
Jangan lupa like sebelum membaca dan berikan komentar setelah selesai membaca.
Like dan komen itu gratis, jadi jangan ragu untuk memberikan itu pada author... Terimakasih...
***
Hanya butuh 5 menit untuk Raka sampai di sebuah bangunan dengan pengamanan khusus yang kini menjadi markas khusus yang digunakan oleh kelompoknya.
Raka pergi ke halaman luas yang ada dibelakang bangunan untuk mulai berlatih menggunakan seluruh senjata yang dia kuasai. “Terlalu sering menggunakan pedang, tubuhku terasa sedikit kaku saat beralih menggunakan senjata lainnya...” Ucap Raka yang sedang mempertajam insting memanahnya setelah cukup lama tidak dia gunakan.
“Aku ingin menjadi hunter yang bisa memanfaatkan berbagai jenis benda sebagai senjata...” Ucap Raka sambil menyimpan busur dan anak panahnya lalu dia mengeluarkan dua belati kembar dari gelang hunter nya.
“Jangkauan belati sangat terbatas, mungkin lebih baik menggunakan pedang kembar untuk meningkatkan daya serang ku...” Raka mengayunkan belati kembarnya dengan kecepatan yang sulit di ikuti oleh gerakan mata.
Swush... Swush... Swush...
Tiga gelombang angin berbentuk tebasan belati mengarah pada sebuah pohon dan berhasil memotong beberapa ranting sebelum gelombang angin itu menghilang setelah menghantam batang pohon.
“Kerusakan yang lumayan kalau aku bertarung tanpa menggunakan kekuatan Mana...” Ucap Raka sambil menyimpan kembali belati kembarnya.
Mengakhiri latihannya, Raka masuk ke dalam bangunan gedung dan menutu ruangan kamar miliknya.
Memasuki ruangan yang dia jadikan sebagai kamarnya selama berada di markas, Raka dapat melihat foto di atas meja belajar miliknya yang menunjukkan wajah bahagia enam orang yang kini menjadi sahabatnya.
“Semoga tak akan ada yang berubah untuk kedepannya...” Gumam Raka lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena berkeringat.
“Cklek...” Raka keluar dari kamar mandi setelah tubuhnya kembali segar.
Baru juga keluar dari kamar mandi Raka sudah melihat Natasya yang entah sejak kapan sudah berada di kamarnya.
“Apa kamu akan tetap di dalam sini selama aku berganti pakaian?...” Ucap Raka sambil mencari pakaian ganti di dalam lemari pakaian.
Natasya bangkit dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi. “Pinjamkan handuk mu kalau kamu sudah selesai!...” Ucap Natasya dari dalam kamar mandi, dan tak lama Raka mendengar suara gemricik air yang menandakan jika Natasya tengah mandi di dalam kamar mandinya.
Beberapa saat memilih pakaian, Raka memutuskan memakai stelan pakaian santai tanpa merapikan rambutnya yang sedikit basah.
Mendengar teriakan Natasya dari dalam kamar mandi, Raka dengan santai mengetuk pintu kamar mandi, dan saat muncul tangan Natasya dari balik pintu dia segera memberikan handuk di tangannya pada Natasya.
“Padahal ada handuk yang lain...” Ucap Raka membatin menyadari kebod*hannya.
Tak lama Natasya keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk berwarna putih polos yang menutupi tubuhnya yang masih sedikit basah di bagian rambut panjangnya.
Raka melihat ke arah Natasya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, tetapi baru sedikit melihat, dia segera mengalihkan penglihatannya saat melihat Natasya yang tak menggunakan apa-apa di balik handuknya, detik itu juga pikiran Raka sejenak travelling ke tempat yang tidak-tidak.
“Bugh...” Natasya melemparkan bantal ke arah Raka.
__ADS_1
“Jangan mikir yang tidak-tidak...” Ucap Natasya sambil berjalan ke lemari baju Raka. “Aku pinjam bajumu dulu!...” Imbuh Natasya lalu dia mengambil sebuah kaos berwarna putih polos dan langsung memakainya di depan Raka.
Raka menggelengkan kepalanya melihat tingkah Natasya. “Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan!... Aku akan menyiapkan makanan untuk makan siang...” Ucap Raka lalu dia keluar dari kamarnya.
