
Happy Reading๐ค
...๐น๐น๐น...
Keesokan pagi terasa dingin menyentuh kulit Erika. Bangun membuka mata menoleh ke nakas melihat jam sudah memasuki waktu subuh. Erika menurunkan kaki lalu menuju ke kamar mandi mengambil air wudhu. Menunaikan kewajiban dua rakaat di waktu subuh.
Selesai Erika membaca sebentar ayat suci Alquran setelahnya Erika langsung memasuki kamar mandi untuk mengguyur badannya. Entah kenapa Erika tiba-tiba ingin mandi subuh.
Krek
Erika keluar dengan pakaian kimono kepala digulung handuk. Duduk di depan meja hias mengambil hair dryer. Menuju ke ranjang untuk berbaring sejenak dengan pakaian masih menggunakan kimono.
Mengambil benda pipih membuka aplikasi hijau. Membuka beberapa grup whatsapp di ponsel. Tidak ada yang penting menutup ponsel diletakkan di atas nakas. Mata sedikit mulai meredup akhir tidur kembali.
Pada pukul 6 pas terdengar suara pintu diketuk. Erika menjangkau jam di atas nakas dengan mata menyempit terlonjak bangun menuju lemari pakaian mengambil seragam sekolah. Menyiapkan buku dimasukkan ke dalam tas.
Penampilan yang cukup rapi Erika membukakan pintu. Berdiri sang pembantu di balik pintu mengajak turun ke bawah sarapan pagi. Erika jalan duluan dan sang pembantu mengekori di belakang. Tampak di meja makan sudah ada sang nenek Rita dan sang ayah Mandala sedang menyantap makanan.
"Pagi nenek, ayah." turun sambil mencium pipi Mandala dan nenek Rita.
Erika menarik kursi mendudukan dirinya. Sang pembantu membantu menyajikan makanan Erika.
"Tumben sekali kamu bangun telat" tanya sang nenek Rita.
"Sebenarnya Eri bangun awal. Tapi kenapa sehabis shalat dan mandi Erika baring sebentar tanpa terasa ketiduran deh. Bangun sudah pukul 6." jelas Erika sambil memasukkan roti ke mulut.
"Oh... Semalam kamu pulang jam berapa, Man?" kini giliran pertanyaan beralih ke Mandala.
"Semalam aku pulangnya agak larut buk pukul 10 malam soalnya masih banyak pekerjaan yang belum selesai." jelas Mandala juga.
"Kamu kerja jangan terlalu dipaksain jaga kesehatan. Ingat kamu sejak kejadian keserempet kemarin kamu belum sembuh total." menasehati Mandala.
"Iya yah. Jangan terlalu maksain kerja sekali-kali holiday kek buat masa penyembuhan." timpal Erika.
"Ya buk, Rika. In syaa Allah nanti setelah pekerjaan selesai akan mengambil cuti sebentar. Tapi untuk saat ini memang benar-benar banyak sekali pekerjaan apalagi pembangunan proyek baru di daerah Makasar."
"Terserah kamu yang penting kamu jaga kesehatan, makan jangan sampai telat. Mentang-mentang banyak kerjaan kamu lupa dengan perut yang perlu kamu isi." ucap nenek Rita memperingatkan.
"Ya, Buk. Aku selalu ingat. Ya sudah aku pamit dulu." telah menyelesaikan makanannya.
"Sayang ayah berangkat ya." ujar kembali Mandala sambil mengecup kening Erika dan mencium tangan sang Ibu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." sahut Nenek Rita dan Erika.
Mandala memiliki penyakit maag. Sebelumnya pernah terjadi ketika ia lupa makan saat ia tengah asik mengerjakan kerjaan kantor hingga lupa waktu. Saat itu juga ia mengalami nyeri dan mual. Sehingga sang sekretaris membawanya ke rumah sakit. Syukur saja mengalami maag ringan tidak sampai kronis.
Sang sekretaris membawa Mandala pulang ke rumah dengan keadaan lemah. Nenek Rita panik melihat sang anak di gotong. Sang sekretaris menjelaskan bahwa Mandala mengalami sakit maag karena telat makan.
...๐น๐น๐น...
Di kediaman Ismalia tampak sekeluarga sudah menghadiri sarapan pagi di meja makan sederhana mereka. Dengan makanan yang sederhana juga nasi goreng ditambah celur ceplok. Tampak sekali canda gurau adik-adik Ismalia. Melihat tingkah sang adik Ismalia hanya menggeleng saja.
Selesai sarapan Ismalia pamit dengan kedua orangtua mereka mencium tangan. Ismalia sebelum berangkat ia harus mengantarkan sang adik sekolah terlebih dahulu baru ia akan berangkat ke sekolahnya.
