
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Sahabat Erika dan Ismalia merasa kaget mendengar penjelasan dari Erika yang mengatakan perjodohan tersebut buat Ismalia agar menjadi ibu sambung dari Erika. Dengan tidak percayanya mereka terbengong dan teriak sehingga seisi Cafe menoleh ke meja mereka.
Ketika selesai menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Erika melanjutkan kembali obrolan yang sempat terjeda.
"Emang bener ya, Is." tanya Tania tidak percaya ke Ismalia.
Ismalia tidak menjawab pertanyaan dari Tania melainkan hanya tersenyum mesem saja.
"Tapi kenapa harus Is, kan masih banyak wanita lainnya?" tanya Ella lagi.
"Karena gue pengennya Is yang jadi Ibu sambung gue. Kalian kan udah pada tau sifat dari Is gimana. Paling utama dewasa, memiliki sifat keibuan gitu, dan sudah mengenal jauh seluk-beluknya dari A sampai Z." jelas Erika.
"Tapi kan Is belum lulus sekolah gimana bisa?" tanya Rio.
"Bisa dong. Ya...secara diam-diam tanpa sepengetahuan pihak sekolah dan yang lainnya. Lagian usia Is sudah 19 tahun kok jadi bisa secar resmi. Untuk resepsinya nanti setelah lulus." jelas Erika.
"Ohh....." ujar serentak Tania, Ella, Rio, dan Rehan.
"So, Erika dan Is mau ngundang kalian untuk hadir di acara akad nikahnya Sabtu pagi. Tapi kalian semua harus pada tutup mulut ya, awas pada bocor tu mulut." peringatan Erika.
"Kalian berdua tenang aja, soal tu mah akan selalu aman selama kalian ngundang gue buat nikmatin makanan yang enak-enak." ujar Rehan.
"Huuuu.....Dasar" sorak Tania dan Ella ke Rehan.
Ismalia menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya dan bernafas lega. Sekarang tinggal hanya Ismalia menyiapkan mental untuk Sabtu pagi hari. Serta untuk malam pertama pastinya. Ismalia tidak bisa bayangkan akan status barunya yang akan menjadi status istri dari Mandala.
Berada dalam satu kamar dan satu ranjang, hal itu membuat pikiran Ismalia sedikit bergidik ngeri. Itu lah yang menjadi pembahasan obrolan mereka mencoba menggoda Ismalia. Sedangkan Ismalia yang digoda tidak mampu berkata hanya menampakkan merona di pipi saja.
...🌹🌹🌹...
Setelah selesai obrolan antar sahabat tersebut. Tania, Ella, Rio, dan Rehan sudah pulang terlebih dahulu. Sedangkan Erika dan Ismalia menunggu mobil Mandala di dalam Cafe. Sekitar 10 menit kemudian mobil Mandala tiba didepan Cafe. Mandala keluar menemui Erika dan Ismalia yang masih berada di dalam.
Saat Mandala membuka pintu Cafe, e
Erika melihat sang ayah masuk berjalan menuju ke arah meja mereka. Ismalia pun menoleh ke belakang melihat Mandala sudah mendekati meja mereka duduk. Mandala duduk di samping Ismalia. Ismalia yang merasa berdekatan dengan sedikit canggung.
"Bagaimana sudah selesai makannya?" tanya Mandala ke Erika.
"Sudah, tinggal mau pulang saja sambil nunggu ayah." jawab Erika.
"Ya sudah kita pulang sekarang." ajak Mandala ketus langsung berdiri jalan duluan.
Mereka masuk ke dalam dan menjalankan mobil. Di dalam mobil posisi duduk Erika berada di samping sang ayah. Sedangkan Ismalia berada di kursi penumpang bagian belakang tengah menatap jalan. Sepanjang jalan hanya hening tanpa ada obrolan. Berhenti di lampu merah, barulah Erika membuka pembicaraan.
"Oh ya Is. Kamu pulangnya nanti saja ya, gue mo minta tolong buat bungkusin barang-barang hantaran. Kalau besok kayaknya gak terkejar soalnya mau buat persiapan dekor rumah." pinta Erika.
"Tapi kan aku gak bawa baju ganti, Rik. Dan juga gak ngabarin Ibu dan Ayah di rumah." ucap Ismalia.
"Ahhh....lo tenang aja. Soal baju dan izin biar gue aja. Oke..."
"Terserah kamu saja."
"Sip..."
Erika segera menghubungi orangtua Ismalia di rumah meminta izin mau mengajak Ismalia ke rumah serta mendapat respon. Pulangnya sudah pasti agak kemalaman dan akan diantar oleh sang sopir yaitu Pak Rahmad. Mandala menoleh ke Erika yang sedang menghubungi orangtua Ismalia.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Sekitar 15 menitan, mobil Mandala telah tiba di perkarangan rumah kediaman Mandala Bramantio. Erika dan Ismalia keluar dari mobil langsung masuk membuka pintu tidak lupa mengucap salam kepada seisi rumah. Lalu disusul Mandala dari belakang mereka langsung menuju ke atas.
