
Happy Reading ๐ค
...๐น๐น๐น...
Tepat seminggu Erika dan Ismalia telah menyelesaikan ujian kelulusan. Hari dimana setelah kejadian Ismalia yang bebas dari penculikan, penangkapan Sofia, dan pencarian Gio yang belum juga ditemukan hingga saat ini. Kini tinggal satu lagi mereka akan menempuh momen perpisahan di sekolah mereka berdua.
Ismalia yang masih belum diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Karena keadaan belum stabil dan aman. Sedangkan kedua orangtuanya sudah pulang kerumah dengan alasan terlalu lama menutup rumah makan mereka. Sebelum momen besok perpisahan, Erika mengajak Ismalia untuk mencari kebaya modern di sebuah tempat perbelanjaan.
Mereka pergi ke sebuah mall di butik langganan keluarga Bramantio. Di sana terdapat banyak pakaian dari kategori kebaya, gamis, dress, jilbab, dan lain sebagainya. Erika memilih kebaya yang cocok untuk Ismalia. Awalnya Ismalia disuruh untuk memilih sendiri. Karena kebayanya semua bagus dan cantik. Jadi ia menjadi bingung memilih yang mana.
Akhirnya Erika yang memutuskan memilih kebaya untuk Ismalia. Kebaya yang menjadi pilihan Erika ada tiga pasang. Satu kebaya berwarna tosca, kedua kebaya berwarna hijau Wardah, dan ketiga kebaya berwarna hitam. Ketiga kebaya pilihan Erika modelnya sama-sama cantik. Dikarenakan Ismalia menyukai warna yang kalem.
Akhirnya ia memutuskan memilih kebaya warna hijau wardah. Dengan rok kain songket dan jilbab yang senada. Sedangkan untuk Erika, ia memilih warna maron yang senada dengan rok dan jilbab. Selesai membeli kebaya, Erika tidak lupa memboking salon langganannya besok pagi hari. Setelah itu baru mereka mencari makanan.
"Is. Setelah kita makan, lanjut kemana lagi. Mumpung ayah gak ada dirumah." tanya Erika sedang menyantap makanan.
"Kita pulang saja, soalnya kita sudah lama keluar. Sekarang sudah mau hampir Zuhur. Lagian saya mau istirahat sebentar, capek." ucap Ismalia.
"Hmmm... Baiklah. Aku juga terasa capek."
"Oh ya. Kapan Om Mandala pulang dari Singapura." tanya Ismalia telah menyelesaikan makanannya.
"Kata ayah kalau gak salah nanti malam. Itu kalau menepati janji, memangnya kenapa? Kangen ya?" goda Erika.
"Eh...kamu ini. Mana ada, kan cuma nanya. Memang tidak boleh?"
"Ya boleh. Eh, rasa gak sabar ya mau perpisahan besok. Mau tampil cantik dengan makeup dan kebaya." ucap Erika semangat.
"Tidak juga. Malahan besok bisa jadi hari terakhir menjadi seorang gadis. Sebentar lagi akan menjadi istri ayah sahabatnya." ucap Ismalia dalam hati.
"Eh, Is. Kok melamun, kamu gak suka ya. Orang mah perpisahan kelulusan senang-senang. Ini kan momen yang banyak anak-anak tunggu."
"Senang kok. Erika cepat habiskan tu makanan kamu. Saya rasa ingin istirahat cepat."
"Iya...iya. Ini juga mau dihabiskan. Santai dulu napa atau mainkan handphone sambil aku mau menghabiskan makanan, hehe." ucap Erika cengengesan.
"Dasar kamu."
Ismalia hanya memaklumi tingkah laku Erika yang kadang membuat orang kesal. Tapi boleh buat sebentar lagi juga ia akan setiap hari bertemu dengan Erika bahkan menjadi ibu sambungnya. Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu pikir Ismalia. Hanya bertukarnya siang ke malam kelamaan telah menghabiskan dalam satu bulan.
...๐น๐น๐น...
Satu jam kemudian, Erika dan Ismalia telah berada di rumah. Baru menyelesaikan shalat Zuhur bersama. Waktu sudah menunjukkan siang hari. Ismalia turun ke bawah seperti biasa membantu Bik Inah menyiapkan makan siang. Bik Inah sudah sering melarang Ismalia tetapi tetap saja ingin membantu.