Di perjalanan tampak sedikit agak ramai mobil motor berlalu lalang karena pagi hari aktivitas masyarakat pergi kerja dan sekolah. Jadi sangat tidak jarang kalau terjadi kemacetan di jalan kadang Ismalia sering telat.
Ismalia sesampainya di sekolah mobil Erika pun tiba. Sang sopir membukakan pintu Erika keluar berteriak dan berlari menghampiri Ismalia yang sedang memarkirkan sepedanya.
"Is... Tungguin." teriak Erika sambil berlari. menuju Ismalia.
"Kamu ngapain sih teriak-teriak. Diliatin tuh?" ujar Ismalia kesal.
__ADS_1
"Sorry he." Erika senyum terkekeh menampilkan gigi putihnya.
Mereka pun memasuki kelas bersama. Terdengar berisik dari kelas Erika dan Ismalia jadi penasaran melihat kegiatan mereka. Ternyata Rio dan Rehan sedang bermain Panco yang dikeliling beberapa cewek dan cowok saling bersorak.
Ismalia hanya menoleh menggeleng sebentar lalu mendudukan diri. Erika ikut menghampiri karena terlihat agak seru. Semua ikut berteriak ketika Rio menang adu Panco teemasuk Erika. Tidak lama suara bel lun berbunyi. Semua kembali ke kursi masing-masing duduk rapi dan disiplin ketika guru masuk kelas.
Pas jam istirahat tiba Erika, Ismalia, dan Tania pergi ke kantin bersama. Rio dan Rehan tidak ikut karena tugasnya belum selesai. Mereka memanggil penjualnya memesan bakso. Sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol.
"Emm... Is. Nanti ke rumah gue ya?" ajak Erika.
"Ngapain." jawab Ismalia.
"Ya gak ngapa-ngapain sih. Gimana kalau kita ngerujak saja."
Tak lama bakso pesanan mereka pun datang beserta minumannya.
"Gue gak diajak nih." ujar Tania sambil menyeruput air minum.
"Ajak dong. Kalau ngerujak kan gak enak kalau cuma berdua."
"Ya sudah. Sepulang sekolah kan?" tanya Tania.
"Iya. Lo gimana, Is. Kali ini lo gak boleh nolak. Please." Erika memohon menangkupkan telapak tangan.
Tampak berfikir "Ya sudah deh. Aku mau." Jawab Ismalia setuju.
Mereka menghabiskan bakso hingga tandas bak sawah kekeringan air di musim kemarau panjang.
Sepulang sekolah Erika, Ismalia, Tania, Rio dan Rehan berpisah di pintu gerbang sekolah. Ismalia mengayuh sepedanya menuju ke rumahnya. Terkecuali Erika, Ismalia, dan Tania yang langsung menuju ke rumah Erika.
Ismalia pada saat di kantin tadi sempat berpamitan ke sang ibu dirumahnya meminta izin untuk ke rumah Erika. Sang Ibu Ismalia sangat mengenal Erika sehingga ia memberikan izin. Lagi pula rumah makan mereka tidak terlalu ramai sehingga tidak kewalahan melayani.
Setiba di kediaman Erika mobil memasuki halaman sopir keluar membukakan pintu. Erika dan temannya langsung turun mengikuti langkah Erika menuju pintu. Mereka masuk memberikan salam. Rumah tampak sepi yang hanya ada sang membantu sedang berkutat di dapur.
"Bik. Nenek mana? Kok sepi sih?" tanya Erika.
"Nyonya pulang ke rumahnya sebentar non. Katanya kakek non sedang sakit." ujar sang pembantu.
"Apa! Kok aku gak tau sih bik."
"Tadi nyonya aja tampak terburu non. Katanya bilangin ke non bahwa nyonya kw rumahnya kemungkinan gak pulang malam ini non." jelasnya.
Erika beranjak dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman sirup dan cemilan untuk Ismalia dan Tania. Erika menjangkau tas membukanya mengambil ponsel menghubungi sang nenek.
Ismalia dan Tania menyeruput minumannya tampak heran melihat Erika seperti orang khawatir. Mereka tidak berani bertanya hanya memperhatikan saja.
Tut Tut Tut
Terdengar panggilan diangkat oleh sang nenek.
"Hello. Assalamualaikum. Ada apa sayang?" tanya sang nenek dari seberang sana.
"Hello. Wa'alaikumussalam. Nenek tadi kok gak hubungin aku sih kalau kakek sakit." ujar kesal.