"Assalamualaikum..." ucap bersamaan salam Erika dan Ismalia.
"Wa'alaikumussalam. Sudah pulang...Eh, ada Is juga sini nak masuk." jawab Rita yang berada di ruang keluarga.
Rita mempersilahkan Ismalia duduk didekatnya begitu juga Erika.
"Kenapa kalian pulangnya kesorean?" tanya Rita.
"Oh, kami tadi ke Cafe Nek kumpul-kumpul sebentar sama temen-temen. Sekalian mo ngundang mereka."
"Loh katanya gak mau teman kalian tau tentang pernikahan Is."
"Hanya teman akrab kami saja Nek. Kalau teman-teman yang lain dan pihak sekolah memang gak kami kasih tau."
"Ohh...gitu. Terus kalian sudah makan?" tanya Rita pandangan tertuju ke Ismalia.
"Sudah, Nek. Tadi sekalian sama temen-temen." jawab Ismalia.
"Yah...sayang sekali. Padahal ada buat semur sama rendang daging loh mau ngajak makan malam bareng. Kalau ramekan makin seru dan makin lahap."
"Kan bisa kita temenin aja Nek." ujar Erika.
"Ya beda dong. Oh ya ayah kamu mana?"
"Ada Nek lagi ke atas. Habis jemput langsung ke atas." jawab Erika.
"Terus kakek mana, belum pulang?" tanya balik Erika.
"Kakek kamu belum pulang, mungkin sebentar lagi." jawab Rita pandangan menoleh sebentar ke arah pintu.
"Oke, kita naik dulu ya Nek."
"Ya."
Erika dan Ismalia naik ke atas menuju ke kamar. Erika menyuruh Ismalia terlebih dahulu untuk mandi. Sedangkan Erika menyiapkan handuk dan pakaian untuk Ismalia. Ismalia memasuki kamar mandi terdengar suara percikan air. Sambil menunggu Erika mengotak-atik ponselnya sembari duduk ditepi ranjang.
Krek
Suara pintu terbuka tampak Ismalia sudah selesai mandi menggunakan pakaian kimono. Lalu kemudian Erika melepaskan ponselnya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ismalia mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Erika. Mengganti pakaian di ruangan wardrobe lalu menggosok rambutnya yang basah.
Percikan air terdengar menandakan Erika sudah mandi. Ismalia duduk di depan meja hias menyisir rambut dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak tabur baby. Beranjak dari duduk mendekati ranjang mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas sekolah. Menyandarkan diri di sandaran ranjang.
Tiba-tiba Ismalia dikejutkan dengan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Dengan penasaran Ismalia membuka pesan tersebut yang berisi pesan berupa ancaman. Ismalia merasa heran dan penasaran. Siapa yang mengirim pesan seperti itu. Ia terus bertanya-tanya sampai melamun menatap ponselnya sendiri.
Tanpa ia sadari pintu kamar mandi terbuka, Erika yang sudah selesai mandi berbalut baju kimono bersiap memakai pakaian santainya melihat Ismalia melamun jauh menatap ponselnya. Tidak perlu waktu lama Erika sudah selesai menyusul Ismalia yang sedang bersandar lalu menyadarkan lamunan Ismalia.
"Hei...lo kenapa melamun?" tanya Erika membuyarkan lamunan Ismalia.
"Eh...kamu. Ngagetin aja."
"Lo sih ngelamun. Lo kenapa menatap ponsel segitunya, emang ada apa sih?" tanya Erika menoleh ke ponsel Ismalia penasaran namun secepatnya Ismalia mengelak.
"Ehh...jangan. Ti-tidak, tidak apa-apa." ujar Ismalia gagap.
"Lo kenapa sih? Kayak ketakutan aja."
"Ga-gak papa. Oh ya Rik. Aku boleh nginap gak untuk malam ini." pinta Ismalia.
"Boleh dong. Masa' gak sih, nginap sampai hari H juga papa. Kan lo bakal selamanya disini." jawab Erika.
__ADS_1
"Baiklah, makasih ya." ucap Ismalia
Ismalia lalu mengetik sesuatu diponsel untuk mengirim pesan ke sang Ibu kalau ia tidak bisa pulang dan menginap di rumah Erika dengan alasan pekerjaan buat persiapan belum selesai. Namun sebenarnya Ismalia merasa ketakutan untuk pulang walaupun diantar oleh Pak Rahmad.
...🌹🌹🌹...
