar teman tapi sudah saya anggap seperti saudara sendiri."
"Apa ibu dan ayah yang memberitahu kamu?"
"Ya... seperti itu." ujar Nazir.
"Dasar. Tidak bisa menjaga rahasia."
"Kenapa? Emangnya saya ini siapa? Hal itu mau main rahasia. Sudahlah...tapi selamat ya bro."
"Hem..."
Mereka melanjutkan kembali mengobrol. Sampai waktu sore pun mereka tidak menyadarinya. Sekalian menceritakan semua mengenai rencana pernikahan mereka. Yang akan berlangsung sekitar tiga hari lagi tepatnya pada hari Sabtu Minggu ini.
...Bersambung......
Jangan lupa vote, like, komentar, follow, dan subscribe ya readers 🤗
__ADS_1