"Maaf nenek sayang. Nenek gak sempat hubungin kamu soalnya terburu-buru jadi nenek cuma pesan ke Bik Inah saja." jelas Nenek Rita.
"Kamu tenang aja. Kakek kamu sudah baikan kok. Oh ya nenek malam ini gak bisa pulang karena harus jagain kakek kamu mungkin selama seminggu." timpalnya lagi.
"Aaaa... lama banget, nek. Kenapa kakek gak dibawa ke sini saja."
"Kakek kamu yang menolak katanya gak mau merepotkan."
"Siapa bilang. Tapi ya sudah deh. Titip salam sama kakek. Kemungkinan besok pulang sekolah Erika akan ke sana."
__ADS_1
"In syaa allah akan nenek sampaikan. Kamu jaga baik-baik jangan keluyuran mentang-mentang gak ada nenek di sana."
"Iya, Nek. Erika akan selalu ingat. Ya sudah nek Erika tutup dulu ya ada teman Rika nih Ismalia dan Tania dirumah."
"Ya sudah. Sampaikan salam nenek ke Ismalia ya."
"Ya, nek."
"Baiklah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." sahut Erika.
Erika menutup panggilan menoleh ke Tania tengah asik dengan ponselnya sambil memakai cemilan sedangkan Ismalia membaca novel yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Ismalia pun bertanya karena penasarannya tampak kelihatan khawatir.
"Nenek kenapa, Rik?" tanya Ismalia.
"Gak papa. Cuma nenek pamit gak pulang selama seminggu karena kakek sakit. Tapi kondisinya sudah baikan kok." jelas Erika.
"Jadi malam ini lo sendirian dong. Apalagi ayah lo belum pulang dari kantor." ujar Tania.
"Gak sendiri amat sih kan ada pembantu di rumah."
Tania memangut saja.
"So jadi gak nih ngerujaknya?" tanyak Tania.
"Astaghfirullah... gue lupa. Kita langsung ke dapur saja deh buat bahannya." ajak Erika menuju ke dapur.
Mereka langsung mengumpulkan bahan-bahan pembuatan rujak. Bik Inah ikut membantu membuat sambal rujaknya sedangkan Erika, Ismalia, dan Tania mengupas, mencuci, dan mengiris buah.
Setelah siap pembuatan rujaknya. Bik Inah langsung menaruhnya di meja makan. Mereka tidak sabar untuk mencicipi rujak tersebut. Tak lupa juga Bik Inah ikut bergabung karena ajakan Erika.
Sangat menikmati tanpa terasa rujak mereka habis ludes tak tersisa. Rasanya cukup enak walaupun terasa pedas. Entah berapa gelas mereka habiskan air putih. Sebab request dari Erika juga yang menginginkan rujak yang pedas.
Mereka bersandar karena kekenyangan air. Tania beranjak dari kursinya terasa mules lalu menuju toilet di dekat dapur. Tinggallah Erika dan Ismalia di meja makan. Bik Inah sudah beranjak setelah mencicipi beberapa lalu melanjutkan mencuci pakaian.
Sedikit ragu Erika bertanya "Emmm... Is. Mau gak lo tolongin gue."
"Mau aku tolongin apa?" tanya Ismalia.
"Lo temenin gue malam ya. Gue takut sendiri di rumah walaupun ada Bik Inah." Erika tampak memohon.
"Bagaimana ya tadi aku pamitnya cuma sebentar doang ke ibu."
"Nanti hubungin lagi deh. Pasti nyokap lo mau secara kan sama gue bukan oranglain."
Tampak mikir.
"Sini biar gue saja yang hubungin nyokap lo." mengambil ponselnya di meja ruang tamu.
Erika menghubungi ibu Ismalia dan terhubung lalu memberitahu ke Ibu Mastiara untuk meminta izin agar Ismalia bisa menginap di rumahnya. Dengan jurus andalannya Erika akhirnya Ibu Mastiara menyetujui ajakan Erika untuk menginap.
Ibu Mastiara seorang yang tidak tegaan apabila kalau ada seseorang yang memohon. Apalagi dengan suara Erika yang terlihat seperti anak manja merayu ibu untuk membelikan mainan baru.
Ada saja tingkah laku Erika. Ibu Mastiara berasa memiliki anak lagi dilihat dari sikap nya yang manja Naudzubillah gak ke lawan ngalahin si kembar malahan. Bahkan Erika sering di ejek oleh si kembar ketika berada di rumah Ismalia.
...Bersambung........
Jangan lupa like, vote, komen, dan subscribe ya...
Jangan pelit loh ya
Salam Jumat Berkah ๐ค
__ADS_1