Flashback On
Ya di saat Mandala baru saja tiba di Cafe untuk menjemput Erika. Sofia baru saja keluar dari sebuah butik sahabatnya yang berada berseberangan dengan Cafe tempat Erika dan Ismalia kumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sofia mulai membututi Mandala, sempat ia merasa itu hanya perasaannya saja tetapi tidak.
Ketika hendak menyebrang menuju Cafe. Mandala keluar masuk ke dalam mobil kemudian disusul dari belakang dua gadis muda juga masuk ke dalam mobil. Sofia menjadi kembali panas melihat gadis muda Ismalia ikut masuk bersama Mandala. Mobil Mandala melaju, tak lupa juga Sofia pun masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil Mandala.
Waktu sudah menunjukkan 17.35 wib. Sebenarnya Sofia ingin menemui seseorang di hotel namun tertahan karena tanpa sengaja melihat Mandala lalu berniat mengikutinya membatalkan pertemuannya. Sofia terus mengikuti mobil Mandala hingga tiba di kediaman Mandala.
Sofia hanya memarkirkan dan melihat hanya dari luar saja tanpa bisa masuk kedalam karena pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang satpam.
"Sial...Di jaga satpam lagi. Ngapain gadis ingusan itu ke rumah Mandala. Aku gak bisa biarin mereka semakin dekat. Aku harus berbuat sesuatu." ucap Sofia menggerutu sendiri.
Sofia yang masih berada di dalam mobil yang terparkir agak lumayan jauh dari rumah Mandala terus memikirkan bagaimana cara agar Ismalia bisa menjauh dari Mandala. Sofia teriak sendiri kegeraman karena tidak dapat berpikir. Menangkupkan kepala di setir sambil berpikir.
Tidak lama seseorang yang berpakaian seperti pembantu keluar dari pintu kecil gerbang sedang membawa bingkisan besar berwarna hitam menuju ke tempat pembuangan sampah. Disitu terbesit dalam pikiran Sofia sebuah ide. Sofia merapikan penampilannya yang sedikit acakan. Lalu keluar dari mobil menghampiri wanita tersebut dengan menggunakan kacamata baca untuk penyamaran.
"Maaf Buk. Apa benar ini rumahnya gadis ini." tanya Sofia sembari menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Maaf Mbak, bukan. Mungkin mbak salah orang. Tapi gadis yang dalam foto itu sedang ada didalam mbak bersama Non Erika."
"Oh benar kah. Wah kebetulan sekali, saya kerabat jauh sedang cari alamat rumahnya. Saya ingin bertemu tapi ini hampir mau magrib dan harus buru-buru ke rumah sakit karena neneknya sedang sakit di kampung." jelas Sofia berbohong.
"Oh...begitu. Kalau begitu langsung ketemu dengan Non Ismalia aja mbak." ajak sang pembantu yang bernama Ayu.
Pembantu kediaman Mandala yang bernama Ayu memang tidak mengenali Sofia. Karena tugas Ayu hanya berada di belakang saja mengurus bagian perdapuran. Yang mengenal Sofia yaitu hanya Bik Inah.
"Ehh...gak usah. Saya terburu-buru kalau begitu boleh saya minta alamatnya gak?" tanya Sofia.
"Wahh...alamatnya saya kurang tau mbak. Tapi untuk nomor ponselnya saya punya mbak." ujar Ayu.
"Kalau begitu saya boleh minta nomor ponselnya tidak?"
"Oh boleh. Sebentar ya." ujar Ayu.
Ayu mengambil ponselnya yang berada di saku baju mencari nomor ponsel sahabat Non Erika tanpa menaruh curiga. Ayu mendapat nomor ponsel Ismalia karena Bik Inah yang memberikannya karena sebentar lagi Ismalia akan menjadi istri dari majikannya yaitu Mandala.
Sofia yang dengan mudahnya hanya tersenyum licik. Ayu pun menyebutkan nomor ponsel Ismalia ke Sofia.
"Oke, makasih ya Buk."
"Iya, mbak. Jangan panggil Ibu, saya masih muda loh mbak baru 45 tahun. Panggil mbak saja." ujar Ayu.
"Maaf, makasih ya mbak. Mari..." pamit Sofia.
Sofia masuk ke dalam mobil tersenyum licik lalu ketawa. Baginya satu persatu rencana berjalan dengan mulus bahkan wanita yang bernama Ayu dengan mudah ditipu olehnya.
"Hahahaha........." tawa Sofia.
Flashback Off
...Bersambung......
Untuk para readers, cerita selanjutnya akan lebih membuat para readers geram. Jadi persiapkan diri ya biar gak emosi 🤭😁🙏
Jadi jangan lupa like, vote, komen, subscribe, dan follow ya. Sekian terima kasih🤗
__ADS_1