Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 28


__ADS_3

"Mama.............." teriakan keluarga termasuk Firdaus memenuhi ruangan.


Rafael tak menyangka Helena menghalangi tembakan Firdaus ke arahnya. Firdaus merosot kebawah dan menghampiri Helena.


"Mama, bangunlah..." teriak Firdaus. Darah terus mengalir dari dada Helena.


Hartanto menahan darah yang keluar dari dada Helena. "Panggil ambulan, cepat." teriaknya, Hartanto mendorong Firdaus. "Kau sudah gila nak."


Rafael syok justru ia melihat istrinya yang jatuh pingsan. "Delia...." teriak Rafael sambil menghampiri istrinya. "Bangun sayang..."


Rafael tidak menyangka semuanya akan seperti ini. Ia tidak tahu jika Firdaus membawa senjata api dan menjadikan ruangan ini lautan darah. "Panggil polisi dan ambulan, cepat Jod." teriak Rafael.


Firdaus mengambil senjata apinya lagi.


"Hentikan Firdaus, berapa banyak lagi yang akan menjadi korban." teriak Hartanto.


Rafael mendongak ke atas panggung. Kali ini Rafael tahu apa yang akan Firdaus lakukan. Ia mengarahkan pistolnya ke kepalanya. "Tidak Firdaus." teriak Rafael.


"Maafkan Firdaus ma, Firdaus tidak bisa menjadi anak yang berguna." ujar Firdaus.


"Tidaaaakkkk..." teriak Hartanto.


Dooorrrrrr...


Darah keluar dari kepala Firdaus sebelum akhirnya ambruk diatas lantai. Teriakan kembali terdengar sangat memilukan di dalam ruangan. Rafael ambruk di dekat Delia yang pingsan. Polisi dan ambulan datang mengamankan TKP. Semua korban dibawa ke ambulan. Sedangkan Rafael mengangkat Delia ke dalam mobilnya untuk ke rumah sakit juga.


Gloria dan Firdaus meninggal, sedangkan Helena masih menjalani operasi saat ini. Delia diberikan perawatan dan akhirnya tersadar. Derry dan Emily yang menjaganya. Rafael sedang menunggu Helena bersama Hartanto.


"Ibu, bagaimana suamiku?" tanya Delia lalu menangis.


"Tenanglah sayang, nanti kau drop lagi. Suamimu baik baik saja." ujar Emili.


"Dimana Rafael, Delia ingin bertemu jika memang baik baik saja." ujar Delia lagi.


"Delia tenang, ayah akan memanggilnya." ujar Derry dan keluar mencari Rafael.


 *****


Derry Laros melihat ketegangan didepan ruang operasi Helena, ada beberapa polisi juga yang sedang memintai keterangan pada Rafael. Derry ragu untuk memanggil Rafael, tapi ada kekhawatiran juga pada putrinya.

__ADS_1


Rafael mendongak dan melihat ayah mertuanya sedang kebingungan. "Ayah ada apa?" tanya Rafael. "Delia baik baik saja kan?"


Derry mengangguk. "Syukurlah Delia sudah sadar, tapi ia terus menangis ingin menemuimu."


"Ya Tuhan, mengapa ayah ragu mengatakannya." Rafael mengajak Derry menemui Delia.


Rafael segera masuk ke ruangan dan melihat Delia masih menangis. "Sayang..." ujar Rafael sambil memeluknya.


Emili dan Derry keluar dari ruangan meninggalkan mereka.


"Kau baik baik saja kan?" tanya Delia sambil terisak.


"Aku baik baik saja sayang, kau lihat aku disini bersamamu." jawab Rafael.


"Lalu apa yang terjadi, tembakan itu?" tanya Delia sambil bergetar saat mengingatnya.


Rafael mendekapnya. "Kau tenanglah sayang, bagaimana aku bisa menceritakannya. Jika kau sakit, bagaimana dengan anak anak? Jika kau sudah tenang, aku baru menceritakannya."


"Aku sudah tenang sekarang, katakanlah sekarang Raf." ujar Delia.


Rafael menghela nafasnya. "Mama Helena yang menghalanginya sayang."


"Apa? Lalu bagaimana sekarang." Delia kembali menangis.


"Maafkan aku Raf." kata Delia menunduk.


