Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung

Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung
BAB 50


__ADS_3

Happy Reading 🤗


...🌹🌹🌹...


Cukup lama berada di pantai menikmati makanan di sebuah cafe tepi pantai. Mereka akhirnya pulang semasa dalam perjalanan. Tidak ada percakapan dari salah satu dari mereka. Hanya suara dering ponsel Mandala yang berbunyi. Panggilan tersebut dari Nazir yang memberikan informasi mengenai penangkapan kerabat Sofia yang terlibat kecuali Gio.


Informasi belum juga diketahui pasti. Karena Gio sudah mengetahui bahwa ia menjadi buronan polisi. Secara otomatis Gio akan pergi jauh ke suatu daerah atau ke luar negeri. Gio seseorang yang licik, untuk mengelabui pihak berwajib. Ia melakukan taktik penyamaran saat ia kegiatan jual-beli barang haram seperti narkoba dan kegiatan jualbeli manusia ke luar negeri.


Walaupun kekayaan Gio begitu mencukupi. Kegiatan tersebut baginya membuat ia semakin menambah kekayaan. Pendapatan dari hasil kegiatan tersebut kemudian difoya-foyakan dengan pergi ke tempat hiburan dan bersenang-senang dengan wanita penghibur salah satunya adalah Sofia.


Sofia kini telah diserahkan ke kantor polisi. Dengan menyerahkan beberapa bukti kuat untuk memberatkan hukumannya. Mandala dan Nazir tetap masih mengutus beberapa bodyguardnya untuk mencari keberadaan Gio yang entah kemana. Penangkapan Sofia akan ada masanya Mandala bercerita ke Erika dan Ismalia. Apalagi mengenai Gio yang belum tertangkap.


Hal ini membuat Ismalia menjadi waspada bahkan merasa takut. Trauma yang dialami Ismalia masih belum hilang. Oleh sebab itu, Mandala mengajak Erika dan Ismalia untuk jalan-jalan ke pantai dengan didampingi beberapa bodyguard Mandala. Setiap gerakan mereka tidak pernah lepas dari penjagaan bodyguard Mandala.


Berada di dalam mobil Erika dan Ismalia hanya terdiam. Namun sesekali terdapat perbincangan diantara Erika dan Ismalia. Mandala hanya terdiam memantau mereka dari kaca spion mobil.


"Ayah, Apa sudah ada informasi mengenai Sofia?" tanya Erika.


"Belum. Memangnya kenapa?" jawab Mandala.


"Gak cuma mau tanya saja. Ya kali saja sudah tertangkap."


"Akan ayah usahakan. Perempuan itu pasti akan segera ditangkap."


"Mudahan saja."


...🌹🌹🌹...


Setelah percakapan singkat antara ayah dan anak tersebut. Mereka akhirnya sudah tiba di kediaman Mandala. Ismalia tidak dibiarkan untuk kembali ke rumahnya. Kecuali kedua orangtuanya yang telah kembali kerumahnya. Dengan alasan terlalu lama meninggalkan rumah dan membuka rumah makan usahanya.


Erika dan Ismalia yang sudah memasuki rumah langsung memasuki kamar. Untuk membersihkan diri dan istirahat. Lain Mandala yang langsung menuju ke ruang kerjanya. Ia harus menghubungi Nazir untuk menanyakan informasi lebih lanjut mengenai laporan penangkapan Sofia.


"Hello, Assalamualaikum. Bagaimana mengenai laporan Sofia di kantor polisi?" tanya Mandala.


"Wa'alaikumussalam. Bukti-bukti kuat yang ada sudah diserahkan semua ke pihak polisi. Sofia kini sudah dimasukkan ke dalam sel penjara. Lebih lanjutnya seminggu dari sekarang baru Sofia akan di sidang. Untuk mengetahui keputusan hukuman Sofia." jelas Nazir.


"Baiklah. Dengan bukti yang ada semoga hukuman Sofia diperberat. Agar ia menerima ganjarannya atas perbuatannya."


"Terus bagaimana mengenai Gio?" tanya Mandala lagi.


"Mengenai informasi Gio belum diketahui secara pasti keberadaannya. Anak buah yang saya suruh sudah mencarinya diberbagai tempat. Bahkan sampai tempat ia sering nongkrong, teman-temannya, dan sampai perusahaannya."