Kediaman Mandala hanya Erika, Ismalia, dan pembantu serta supir yang berada rumah. Untuk nenek Erika yaitu Rita sedang pulang ke rumahnya sebentar untuk mengambil pakaian dan barang milik Bramantio. Sedangkan Mandala sudah dua Minggu berada di Singapura untuk pekerjaan bisnis.
Dapat diperkirakan Mandala akan pulang pada malam nanti. Karena Mandala harus menghadiri perpisahan putri semata wayangnya besok pagi. Masakan yang dibuat akhirnya sudah terhidang di atas meja makan. Berbagai macam menu yang masak bersama Bik Inah dan juga yang lain.
__ADS_1
Terdengar suara bel rumah, Ismalia beralih dari meja makan untuk membuka pintu. Rita dan Bramantio telah sampai. Sopir membawa dua koper dibawa masuk ke dalam kamar. Ismalia menyalami Rita dan Bramantio langsung duduk di ruang tengah. Ismalia tidak lupa mengambilkan minuman dan cemilan yang dibelinya tadi. Lalu duduk di sebelah Rita sambil mengobrol sebentar.
"Bagaimana belanjanya tadi? Apa sudah dapat kebaya yang cocok untuk kamu?" tanya Rita.
"Alhamdulillah, nek. Sudah dapat tadi begitu juga Erika." jawab Ismalia.
"Untuk make-upnya bagaimana? Besok kalian harus berangkat awal loh."
"Sudah di booking tadi juga oleh Erika, nek."
"Wah pasti kebaya kalian cantik-cantik kan."
"Ya, nek. Memang bagus sekali tapi nek apa tidak berlebihan dari harganya saya ngeri."
"Sudah kamu jangan pikir masalah harganya. Kamu ini bagaimana, Kita kan sebentar lagi akan menjadi keluarga."
"Ya, Is. Kamu jangan merasa sungkan begitu. Sebentar lagi kamu akan menjadi calon menantu dirumah ini." timpal Bramantio.
Ismalia mendengar ucapan Bramantio menjadi tersipu malu. Karena disebut-sebut bakal menjadi calon menantu. Syukur saja Ismalia memakai jilbab jadi tidak kelihatan pipi yang memerah oleh Bramantio dan Rita. Kelamaan mengobrol, Rita dan Bramantio beranjak dari duduknya menuju ke meja makan karena rasa lapar.
"Oh ya, Is. Erika mana kok tidak kelihatan. Kemana tu anak?" tanya Bramantio sudah duduk di kursi meja makan.
"Ada dikamarnya, kek. Mungkin tidur kecapean habis dari belanja tadi."
"Ya sudah kamu bangunkan saja dia. Ajak makan siang." perintah Rita.
Ismalia yang baru duduk, mendadak berdiri namun ditahan Bramantio.
"Iya kek." ucap Ismalia duduk kembali.
Ismalia makan sedikit karena sebelumnya ia sudah makan siang bersama Erika di luar.
"Lo kok, sedikit sekali kamu makan Is." ucap Rita.
"Maaf ,nek. Tadi saya dan Erika sudah makan siang bersama di luar saat belanja."
"Oh begitu. Ya sudah kalau kamu sudah selesai. Kamu ke atas saja istirahat sana. Nenek dan Kakek habis ini juga mau istirahat."
"Nanti saja, nek. Ismalia mau bantu Bik Inah kemas bekas makan siang ini dulu."
"Ehh...tidak perlu. Kamu tidak perlu repot ada Bik Inah dan yang lain kemas. Sudah kamu istirahat sana ya."
"Tapi, nek."
"Sudah sana."
"Bik....tolong nanti kemas ya?"
__ADS_1
"Ya, Nya." jawab Bik Inah.
...๐น๐น๐น...
Mandala yang sudah berada di Airport Singapura bersiap untuk pulang ke tanah air. Mandala menghubungi Nazir untuk melarang menjemput dirinya di Airport Jakarta. Tidak lama Mandala pun sudah memasuki pesawat. Namun tanpa di sadari, seseorang tengah memperhatikan Mandala dari kejauhan di Airport lalu menghubungi seseorang.