Sampai di dapur Raka mulai memasak beberapa olahan makanan yang bisa dia olah, dan setelah satu jam berlalu beberapa olahan makanan telah siap untuk dia santap.
Bermaksud mengajak Natasya makan bersama, Raka pergi ke kamarnya untuk menemui Natasya, tapi saat masuk kedalam kamar dia hanya melihat Natasya yang tengah tertidur tanpa memperhatikan penampilannya.
Sejenak Raka melihat keindahan di depan matanya, tetapi saat pikirannya mulai memikirkan yang tidak-tidak dia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan segera menyelimuti tubuh Natasya.
“Apa yang akan terjadi dengannya jika bukan aku yang berada di situasi ini?... Pria itu pasti akan sial jika menyentuhnya...” Ucap Raka membatin lalu dia pergi keluar kamarnya.
Meninggalkan keberadaan Natasya di kamarnya, Raka seorang diri menikmati waktu makan siangnya.
Hanya butuh beberapa menit untuk Raka menghabiskan makanannya, lalu setelahnya dia pergi ke halaman belakang untuk menikmati udara segar dengan secangkir teh manis yang menemaninya.
“Hari ini terasa begitu damai...” Ucap Raka kemudian dia menutup mata dan mulai menyerap energi kehidupan yang tersimpan di gelang hunter keduanya.
Energi kehidupan mengalir perlahan ke dalam tubuh Raka dan perlahan mulai meningkatkan level kekuatannya.
Satu jam sudah berlalu tapi Raka belum juga menyudahi apa yang tengah dia lakukan, bahkan dia tak menyadari keberadaan Natasya yang terus mengawasinya setelah dia terbangun dari tidur.
“Aura yang begitu menenangkan, apa dengan itu dia selama ini mempercepat peningkatan levelnya?...” Ucap Natasya lalu dia mempersempit jaraknya dengan Raka.
Merasakan aura Natasya yang semakin mendekat, Raka membuka matanya lalu dengan gerakan yang sangat cepat dia menarik lengan Natasya dan membuatnya terduduk di pangkuannya.
“Pejamkan mata mu dan nikmati energi yang akan mulai mengalir di tubuhmu!...” Ucap Raka lalu dia mulai mengalirkan energi kehidupan ke tubuh Natasya.
Natasya mengikuti apa yang diucapkan Raka tanpa mempedulikan posisi duduk mereka yang akan membuat orang lain salah paham saat melihatnya.
Entah sudah berapa lama mereka berdua bertahan dalam posisi yang begitu intim. Tetapi saat mereka membuka mata, matahari sudah menghilang berganti kan cahaya bulan dan bintang yang menghiasi langit.
Raka dan Natasha membuka mata di waktu bersamaan, dan wajah mereka berdua seketika memerah saat sadar akan posisi mereka yang begitu intim.
Natasya segera melompat dari pangkuan Raka dengan menyembunyikan wajah semerah tomatnya. Sedangkan Raka, dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
“I...itu, maaf, aku tadi tiba-tiba menarikm...”
Natasya menarik Raka melayang ke langit sebelum dia mengakhiri ucapannya, dan kejadian yang tak terduga terjadi di atas langit malam dengan bulan dan bintang sebagai saksinya saat Natasya mencium bibir Raka sambil memejamkan matanya.
Raka yang tahu apa-apa, dia ikut menutup mata seperti yang dilakukan Natasya dan detik berikutnya dia sudah bisa menikmati ciuman yang dilakukannya dengan Natasya.
Lima menit mereka berciuman, tiba-tiba Natasya mendorong Raka. “Kamu harus bertanggung jawab...” Ucap Natasya lalu dia menghilang di kegelapan malam.
Raka yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi segera memukul kepalanya mendengar apa yang di ucapkan Natasya sebelum kepergiannya. “Bagaimana aku bisa bertanggungjawab?... Dan lagi aku harus bertanggungjawab soal apa?...” Ucap Raka kebingungan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain Natasya masih merasakan malu saat mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan Raka. “Sepertinya aku sudah cukup berlebihan melakukan itu dengan Raka...” Ucap Natasya yang kini sudah berada di dalam kamar miliknya dengan menggunakan Skill teleportasi jarak menengah yang dia miliki.