"Staf di perusahaannya mengatakan bahwa bosnya sudah lama tidak berada di kantor. Saat ini CEO dari perusahaannya bukan lagi Gio. Melainkan diambil oleh seseorang yang tidak lain ayahnya sendiri." jelas Nazir lagi.


"Jadi, apakah ayahnya sudah di tanya mengenai keberadaan Gio?"


"Sudah. Ayahnya mengatakan ia sudah lama tidak mengetahui keberadaan Gio. Semenjak Gio menggunakan uang perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Jadi ayahnya memecat Gio dan mengambil alih kembali perusahaan."


"Kalau ke teman-temannya?"


"Sama. Mereka juga tidak mengetahui keberadaan Gio. Terakhir berinteraksi sekitar 5 hari yang lalu di tempat hiburan."


"Bukan itu saja, kami sudah memeriksa apartemennya. Jika dilihat dari keadaan apartemennya rapi seperti sudah ditinggalkan. Resepsionis mengatakan memang Gio pernah tinggal di apartemen ini. Itu pun sudah lama ia tinggalkan sekitar seminggu yang lalu."


"Tapi saya ada meminta nomor ponsel Gio ke resepsionis. Kita bisa melacak keberadaan terakhir Gio. Walaupun nomor ponselnya saat ini tidak ia gunakan lagi."


"Baiklah. Sebaiknya lakukan sekarang, serahkan nomor ponsel itu ke Vino agar bisa melacak keberadaan terakhir Gio. Dengan jejak tersebut kita bisa mencarinya lokasi terakhir."


"Baik. Ahh satu lagi, Gio bukan seorang Mafia biasa. Melainkan ia seseorang yang berbahaya dan licik. Ia juga seorang pengendar dan pemakai serta bos sindikat jual-beli manusia terutama wanita ke luar negeri. Jadi untuk tidak dikenali petugas ia mampu menyamar dengan sempurna. Hingga identitas dirinya ia palsukan. Sehingga tidak menyadari bahwa Gio sedang menyamar." jelas Nazir panjang.

__ADS_1


"Kalau begitu kerahkan anak buah kau juga untuk mencari diberbagai daerah diluar atau didalam. Apa perlu ke utus mereka untuk mencari Gio ke luar negeri. Gali informasi negara mana saja yang didatangi oleh Gio." perintah Mandala.


"Baiklah. Saya akan mengutus mereka. Hmm...bagaimana dengan Erika dan Ismalia apakah mereka sudah mengetahui mengenai hal ini?"


"Tidak. Mereka tidak mengetahuinya sama sekali. Akan ada saatnya saya akan memberitahu hal ini tetapi tidak sekarang."


"Baiklah. Kalau begitu saya tutup dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Percakapan di telepon antara Nazir dan Mandala tanpa diketahui Ismalia mendengar semuanya dibalik pintu ruangan kerja Mandala. Ismalia menjadi ketahuan ketika ia mengalami bersin. Mandala mendengar suara bersin itu lalu menuju ke pintu. Memeriksa seseorang yang mencoba mendengarkan secara diam-diam.


...🌹🌹🌹...


Setelah Mandala membuka pintu, tidak ada siapa-siapa dibalik pintu. Ketika hendak keluar menuju ke kamarnya. Tanpa sengaja ia melihat pantulan wajah Ismalia di cermin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangan kerja Mandala. Dengan pura-pura tidak mengetahui, Mandala tetap menuju ke kamarnya sambil sedikit tersenyum.


Ismalia yang sedang bersembunyi hanya bernafas lega karena tidak diketahui oleh Mandala. Pikiran Ismalia menjadi sedikit was-was terhadap Gio. Walaupun Sofia sudah berhasil ditangkap. Ismalia menenangkan pikirannya. Ia menuju ke dapur membuat sesuatu minuman yang menenangkan pikiran yaitu susu hangat.


Flashback On


Ismalia yang berada di kamar Erika. Tiba-tiba kepikiran ingin pulang ke rumahnya sendiri. Baginya dengan masih menginap di rumah Erika membuatnya merasa tidak enak. Sedangkan orangtuanya sudah kembali ke rumah. Jadi Ismalia berencana ingin berbicara ke Mandala agar ia bisa pulang.


