
Rafael terkejut dengan suara deringan ponselnya. Ia baru saja bisa tidur. Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Ia melihat ponselnya ternyata Gloria yang menghubunginya. Sialan...umpat Rafael.
"Halo ada apa kau menghubungiku pagi sekali." tanya Rafael.
"Aku sudah sampai di Indonesia sejam yang lalu, bisakah kita bertemu sekarang? Aku akan menyampaikan sesuatu Raf. Ini sangat penting." jawab Gloria.
"Ini masih pagi, aku baru saja ingin tidur. Nanti siang aku akan menemuimu." ujar Rafael.
"Aku mohon Raf, aku tak memiliki siapa siapa disini. Aku tak mengenal siapapun Raf." Gloria memohon.
Dasar wanita sialan. pikir Rafael.
"Baiklah aku akan menemuimu. Dimana kau memesan hotel?" tanya Rafael.
"Aku berada di hotel Sahid kamar suite 708." jawab Gloria.
Rafael mematikan ponselnya dan segera menghubungi Jodhi dan Tyar. Huda sepertinya sedang sibuk, cafenya terdengar sangat ramai.
"Jod, sudah waktunya menangkap pria suruhan Firdaus. Kita ke hotel Sahid sekarang." kata Rafael kepada Jodhi.
"Baik pak." jawab Jodhi.
"Tyar bantu aku dan Jodhi menangkap pria yang mengambil fotoku. Aku akan bertemu Gloria sekarang. Aku yakin Firdaus masih ingin mengabadikan pertemuanku dengan Gloria. Kita bertemu di hotel Sahid sekarang. Jika kau berhasil, bantu aku mengamankan pria itu." ujar Rafael setelah menghubungi Tyar.
"Tentu saja Raf, aku akan segera kesana." jawab Tyar.
Rafael mematikan ponselnya dan segera mandi dan berganti pakaian. Rafael turun kebawah.
"Kau mau kemana Raf?" tanya Huda. Rafael membisikkan sesuatu. "Aku ikut." ujar Huda.
Rafael melihat sekeliling cafe yang ramai itu dan menggeleng. "Tidak Hud, kau banyak pelanggan."
"Oh ayolah Raf, aku punya anak buah. Aku akan membantu kalian. Aku sudah lama tidak melakukan ini. Ini pasti sangat seru." ujar Huda. Pria ini selalu saja bercanda.
Rafael menendang kaki Huda. "Ayo cepat, tidak ada paparaji kan di depan?" tanya Rafael.
"Sepertinya mereka tidak tahu kau ada disini." jawab Huda sambil mengambil kunci mobilnya. "Naik mobilku lebih aman."
__ADS_1
"Baiklah ayo." ajak Rafael. Mereka menuju hotel Sahid.
Rafael dan Huda sampai terlebih dahulu, karena jarak cafe Huda lebih dekat dengan hotel. Mereka menunggu Tyar dan Huda di parkiran. Sejam menunggu Jodhi sampai dan langsung masuk ke mobil Huda, beberapa menit kemudian Tyar muncul dan bergabung bersama mereka.
"Aku menuju kamar suite 708, aku akan menangani Gloria. Kalian tangani pria yang mengikutiku. Aku yakin Gloria akan melakukan sesuatu padaku dengan memeluk atau menciumku agar bisa diabadikan. Kalian pasti akan tahu posisi pria itu. Setelah aku masuk ke kamar, baru kalian tangkap pria itu agar Gloria tidak curiga. Setelah itu bawa pria itu ke tempat yang lebih aman." ujar Rafael.
"Sepertinya tempatku lebih aman Raf, jangan dibawa ke cafe. Itu tempat umum." ujar Tyar.
"Terima kasih Tyar. Jod, bagaimana kau keluar dari kantor? Firdaus tidak curiga kan?" tanya Rafael pada Jodhi.
"Saya membawa dokumen materi proyek Kalimantan. Memang kebetulan saya akan keluar menemui klien siang ini pak." jawab Jodhi.
"Bukankah seharusnya lusa?" tanya Rafael.
"Klien minta dimajukan waktunya pak. Maaf saya baru memberitahu anda sekarang." jawab Jodhi lagi.
"Sudahlah itu tidak penting lagi, kita mulai sekarang. Dan kau Hud, jangan gunakan kekerasan. Kita menangkap penguntit bukan pembunuh." pinta Rafael.
"Siap tuan Widjaja." jawab Huda.
Rafael bergegas menuju hotel tersebut. Ia bertanya letak kamar suite 708 pada resepsionis. Ternyata ada di lantai 18. Hampir semua mengenali Rafael Widjaja. Karyawan hotel memberinya rasa hormat. Rafael menuju lantai 18. Tebakan Rafael benar, pria suruhan Firdaus sejak tadi mengikutinya dengan berpura pura menjadi belboy. Rafael mengetik sms dengan cepat pada Tyar.
Lantai 18, pria itu menyamar sebagai pegawai hotel, ia menjadi belboy.