Raka yang masih kebingungan akan tingkah Natasya, dia melihat panggilan darurat dari Rizka yang telah menemukan portal aneh saat sedang berpatroli.
“Portal tanpa tingkatan?... Apa itu portal yang dulu telah membuat kedua orangtuaku menghilang?...” Ucap Raka kemudian memakai perlengkapan hunter nya dan melesat pergi ke tempat Rizka.
Hanya butuh beberapa menit untuk Raka sampai di tempat Rizka dan sebuah portal yang terlihat begitu aneh dan misterius. Raka tidak melihat keberadaan sahabatnya yang lain selain Rizka, jadi bisa di pastikan jika baru dirinya yang dihubungi Rizka.
“Apa kamu tidak menghubungi yang lainnya?...” Ucap Raka bertanya saat dia merasakan aura yang sangat kuat dari portal yang kini ada di hadapannya.
Rizka menggelengkan kepalanya. “Mereka tengah melakukan penghancuran 2 portal tingkat SS yang tiba-tiba muncul di dekat markas besar Guild. Aku tidak ikut mereka karena malam ini jadwal ku berpatroli di wilayah ini...” Ucap Rizka menjawab sambil memberikan penjelasan.
“Aku merasa portal kali ini sangat berbahaya, dengan kita berdua aku masih belum yakin bisa mengatasi portal ini. Setidaknya portal ini lebih kuat dari portal tingkat SSS, atau mungkin juga lebih kuat dari portal tingkat SSS+...” Ucap Raka yang tak ingin mengambil resiko membawa Rizka ke tempat yang berbahaya.
“Ah...i...itu sebenarnya sudah ada dua hunter yang masuk kedalamnya sesaat setelah aku menemukan keberadaan portal ini...” Ucap Rizka terbata, dan itu membuat Raka merasakan sebuah keanehan.
“Siapa dua hunter bod*h kenalan mu yang tanpa berpikir memasuki portal yang bahkan tidak di ketahui berada di tingkat berapa kekuatan monster yang ada di dalamnya?...” Ucap Raka sambil menggelengkan kepalanya.
“I...itu, mereka Helen dan Nathan...” Ucap Rizka menjawab pertanyaan Raka.
Seketika Raka mengutuk kebod*han mereka berdua sesaat setelah mendengar jawaban Rizka.
“Ini situasi darurat...” Ucap Raka dan tanpa sadar dia menarik Rizka masuk ke dalam portal.
Raka tidak merasakan keberadaan monster di dekat pintu masuk, tapi dia bisa merasakan keberadaan puluhan monster yang tengah mengamuk. “Benar-benar menyusahkan!...” Ucap Raka yang masih memegang lengan Rizka.
“Apa kita bisa berhenti sebentar?...” Ucap Rizka.
“Bruakk...” Kepala Raka membentur pohon yang ada di dalam dunia portal saat dia mendengar suara Rizka, dan akhirnya dia tersadar telah menarik Rizka ke tempat yang sangat berbahaya.
Akhirnya Raka berhenti dengan masih menggenggam lengan Rizka, dan entah sejak kapan dia sudah mengalirkan energi kehidupan yang cukup banyak ke tubuh Rizka.
Dalam waktu singkat Rizka telah menjadi hunter tingkat SSS+, dan Raka sendiri hanya butuh empat level untuk membuatnya menjadi hunter tingkat Raja yang sekali lagi akan mengejutkan banyak orang.
Dari tempat mereka berdiri, Raka dan Rizka melihat Helen dan Nathan yang terdesak oleh puluhan monster tingkat SSS yang tentunya jauh lebih kuat dari mereka berdua yang masih berada di tingkat S+.
“Rizka, tugasmu saat ini hanya membawa mereka berdua ke tempat ini!... Untuk para monster, biar aku yang membereskan mereka...” Ucap Raka memberi arahan.
Rizka mengangguk dan dengan kecepatan puncaknya mereka berdua melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Berani melukai sahabatku, hanya kematian yang akan kalian dapatkan...” Teriak Raka lalu dia mulai menyerang monster yang tengah mengepung Helen dan Nathan.
***
Bersambung...
__ADS_1