Melihat waktu memasuki pukul 9 malam. Ismalia meminta bantuan Erika untuk bicara ke Mandala. Namun dilihatnya Erika sudah tidur pulas dan merasa tidak tega. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Mandala sendiri di ruang kerjanya. Untuk seisi kediaman Mandala Ismalia sudah sangat hafal.


Ismalia telah tiba di depan ruangan kerja Mandala yang jaraknya hanya beda 2 kamar dan 1 sekat. Ketika hendak mengetuk pintu, tanpa sengaja Ismalia mendengar percakapan antara Mandala dengan seseorang. Percakapan mereka membahas tentang penangkapan Sofia yang berada di penjara dan pencarian Gio.


Ismalia menjadi kaget padahal penangkapan sudah sejak pagi hari tadi. Dan Mandala berencana tidak ingin memberitahu hal ini baik ke Erika ataupun ke dirinya sendiri untuk saat ini. Ismalia agak sedikit waspada dan rasa takut. Tapi mendengar hal ini, Ismalia tetap saja ingin pulang ke rumahnya. Ia berdoa semoga ia dan keluarganya selamat juga Gio dengan cepat bisa ditemukan.


Flashback Off


Ismalia berada di dapur membuat minuman susu hangat dengan posisi membelakangi meja makan. Mandala yang sudah selesai mandi dan ingin mengambil sesuatu di rumah tengah. Tanpa sengaja dilihatnya Ismalia berada di dapur sedang membuat sesuatu. Mandala menghampiri duduk di kursi meja makan.


"Kenapa kamu kaget seperti itu?" tanya Mandala ketus.


Ismalia hanya menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa kamu seperti orang ketakutan?"


Ismalia kembali menggelengkan kepala.


"Kalau begitu tolong buatkan saya kopi. Jangan terlalu manis cukup satu sendok gula saja dan kopinya satu sendok juga."


Ismalia menganggukkan kepala berbalik badan membuatkan kopi untuk Mandala. Mandala sedikit senyum karena ia mengetahui kalau Ismalia pasti sedikit takut. Karena ia sudah mengintip percakapannya. Begitu nyata dari tingkah laku Ismalia tadi.


"Apa yang kamu lakukan di depan pintu ruang kerja saya?" tanya Mandala ketus mengagetkan Ismalia.


Ismalia yang sedang mengaduk air kopi terhenti sejenak mendengar pertanyaan Mandala.


"Ayo katakan? Kamu sudah mendengar semuanya bukan?"


Tanpa berbalik badan, Ismalia tetap posisi semula dengan rasa takut dan bersalah.


"Kalau begitu saya tidak perlu susah payah untuk menceritakan hal ini ke kamu. Tapi kamu jangan khawatir semua pasti akan secepatnya terselesaikan. Anak buah saya sudah mencarinya diberbagai daerah termasuk di luar negeri." jelas Mandala.


Ismalia berbalik badan karena kopi yang dibuatnya sudah siap. Menyerahkannya ke Mandala diatas meja. Dengan rasa takut Ismalia hendak beralih namun dihentikan oleh Mandala.


"Tunggu dulu. Saya belum habis bicara lagi." ucap Mandala.


"Kamu belum menjawab pertanyaan dari saya? Apa yang kamu lakukan di depan ruangan kerja saya?" tanya Mandala menatap tajam Ismalia.

__ADS_1


Ismalia yang ditatap hanya menundukkan kepala saja tanpa berani menatap wajah Mandala yang seram.


"Ma...maaf. Saya tidak bermaksud untuk menguping tetapi saya pada awalnya ingin berbicara seseorang dengan Om. Lalu tanpa sengaja saya mendengarnya." jelas Ismalia dengan rasa takut-takut.


"Apa yang ingin kamu bicarakan ke saya? Katakanlah?"


"Sa...saya ingin meminta izin untuk pulang kerumah saya sendiri. Karena saya merasa tidak enak hati jika terus berada disini. Juga orangtua saya pasti kesulitan saat dirumah makan tanpa saya."


"Apa kamu yakin? Apa kamu tidak merasakan takut?"


"In Syaa Allah, tidak. Semoga saya dan keluarga terlindungi serta pelakunya secepatnya ditangkap."


