
Seminggu telah berlalu sejak kepindahan keluarga Rafael ke rumah Widjaja. Mereka sangat bersyukur, hari hari yang mereka lalui berjalan dengan baik tanpa ada masalah apapun. Orang tua Delia lebih sering ke rumah Widjaja untuk merawat cucu cucunya, karena Rafael maupun Delia masih sangat sibuk masing masing. Rafael sedang berusaha mengembalikkan proyek yang diambil alih PT. Mega Jaya, sedangkan Delia sibuk mengurus skripsinya karena 3 bulan lagi ia akan wisuda.
Bastian dan Cristin sangat senang tinggal di rumah kakeknya Widjaja. Taman dan kolam renangnya lebih besar dibanding rumahnya dulu. Cristina yang sangat aktif mulai berlari lari lagi dan menghancurkan barang barang milik kakeknya. Bastian sangat kesal melihatnya.
"Kau akan jatuh dan berdarah lagi. Tapi kali ini tidak ada papi atau mami. Jika kau berdarah aku akan menontonnya saja." ujar Bastian kesal. "Lihat yang kau lakukan, semua barang antik opa kau hancurkan. Sebentar lagi pak polisi menangkapmu." ancam Bastian.
Seketika Cristina berteriak histeris. "Kakak jahat...Kakak jahat...hiks...hiks..."
"Ya Tuhan ada apa lagi Tian?" tanya Hartanto.
"Barang barang opa pecah karena ulah Cristin opa. Aku bilang padanya polisi akan menangkapnya." jawab Bastian.
Hartanto akhirnya terkekeh. "Sini cucu opa yang cantik." ujar Hartanto sambil memangku Cristian.
"Dasar anak nakal yang sangat cengeng." ujar Bastian sambil menjulurkan lidahnya.
"Opa...kakak..." kata Cristina pada Hartanto.
"Dasar jelek tukang ngadu." Bastian kesal.
Hartanto terkekeh lagi, ini adalah suasana yang sangat menyenangkan untuknya. Andaikan saja Helena masih hidup. pikirnya sedih.
"Opa baik baik saja kan? Wajah opa berubah menjadi murung setelah tertawa." tanya Bastian.
Hartanto mengangguk. "Opa sangat senang." jawabnya.
"Opa ingat oma ya?" tanya Bastian lagi.
"Mengapa kau sangat pintar Tian, opa bangga padamu." ujar Hartanto.
"Opa tak perlu sedih lagi, oma masuk surga. Opa sama kita." kata Bastian.
Hartanto memeluk Bastian dan juga Cristina. "Kalian tahu, opa sangat menyayangi kalian. Opa sangat senang kalian bisa bersama ooa sekarang."
"Tentu saja kami tidak akan meninggalkan opa, ya kan Cristin." tanya Bastian.
Cristina mengangguk. "Cristin sayang opa." kata Cristina sambil mencium pipi Hartanto.
"Kalian menyusahkan opa?" tanya Emili tiba tiba.
"Nenek..." ujar keduanya sambil mengejar Emili dan memeluknya.
"Cucu nenek yang sangat cantik dan tampan." jawab Emili sambil membalas pelukan Bastian dan Cristina.
"Nenek Cristin nakal lagi, barang antik opa semuanya di rusak." Bastian mengadu.
"Tidak semua, Cristin tidak sengaja. Itu juga cuma 2 yang pecah." jawab Cristina sambil cemberut.
"Nenek pesan apa sama Cristina? Jangan lari lari lagi kan?" ujar Emili.
"Maaf Cristin nakal." Cristina menyesal.
__ADS_1
"Apa sudah minta maaf sama opa?" tanya Emili.
Cristina menggeleng.
"Ayo minta maaf." perintah Emili.
Cristina langsung menghambur kepelukan Hartanto dan meminta maaf. Hartanto hanya terkekeh geli.
"Pak Widjaja, maaf saya datang terlambat." ujar Emili.
"Tidak apa apa bu, dimana pak Derry?" tanya Hartanto.
"Ia sedang mengurus taman, nanti siangan ia menyusul. Apa bapak sudah makan?" tanya Emili.
"Sarapan sudah. Belum waktunya makan siang, tadi saya sangat bosan. Tapi untunglah Tian pulang lebih awal." ujar Hartanto.
"Mereka sangat menyenangkan walau Cristin sangat nakal." ujar Emili.
"Aku tidak menyesal memiliki cucu seperti mereka, aku mengingat keduanya seperti Rafael kecil. Penuh semangat dan juga cerdas. Tian dan Cristine menurun ayahnya." jawab Hartanto.
Emili hanya mengangguk dan pamit mengajak cucunya main di taman. "Siapa yang mau ikut nenek?" tanya Emili.
"Cristin..." jawab Cristina.
"Tentu saja Tian juga, opa tidak ingin ikut ke taman?" tanya Bastian pada Hartanto.