Rafael memeluknya dan mencium keningnya. "Aku hanya takut kehilanganmu sayang, mama Helena menghalanginya dan tertembak di dada. Ia sekarang sedang menjalani operasi besar. Dan Firdaus bunuh diri dengan menembakkan pistolnya ke kepala. Itulah kejadiannya sayang. Berdoalah untuk mama. Dan semoga setelah ini, tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan kita."


"Aku ingin ke tempat mama sekarang, ia yang telah menyelamatkan suamiku." pinta Delia.


Rafael menggeleng. "Tidak untuk saat ini, kau harus beristirahat. Aku akan mengabarimu setelah semuanya selesai. Ikutilah kata kataku kali ini Delia."


Delia akhirnya mengangguk. Rafael menciumnya lagi. "Aku akan menemani papi sekarang. Jika ada kabar aku akan kembali lagi." ujar Rafael.


Delia mengangguk kembali dan Rafael meninggalkannya.


 *****


Hartanto mulai mencintai Helena, terlihat dari keresahannya sekarang. Rafael menenangkannya. "Papi harus tenang, ingat jantung papi." ujar Rafael.

__ADS_1


"Papi tidak bisa tenang nak, jika Helena sadar. Bagaimana papi akan menjelaskan bahwa Firdaus meninggal. Itu akan membuatnya gila." jawab Hartanto.


"Papi benar, tapi bagaimanapun kita harus memberitahunya. Tapi setelah keadaan mama stabil pastinya." kata Rafael.


Hartanto mengangguk. "Kau benar nak, bagaimana pun keadaannya. Helena harus tahu yang sebenarnya."


"Kita harus menunggu sekarang pi. Rafael akan menghubungi Jodhi ingin tahu keadaan perusahaan." ujar Rafael dan sedikit menjauh dari pintu ruang operasi.


"Halo Jod, apa yang terjadi sekarang?" tanya Rafael pada Jodhi.


"Media sudah menyebarkan beritanya. Bahkan nama anda sudah bersih pak, tapi karena kekacauan tadi. Beberapa investor persis yang pak Rafael bilang menarik investasinya. Dan membuat saham kita terus menurun." ujar Jodhi.


"Sudah kuduga. Jalankan rencana B. Kirim file dan dokumen penyelewengan dana pajak pada para investor itu, aku yakin mereka akan mengerti maksudku." perintah Rafael.


"Siap pak." jawab Jodhi.


"Sementara kendalikan para direksi agar menunggu sampai besok pagi. Aku masih banyak urusan disini." ujar Rafael.


"Baik pak." jawab Jodhi lagi.


Rafael mematikan ponselnya dan terkejut saat berbalik. Ia melihat kedua sahabatnya sedang menenangkan ayahnya.


"Kalian bisa datang." tanya Rafael pada Tyar dan Huda.


"Kau jahat kepada kami Raf, jika kami tidak menonton berita. Kami tidak akan tahu apa yang terjadi padamu." ujar Tyar.


"Maafkan aku, aku sangat sibuk mengurus sana sini. Istriku kembali sakit. Aku bingung harus bagaimana, jadi aku lupa menghubungi kalian." jawab Rafael.


"Tidak apa apa, kami paham Raf." ujar Huda. "Kami akan membantumu mengurus jenazah Gloria ke Kanada. Setelah itu kami akan membantu untuk jenazah Firdaus."


"Terima kasih Hud, Tyar. Kalian memang sahabat terbaikku. Keluarga Gloria masih tidak bisa menerima kematian putrinya, tapi prosedur kepolisian sangat membantu jadi aku akan memberikan kompensasi pada keluarganya. Aku akan menyekolahkan adik Gloria dari uang warisan Firdaus. Aku akan bertanggungjawab penuh pada keluarganya." ujar Rafael.


"Kau sangat baik Raf, kesalahan adikmu malah kau yang menanggungnya." kata Tyar.


"Aku akan menghabiskan bagian Firdaus buat keluarga Gloria. Wanita itu mengandung anak Firdaus. Itulah mengapa aku harus bertanggungjawab. Aku juga yang membawa Gloria ke acara itu sebagai saksi." Rafael menghempaskan tubuhnya di kursi. Ia sangat lelah sekarang.


Mereka semua menunggu operasi selesai. Sudah 3 jam tapi belum ada dokter yang keluar.


 *****

__ADS_1


Maaf atas keterlambatan up...


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2