Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 17


__ADS_3

Happy Reading All...😘😘😘


👇👇👇👇👇


Rafael dijemput Jodhi dan diantarkan ke rumah Widjaja sesuai perintah Huda. Sesampainya disana, Rafael disambut oleh Helena.


"Ya Tuhan...kenapa lagi ini. Firdaus cepat bantu kakakmu." teriak Helena.


Firdaus segera membantu Rafael dan membawanya ke kamar.


"Terima kasih Jod." ujar Helena.


"Sama sama nyonya, saya pamit." jawab Jodhi dan berpamitan pulang.


"Ada apa ma, kau tadi berteriak." tanya Hartanto.


"Aku tak tahu ada apalagi pada Rafael, tapi ia mabuk berat pi." jawab Helena.


"Ya Tuhan sudah satu bulan lebih, ia mungkin semakin stress ma. Ia sangat membutuhkan Delia. Ya sudah biarkan Rafael beristirahat, ini sudah sangat larut, kau juga butuh istirahat." ujar Hartanto.


Helena mengangguk dan membawa Hartanto kembali ke kamarnya.


 *****

__ADS_1


Firdaus tersenyum saat mengantar Rafael ke kamarnya. Ia membanting tubuh Rafael ke ranjangnya. "Pria bodoh...Dimana sikap aroganmu. Kau kalah dan lemah hanya karena seorang wanita. Lucu sekali Raf. Ini baru permulaan. Kau akan melihat adegan luar biasa besok. Aku sudah menyerahkan bukti skandalmu pada media. Kau akan ditendang dari perusahaanmu sendiri. Aku pikir sulit menghancurkan pria arogan sepertimu, ternyata hanya butuh waktu tiga bulan aku sudah mampu menghancurkanmu." Firdaus terkekeh dan meninggalkan kamar Rafael.


Rafael membuka matanya. Ide Huda agar ia pura pura mabuk berat benar benar berhasil. Ia tak menyangka Firdaus tidak berubah sama sekali. Adik tirinya masih menyimpan dendam padanya, tapi ini sangat keterlaluan. Bagaimana perasaan Helena dan Hartanto jika mengetahui hal ini. Rafael juga sudah merekam pembicaraan Firdaus tadi.


Yang bodoh bukan aku Firdaus, tapi kau. Kau sama sekali belum berpengalaman di dunia ini. Aku lebih banyak koneksi yang bisa mencari bukti lebih banyak atas kejahatanmu. Aku akan mengikuti permainanmu terlebih dahulu sebelum aku menyerang balik dirimu. Dan kali ini aku takkan memaafkanmu. Kau sudah bermain main dengan rumah tanggaku. Kau akan mendapat ganjaran yang setimpal. Aku tak perduli walaupun kau anak Helena. ( isi hati Rafael ).


Rafael menghubungi Jodhi. "Aku mengirim rekaman tadi Jod. Besok aku akan mengulur waktu Firdaus agar tidak cepat sampai ke kantor. Kau adakan rapat pemegang saham atas perintahku. Dan buat mereka mendengarkan isi rekaman tadi, dan buat mereka bersandiwara atas berita yang akan terbit besok. Buat seluruh pemegang saham bersandiwara untuk segera memecatku. Selebihnya aku yang akan mengurus sisanya." perintah Rafael.


Jodhi mengerti maksud Rafael. Ia dan Huda memang bersandiwara agar Rafael terlihat mabuk berat. Padahal bos nya itu, masih mampu meminum sepuluh botol minuman keras lagi. Jodhi tidak percaya rencana mereka cepat berhasil. "Baik pak, saya segera melaksanakan perintah."


"Terima kasih Jod, aku percaya padamu. Aku serahkan besok padamu. Jangan terlalu lama, aku tak bisa menahan Firdaus." perintah Rafael lagi.


"Siap pak." jawab Jodhi dan mematikan ponselnya.


Bukan kehancuranku Firdaus, ini akan menjadi senjata makan tuan buatmu. pikir Rafael.


 *****


Delia berguling guling diatas ranjangnya, ia sangat merindukan Rafael dan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan sore tadi. Rafael pasti sangat marah sekarang. Sudah lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu dan Rafael benar benar menghargai keputusannya. Tapi justru Delia yang merasakan kegalauannya. Jika mereka bercerai, Delia tidak yakin jika mampu bertahan tanpa Rafael. Tapi ia tetap tak menerima penghianatan suaminya.


Delia berusaha memejamkan matanya, namu lagi lagi ia tidak bisa. Ia turun dari ranjangnya menuju ruang televisi dilantai bawah. Delia mengambil air putih dan meminumnya. Ia melihat jam dinding sudah pukul satu dini hari. Lalu ia menonton acara tengah malam yang sama sekali tidak dilihat oleh Delia. Pikirannya terpaku pada hal lain.


"Ya Tuhan Delia...ibu pikir ada maling masuk." ujar Emili. "Samar samar ibu mendengar suara televisi dari kamar, ibu pikir siapa. mengagetkan saja. Sudah jam segini apa yang kau lakukan?" tanya Emili.

__ADS_1


"Delia tidak bisa tidur bu, ibu berani sekali keluar sendiri dari kamar, kalau aku maling sungguhan bagaimana?" tanya Delia.


"Ibu pernah mengalami hal buruk daripada menghadapi maling sayang, apa kau lupa?" ujar Emili.


"Aku ingat bu, tapi aku sekarang berteman dengan Bethran." jawab Delia.


"Apa???" Emili terkejut. "Apa kau sudah gila Del, pria itu jahat. Kau harus menjauhinya."


"Delia tahu bu, tapi ia sekarang berubah lebih baik. Aku yakin ia berubah." jawab Delia.


Emili menggelengkan kepalanya. "Tidak nak, ibu tidak akan mengizinkanmu berteman dengan mantan narapidana, sebaik baiknya ia pasti ada tujuan lain mendekatimu."


"Delia janji akan jaga diri bu, berteman tapi akan menjaga jarak." ujar Delia.


"Kau keras kepala Delia, kau masih polos padahal kau sudah berkeluarga. Kau sangat mudah dimanfaatkan seseorang." Emili mulai kesal. "Terserah padamu, tapi kau harus ingat. Pria itu pernah menyiksa ibumu." Emili meninggalkan Delia dengan kesal.


Delia menghela nafasnya. Ibunya benar, ia terlalu naif. Pria jahat itu walaupun ingin bertobat tapi tetap saja pernah menyakiti orangtuanya. Ia harus berhenti dan menghindari Bethran Markes. Matanya semakin lelah dan akhirnya tertidur diruang televisi tersebut.


 *****


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini, tanpa dukungan kalian Author tidak bisa membuat cerita ini sampai selesai.


Terus dukung, like n komen ya...🙏🙏🙏

__ADS_1


Agar Author lebih semangat menyelesaikannya.


Jangan lupa klik profil Author. Masih banyak novel yang Author buat.😘😘😘


__ADS_2