
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Akibat terobsesinya Sofia terhadap Mandala. Ia mampu melakukan apapun demi memiliki Mandala bahkan menyingkirkan yang berani mendekati Mandala. Sofia berbuat licik dengan menipu sang pembantu keluarga Mandala hanya untuk memberikan pelajaran untuk Ismalia yaitu dengan meneror berupa pesan singkat yang berisikan sebuah ancaman.
Ismalia yang mendapat pesan dari seseorang menjadi sedikit takut. Akibat rasa takutnya ia berakhir menginap di rumah Erika. Ismalia yang berbaring di atas ranjang hanya bolak-balik saja tanpa memejamkan mata. Ia begitu gelisah dan takut mengakibatkan tenggorokan terasa haus.
Ismalia ingin membangunkan Erika merasa tidak tega. Melihat Erika yang sedang tidur nyenyak dan waktu pun baru menunjukkan pukul 21.26 wib. Ismalia akhirnya memutuskan untuk turun ke dapur sendiri. Ismalia membuka pintu secara pelan lalu menuju tangga. Menghidupkan saklar lampu, mengambil botol air lalu ia tuangkan ke dalam gelas. Kemudian ia teguk hingga tandas.
Ismalia duduk sejenak di kursi meja makan. Mengingat pesan dari orang misterius hingga melamun.
"Siapa orang itu, mengapa aku disuruh untuk menjauhi Om Mandala? Ataukah itu dari pacar Om Mandala? Tapi kata Nenek Rita Om Mandala tidak memiliki pacar ataupun teman perempuan. Apalagi sikapnya yang dingin seperti kayak kulkas tiga pintu." ucap Ismalia dalam hati.
"Kalau ya pun, kenapa sampai segitunya mengancam bawa-bawa nyawa lagi. Apa segitunya ya orang itu menyukai Om Mandala?"
Ismalia menatap sejenak ponsel yang ia bawa. Beralih menuangkan kembali air ke dalam gelas lalu ia teguk. Saat meneguk air di dalam gelas, suara ponsel berbunyi menandakan pesan masuk. Ismalia membuka kembali ponselnya, ia kembali terkejut nomor orang misterius tersebut mengirim sebuah foto boneka beruang bersimbah darah dengan badan tersayat-sayat.
"Aaaa......" teriak takut Ismalia sembari melemparkan ponselnya ke lantai.
Tiba-tiba Mandala muncul memungut ponsel Ismalia dan melihat wajah Ismalia yang ketakutan. Mandala merasa heran dan penasaran melihat isi ponsel Ismalia yang masih hidup. Dengan secepat kilat Ismalia mengambil ponsel yang berada di tangan Mandala.
"Ja-jangan...." larang Ismalia masih ketakutan.
"Kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang ketakutan?" tanya Mandala dingin menatap Ismalia lekat.
Ismalia masih rasa ketakutan tidak berani menatap wajah Mandala yang bertanya kepadanya.
"Ti-tidak, tidak apa-apa Om. Cu-cuma tadi Ia ketemu kecoa saja diatas meja." ujar Ismalia berbohong.
Mandala terus menatap lekat Ismalia dengan ekspresi datarnya.
"Terus kenapa kamu belum tidur?" tanya Mandala lagi masih dengan ekspresi sama.
"I-Is tadi sudah tidur Om tapi terbangun. Ka-karena tenggorokan Is kering jadi haus. Lalu Is turun ke bawah minum air. Maaf, Is mengganggu tidur Om." jelas Ismalia masih wajah tertunduk.
"Ya sudah, kembali tidur sana. Sudah selesaikan?" tanya ketus Mandala.
"I-iya, sudah Om. Kalau begitu Is naik ke kamar dulu Om." ujar Ismalia meninggalkan Mandala yang masih berada di dapur.
Mandala terus menatap punggung Ismalia yang berjalan menaiki tangga hingga tiba di kamar Erika.
"Kenapa dia? Kenapa seperti sedang ketakutan begitu?" monolog Mandala dalam hati.
"Ah...sudah lah." ujar Mandala sembari mengambil botol di kulkas.
Mandala menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya hingga habis. Selesai Mandala mematikan saklar lalu menaiki tangga menuju ke kamar.
...🌹🌹🌹...
Pada besok pagi tepatnya di Hari Jumat. Suasana yang dihiasi cahaya matahari, titik embun menghiasi dedaunan, dan udara yang begitu segar juga sejuk. Menambah keindahan Hari Jumat yang berkah. Diperkirakan hanya tinggal 1 hari lagi hari bahagia Mandala dan Ismalia.
Pagi hari ini Ismalia diantar oleh Mandala. Karena Mandala sekalian hendak pergi ke kantor. Sebelum pulang, Ismalia dan keluarga Bramantio tengah sarapan pagi bersama. Momen kebersamaan keluarga berkumpul di pagi hari terdengar dentingan sendok dan garpu saling beradu.
"Is, kenapa gak nginap sini lagi aja? Kan besok pagi sudah akad?" tanya Rita.