Rafael memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya. Rafael keluar dari pintu lift dan mencari kamar 708. Ia menghela nafasnya setelah berada di depan pintu kamar. Rafael mencari keberadaan Tyar, Huda dan Jodhi. Setelah ia yakin mereka semua siap. Rafael menekan bel kamar. Benar saja Gloria keluar dan langsung menghambur ke pelukan Rafael dan menciumnya.
"Aku merindukanmu Raf." ujar Gloria.
Rafael melepaskan pelukan Gloria. "Kau sudah gila Glor, jika orang melihat bagaimana? Apa kau sengaja melakukannya?" tanya Rafael.
Wajah Gloria berubah menjadi pucat. "Tidak Raf, aku benar benar merindukanmu. Ayo masuk." ajak Gloria, Rafael mengikuti keinginannya. Semoga mereka berhasil menangkapnya, pikir Rafael.
"Apa yang kau inginkan Glor, aku sudah meminta maaf atas kejadian di Inggris itu. Aku akan menuruti permintaanmu tapi aku tidak bisa menikahimu. Aku hanya mencintai istriku Delia." bentak Rafael.
Gloria tiba tiba menangis. "Aku juga tidak ingin membahasnya, kita sama sama mabuk malam itu, tapi aku tiba tiba hamil Raf. Aku harus bagaimana?"
"Apa? kau hamil?" teriak Rafael. Dasar wanita picik, sandiwaramu sungguh bagus Glor.
__ADS_1
"Iya Raf, aku hamil. Ini buktinya." Gloria memberikan hasil USG dan hasil pemeriksaannya di Kanada.
Rafael tertawa. "Bagaimana aku percaya bahwa itu anakku?" tanya Rafael.
"Aku melakukan pertama denganmu dan setelah itu aku tak berhubungan dengan pria lain Raf. Aku sungguh mencintaimu. Aku ingin kau bertanggungjawab atas perbuatanmu." pinta Gloria.
"Aku pria yang bertanggungjawab Glor, aku akan mengambil anakku, tapi aku tak bisa menikahimu." jawab Rafael.
"Itu tidak mungkin Raf, kau sudah gila." bentak Gloria. "Aku takkan memberikan anakku padamu jika kau tidak menikahiku."
"Aku memiliki anak dan istri, tak mungkin aku menikahimu Glor. Kau tahu itu. Kita melakukan kesalahan bukan karena saling mencintai." bentak Rafael.
"Aku yang mencintaimu. Aku melakukan segala macam cara agar kau bisa menikahiku. Sampai aku bekerja sama..." Gloria segera menutup mulutnya. Ia tidak sadar karena emosi hampir mengungkapkan semuanya.
"Kau melakukan segala cara dengan bekerja sama dengan Firdaus. Itu kan maksudmu?" Rafael langsung mengungkapkannya.
Gloria terkesiap, wajahnya kembali berubah menjadi pucat. "Apa maksudmu, aku tidak mengerti Raf." suaranya mulai bergetar.
"Apa kau masih perduli dengan nama baik keluargamu?" Rafael melemparkan beberapa foto Gloria bersama beberapa pria keluar masuk hotel. "Apa kau pikir aku tidak tahu kau memberiku obat perangsang malam itu? Apa kau yakin masih perawan malam itu? Apa kau yakin aku melakukannya sebelum jatuh pingsan?" Suara Rafael semakin meninggi. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan ketakutan.
Tubuh Gloria semakin bergetar, bagaimana mungkin Rafael mengetahui semuanya. Ia mundur dan menabrak meja kamarnya.
"Jika kau ingin keluargamu baik baik saja, bekerjasamalah denganku Glor, aku tahu pria yang menghamilimu Firdaus." ujar Rafael.
Kata katanya tepat sasaran. Akhirnya Gloria menangis. "Maafkan aku Raf, aku tidak bermaksud tapi aku benar benar mencintaimu. Aku lakukan ini agar bisa menikah denganmu."
"Cukup omong kosongmu, kau aku awasi disini. Jika kau berani melakukan kesalahan disini. Lihat ini." Rafael melemparkan foto keluarga Gloria. "Keluargamu akan menderita lebih dari yang kau kira. Aku akan menghubungimu kembali, kau harus membantuku pada malam serah terima jabatan." bentak Rafael dan meninggalkan kamar hotel.
Gloria kembali menangis, semuanya hancur berantakan bahkan ia hamil dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai. Firdaus memanfaatkannya dan ia terkena rayuannya sampai bisa berhubungan intim tanpa pengaman. Dan sekarang ia menjadi pion buat Rafael. Itu sangat menyakitkan. Ia terpaksa mengikuti keinginan Rafael karena ia takut keluarganya hancur. Ia sangat tahu Rafael Widjaja. Pria arogan yang tak mengenal belas kasihan saat menyiksa orang yang menyakitinya.
*****
Happy Reading All...
Bersabar buat up selanjutnya...
Terima kasih. 🙏🙏🙏
__ADS_1