Mandala memang sengaja tidak membawa beberapa bodyguard karena perjalanan bisnisnya kali sedikit privasi. Memakan beberapa hari untuk menyelesaikan proyeknya. Sedangkan Nazir juga tidak ikut serta karena ia harus mengurus permasalahan sebelumnya yang belum selesai yaitu pencarian Gio.
Selain itu, Nazir juga membantu mengurus perusahaan Mandala sementara selama dua Minggu. Tugas yang diemban Nazir lumayan cukup berat. Di satu sisi ia melakukan penyelidikan pencarian Gio, mengurus perusahaannya sendiri, dan membantu Mandala mengurus perusahaan.
Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Rita, Bramantio, Erika, dan Ismalia sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton film. Erika terus memperhatikan jam yang sudah pukul 8 malam. Erika mengeluh karena sang ayah belum pulang juga. Tingkah Erika membuat Rita merasa heran.
"Kamu kenapa, Rika. Dari tadi dikit-dikit melihat jam terus." tanya Rita.
"Ayah ni, nek. Kok belum sampai juga?"
"Kamu ini. Mungkin masih dalam perjalanan ataupun pesawatnya ditunda."
Erika yang duduk di dekat sang nenek. Tiba langsung berbaring di pangkuan Rita. Rita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Erika. Ismalia yang melihatnya hanya tertawa geli. Sedangkan Bramantio yang sedang membaca koran tidak terusik sedikit pun.
"Sudah, Rik. Kita tunggu saja mungkin ayah kamu mengalami kemacetan di jalan." tambah Bramantio melipat koran menyeruput teh.
"Ya sudah. Kalau begitu Erika ke atas saja. Mau istirahat, kelamaan nunggu ayah pulang. Kalau ayah pulang bilang ya, kalau Erika ngambek."
Erika merajuk langsung naik ke atas menuju kamar. Gelagat Erika membuat Rita, Bramantio, dan Ismalia ketawa. Tidak lama Ismalia pun menyusul Erika. Karena sudah mulai mengantuk.
"Sudah kamu susul Erika sana. Temani dia, besok kan harus bangun awal."
"Tapi nenek dan kakek?"
"Sudah. Naik sana tidur, kami masih mau mengobrol dulu."
"Baiklah. Assalamualaikum." ucap Ismalia sambil menyalami tangan Rita dan Bramantio.
"Wa'alaikumussalam." jawab serentak.
Ismalia membuka pintu kamar Erika. Dilihatnya Erika telungkup tanpa gerakan. Ismalia mengira Erika merajuk dan menangis. Ismalia menoleh ke wajah Erika ternyata Erika tertidur dengan suara dengkuran. Ismalia menggelengkan kepala.
"Erika...Erika. Kirain nangis eh nyatanya tidur. Dasar mudah sekali kamu tidur." ucap Ismalia yang kemudian menyusul Erika tidur.
Lain cerita Mandala yang sudah berada di dalam mobil taksi yang ia pesan. Benar perkiraan Bramantio, taksi yang ditumpangi Mandala memang mengalami kemacetan di jalan. Selama satu jam lamanya kemacetan akhirnya kembali normal. Mandala terus memainkan tab ditangannya.
Tiba-tiba seseorang menggunakan sepeda motor beriringan di samping pintu mobil taksi. Mandala memperhatikan orang tersebut begitu mencurigakan. Mandala membuka kaca jendela. Namun orang tersebut sudah melaju. Hal ini membuat Mandala curiga dan menghubungi Nazir.
Menceritakan semuanya ke Nazir agar mencari tahu ciri-ciri orang yang Mandala sebutkan. Mandala sempat berpikir, akan itu sosok yang ia cari yaitu Gio. Ataupun hanya orang-orang suruhan Gio saja. Dilihat dari postur tubuhnya bukan postur tubuh Gio. Sesampainya di rumah Mandala harus mencari tahu dan mengerahkan bodyguardnya.
Sesampainya di rumah, pak satpam membantu membawakan barang yang dibawa oleh Mandala. Tampak seisi rumah sepi seperti sudah tidur. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam. Jadi Mandala memutuskan langsung membersihkan diri dan kemudian tidur.
__ADS_1
...Bersambung.......
Jangan lupa like, vote, follow, komen, subscribe biar author semangat update-nya pada readers๐ค