"Maaf, Nek. Is harus pulang kan sebentar lagi Is bakalan ninggalin jadi Is mau sepenuhnya bersama Ibu dan Ayah Nek." jawab Ismalia.
"Ah iya, gak papa deh. Seterusnya kamu akan tinggal disini." ujar Rita.
"Oh ya, Man. Kamu kapan cutinya, kok kerja mulu sudah dekat loh Man harinya." kini tanya Rita ke Mandala.
__ADS_1
"Iya, Buk. Nanggung masih banyak yang belum selesai."
"Kan kamu bisa menyuruh Ridwan buat melanjutkan pekerjaan kamu."
"Kadang Ridwan juga mencari aku Buk. Jadi aku harus tetap stay. Buat hari saja kok Buk."
"Kamu ini? Tapi nanti kamu harus pulang awal ya?"
Mandala hanya terdiam mendengar perintah Rita. Kini kembali hening tanpa percakapan menghabiskan makanan yang mereka santap. Sekiranya telah habis, Mandala dan Ismalia berpamitan. Mandala berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu kemudian Ismalia menyusul. Mobil Mandala melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil hanya hening, Ismalia menatap jalanan dibalik kaca mobil. Mandala sesekali menoleh ke arah Ismalia yang tampak seperti melamun baginya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mandala mengagetkan Ismalia.
Ismalia yang sedikit terperanjat menoleh ke Mandala.
"Ti-tidak, tidak apa-apa Om."
Setelahnya Mandala tidak bertanya kembali karena mobil mereka sudah tiba di gang menuju kediaman Ismalia. Ismalia turun dari mobil tidak lupa juga mengucapkan terima kasih. Mandala tidak menjawab ucapan Ismalia langsung melesat pergi. Ismalia hanya menatap sebentar mobil Mandala yang sudah tidak kelihatan. Lalu berjalan menelusuri gang sempit ke rumahnya.
Sesampai di rumah, Ismalia mengucapkan salam masuk menuju ke dapur mencari keberadaan sang Ibunya yaitu Mastiara yang menyambut salam dari Ismalia. Dilihatnya Mastiara sedang memotong sayur dan memasak. Ismalia langsung duduk di kursi meja makan.
"Eh...Anak Ibu sudah pulang?"
"Ayah mana Buk?" tanya Ismalia mendudukan diri di kursi meja makan.
"Ayah kamu sudah berangkat pagi-pagi sekali ke pasar terus langsung ke Rumah Makan." jawab Mastiara.
"Ya udah deh Buk. Is pergi ke kamar dulu."
Ismalia menuju ke kamar mengganti pakaian kemudian duduk ditepi ranjang. Mengambil ponselnya di dalam tas. Hendak membuka ponselnya ternyata sudah lowbat. Ia mencolokkan charger ke ponsel lalu menghidupkan kembali tanpa memainkannya. Ismalia kembali menemani Mastiara yang sedang masak di dapur.
...🌹🌹🌹...
Rita dan Erika ikut turut andil memantau para dekorator. Tidak pernah lupa Erika mengabadikan momen pendekorasian lalu dikirim ke WhatsApp Ismalia. Ismalia yang sedang berada di rumah mendapat kiriman foto dari Erika. Ismalia menjalani sebuah adat dimana sebelum acara akad nikah pengantin perempuan tidak diperbolehkan untuk keluar rumah.
Ismalia melamun mengingat pesan dari orang misterius kemarin malam. Krek suara pintu terbuka Mastiara memantau dari balik pintu. Mastiara lalu masuk duduk ditantang tepat disamping Ismalia. Mastiara menggapai tangan lalu menggenggam untuk menenangkan Ismalia yang sejenak terlihat gelisah dan melamun.
"Ada apa Is? Apa yang kamu pikirkan? Coba kamu bilang sama Ibu?" tanya Mastiara.
"Tidak ada apa-apa kok, Buk."
"Lalu apa yang membuat kamu terlihat gelisah?"
"Gak ada kok, Buk. Is baik-baik saja."
"Apa kamu merasa kurang yakin dengan keputusan itu?"
"Maksud Ibu? Kurang yakin bagaimana?" tanya balik Ismalia.
"Tentang keputusan pernikahan kamu besok. Kalau masih kurang yakin, kita coba bicara dari hati ke hati ke Ibu Rita."
"In Syaa Allah, Is sudah yakin kok Buk. Kalau pun ingin mundur rasa sudah terlambat. Dan kalau di batalkan yang pasti kehormatan Ibu Rita dan kita yang menjadi taruhannya. Is gak mau itu Buk." jelas Ismalia.
"Baiklah. Semoga keputusan kamu ini akan membawa kamu menuju kebahagiaan. Ibu dan Ayah hanya bisa mendoakan saja."
"Iya, Buk. In Syaa Allah. Selalu doakan Is ya Buk."
"Selalu, Nak. Ya udah, Ibu mau kebelakang dulu mau buat kue untuk Ibu Rita. Takutnya kemalaman buat dan mengantarnya."
"Ya, Buk. Is bantu ya Buk."
__ADS_1
"Baiklah."