Hartanto menggeleng. "Opa ingin beristirahat sebentar sebelum makan siang." jawabnya.
*****
"Pak Rafael ada surat dari PT. Mega Jaya." ujar Jodhi pada Rafael.
Rafael meninggalkan dokumennya, dan langsung melihat surat yang dimaksud. "Sudah kuduga, pria itu tak ingin reputasinya tercemar. Kita buat negosiasi 10 kali lipat dari harga kemarin Jod. Kita buat bangkrut PT. Mega Jaya." perintah Rafael.
"Baik pak, akan saya laksanakan." jawab Jodhi.
Rafael memanggil Melia. "Buat surat perjanjian pemindahan proyek dengan PT. Mega Jaya Mel, aku yakin dalam waktu 3 minggu, pria itu akan menandatangani kontrak."
"Baik pak." ujar Melia.
Rafael tersenyum dan mengambil ponselnya. "Ada kabar baik Tyar." ujar Rafael.
"Aku tak pernah menerima kabar buruk darimu Raf kalau soal bisnis." jawab Tyar sambil terkekeh.
"Kau sangat berlebihan, membalaskan dendammu sekaligus keuntungan buatku Tyar. Pria itu sangat takut menerima dokumen dan bukti perselingkuhannya. Istrinya adalah pemilik saham terbesar di PT. Mega Jaya, jika wanita itu tahu suaminya pria brengsek. Ia akan hancur. Tapi aku tidak sejahat itu. Aku hanya meminta uangnya sedikit." ujar Rafael sambil tertawa.
"Kau pria yang menakutkan Raf, siapa yang berani mengganggumu. Aku jadi merinding." ejek Tyar.
Rafael terkekeh dan menutup ponselnya. Ia tiba tiba merindukan istrinya. Rafael meninggalkan pekerjaannya menuju ke kampus Delia.
*****
__ADS_1
Delia kesal dengan dosen pembimbingnya. Skripsi yang ia buat sudah 2 kali ditolak, ia sangat lelah.
"Kau sangat marah Del." ujar Daniel.
"Hanya karena tanda titik dan koma, aku harus mengulangnya 2 kali." jawab Delia.
"Sabarlah Del, perjuangan kita akan mendapat hasil yang memuaskan. Aku sudah 4 kali ditolak." ujar Daniel lagi.
Delia terkesiap. "Benarkah? Aku kira kau sangat santai karena skripsimu sudah diterima." kata Delia.
"Kau mengejekku Del, aku santai karena aku sedang mengendalikan emosi dan juga rasa kesalku." jawab Daniel.
Delia terkekeh. "Kau pria aneh Dan."
"Aku aneh, sampai sampai tak ada wanita yang mau dekat denganku." ujar Daniel.
"Ups...bukan itu maksudku Dan." ujar Delia.
"Kenalkan seorang wanita padaku yang persis sepertimu Del." pinta Daniel.
"Itu hanya dalam mimpimu Dan, aku tak memiliki saudara kembar." jawab Delia.
Daniel terkekeh. "Sudah waktunya kita makan siang. Kau mau makan apa?"
"Apapun yang ada di kantin, aku sudah mulai lapar." Delia berdiri dan mengajak Daniel ke kantin.
Daniel mengikuti Delia dan seketika berhenti saat matanya melihat sosok keras nan angkuh sedang menatap mereka. "Del, apa kau membawa macan datang ke kampus." tanya Daniel.
"What?" ucap Delia dan mengarah ke pandangan Daniel. Lalu ia terkekeh. "Ia lebih kejam daripada macan Dan, sepertinya lagi lagi kau harus ke kantin sendirian."
"Sialan, selalu saja nasib jomblo begini." jawab Daniel sambil terkekeh dan meninggalkan Delia.
*****
"Apa kau begitu senang bersama pria itu? Kau berkali kali tertawa senang dengannya." tanya Rafael setelah Delia menghampirinya.
"Kau mulai lagi Raf, temanku sangat takut padamu hingga aku tadi tertawa." jawab Delia.
"Apa kau tak tahu, senyum dan tawamu itu menghancurkan duniaku. Itulah mengapa aku benci pria lain melihatnya." ujar Rafael.
Delia terkekeh. "Kau sangat berlebihan sayang, apa kau ingin istrimu menjadi seorang vampire?"
Akhirnya Rafael terkekeh. "Ini makanlah." ujar Rafael sambil memberinya makanan.
"Kau sangat bebas tuan Widjaja, sampai kau datang ke kampus hanya untuk mengantarkan makanan ini." kata Delia.
"Aku juga merindukan istriku, sudahlah aku harus kembali ke kantor. Habiskan makananmu, nanti aku akan menjemputmu lagi." ujar Rafael sambil mengecup kening istrinya.
"Hati hatilah sayang, see you." ujar Delia sambil melihat mobil Rafael yang lama kelamaan menghilang dari kejauhan.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