"Baiklah. Karena saya tidak berhak menghalangi kamu. Saya memberikan izin yang penting kamu tetap berhati-hati. Dan satu lagi bicaralah ke Erika. Jika kamu diizinkannya oke kamu boleh pulang. Kalau tidak diizinkannya sebaiknya tetaplah disini." jelas Mandala sudah selesai menghabiskan kopinya.


Mandala lalu beralih ke atas menuju ke kamarnya. Meninggalkan Ismalia yang masih berdiri di dekat meja makan. Seraya memperhatikan punggung Mandala yang menelusuri tangga menuju ke kamarnya. Ismalia jadi lemah memikirkan bagaimana cara meyakinkan Erika. Karena ia sudah mengetahui sifat dari Erika.


...🌹🌹🌹...


Keesokan pagi semua sedang bersiap dengan masing-masing aktivitasnya. Tampak Bik Inah sedang menyiapkan sarapan pagi untuk orang-orang rumah. Erika dan Ismalia yang berada di kamar juga bersiap-siap atribut sekolah. Serta Mandala sudah siap semuanya untuk turun ke bawah menuju meja makan.


Dilihatnya sang ibu Rita sudah duduk di kursi meja makan. Menu sarapan pagi ini hanya roti dan nasi goreng. Sedangkan untuk minumannya hanya teh dan susu. Bik Inah menyajikan sarapan untuk Mandala. Mandala menoleh sekilas ke ibunya Rita. Teringat akan permasalah semalam mengenai penangkapan Sofia dan Gio yang masih menjadi buronan.


Untuk saat ini, Mandala tidak terlebih dahulu memberitahu mereka terkecuali Ismalia yang sudah mengetahuinya. Mandala menoleh sisi atas tampak Erika dan Ismalia belum juga turun untuk sarapan pagi bersama.


"Erika belum juga turun, buk."


"Sepertinya sebentar lagi. Biasalah perempuan dandannya pasti lama beda kalau laki-laki."


Mandala terdiam melanjutkan menyantap nasi goreng. Tidak lama teriakan Erika menyeru seisi ruangan.


"Selamat pagi semuanya....!!!!" teriak Erika.


"Hushhh...bisa tidak jangan teriak di pagi hari buta." ucap Rita.


"Iya...iya."


Erika dan Ismalia duduk di kursi yang tersedia. Bik Inah kembali menyajikan sarapan untuk mereka berdua. Ismalia masih ada rasa sedikit rasa bersalah terhadap Mandala. Ingat percakapan semalam dengan Mandala. Ismalia secara perlahan mencoba berbicara dengan Erika.


"Mmmm....Erika. Ada yang ingin saya bicarakan ke kamu?" tanya Ismalia ragu.


Mendengar Ismalia ingin bicara. Mandala hanya menoleh sekilas ke Ismalia. Begitu juga Ismalia menoleh sekilas ke Mandala kemudian beralih ke Erika. Suapan Erika terhenti sejenak mendengar pertanyaan Ismalia.


"Bicaralah."


"Boleh tidak saya pulang ke rumah saya hari ini?" tanya Ismalia ragu.


"Kenapa kamu ingin pulang, nak." tanya Rita.


"Iya, kenapa kamu ingin pulang. Situasi kan masih belum aman. Jadi kamu jangan dulu pulang." ucap Erika.


"Saya bisa jaga diri saya kok. Lagipula orangtua saya pasti kesulitan di rumah makan tanpa saya bantu disana. In Syaa Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan saya." jelas Ismalia.


"Tidak bisa. Kamu tidak boleh pulang sebelum semuanya aman. Untuk ibu dan ayah nanti biar aku yang ngomong. Oke...titik!" ucap Erika.


Mandala mendengar percakapan mereka hanya tersenyum ketus. Lalu meninggalkan semua masih di meja makan untuk pergi ke kantor. Ismalia yang mendapat jawaban hanya melemah dan terpaksa menerima.


...Bersambung.......


Jangan lupa untuk like, vote, komen, follow, dan subscribe sahabat readers. Terima kasih karena setia membaca cerita saya 🤗☺️❤️ Dan sesuai permintaan, author akan mengabulkan apa yang ditunggu oleh readers semua😉

__ADS_1


__ADS_2