Mastiara dan Ismalia keluar bersamaan menuju ke dapur. Untuk bahan-bahannya sudah dibeli sejak pagi tadi oleh Mastiara. Sedangkan Ismalia tidak ikut hanya mengemas rumah dan memasak saja. Beberapa menit adonan sudah tercampur semua. Hanya tinggal memasukannya ke dalam cetakan.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam. Mastiara dan Ismalia menghentikan kegiatannya, Mastiara menghampiri suara tersebut di pintu utama. Ismalia kembali melanjutkan kegiatan membakar kue dimasukkan ke dalam oven. Mastiara membuka pintu tampak sang sopir keluarga Rita yaitu Pak Rahmad membawa sebuah paperbag.
Pak Rahmad memang disuruh oleh Rita untuk mengantarkan sebuah baju kebaya pengantin dan pakaian keluarga Ismalia untuk acara akad besok pagi. Mastiara hendak mempersilahkan Pak Rahmad masuk namun ditolaknya karena harus kembali lagi ke rumah.
"Baiklah. Terima kasih Pak sudah mengantarkannya." ucap Mastiara.
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."
" Wa'alaikumussalam."
Mastiara kembali menuju ke kamar terlebih dahulu meletakkan baju kebaya pengantin milik Ismalia dan baju buat keluarga Ismalia. Lalu kemudian menuju ke dapur menyelesaikan kegiatan membasuh bekas membuat kue. Ismalia penasaran dengan orang yang datang tadi.
"Siapa, Buk?" tanya Ismalia tengah memasukkan kue ke satu cetakan yang kedua.
"Oh itu. Pak Rahmad sopirnya keluarga Rita. Sedang mengantar pakaian kebaya pengantin kamu buat besok."
"Ohh...Lalu Pak Rahmad gak masuk?"
"Udah. Tapi dia nya gak mau katanya ia harus cepat pulang."
Setelahnya tidak ada obrolan antara Mastiara dan Ismalia. Sambil menunggu kue yang mereka buat matang. Mastiara telah menyelesaikan kegiatannya. Sedangkan Ismalia sudah masuk ke dalam kamar membuka isi di dalam paperbag yang dibawa Pak Rahmad tadi.
Mencoba memakainya, Ismalia melihat pantulan wajahnya di kaca terlihat sangat pas di badannya serta aksen-aksen yang tidak terlalu mewah. Serasa selesai mencobanya, Ismalia menggantung kebayanya. Lalu keluar menuju ke dapur memantau kue yang mereka buat.
...🌹🌹🌹...
Di kediaman Mandala, dekorasi pelaminan dan ruangan sudah siap semua. Dari yang besar hingga ke kecil. Erika dan Rita merasa senang dan kagum dengan hiasannya yang dibuat oleh para dekorator. Perasaan Rita saat ini terasa campur aduk antara senang dan sedih.
Senangnya ketika untuk sekian lama rumahnya kembali dihias seperti ini lagi. Sedihnya Rita kembali teringat akan moment dimana Mandala menikah dengan Mama Erika. Kemudian meninggalkan semua untuk selamanya ketika hendak melahirkan Erika.
Tiba-tiba Mandala datang entah sejak kapan membuyarkan lamunan Rita yang hampir meneteskan airmata. Mandala berusaha menenangkan Rita dengan mengusap bahu sang Ibu.
"Ada apa, Buk. Kenapa menangis?"
"Ibu gak nangis Man. Hanya terharu saja. Sudah lama sejak dari moment itu kini kembali terulang lagi."
Mandala tidak menjawab dari ucapan Ibunya. Melainkan hanya terdiam menatap hiasan pelaminan dan seisi ruangan.
"Man. Kamu berjanjilah kalau kamu akan selalu menjaga Is. Dia gadis yang baik dan penurut. Ibu yakin kamu akan merasa kebahagiaan yang kedua kalinya bersama dengan Is." ucap Rita sembari mengelus telapak tangan Mandala dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"In Syaa Allah, Buk."
Sudah selesai semua, para dekorator sudah pulang setelah menerima bayaran dari Rita dengan jumlah yang lumayan besar. Namun tidak berarti bagi keluarga Bramantio. Tanpa terasa hari sudah hampir Maghrib. Keluarga Bramantio mengambil wudhu dan shalat berjamaah.
Setelah shalat berjamaah Rita, Bramantio, Mandala, dan Erika kini tengah menikmati makan malam bersama.
"Bagaimana untuk persiapan besok, apa sudah selesai?" tanya Bramantio ke Mandala saat menyantap makanan.
"Alhamdulillah, sudah semua. Besok hanya tinggal menunggu penghulu datang saja."
Bramantio hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Oh ya. Besok jangan lupa bilang sama Pak Rahmad dan Pak Agus buat jemput Is dan keluarganya besok di rumahnya." perintah Rita.
"Ya, Buk. Nanti akan aku kasih tau."
Hening tidak ada percakapan diantara mereka. Hanya fokus menyantap makanan dan serasa selesai tidak ada kegiatan apapun. Mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing.
__ADS_1
...Bersambung......
Jangan lupa like, vote, komen, subscribe, dan follow readers 🤗❤️ biar makin semangat Up-nya😊